Mobil berbelok memasuki pelataran sebuah gedung berlantai sepuluh.. Dan berhenti tepat di depan pintu masuknya. Seorang security mendekat dan membukakan pintu bagi Nyonya Kalina. Sementara Ayana membuka pintunya sendiri dari sisi yang lain.
Matanya membelalak, melihat bangunan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Memandang penuh takjub. Sebuah senyum tersungging di bibir tatkala Kalina mendekat padanya.
"Kenapa, Ay?"
"Nggak apa-apa kok, cuma...apa yah?" Ayana tunduk berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Cuma apa?" Kalina mengulang ucapan Ayana, sedikit bingung dengan jawaban gadis itu.
Ayana berpikir keras, mencari jawaban yang pas untuk menjelaskan ucapannya tadi.
Tuh kan, jadi bingung sendiri. Siapa suruh ngejawab asal kayak gitu? Rutuknya dalam hati.
"Cuma gak nyangka aja Nyonya, kalau sekarang saya ada di tempat ini untuk anterin pesanan bunga." Sahut Ayana cepat, sebelum Kalina mulai berpikiran yang aneh tentangnya.
Buru-buru Ayana membuka pintu belakang. Ia menunduk meraih tiga buket bunga dari jok belakang. Kalina segera mendekat dan meraih sebuah buket dari tangan Ayana.
"Biar aku bawa sendiri aja Nyonya,"
Ayana berusaha meraih buket itu dari pelukan Kalina.
"Udah gak apa-apa, buket ini terlalu besar untuk kau bawa sendiri. Tenang aja, lagian gak baik membiarkanmu membawa
semuanya sendirian." Kalina beranjak masuk ke dalam gedung, meninggalkan Ayana yang masih mematung.
"Ayana, ayo jalan!" Panggilnya sesaat kemudian menghilang dibalik pintu.
Ayana gegas berlari. Seorang security muda yang berjaga di pintu masuk membukakan pintu untuknya. Ayana membalasnya dengan senyuman paling manis yang dia miliki, sambil sesekali menoleh ke arahnya.
"Terima kasih," ucap Ayana. Pria itu hanya menundukkan kepala dan tersenyum tipis padanya.
Ayana mengitari ruangan gedung itu dengan matanya. Tak menyadari Kalina sudah berjalan jauh di depannya.
Sementara mulutnya masih berdecak kagum, membayangkan dirinya berada di tempat itu sebagai seorang pegawai perusahaan. Pasti ibunya akan bangga padanya. Bukannya malah mengantar bunga seperti ini.
"Ayana, kok bengong?" Kalina menepuk pundak Ayana, membuatnya mengoceh latah.
"Ya ampun, cuma ngantar bunga!" Sahutannya membuat Kalina tertawa.
"Haha...kau kenapa sih, Ay? Ayo jalan, kita mesti cepat soalnya kita juga mesti ngantar bunga ke rumah lagi kan? Saya juga harus balik ke butik, ada janji sama customer." Kalina berjalan mendahuluinya.
Ayana merasa malu, berjalan tertunduk menghindari tatapan orang yang berada tak jauh dari mereka, yang ikut tertawa melihatnya berucap latah. Padahal baru kali ini dia seperti itu.
Aduh, pasti wajahku udah seperti kepiting rebus sekarang. Malu banget sih, rutuknya sambil nyengir.
Ayana mempercepat langkahnya, mengekor di punggung Kalina.
Langkah mereka terhenti di depan lift yang masih tertutup. Lift bergerak turun ke lantai dasar, tempat mereka sedang berdiri. Lampu penunjuk dibagian atasnya menunjukkan pergerakan lift.
Ting !!
Lift terbuka. Beberapa orang keluar dari sana. Mereka terlihat menunduk hormat dan mengulas senyum di wajah saat berpapasan dengan Nyonya Kalina.
Ayana menghambur masuk ke lift, setelah didahului oleh Kalina. Ia takut kalau sampai tertinggal di lantai dasar. Sudah pasti ia akan menangis, sebab tak tau harus menyusul kemana.
Kalina kemudian menekan sebuah tombol berlampu di dindingnya. Lift bergerak naik, mengantar mereka ke lantai teratas gedung ini. Lalu terbuka kembali ketika lift telah berhenti bergerak. Kalina berjalan keluar dari lift, diikuti Ayana yang masih mengekor di belakangnya.
Ayana tak nelihat siapa pun di sini, di lantai teratas gedung ini. Berbanding terbalik dengan lantai dasar tadi, orang - orang hilir mudik di sana. Entah siapa saja mereka, Ayana malas untuk menebak.
**********
"Selamat pagi, Bu Kalina. Bagaimana kabar anda?" Seorang wanita muda tampak berdiri di samping kursinya.
Ayana memandanginya, membuat wanita itu tersenyum garing pada Ayana kemudian. Ayana yakin, kalau wanita ini adalah sekretaris Rasya. Pastilah wanita ini sering makan hati harus menghadapi lelaki jutek itu setiap hari, apalagi kalau dia sedang marah. Hiiih...ngeri banget. Pikir Ayana.
"Selamat pagi juga. Kabar saya baik. Pak Rasya ada di dalam?" Balas Kalina padanya.
"Maaf bu, Pak Rasya sedang ada meeting di lantai lima." Wanita muda bernama Nadia itu tampak tengah sibuk mengumpulkan setumpuk berkas di mejanya.
"Masih lama ya Nad? Saya membawa pesanan buket bunga untuk ruangan papa dan juga mas Rasya," Nyonya Kalina menunjukkan buket bunga yang sedang di pegangnya.
"Pak Rasya baru saja turun bu. Mungkin sekitar satu jam lagi rapatnya baru akan selesai. Kalau begitu saya akan minta OB untuk menyiapkan vasnya dulu. Berapa banyak yang ibu butuhkan?" Tanya Nadia kemudian.
"Saya minta dua vas yang ukuran besar ya, sekalian vas kecilnya juga untuk ditaruh di ruangan rapat. jangan lupa di isi air." Perintah Kalina padanya.
Wanita itu tampak menekan tombol telpon di meja kerjanya. Berbicara dengan seseorang di seberang sana, lalu meletakkan kembali gagang telpon.
"Saya sudah minta OB untuk menyiapkan vas sesuai yang ibu minta. Untuk sementara ibu bisa menunggu di ruangan Bapak Rasya. Saya harus segera pergi ke ruang meeting sekarang. Pak Rasya sedang menunggu saya di bawah. Saya permisi dulu ya bu." Katanya sopan.
Tumpukkan berkas yang tadi berada di atas meja telah berpindah dalam pelukannya. Ia kemudian berlalu meninggalkan Kalina dan Ayana sendirian. Tubuh wanita itu menghilang di dalam lift yang perlahan menutup.
"Ayo Ay, kita tunggu di dalam aja." Nyonya Kalina membuka handle pintu sebuah ruangan yang berada di sisi sebelah kiri meja kerja wanita muda tadi. Ayana hanya mengikutinya tanpa berkata apapun.
Saat pintu itu tetbuka, wangi maskulin menguar dari dalam ruangan.. Masuk ke dalam rongga pernafasan Ayana dan menggelitik hatinya. Ia belum pernah membaui aroma seperti ini sebelumnya.
"Ini ruangan Mas Rasya. Di sebelah kanan itu ruangan papa." Katanya lagi sambil menunjuk ke arah pintu di sisi sebelah kanan. Ayana hanya mengangguk, tak berucap apapun.
"Ayo duduk Ay. Kita tunggu OB nya dulu baru bunganya kita masukin di vasnya." Kalina meletakkan bokongnya di atas sofa empuk di seberang meja kerja Rasya Adhiaksa. Tangannya mengutak-atik ponsel pintarnya, pandangannya fokus menatap benda pipih itu.
Sementara Ayana, matanya masih menjelajahi seluruh ruangan itu. Buket bunga ia lepaskan dari pelukannya dan diletakkan di atas meja. Dari tempat dia duduk, dia bisa melihat meja kerja Rasya yang berada tepat di hadapannya.
Ayana bisa membayangkan pria dingin nan galak itu sedang duduk disana dengan angkuh di kursi kebesarannya, sambil tersenyum mengejek dirinya saat ini. Huh, rasanya Ayana ingin menggetok kepala pria itu. Pria jutek paling cerewet dan gak punya empati yang pernah dia jumpai.
Membayangkan harus bertemu dengannya tiap kali mengantar bunga, aduh---
Itu adalah sebuah penyiksaan buat Ayana. Untung saja hari ini Ayana tidak bertemu dengannya. Kalau tidak, si jutek itu pasti melotot terus padanya. Sangat menakutkan! Pikir Ayana.
Ayana bangkit dari duduknya, matanya terus berkeliling menyusuri ruangan itu. Sungguh! Ruangan itu terlalu luas untuk di duduki oleh satu orang, pikir Ayana.
Dua buah foto ukuran besar tergantung di dinding. Sebuah foto menggambarkan seluruh anggota keluarga Tamma Adhiaksa. Dan yang satunya, menampilkan gambar seorang pria tengah duduk angkuh di kursi kebesarannya, dengan kaki yang dilipat saling bertindihan dan tangan yang di sandarkan pada gagang kursinya. Dengan sorot mata tajam, rahang yang tegas dan ulasan senyum sedingin es, yang mampu mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.
Ayana mencebik saat menatap foto yang tergantung itu. Ia menunjukkan gerakan seperti sedang menyentil pria di foto itu dengan dua jarinya. Sesaat kemudian menoleh pada Kalina yang masih sibuk dengan ponselnya, lalu tersenyum sendirian.
Ayana melangkah lagi menyusuri ruangan Rasya. Lalu berhenti tepat di depan sebuah cermin besar, yang tegak berdiri tak jauh dari pintu masuk tadi. Ayana berputar - putar, mematut dirinya. Lalu teringat pada wanita yang menyambut mereka tadi. Pasti dia selalu memarut dirinya dulu sebelum menemui bos galaknya itu, pikir Ayana. Bibirnya mencebik lagi. Merasa kesal dengan orang bernama Rasya ini.
**********
Sudah dua puluh menit. Belum ada siapapun yang datang. Ayana sesekali menguap, Nyonya Kalina masih terlihat sibuk dengan ponselnya. Sekali dua kali ia menjawab panggilan telpon. Entah siapa yang bebicara padanya, raut wajahnya tampak tak sabar. Tentu saja, ini terlalu lama hanya untuk menunggu seorang OB membawa vas yang mereka minta.
Tok tok tok...!!
Terdengar ketukan dari luar. Seorang anak muda yang usianya tidak lebih tua dari Ayana memasuki ruangan. Membawa bungkusan besar di kedua tangannya.
"Maaf bu, saya agak lama. Soalnya harus membel dului vas yang diminta Bu Nadia tadi," katanya sedikit membungkuk.
Kedua tangannya meletakkan bungkusan itu ke atas meja dengan hati-hati. Lalu mengeluarkan dua buah kotak berukuran besar, yang Ayana yakin itu adalah vas ukuran besar yang diminta Kalina tadi. Dan tiga buah kotak lainnya berisi vas ukuran lebih kecil.
"Tolong ambilkan air untuk vasnya ya," pinta Ayana.
Pemuda itu hanya mengangguk lalu pamit undur diri. Kalina tak mengatakan apapun, hanya tersenyum tipis padanya.
Tangan Ayana mulai bekerja, memindahkan dua buket bunga dan menatanya kembali ke masing-masing vas ukuran besar. Tentu saja hasilnya sangat cantik, ia sudah terbiasa merangkai bunga.
Kalina hanya memandangi saja. Merasa kagum pada Ayana yang tampak berhati-hati, seakan takut ada helai bunga yang jatuh dan mengurangi kecantikannya.
Tok tok tok...
Ketukan kedua yang mereka dengar hari ini.
"Permisi bu, ini airnya." Pemuda itu melangsir air yang dia bawa mrnggunakan teko plastik.
"Oh, terima kasih ya. Taruh disini aja," sahut Ayana menunjuk meja dimana dia sedang bekerja.
"Ada yang bisa saya bantu bu?" Pemuda itu menawarkan diri, berdiri tak jauh dari Ayana.
"Mmm, apa ya?" Ayana menggaruk, bingung harus memerintahkan apa padanya.
"Coba deh isi air dulu vas kecilnya, jangan kepenuhan ya, cukup separuhnya aja. Ntar "
Dengan sigap pemuda itu mengangkat teko dan mulai menuang air. Dia mulai menakar-nakar airnya, sebelah matanya mengintip di ceruk vas memastikan airnya sesuai dengan perintah Ayana. Begitu seterusnya hingga vas ke tiga, dan air hanya tersisa sedikit.
Ayana melihanya hanya tersenyum kecil.
"Ambil lagi airnya satu teko. Entar airnya kamu isiin di vas yang besar ya," perintah Ayana.
Pemuda itupun beranjak meninggalkan mereka dan kembali dengan teko yang sudah terisi penuh. Dengan perlahan dia menuang air. Sedikit kesulitan karena vasnya sudah diisi bunga yang Ayana bawa tadi. Lalu kembali berdiri di sisi Ayana setelah tugasnya selesai.
"Ada lagi yang bisa saya bantu bu?" Tanya kembali.
"Tunggu sebentar ya, saya cuma mau minta tolong kamu buat anterin saya ke ruangan lain." Sahutnya, sementara mata dan tangannya masih fokus pada vas-vas kecil yang sedang di isi bunga.
Ayana sedikit kesulitan sebab harus membagi buket bunga terakhir menjadi tiga. Andai aja ada ibu, pasti bisa selesai lebih cepat, gumam Ayana. Tak apalah, merangkai sedapatnya aja, pokoknya tetap terlihat cantik. Ayana tak ambil pusing. Yang penting cepat selesai, jadi bisa segera pergi tanpa harus ketemu cowok galak itu lagi.
"Tolong antar vas ini ke ruangan Tuan Adhiaksa ya. Setelah itu tolong antar saya ke ruang rapat gedung ini, saya ingin meletakkan vas ini disana," pinta Ayana.
"Baik bu," jawabnya dan meraih sebuah vas besar dari tangan Ayana, membawanya keruangan yang dimaksud kemudian kembali lagi.
"Nyonya Kalina apa masih mau menunggu disini?" Ayana memperhatikan Kalina yang masih duduk di sofa.
"Kenapa Ay?" Tanya Kalina bingung.
"Apa tidak sebaiknya kita pergi bersama? Setelah antar bunga, kita bisa langsung balik. Takutnya bunga di mobil akan layu karena ditinggal terlalu lama."
"Oh iya, saya lupa." Kalina bangkit dan segera keluar dari ruangan Rasya.
Bersama mereka menuju ruangan rapat yang telihat kosong. Meletakkan vas bunga di tengah-tengah meja rapat, kemudian beralih ke ruangan lain.
Hingga akhirnya langkah mereka berhenti tepat di depan ruang rapat terakhir. Pintunya dalam keadaan tertutup. Tak ada suara terdengar dari sana, mungkin ruangan itu memang dirancang kedap suara.
OB yang diketahui bernama Danang itu baru akan membuka handle pintu, saat tiba-tiba pintu terbuka dan Rasya keluar dari sana. Nadia mengekor dengan setia di belakangnya. Pertemuan yang tak terelakkan.