bc

THE WEDDING

book_age18+
1.7K
FOLLOW
11.3K
READ
HE
arranged marriage
goodgirl
dare to love and hate
drama
sweet
female lead
office/work place
enimies to lovers
first love
like
intro-logo
Blurb

~ tap love dulu dong, please.... ~

Ayana menarik nafasnya dalam - dalam. Jantung semakin berdegup kencang. Memegang handle pintu hendak membukanya, sambil memejamkan matanya. Saat pintu sudah terbuka---

Bruukkk...!!

Ada yang jatuh. Ayana pasti menabrak sesuatu tadi, sebab keningnya terasa sakit. Buru - buru Ayana membuka matanya, memastikan benda apa yang telah membuat keningnya terasa sakit.

"Hahh..." mata Ayana terbelalak, tangannya menutup mulutnya yang sedikit menganga karena terkejut.

"Apa yang kau lakukan, hah!!" Seorang pria terlihat sedang terduduk di lantai, membentak Ayana dengan keras.

"Mati aku..." rutuk Ayana dalam hati. Baru saja ingin meminta maaf padanya, pria itu kembali membentaknya.

"Aku tidak sengaja. Aku mi--"

"Apa? Tidak sengaja?" Potongnya.

"Tapi, aku..."

"Tapi apa, hah? Apa kau tidak punya mata? Apa aku ini tidak kelihatan di matamu?"

Wajah Ayana memerah menahan rasa malu, baru sampai sudah dibentak sama orang yang gak dia kenal. Apalagi dia hanya tamu disitu. Ayana menyesal karena menutup matanya tadi, sampai - sampai harus menabrak pria galak ini.

