Erlan menjatuhkan dirinya di samping Aruna setelah berhasil mencapai puncak kenikmatannya. Dengan keringat yang membasahi hampir sekujur tubuh, namun tidak merasa lelah saat dia melihat Aruna terkapar tidak berdaya akibat ulahnya, dia justru tersenyum puas penuh kemenangan.
Erlan menarik tubuh Aruna hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain, kemudian mengecup dahi gadis itu sekilas. "Terima kasih."
Dia lantas menyelimuti tubuh telanjang mereka berdua dengan selimut yang sama. Memeluk Aruna erat.
"Karena aku sudah menjadikanmu sebagai wanitaku, maka aku akan memberikan semua yang aku miliki. Semuanya.. tidak terkecuali, termasuk hidupku." Erlan menambahkan dengan rona kebahagiaan yang tercetak jelas di wajahnya.
Dia merasa sangat puas saat bisa menjadikan dirinya sebagai yang pertama untuk Aruna. Bagaimanapun, populasi gadis perawan di dunia ini sudah langka, mungkin hanya ada 5% dari 100%.
Jadi.. Erlan merasa bangga atas apa yang sudah dia lakukan pada Aruna, sekalipun dia tau jika itu akan menyakiti gadis itu.
Aruna terkekeh. "Tidak usah di pikirkan. Kamu.. tidurlah!!"
Aruna meminta agar Erlan segera tidur. Rasanya dia ingin tertawa. Merasa lucu dengan perkataan Erlan yang tidak rasional. Lalu.. apakah Erlan pikir dia akan mempercayainya?
Sangat konyol! Bukanlah spesies jantan selalu menyebalkan sejak dulu, pengecualian untuk Papa dan Kakeknya. Mereka selalu berkata seolah olah mereka yang paling sempurna, paling benar, tanpa cela, tanpa cacat, namun.. pada nyatanya.. mereka tetaplah sejenis buaya yang hidup di dua alam.
Hidup di dua alam berdasarkan fakta umum yang terpampang nyata adalah mereka memiliki dua muka dengan dua kehidupan. Wajah dan kehidupan pertama adalah untuk satu wanita yang tertanam di hati. Sementara wajah dan kehidupan kedua adalah untuk wanita yang mereka temui di pinggir jalan.
Mereka seenaknya menyatakan cinta di awal pertemuan. Mendeklarasikan hubungan, mengajak ke tahap serius dengan jenjang pernikahan. Sayangnya.. Aruna tidak mungkin jatuh pada lubang yang sama untuk ke dua kalinya.
Erlan menyembunyikan wajahnya pada d**a Aruna, "baiklah, sebaiknya kamu juga tidur, semoga kamu bermimpi indah."
Aruna mengangguk, "tentu."
Erlan memejamkan matanya. Dia merasa akan bermimpi indah malam ini. Ada semacam kepuasan yang dia rasakan hingga melambungkannya ke angkasa.
Sementara Aruna tetap terjaga. Banyak hal yang harus dia pikirkan, juga banyak kejadian yang harus dia renungkan.
Salah satunya adalah bagaimana cara memperbaiki ini. Bagaimana cara penyelesaiannya, bagaimana cara agar dia terhindar dari kutukan Orang tuanya nanti jika mereka tau anak perempuan mereka telah ternoda hanya karena patah hati?
Bukankah semua akan semakin sulit untuknya?
Belum lagi jika Dion dan Zivanya mengetahui ini, mereka berdua pasti akan mengejeknya hingga mereka memuntahkan darah. Betapa bodohnya dia, sekarang dia meragukan IQ pintar yang selama ini melekat padanya.
Aish.. Aruna mendesis. Mungkin otaknya sungguh sungguh bermasalah, atau mungkin.. dia benar benar kehilangan akal?
Ingin berteriak, namun dia segera menutup mulutnya sendiri. Ingin menangis, namun dia sudah lelah berhubungan dengan kesedihan dan air mata sejauh ini. Dia.. tidak ingin melakukannya lagi.
Aruna hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan meratapi semua yang telah terjadi.
Apa yang di lakukannya sekarang, adalah sebuah kekhilafan yang tidak bisa di perbaiki. Biarlah dia menanggung apa yang sudah dia lakukan. Dia akan menjadi semakin dewasa dan matang dengan segala yang telah di perbuatnya.
Lagi pula, sejak awal, dia sudah tau ini akan terjadi jika pria dan wanita berada di tempat yang sama. Berciuman, b******a, seks.. atau apapun itu. Namun.. meskipun begitu dia tetap menerima ajakan Erlan untuk pergi bersama, jadi, sudah pasti jika semua bermula dari dirinya sendiri.
Tidak mungkin dia menyalahkan orang lain atas kesalahan yang telah di perbuatnya. Itu terlalu konyol jika hanya untuk menutupi kesalahannya sendiri dengan melimpahkan semuanya kepada orang lain. Itu tidak manusiawi.
Setidaknya.. dia tidak akan menjadi egois dengan mengkambing hitamkan seseorang. Yang harus dia lakukan sekarang adalah pergi dari sini secepatnya. Pergi dengan bersih tanpa meninggalkan jejak.
Setelah beberapa lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Aruna memeriksa tingkat kesadaran Erlan dengan menepuk pipi pria itu, setelah di rasa Erlan tertidur pulas, Aruna segera melepaskan tangan kekar Erlan yang tengah memeluknya erat.
Aruna melakukannya dengan hati hati.
Dia tidak ingin Erlan terbangun dan mengetahui kepergiannya. Bagaimanapun, dia harus kembali ke hotel tempatnya menginap, mengemas barang bawaannya, lalu pulang ke Indonesia dengan bahagia.
Dengan susah payah, Aruna berhasil melepaskan diri dari rengkuhan pria itu. Namun, ada satu masalah lagi, yaitu tubuh bagian bawahnya terasa sangat sakit untuk berjalan. Seperti sesuatu yang besar telah menerobosnya secara paksa.
Aruna terkekeh.
Tentu saja, selaput daranya memang telah di robek paksa oleh Erlan, menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa.
Mungkin ini merupakan hal yang biasa untuk seorang gadis di awal mereka melakukan seks. Iya.. tentu saja seperti itu. Setidaknya.. itulah yang dia ketahui melalui internet, dan setidaknya dia tau jika semua itu fakta atau benar adanya.
------•
--•
Aruna berjalan tertatih memasuki kamar hotel tempatnya menginap setelah berhasil melarikan diri dari rengkuhan Erlan. Jam dua dini hari waktu setempat. Benar benar hebat.
Untung saja masih ada supir taksi yang berkeliling pada jam jam krisis seperti itu, dan untungnya.. supir taksi bukan orang jahat yang akan mengambil semua barang berharganya, lalu membunuh dan membuang jazadnya begitu saja.
Aish.. membayangkannya saja membuat Aruna merinding dengan rasa takut sepuluh kali lipat lebih banyak dari biasanya.
Dia bisa pulang dalam keadaan selamat, utuh, tanpa kurang suatu apapun, sudah merupakan keajaiban.
Aruna segera memasuki kamar mandi setelah tiba di unit hotel yang di tinggalinya. Berendam dengan air hangat untuk menghilangkan rasa sakit pada sekujur tubuhnya.
Dia memandangi tubuh telanjangnya di dalam air. Cukup prihatin karena dia tampak sangat menyedihkan. Seperti di pukuli oleh masa, tubuhnya benar benar remuk dengan kulit yang memerah di sana sini.
Aruna menggosok tubuhnya, lagi dan lagi. Namun.. itu tetap tidak bisa di hilangkan.
Tentu saja, sisa pergolakannya dengan Erlan beberapa jam yang lalu tidak akan mudah di hilangkan hanya dengan berendam air hangat. Setidaknya itu akan bertahan hingga beberapa hari dan akan menjadi pengingat untuknya agar tidak melakukan hal hal konyol yang bisa merusak masa depan dan nama baik keluarganya.
Aruna tersenyum hambar. Jika ini adalah mimpi, dia berharap tidak akan terbangun lagi. Bagaimanapun, hidupnya terlalu hancur untuk di tata kembali.
Drt drt..
Getar hp membuyarkan Aruna dari khayalannya. Tanpa menunggu lagi, dia segera menjangkau benda pipih yang berjarak cukup jauh darinya.
"Halo." Aruna menjawab dengan malas setelah mengetahui siapa penelepon yang mengganggu waktu istirahatnya.
"Aruna, apa aku menganggu waktu istirahatmu?"
Adalah suara seorang pria dari balik panggilan. Suara sayu khas bangun tidur.
Aruna mengangguk, "iya, eh.. maksudku.. tidak. Kamu sama sekali tidak menganggu karena aku memang belum tidur."
"Apa sesuatu telah terjadi?"
"Tidak ada." Aruna buru buru menyanggahnya. "Aku hanya tidak bisa tidur." Tambahnya cepat. Bagaimanapun, Pria di balik panggilan memang terlampau peka, bisa mengetahui apapun seperti seorang peranormal.
"Apa kamu yakin?"
"Tentu saja, kapan aku pernah berbohong padamu?" Pria itu masih saja tidak mempercayainya. Apa suaranya tidak cukup menjanjikan hingga pria itu masih meragukannya? Menyebalkan.
"Hm.. baiklah. Apa yang sedang kamu lakukan sekarang?"
"Aku sedang berendam dengan air hangat."
"Apa kamu gila? Bagaimana mungkin kamu mandi pada jam dua dini hari waktu Australia? Apa kamu ingin mati??"
Aruna menjauhkan hp dari telinganya, dan mendekatkannya kembali setelah omelan panjang itu berakhir. "Sejak kapan mandi bisa membuat orang mati, hah? Aku hanya merasa lelah, ingin menenangkan diri dan merileksasi tubuh semalaman di bak mandi, apa itu salah? Bukankah, kamu sedikit berlebihan?"
"Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kamu sendirian di sana? Bagaimana jika kamu demam atau flu? Siapa yang akan menjagamu, ha??"
"Tenanglah sedikit! Aku tidak akan sakit. Lagi pula, sebentar lagi aku juga akan pulang." Aruna menjawab dengan setumpuk perasaan bersalah.
Dia benar benar berdosa karena telah berbohong pada orang yang selalu mempercayainya.
"Baiklah jika kamu berkata demikian. Jangan lupakan penerbanganmu dua jam lagi. Okey? Aku akan menutup panggilannya. Tidurlah sebentar dan aku akan membangunkanmu 30 menit sebelum penerbanganmu tiba, jadi.. jangan matikan hpnya."
"Iya, aku mengerti. Terima kasih atas semuanya."
Tut tut tut..