"Apa ibu yakin mau terima tawaran mereka?"
"Emangnya kenapa, Ay?" Sophia menatap putrinya. Seperti ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Ayana, ia dapat merasakannya.
Sophia berhenti sejenak. Matanya menatap lekat Ayana yang sibuk menyusun bunga dagangan mereka ke dalam toko. Ayana tau, tak ada alasan bagi mereka untuk menolak tawaran Nyonya Adhiaksa. Ibunya dan dia membutuhkan uang itu saat ini untuk kelangsungan hidup mereka.
"Apa kau tidak dengar ibu bicara?"
"Ayana dengar..." sahutnya.
"Trus kenapa? Kenapa tadi kau tanya seperti itu sama ibu? Apa kau ada masalah?"
Ayana menarik napas panjang. Pintu toko sudah tertutup. Ayana menggandeng lengan Sophia ke lantai atas.
"Ayana gak punya masalah apapun, bu..." katanya. Dengan telaten gadis itu menuntun Sophia di tangga.
"Ayana cuma berpikir, sekarang kita sudah dapat banyak pesanan bunga, apa bisa mengerjakan pesanan dari Nyonya Adhiaksa juga?" Ayana mencari-cari alasan.
"Nyonya Adhiaksa hanya akan memesan dua kali dalam seminggu. Itu bukanlah masalah besar." Sophia melirik putrinya.
"Benar juga..." pikir Ayana. Alasannya memang tidak masuk akal.
"Lagi pula...kerjasama dengan pihak EO itu belum dapat dipastikan. Kalau beruntung, bisa dapat pesanan sekali seminggu, sudah bagus." Sambung Sophia.
"Ayana cuma gak mau ibu terlalu capek," katanya. Alasan sebenarnya hanyalah untuk menghindari pertemuannya dengan pria galak itu.
"Ibu baik - baik saja. Kau tak perlu khawatir," sahutnya. Netra wanita itu lekat memandang gadis berbadan mungil di hadapannya. Kedua tangan itu merabai pipi mulus Ayana. Lalu mendekapnya dalam pelukan.
"Sebaiknya kau pikirkan hidupmu. Apakah kau tak ingin kuliah?"
"Tidak bu...,"
"Kenapa? Apa kau tak ingin bekerja di tempat yang bagus seperti temanmu yang lain?"
"Aku hanya ingin bersama ibu, biarkan aku membantu ibu membesarkan toko ini. Dan ibu tak perlu menggajiku, karena aku bekerja gratis...," ucapnya penuh haru. Ayana mempererat pelukannya.
Sophia tersenyum mendengar perkataan putrinya.
"Bu...,"
"Ya...ada apa?"
"Apakah ibu ingin memelukku seperti ini terus?"
"Emangnya kenapa? Apa kau tak suka ibu peluk?"
"Aku suka ibu peluk. Tapi aku lebih suka kalau ibu membuatkanku makan malam yang enak..."
Ayana memandang ibunya dengan tatapan berbinar bak anak kecil yang menunggu uang jajan dari emak bapaknya. Ia mengerjapkan matanya berulang kali seperti anak kucing ingin dipeluk tuannya.
"Ya ampun...ibu lupa." Sophia melepaskan pelukannya. Buru - buru ia menuju dapur dan bersiap dengan peralatannya.
"Bu...masak apa? Apa ada yang bisa aku bantu?" Ayana bertopang dagu di atas meja dapur, memperhatikan Sophia yang tengah sibuk sendiri.
"Tidak perlu, lebih baik kau mandi dulu. Setelah ini selesai kita akan makan bersama," seru Sophia.
"Apa ibu yakin tidak perlu dibantu?"
Sophia melirik putrinya sambil tersenyum, "sejak kapan kau bisa memasak?"
"Ah ibu...setidaknya aku bisa mengiris cabe dan bawang, juga menggoreng telur." Ayana mencebikkan bibirnya ke atas.
"Hahaa...," Sophia tak dapat menahan tawanya. Anak gadisnya sangat menggemaskan. Sophia tak pernah memaksa Ayana untuk memasak makanannya sendiri sejak dulu.
"Bu..."
"Hmm...," Sophia hanya mendehem.
"Kapan - kapan ajari aku memasak ya," katanya. Sophia masih tetap setia menatap kompor dan penggorengan.
"Tumben, ada apa?" Wanita itu melirik Ayana sekilas.
"Aku hanya ingin memasak buat ibu," sahutnya.
"Untuk apa? Ibu masih bisa memasaknya sendiri..." Sophia mulai menata makanan di atas piring.
"Apa tidak boleh? Apa ibu tidak ingin merasai masakanku?" Tatapnya penuh harap.
"Ada apa denganmu? Kenapa tiba - tiba bilang seperti itu?" Sophia menatap lurus Ayana yang tengah serius.
"Aku hanya ingin memasak bu...hanya itu saja."
"Baiklah, ayo kita makan. Ibu sudah lapar."
"Iya..." Ayana tersenyum manis. Masakan ibunya adalah makanan paling enak sedunia. Ya, sedunianya Ayana. Ibunya yang paling tau apa yang sangat disukai olehnya.
**********
Sementara itu dimalam yang sama, namun tempat yang berbeda. Bangunan megah bercat putih, dengan furniture mewah yang melengkapi bagian dalamnya. Tentu saja, itu adalah rumah kediaman keluarga Tuan Adhiaksa.
Baru saja Liliana bersama menantu dan cucunya memasuki ruang tengah, hendak menuju kamar mereka masing - masing, terdengar deru halus mobil dari arah depan. Tanpa komando, kedua wanita itu buru - buru masuk kamar. Tak ingin Rasya berprasangka buruk pada mereka.
Liliana keluar dari kamar setelah bersih - bersih dan berganti pakaian. Mendapati suaminya sedang duduk di ruang depan bersama Rasya.
"Baru pulang, pa..." katanya sesaat setelah duduk di sebelah Tuan Adhiaksa.
"Ah iya," sahut lelaki itu.
"Ada apa? Sudah sampai di rumah tapi wajah kalian kenapa masih serius begitu?" Tanyanya heran. Ayah dan anak itu hanya berpandangan.
"Ada apa Ray?" Tanyanya kemudian.
"Ada sedikit masalah di kantor," Rasya menarik napas berat. Tangannya menarik lilitan dasi di lehernya.
"Masalah apa? Apa begitu serius?" Liliana menegakkan duduknya.
"Hanya masalah di lapangan aja. Sepertinya harus melihat langsung ke sana." Rasya menyandarkan punggungnya. Walaupun terlihat tenang, tapi raut wajahnya tampak khawatir.
"Sepertinya papa saja yang ke sana Ray, kamu tetap stay di kantor untuk menangani semua yang ada di sini." Tuan Adhiaksa bersuara.
"Apa papa yakin mau berangkat sendirian?" Tanya Rasya.
"Sepertinya begitu. Papa hanya ingin memastikan dulu, setelah itu baru kita bicarakan lagi. Sementara kamu Ray, tetap di sini menangani klien kita. Pastikan saja kontrak kerjasama dengan mereka berhasil kamu dapatkan." Tamma Adhiaksa mengultimatum putranya.
"Baik pa," sahutnya tenang. Untuk masalah bisnis dengan klien, Rasya memang dapat diandalkan. Hanya saja, untuk urusan wanita, dia selalu saja gagal.
"Kapan papa berangkat?" Tanya Liliana kemudian.
"Sepertinya besok pagi, ma. Nanti biar supir yang antar papa ke bandara." Tuan Adhiaksa beranjak menuju kamar mereka, Liliana mengekornya dari belakang.
Rasya bangkit dari duduknya. Berjalan gontai menuju ruangannya di lantai atas rumah besar itu. Sejenak mengedarkan pandangan ke penjuru rumah, seluruh ruangan tampak lengang. Dia tak melihat Kalina maupun anaknya di ruangan manapun. Kakinya berbelok menuju kamar dimana Kalina dan putrinya berada. Tak ada suara yang terdengar dari dalam.
Tok...tok...tok....
"Apa dia tak ada di kamarnya? Kenapa tidak membuka pintu?" Gumam Rasya.
Tok...tok...tok....
Tangan itu sekali lagi mengetuk pintu kamar Kalina.
"Kal, apa kau di dalam?" Rasya sedikit mengeraskan suaranya. Tapi tak ada jawaban.
Tok...tok...tok....
Sekali lagi Rasya mengetuk pintu itu. Tangannya mencekal hande pintu. Terkunci.
Mungkin dia sudah tidur, pikirnya.
"Tapi ini baru jam delapan malam. Apa dia sudah makan tadi?" Tanya Rasya pada dirinya sendiri.
Lelaki itu baru saja melangkah meninggalkan kamar Kalina, saat terdengar suara kunci pintu terbuka dari dalam. Rasya berbalik.
"Mas Rasya?" Ucap Kalina yang penasaran sedang apa kakak iparnya di depan pintu kamarnya.
"Sedang apa kamu di dalam? Dari tadi aku mengetuk pintumu..." katanya dengan intonasi jengkel.
"Emang ada apa mas?" Kalina heran dengan tingkah Rasya.
"Dari tadi aku memanggil, kenapa tak menjawab?"
"Aku tadi sedang menidurkan Putri, mas. Tapi malah ikut tertidur juga," sahut Kalina.
"Apa kau sudah makan malam?"
"Belum mas. Ini aku baru mau makan malam. Apa mas sudah makan?" Kalina melangkah menuju meja makan, di ikuti Rasya di belakangnya.
"Belum juga. Aku dan papa baru sampai di rumah," jawabnya sambil duduk di seberang Kalina.
"Mama sama papa dimana, mas?"
"Di kamar. Mungkin keluar sebentar lagi," katanya lagi.
"Bagaimana perjalanan kalian? Kemana aja kamu sama mama hari ini?" Rasya melipat tangannya di d**a.
"Nggak kemana - mana mas, soalnya tadi pulang dari kantor papa juga udah sore. Jadi cuma muter - muter aja bawa ibu dan Putri jalan - jalan." Kalina berusaha menghindari tatapan Rasya.
"Apa kamu nggak singgah ke butik?"
"Nggak mas, besok aja. Lagian butik hari ini sepi. Maklum, teman - teman aku lagi pada liburan."
"Ooh..." Rasya mangut - manggut.
"Papa sama mama kok lama ya? Aku udah lapar nih," Kalina memegang perutnya. Rasya tampak khawatir.
"Ya udah, kita makan duluan aja," sahut Rasya.
Lelaki itu dengan cekatan mengambilkan makanan untuk iparnya. Kalau saja ada orang lain disitu, mungkin mereka akan berpikir kalau Rasya dan Kalina adalah sepasang suami istri daripada sekedar saudara ipar.
Kalina sendiri pun merasa heran, Rasya bisa bersikap baik, perhatian dan lembut kepadanya. Tetapi kenapa untuk urusan wanita, lelaki itu sulit sekali untuk mendapatkan pasangan? Kadang tak habis pikir, karena sikapnya akan sangat kaku dan kejam jika berhadapan dengan wanita lain. Entahlah, mungkin saja dulu dia pernah kecewa, begitu tebakan Kalina.
"Papa sama mama enggak ikut makan, mas?" Kalina merasa heran, tak biasanya mertuanya telat untuk makan malam.
"Tidak tahu. Mungkin sedang bersiap - siap buat besok," sahutnya tanpa menoleh.
"Emangnya besok mau kemana? Kok aku nggak tau?" Tanyanya heran. Mertuanya tak mengatakan apapun padanya tadi.
"Besok pagi papa berangkat ke luar kota buat survey proyek."
"Ooh...bareng kamu juga ya mas? Berapa lama perginya?"
"Enggak, aku enggak ikut. Papa berangkat sendirian. Soalnya aku harus menghandle klien di sini. Mungkin satu minggu. Kalau memang ada masalah di proyek, aku juga bakal susulin papa ke sana." Jawabnya to the point.
"Itu artinya, mas Rasya yang bakal nemuin Ayana di kantor..." gumamnya, sebuah senyum licik terlihat di bibirnya.
"Heh...ngapain kamu senyum - senyum?" Rasya mengibaskan tangan di hadapan Kalina. Hal itu sontak membuatnya terkejut.
"Eh...aku manggil papa sama mama dulu ya mas," katanya. Kalina segera beranjak dari kursinya, dia takut Rasya akan menginterogasinya karena hal tadi.
Belum lagi sampai, Tuan Adhiaksa sudah keluar dari kamar bersama Nyonya Liliana yang setia mengekor di belakangnya.
"Mau kemana Kal?" Tanya Liliana.
"Mau panggil papa sama mama buat makan malam," katanya sambil tersenyum. Kalina segera mendekat dan menggandeng tangan wanita itu, sambil berjalan menuju meja makan.
Rasya yang sedari tadi sudah duduk dan mengunyah makanannya, hanya menggeleng melihat tingkah Kalina.
"Ada apa dengannya hari ini? Tiba - tiba senyum enggak jelas gitu. Dasar wanita aneh." Mulut Rasya komat - kamit sendiri.
"Ngapain kamu pake pergi segala, Kal? Nih makananmu dimakan dulu, jangan maen tinggal begitu aja..." keluh Rasya dengan nada yang tidak enak banget buat didengar.
"Maaf mas. Tapi kan aku udah balik," Kalina cengar - cengir. Matanya berkedip - kedip gak jelas, bibirnya tersenyum lebar.
Tuan Adhiaksa dan istrinya hanya bisa tertawa melihat tingkah anak dan menantunya itu. Di depan Kalina dan juga keluarganya, Rasya adalah orang yang berbeda. Walaupun sifatnya kaku, bicaranya ketus dan ekpresi wajahnya begitu datar, tapi di depan mereka dia bisa bercanda, bisa bersikap baik, bisa bicara lembut juga. Entahlah, mungkin karena wajahnya yang tampan itu, dia jadi berlagak sombong. Huuh...padahal di luar sana, masih banyak tuh cowok yang enggak kalah tampan darinya tapi dengan kepribadian yang berbeda seratus delapan puluh derajat.
Buktinya, Raka Adhiaksa. Suami Kalina itu juga punya wajah tampan seperti kakaknya. Tapi Raka itu baik, romantis, lembut, sopan, baik lagi, romantis lagi, tampan, dewasa, lembuut banget kalau bicara. Ahh sudahlah!!
Yang pasti Kalina sudah pacaran dengan Raka sangat lama, bahkan sudah menikah, dan mereka sudah memiliki anak. Dan perasaan mereka tidak berubah walau saat ini mereka harus Long Distance Relationship alias LDR-an.
Satu hal yang jadi harapan mereka. Kalau suatu hari, Rasya akan memiliki sifat yang sama seperti sang adik, Raka. Dengan begitu, membuat Rasya menemukan cintanya dan memilih untuk menikahinya sudah bukan angan - angan belaka.
Andai saja Rasya mau mencuil sedikit aja sifat manisnya Raka. Pasti tampannya Rasya bakalan nambah deh. Gak usah muluk-muluk, setidaknya Rasya belajar senyum dulu ke orang - orang di sekitar doi. Sudah pasti bakalan banyak cewek yang tergila-gila padanya untuk dijadikan istri. Tampan, tubuh atletis, baik, romantis, tajir lagi. Siapa coba yang mau nolak.
**********