chap-preview
Free preview
Ayana Dimitri : Hadiah Mahal
Prolog. "Kamu sedang apa? Sebuah tangan melingkar di pinggang Ayana. "Hai sayang selamat pagi...kamu sudah bangun?" "Iya. Aku mencarimu kemana-kemana." Tangannya memutar tubuh Ayana, mengangkat tubuh mungil itu ke atas meja dapur, sehingga gaun tidurnya tertarik sedikit ke atas menampakkan kulit putih mulusnya. Wajah mereka saling berhadapan. Ayana melingkarkan tangannya di leher lelaki itu. Hembusan hangat nafas mereka saling menerpa wajah masing-masing. Sebuah ciuman mendarat di kening Ayana pagi itu. "Kenapa tidak membangunkan aku?" Katanya pada perempuan di depannya. "Aku lihat tidurmu begitu nyenyak. Aku tak ingin mengganggu tidurmu," sahutnya. "Aku pikir, tadi kamu pergi meninggalkanku." Matanya tajam memandang Ayana. Tangan kekarnya membelai lembut rambut panjang bergelombang milik perempuan itu. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu. Itu karena aku mencintaimu." Ayana mencium hidung mancungnya. "Aku pun sangat mencintaimu Ayana. Berjanjilah padaku, kamu tidak akan pernah meninggalkanku." Lelaki itu mengangkat jari kelingkingnya dihadapan Ayana. "Aku berjanji padamu." Ayana tersenyum manis padanya dan mengaitkan kelingkingnya. "Pergilah mandi, aku akan buatkan sarapan untuk mu," katanya. Tangannya mendorong pelan tubuh lelaki itu. "Tidak sebelum kamu menciumku," sahutnya. Ditariknya dagu Ayana sejejar dengannya. Dipagutnya bibir merah jambu yang merekah di depannya. Terasa begitu lembut dan manis. Sementara jemari Ayana merengkuh bahu lelaki itu, memeluknya begitu erat. Mata mereka saling terpejam, menikmati setiap hisapan dan desahan mereka di pagi yang lengang dan sepi. Beberapa menit kegiatan itu berlangsung. Ayana melepaskan bibirnya yang terlihat sedikit memerah akibat perbuatan mereka. Nafasnya terdengar masih belum beraturan. Ayana memandang teduh lelaki di hadapannya. Wajah tampan maskulin, yang jadi incaran banyak gadis muda di luar sana. Yang kini telah resmi menjadi suaminya. Betapa beruntungnya dia mendapatkan lelaki itu. Dari begitu banyak wanita cantik dan juga gadis-gadis muda, Rasya Adhiaksa malah memilihnya menjadi istrinya yang sah. —————————— Episode. 1 Ayana Dimitri, seorang gadis muda berumur dua puluh tahun. Anak tunggal dari Tuan Arya Dimitri dan Nyonya Sophia. Keluarga sederhana yang hanya memiliki sebuah toko bunga, yang menjual aneka jenis bunga yang sangat cantik. Ayana hanya menamatkan sekolah sampai tingkat menengah atas. Dia sengaja tidak melanjutkan sekolah karena keluarganya tidak mampu membiayai pendidikannya. Ayahnya sudah lama tiada dalam sebuah kecelakaan tabrak lari. Saat itu, Ayana masih berumur empat belas tahun. Masih sangat muda. Ibunya membesarkannya seorang diri. Wanita itu, sekalipun tidak pernah berpikir untuk menikah kembali. Dia hanya fokus menjalankan usaha peninggalan mendiang suaminya dan juga membesarkan Ayana. Karena itu, Ayana memilih untuk tidak melanjutkan studinya dan hanya mengambil kursus komputer selama satu tahun. Setidaknya, dia sudah punya keahlian jika suatu hari dia mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, Rasya Adhiaksa adalah seorang pria tampan berumur tiga puluh tahun. Anak sulung dari seorang pengusaha tambang, Tamma Adhiaksa dan Liliana. Rasya membantu orang tuanya mengelola perusahaan milik keluarganya. Karena terlalu sibuk akan pekerjaan, membuatnya lupa untuk mencari pasangan hidup. Kedua orangtuanya beberapa kali berusaha menjodohkannya dengan anak gadis dari sahabat dan rekan bisnisnya. Tetapi tak ada satupun dari mereka yang menarik perhatiannya. Semua selalu berakhir sama. Wanita - wanita kaya dan berkelas itu pasti merasa malu karena ditolak begitu saja oleh Rasya. Pria itu terlalu kaku, perfeksionis dan tak terjamah. Sepertinya tak ada tempat untuk sesuatu yang bernama wanita. Dia berpikir, wanita itu begitu merepotkan dan itu hanya akan membuang - buang waktu berharganya saja. Sang adik, Raka Adhiaksa, telah mendahului Rasya untuk menikah. Adiknya itu menikahi wanita yang sudah dipacarinya sejak beberapa tahun, saat mereka masih sama-sama kuliah dulu. Kini mereka sudah dikaruniakan seorang putri yang begitu imut dan sangat manis berumur empat belas bulan. Dan sang istri kini sibuk mengelola butik miliknya sendiri sambil merawat putri kecil mereka, yang kini sudah mulai belajar berjalan. Sementara Raka, pria itu memilih untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri selama beberapa tahun. ***** Ayana berlari dengan terburu - buru pagi ini. Dia membawa beberapa buket bunga di dalam pelukannya, yang harus segera dikirimkan ke pemesannya. Kakinya melangkah memasuki sebuah gedung. Memberi senyuman manis sambil sedikit membungkuk pada pak satpam yang telah membukakan pintu untuknya. Dari tatapannya, sepertinya mereka sudah saling mengenal. Ya, ini bukan pertama kalinya Ayana memasuki tempat itu. Seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh tinggi dan juga ramping bak seorang model adalah pemilik tempat itu. Mereka memanggilnya Nyonya Raka Adhiaksa. Ya, dia adalah Kalina, adik ipar satu - satunya dari Rasya Adhiaksa. Kalina adalah pemilik usaha Kal's Boutique yang cukup terkenal, yang menjual barang - barang branded dan berkelas, yang harganya cukup menguras kantong bagi orang selevel Ayana. Bahkan jika Ayana tertarik untuk membeli sebuah baju atau sepatu berhak tinggi, yang sudah lama jadi incarannya, maka dia harus rela untuk menabung dulu selama beberapa bulan. Hahh, dia hanya bisa menelan salivanya tiap kali datang ke tempat itu. "Selamat pagi, Nyonya..." Ayana menyapanya. "Selamat pagi, Ayana." Wanita itu berjalan mendekatinya. "Berapa banyak bunga yang kau bawa hari ini?" Tanyanya saat melihat Ayana tengah merapikan bunga - bunga itu ke dalam vas - vas porcelin. "Aku bawa lima...," jawabnya. "Buket mawar merah, apakah kau membawanya juga?" "Ya, Nyonya...saya membawa dua buket mawar merah yang sangat cantik. Dan yang lainnya seperti pesanan Nyonya biasanya." "Yang tiga itu, masukkan dalam vas. Mawar merah itu, aku akan membawanya." Jawab Kalina. Wanita itu memperhatikan Ayana dengan seksama. "Apakah ada perayaan besar hari ini?" Rasa ingin tahunya membuat Ayana memalingkan wajahnya menatap Kalina sesaat. "Hari ini Wedding Anniversary mertua saya. Kami berencana memberinya kejutan. Kebetulan sekali suami saya sedang dalam perjalanan. Kami belum memberitahu mereka." Kalina tersenyum membayangkan akan bertemu lagi dengan suaminya. Mereka akan memberikan kejutan untuk Tuan Adhiaksa dan Nyonya Liliana. Mereka pasti merindukannya juga. "Oh ya? Selamat ya Nyonya...Semoga suami anda juga sampai dengan selamat." jawaban Ayana membuyarkan lamunan singkat Kalina. "Terima kasih Ayana..," wanita itu tersenyum manis. Dia melangkah meninggalkan Ayana, menuju rak - rak baju di deretan paling depan. Dia memandang Ayana yang sedang berjongkok di depan meja, merapikan bunga - bunga yang dibawanya tadi. "Hei..." teriaknya. Ayana menoleh, " Ya Nyonya? Ada apa?" Tanyanya bingung. "Berapa ukuranmu?" "Ukuran? Maksudnya?" Ayana semakin bingung. "Sepertinya kau berukuran SS ya?" Tangan Kalina memilih baju - baju di rak gantungan. Dia mengambil dua buah gaun. Satu buah gaun berwarna merah tanpa lengan, berpotongan span sedikit diatas lutut dengan belahan pendek pada bagian belakangnya. Dan yang satunya gaun berwarna gading berlengan panjang dan sedikit mengembang dibagian roknya. Lalu membawa keduanya. "Apakah kau sudah selesai?" Tanya wanita itu saat melihat Ayana bangkit dari jongkoknya. "Ya Nyonya...buket mawarnya sudah saya letakkan di sana, di atas meja anda." Ayana menunjuk ke arah meja kerja yang berada di pojok ruangan. "Baiklah, terima kasih." Sahutnya, lalu menyerahkan kedua gaun itu ke tangan Ayana. "Ini, cobalah.." "Tapi...saat ini aku tidak ingin membelinya, aku belum punya uang..." Ayana tersenyum malu. Dia malu karena tak memiliki cukup uang untuk membayar salah satu dari gaun itu. "Saya tidak sedang bertanya padamu. Saya menyuruhmu untuk mencobanya...," Kalina memasang wajah marah, walaupun itu hanya pura - pura agar Ayana mengikuti perintahnya. "Mm..baiklah," Ayana melangkah masuk ke kamar ganti dengan perasaan bingung. Sementara Kalina duduk menunggunya di sofa di tengah ruangan itu. Gadis itu mencoba salah satunya, lalu keluar dari sana dan berdiri malu di hadapan Kalina. Wanita itu hanya manggut - manggut sambil mengetuk - ngetukkan jarinya di dagu saat memandang Ayana. Entah apa yang dipikirkannya. Tak lama kemudian, jarinya kembali menunjuk ke arah kamar ganti. Seakan mengerti, Ayana kembali masuk dan mencoba gaun lainnya, gaun berwarna gading. Lalu keluar dan berdiri sekali lagi di hadapan wanita itu. Perasaan aneh memenuhi otaknya saat Kalina tersenyum padanya. Ia curiga, wanita itu sedang memikirkan sesuatu tentangnya. Kalina kemudian berdiri mendekati Ayana. Berjalan perlahan mengelilingi gadis itu, sambil melirik gadis itu dari atas sampai ke bawah. "Tunggu disini, jangan kemana-mana..." perintahnya. Kalina kembali bersama dua orang pegawainya membawa beberapa pasang sepatu highheel dan meletakkannya disana, di dekat kaki Ayana. "Cobalah satu persatu. Saya ingin melihatnya...," "Tapi...saya sedang tidak ingin membelinya, Nyonya." Ayana mendelik, membayangkan berapa banyak uang yang harus ia habiskan untuk membayar benda - benda itu. "Sudah...coba saja dulu." Katanya. "Baiklah....," Ayana mencoba semua sepatu itu sesuai perintah Nyonya Kalina. Wanita itu sudah begitu baik padanya selama ini. Dan dia adalah pelanggan setia di toko bunga Ayana. Karena itu, ia tak ingin mengecewakan wanita itu. "Kau bisa melepaskannya sekarang, pergilah...setelah itu temui saya di depan." Kalina meninggalkan gadis itu di depan kamar ganti. Ayana hanya mengangguk. Setelah keluar dari sana, Ayana menyerahkan gaun warna gading itu ke tangan seorang gadis muda seumuran dirinya, pegawai Nyonya Kalina. Lalu menemui wanita itu. "Maaf Nyonya....," katanya ragu. "Ya? Ada apa?" "Kenapa anda meminta saya mencoba semua barang itu tadi?" Kalina hanya memberinya senyuman tanpa berkata apa - apa. Seorang pegawai mendekat sambil membawa beberapa tas berisi beberapa barang, lalu menyerahkannya ke tangan Ayana. "Kau gadis yang sangat baik dan juga cantik. Terimalah itu sebagai hadiah dari saya." "Tapi....." mata Ayana melotot karena terkejut. Mimpi apa dia semalam? Rasanya seperti kejatuhan durian runtuh. "Saya ingin kau memakainya malam ini." "Maksudnya?" Ayana semakin melotot. Semakin tidak mengerti pada Nyonya Kalina. "Saya mengundangmu untuk makan malam bersama kami. Kau adalah tamu saya malam ini." "Dan...bersiaplah. Supir akan menjemputmu di depan toko bunga kalian tepat pukul tujuh malam ini." Kalina menyambung kembali perkataannya. Benar - benar seperti kejatuhan durian runtuh beneran, pikir Ayana. Rasanya enak nyenengin, tapi rasa sakitnya juga ikut terasa. Dapat hadiah begitu mahal, ternyata karena dia harus menjadi tamu di undangan keluarga Nyonya Kalina. Jantungnya berdebar cepat tak karuan. "Apakah aku sedang bermimpi?" Ayana mencubit pipinya sendiri. "Auhh....sakit." Gadis itu meringis. Ternyata bukan mimpi, pikirnya. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkat Ayana. Lalu ia kembali ke meja kerjanya. "Ayana...." panggilnya lagi, saat melihat gadis itu telah berbalik hendak keluar dari sana. "Ya, Nyonya...." "Kau melupakan sesuatu," katanya. Ayana menepuk jidatnya. Dia lupa mengambil bayaran buket bunga yang dibawanya tadi. "Ini ambillah...ibumu bisa marah jika kau tak membawa kembali uangnya," Kalina tersenyum, tangannya menyodorkan sebuah amplop pada gadis itu, sebelum akhirnya Ayana meninggalkan tempat itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook