Bab 2 - Malam Pertama

1383 Words
Malam pertama setelah melakukan ijab kabul di siang hari tadi. Harusnya momen seperti ini akan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu oleh kebanyakan pasangan yang baru saja menikah. Terlebih jika kau seorang pria. Ya, hal yang wajar jika seorang pria merasa begitu exited saat hendak melakukan malam pertama. Naluri kelelakian seorang pria pasti akan menggebu-gebu disaat-saat seperti ini. Tapi bagi Reno, ini benar-benar aneh. Sebenarnya bohong kalau ia bilang ia tidak penasaran ingin mencoba sensasi malam pertama. Tapi karena yang menjadi istrinya adalah Kayra sahabatnya sendiri, ia jadi merasa bingung harus bagaimana. Reno tahu, sebagai seorang lelaki harusnya ia yang memimpin atas situasi yang akan terjadi pada momen seperti ini. Tapi ia takut salah memilih. Bagaimana jika Kayra tidak menyukai keputusannya nanti? Reno mengacak rambutnya frustasi. Ia kemudian melempar tubuhnya yang masih mengenakan setelan jas hitam ke atas ranjang berseprai putih bertabur mawar. Kayra yang sedari tadi duduk di tepi ranjang, ia terlihat tenang-tenang saja saat ini. Malahan ia mulai menghapus sisa riasan di wajahnya serta menanggalkan perhiasan yang melekat pada tubuhnya. Reno memperhatikannya waspada. Kayra kini mulai melepas sanggul yang menempel di belakang kepalanya, rambut coklat panjangnya pun jatuh tergerai indah. Terlebih saat ia menggoyangkannya perlahan agar rambutnya semakin jatuh. Entah kenapa jantung Reno berdetak tidak karuan saat melihat aksi Kayra. Tentu saja naluri kelelakiannya jadi tergerak semakin merasa penasaran. Kemudian gadis itu mulai meraih resleting gaun yang berada di punggungnya, hendak menurunkannya. Reno langsung melotot panik. “Kay, Kay, Kay, kamu mau apa?! Stop!” serunya panik. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kayra menoleh bingung ke arah Reno. “Aku mau ganti baju,” jawabnya enteng. “Ribet tau pake baju kayak gini. Gatel. Boleh minta tolong bukain resletingnya?” Reno semakin terbelalak mendengar itu. “Kamu gila, ya?!” Kayra mendelik tidak terima. “Enak aja, aku nggak gila, ya! Kamu tuh yang kayak orang gila. Aneh! Kenapa panik gitu lihat aku mau buka resleting doang? Aku pake baju daleman kali!” “Ya gimana aku nggak panik coba? Kamu mau buka baju di depan aku! Nanti kalo aku nggak tahan gimana?” Kayra menggaruk kepalanya bingung. “Nggak tahan ... maksudnya?” Reno menepuk keningnya. Ia lupa kalau Kayra ini adalah orang paling bodoh dalam urusan seperti ini. Bagaimana ya cara menjelaskan padanya? Masa ia harus mengatakannya langsung sih? Itu pasti akan terdengar sangat v****r. Kayra pasti akan merasa jijik nantinya. Reno kembali mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar bingung, bagaimana ia akan menghadapi Kayra malam ini dan malam-malam seterusnya nanti? Karena Kayra hampir tidak mengerti apa-apa soal hal berbau seks, Reno jadi semakin gugup sendiri menghadapinya. Dan parahnya Kayra tetap tidak mengerti. “Ih, Reno, jawab dong ... kamu nggak tahan kenapa? Aku penasaran loh.” Kayra kembali meminta Reno untuk menjelaskan. Reno meringis frustasi. “Duh ... udahlah nggak usah di bahas lagi. Semakin kamu nanya malah semakin aku jadi ngerasa nggak karuan, tau. Aku ini laki-laki. Pokoknya kamu kalo mau ganti baju di kamar mandi aja sana.” Kayra menekuk wajahnya. Tapi ia tetap menuruti permintaan Reno untuk mengganti pakaian di kamar mandi. Lima menit kemudian ia pun kembali dengan mengenakan piyama tanpa lengan dengan kerah V-Neck. Hal itu membuat tubuh putih mulusnya semakin terekspos bebas di depan Reno. Reno langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Sebenarnya ia sudah sering melihat Kayra mengenakan pakaian seperti itu kalau di rumah. Ia juga sudah beberapa kali menemaninya tidur kalau gadis itu sedang sedih. Tapi karena saat ini status mereka sudah menjadi suami istri, hal itu jadi membuat Reno memikirkan hal yang tidak-tidak. “Duh, Kay, kok kamu pake bajunya kayak gitu, sih? Yang lebih tertutup nggak ada apa?” keluh Reno. Kayra menatap dirinya sesaat, kemudian menatap Reno bingung. “Aku 'kan memang selalu pake piyama kayak gini kalo mau tidur. Kamu juga tau 'kan? Kamu kenapa sih hari ini?” Reno mendengus tidak sabar. Ia kemudian bangkit berdiri dari ranjang dan menghampiri Kayra dengan tatapan penuh maksud. Ia sudah berusaha menahan naluri kelelakiannya sedari tadi, tapi Kayra malah terus menggodanya. Ia jadi tidak tahan lagi. Dicengkeramnya lengan Kayra kuat-kuat lalu ia lemparkan tubuhnya berserta tubuh Kayra ke atas ranjang. Kini posisinya tengah menindih tubuh gadis itu. Kayra menatapnya takut. “Ren, kamu ... mau apa?” Reno menatapnya penuh maksud. “Gimana kalo aku bilang aku mau meminta hak aku dari kamu yang sekarang udah jadi istri aku?” Kayra langsung melotot mendengar itu. Ia baru mengerti sekarang. Ia bahkan baru ingat kalau mereka sudah resmi menjadi suami istri sejak siang tadi. Kayra pun memalingkan wajahnya malu. “Kamu udah ngerti sekarang?” tanya Reno kemudian. Ia masih terus mempertahankan posisinya yang berada di atas tubuh Kayra. “Sekarang aku tanya sama kamu, memangnya kamu mau ngelakuin itu sama aku, sahabat kamu sendiri?” Kayra kini terlihat memejamkan matanya rapat-rapat. Entahlah, sepertinya gadis itu benar-benar merasa malu saat ini. Atau malah ketakutan? Reno pun segera menyingkir dari tubuh Kayra. “Hah ... maaf ya, aku kelepasan,” ucapnya kemudian. “Kenyataan kalo kita udah jadi suami istri bikin aku jadi pengen nyentuh kamu. Padahal harusnya aku nggak boleh kayak gini 'kan. Kamu sahabat aku.” Kayra menatap ke sekeliling ruangan dengan gelisah. Ia bahkan baru sadar kalau ini bukan kamarnya. Ini kamar Reno yang sudah disulap menjadi kamar pengantin. Kayra mengutuk dirinya sendiri, kenapa bisa-bisanya ia melupakan peristiwa penting yang terjadi hari ini. Kayra merasa sangat malu pada Reno. “Kay, kamu marah, ya?” tanya Reno lagi yang tidak mendapat sahutan dari Kayra. Kayra segera menoleh dan menggeleng pelan. “Enggak, aku bukannya marah sama kamu. Aku cuma ....” Kayra menggantung kalimatnya. Reno pun jadi semakin penasaran. “Cuma apa?” tanyanya. Kayra membalik tubuhnya membelakangi Reno. Ia kemudian menjawab dengan suara pelan. “Aku malu sama kamu. Aku lupa kalo kita sekarang udah jadi suami istri.” Reno langsung terduduk tak percaya dengan pendengarannya. “Lupa kamu bilang?!” Reno menjawab dengan nada tidak menyangka. “Ya ampun, Kay ... padahal aku stres loh seharian ini karena pernikahan kita yang mendadak kayak gini. Tapi kamu malah lupa?” “Maaf ....” Kayra terdengar menyesal. “Terus kita harus gimana sekarang? Kita harus ngapain sekarang?” “Menurut kamu?” Reno bertanya jahil. Kayra langsung memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. “Eh, ma-masa kita mau kayak gitu?” Reno kembali mendekat ke arah Kayra sambil menyeringai jahil. “Emangnya kenapa? Kan aku suami kamu sekarang. Kamu mau nolak? Dosa, loh.” “Ah, eh ....” Kayra gelagapan. “Eh ... a-aku ... nggak akan nolak, kok.” Mendengar itu Reno langsung bangkit terduduk. Ia menatap Kayra tidak menyangka. “Kamu jangan bercanda. Aku nggak serius loh ngomong begitu.” Kayra tampak mendengus kecewa. Ia lalu menjawab, “Serius atau nggak ucapan kamu barusan, kenyataannya kita udah beneran jadi suami istri, Ren. Lebih baik kita menjalaninya sebaik mungkin dari pada terus saling menghindar kayak gini. Toh kita juga nggak akan bisa balikin keadaan seperti semula 'kan.” Deg! Reno tertegun mendengar pernyataan Kayra barusan. Ia tidak pernah menyangka kalau seorang Kayra, gadis bodoh dan naif yang ia kenal selama ini tiba-tiba mengucap kalimat yang begitu bijak seperti itu. Reno benar-benar terharu mendengarnya. “Kamu serius mau coba menjalani hubungan kita yang sekarang dengan sebaik mungkin?” tanya Reno memastikan. Namun pertanyaan Reno itu malah membuat Kayra merasa sedih. “Kamu nggak mau, ya?” Reno segera menggeleng tegas. “Bukan ... aku bukannya nggak mau menjalani hubungan pernikahan dadakan kita ini. Aku cuma masih bingung aja gimana cara menjalaninya. Hubungan kita pasti nggak akan semudah kayak dulu lagi, Kay. Ini pasti akan jauh lebih rumit.” Kayra menunduk dalam. Tapi kemudian ia mengedikkan bahunya, ia memutuskan untuk tidak peduli dengan kerumitan yang akan menghadang hidupnya nanti. “Serumit apa pun itu kita harus tetap mencobanya ‘kan? Kalo memang nanti kita nggak mampu, kita jalani aja hubungan ini seperti biasa. Gimana?” Reno tersenyum senang dengan antusiasme Kayra. Ia pun mengangguk setuju. “Oke, seminggu ini kita belajar sama-sama untuk jalanin hubungan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Mumpung masih liburan juga ‘kan.” Kayra mengangguk semangat. “Kalo gitu pertama-tama kita harus ngapain?” Reno berpikir keras. Biasanya pasangan pengantin baru akan melakukan 'itu’ di malam pertama mereka. Tapi ini pengecualian bagi kasusnya dengan Kayra. Ia tidak harus melakukan itu sekarang 'kan. Rasanya masih terlalu canggung dan tidak enak. Tapi kalau mereka tidak membiasakan diri mereka tidak akan mendapat kemajuan. Reno pun terpikirkan sesuatu. “Hm ... gimana kalo kita mulai dengan tidur berpelukan?” usulnya. “Ya, untuk membiasakan diri aja sebelum kita benar-benar ngelakuin ‘itu’.” Kayra lagi-lagi hanya mengangguk menurut. Tanpa banyak tanya lagi ia langsung membuka jas Reno, lalu membaringkan tubuh pria itu dengan agak memaksa. Habis itu ia memeluknya erat dan mulai memejamkan mata, bersiap untuk tertidur. Sementara itu Reno, ia sendiri malah merasa tidak karuan saat ini. Ia heran, kenapa bisa Kayra bersikap sesantai ini padanya? Kenapa hanya ia saja yang merasa panik diperlakukan seperti ini? Argh! Ia memaki dirinya dalam hati. Walau sekeras apa pun ia mencoba menahan diri dari Kayra, naluri kelelakiannya tetap menginginkan lebih dari sekedar pelukan. Jahat sekali 'kan. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD