Bab 3 - Sarapan Pertama Sebagai Sepasang Suami Istri

1313 Words
Suara ketukan pelan berhasil membangunkan Kayra dari tidurnya. Ia mulai menggeliat perlahan, menyingkirkan sisa kantuk yang membuat sepat mata. Suara panggilan lembut dari balik pintu membantunya semakin sadar dari tidurnya. “Reno, Kayra, bangun sayang, udah siang nih. Udah jam sepuluh.” Kayra kenal betul dengan suara ini. Ya, ini suara seorang wanita paruh baya berusia empat puluhan, alias Elvina Fariza, mama Reno. “Kay, kamu udah bangun belum? Sini, yuk, bantuin buat sarapan untuk Reno.” Elvina memanggil lagi dengan lembut. Kayra pun segera membuka matanya. Namun saat ia hendak berbalik dari posisi tidur miringnya, sebuah tangan berat yang menimpa pinggangnya, serta tubuh kekar di belakang tubuhnya menutup aksesnya untuk dapat bergerak leluasa. Kayra pun mendelik terkejut. Rasa kantuknya langsung sirna sepenuhnya begitu ia menyadari siapa yang tengah tertidur pulas begitu rapat dengan tubuhnya. Tentu saja itu Reno. Kayra mencoba berbalik perlahan, itu berhasil. Tapi pemandangan pertama yang dilihatnya begitu ia berbalik, itu adalah wajah bengkak nan kusut Reno di pagi hari dengan mulutnya yang ternganga lebar meneteskan liur yang berlepotan di pipi. Kayra pun langsung menutup mulutnya, berusaha menahan tawanya agar tidak membangunkan Reno. Tapi tentu saja suara cekikik kecil tetap keluar dari mulutnya. “Kay, kamu udah bangun?” Elvina kembali memanggil dari luar kamar. Kayra pun terkesiap dan segera menyingkirkan diri dari pelukan Reno. “Iya, Tante. Aku keluar, nih,” sahut Kayra seraya memakai kardigan yang tergantung di belakang pintu. Ia juga mengikat rambutnya asal. Kayra membuka pintu. Elvina menyambutnya dengan senyuman hangat. “Reno masih tidur?” tanyanya. Kayra mengangguk sekali. Ia juga tersenyum lebar mengingat iler Reno yang bertebaran di wajah tampannya. “Aku baru kali ini loh, Tan, liat Reno ileran sampe sebanyak itu.” Elvina memandang Kayra jahil. “Masa sih? Wajar lah, namanya juga laki-laki. Pasti kecapekan habis kikuk-kikuk semalam, apa lagi pertama kali. Belum terbiasa.” Kayra mengerutkan dahinya bingung. “Eh, kikuk-kikuk itu apa?” Elvina tertawa kecil melihat reaksi polos Kayra. Ia kemudian menjawabnya sambil melambaikan tangan dan menggeleng pelan, seraya mengisyaratkan padanya untuk mengikutinya ke dapur. Kayra pun hanya menurut saja tanpa memedulikan percakapan mereka yang barusan. Begitu sampai di dapur, Kayra melihat beberapa macam bahan makanan sudah disiapkan di atas meja. “Kita mau masak apa, Tan? Emangnya nggak kesiangan sarapan jam segini?” “Rencananya sih mau bikin omelet. Buat kalian berdua aja, kok,” jawab Elvina. Tapi kemudian ia menatap Kayra serius. “Oh ya, Kay, mulai sekarang kamu jangan panggil 'tante' lagi, dong. Panggil Mama. Panggil Om Jasir juga Papa, oke?” Kayra tersenyum miring sambil mengangguk ragu. “Iya, Tan, eh, Mama maksudnya.” Elvina tersenyum lembut melihat Kayra menurut padanya. “Bantu Mama potong sayurannya, ya.” Kayra lagi-lagi hanya menurut saja. Mereka pun mulai membuat omelet bersama-sama. “Omong-omong ...,” ucap Kayra kemudian. “Om—eh, Papa ... kemana? Yang lain juga kemana? Kok sepi?” “Papa udah berangkat ke kantor dari tadi pagi. Ayah kamu juga titip pesan sama Mama, katanya harus buru-buru ke rumah sakit karena pasien udah membludak. Kalo ibu kamu dan Om Joan udah pulang dari tadi malam,” jawab Elvina. Raut wajahnya terlihat agak sedih. “Ya, sedih sih sebenarnya,” tutur Elvina lagi. “Karena pernikahan kalian sembunyi-sembunyi kayak gini, keluarga kita jadi nggak bisa berkumpul untuk merayakannya. Padahal harusnya momen pasca pernikahan adalah momen dimana kedua keluarga berkumpul untuk merayakan bersama.” Kayra tidak menjawab. Ia hanya bersandar manja pada bahu Elvina, berharap itu bisa sedikit menghiburnya. Habis mau bagaimana lagi? Sebenarnya Kayra tidak terlalu sedih pernikahannya dengan Reno harus disembunyikan seperti ini. Toh ia juga masih bingung apakah ini suatu hal yang diinginkannya atau bukan. Tapi apa pun itu ia tidak peduli. Sejujurnya Kayra senang juga karena dengan seperti ini ia jadi bisa selalu dekat dengan Reno. Baru saja Kayra memikirkan Reno, kini orang itu datang ke dapur karena mencium aroma sedap dari omelet yang tengah di goreng. Ia terlihat tengah mengucek sebelah matanya, ia juga sudah mengganti pakaian yang semalam belum sempat dilepas—dengan pakaian yang lebih santai. “Kamu ikut masak juga, Kay?” tanya Reno kemudian. Suaranya yang masih agak serak terdengar seperti sedang mengejek. “Emang kamu bisa? Awas ya kalo omelet aku jadi nggak enak gara-gara kamu.” Kayra langsung manyun dibilang seperti itu. “Aku tau diri kok aku nggak bisa masak. Mangkanya aku cuma bantuin potong-potong doang. Puas kamu?!” Reno tertawa puas karena berhasil membuat Kayra jengkel. Sementara Elvina hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua anak itu. Dua piring omelet pun telah siap. Elvina menyajikannya dengan rapih nan menggiurkan dihiasi dengan sedikit salad dipinggirnya. Kayra mengambil inisiatif untuk membawa kedua piring omelet itu ke meja makan. Ia juga mengambil dua gelas kosong dari rak dan segera menuangkan air putih di gelasnya serta gelas milik Reno. Reno yang sudah duduk di meja makan sedari tadi, ia menatap gerakan Kayra sambil menopang wajah dengan kedua tangannya, memandang gadis itu sambil tersenyum-senyum sendiri. “Kenapa liatin aku kayak gitu sih? Seram tau!” tukas Kayra menyadarkan Reno. Reno tertawa kecil seraya mulai memakan omeletnya. “Nggak apa-apa, lucu aja liat Kayra si anak manja, tiba-tiba berubah jadi babunya Reno.” Mendengar itu Kayra langsung menimpuk Reno dengan potongan brokoli dari piringnya. “Enak aja, aku bukan babu kamu, tau! Aku cuma berusaha jadi istri yang baik supaya kamu nyaman sama aku!” Habis mengucapkan itu Kayra langsung memalingkan tubuhnya yang tadinya duduk berhadapan dengan Reno, jadi menghadap ke samping ke arah Elvina. Sementara itu Reno, ia tertegun mendengar perkataan Kayra barusan. Ia jadi agak merasa bersalah karena perkataan yang niatnya hanya candaan, tapi sepertinya itu terdengar keterlaluan bagi Kayra. Reno pun langsung menggenggam tangannya, meminta maaf pada gadis itu. “Sory, Kay, jangan marah dong.” Ia membujuk Kayra supaya gadis itu tidak merundung lagi padanya. Elvina menatap keduanya sambil menggeleng tidak menyangka. “Ck, ck, ck, udah semalam bertempur di ranjang, sekarang masih tempur di meja makan juga?” sindir Elvina. Reno yang saat itu tengah mengunyah omeletnya, ia langsung tersedak seketika. Kayra yang tidak mengerti maksudnya, ia terlihat biasa saja dan langsung membantu Reno meminum air. “Pelan-pelan dong, Ren. Kayak anak kecil aja kamu,” tukas Kayra. Reno menatap gadis itu tidak menyangka. Bagaimana bisa dia tenang-tenang saja disindir seperti itu? Ah, ya, Reno lupa. Kayra 'kan polos bin bodoh, mana mungkin dia mengerti sindiran Elvina. Setelah merasa lega dari terdesaknya, Reno kemudian menatap mamanya tidak senang. “Mama ngomong apa sih? Aku sama Kayra belum ngapa-ngapain, tau. Jangan bikin suasana jadi awkward begini, deh.” Elvina menatapnya tidak percaya. “Masa? Kayra aja nggak membantah, tuh. Udah jujur aja sama Mama, nggak usah malu-malu. Eh, tapi Mama juga begitu sih dulu.” Reno menepuk keningnya semakin merasa tidak karuan. Sementara Kayra hanya terus makan tanpa memedulikan percakapan mereka yang sejujurnya ia tidak tahu maksudnya apa. “Duh, Ma ... Kayra 'kan o'on. Mana mungkin dia ngerti soal beginian. Bahas yang lain aja deh,” protes Reno. Elvina hanya cekikikan melihat Reaksi Reno yang malu-malu sendiri. Sementara Kayra kini tengah manyun karena dikatai o'on oleh Reno. Tapi ia tidak membantah kali ini. Ia cukup sadar diri kalau perkataan Reno memang benar. Ia memang o'on, tidak mengerti sama sekali dengan percakapan yang tengah mereka bahas. “Eh, Kay?” ucap Elvina setelah acara sarapan mereka selesai. “Habis kamu rapih-raih nanti bantuin Mama pilihin pakaian kotor, ya. Mau Mama bawa ke laundry. Bu Ningsih lagi nggak masuk soalnya hari ini. Kamu nggak keberatan 'kan?” Kayra menggeleng sambil tersenyum tulus. “Enggak sama sekali, kok. Di rumah aku juga biasa cuci sendiri.” Elvina menjawabnya dengan tersenyum lembut seraya bangkit berdiri, hendak pergi dari meja makan. Sementara itu, Reno menatap mamanya tidak senang. Ia kemudian berkata dengan tegas, “Mama jangan suruh Kayra kerja yang berat-berat, ya. Kayra bukan pembantu di rumah ini.” “Iya, iya, suami baru yang protektif.” Elvina menjawab sambil menggoda. “Cuma hari ini aja, kok. Lagi pula hitung-hitung Mama ngajarin Kayra supaya jadi istri yang baik buat kamu. Kamu juga secepatnya harus magang di kantor Papa nanti. Belajar menafkahi istri, jangan hanya mengandalkan uang orang tua aja.” Elvina pun beranjak pergi dari meja makan, meninggalkan Reno yang tengah mendengus sebal padanya. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD