Episode Keempat

2275 Words
"Lepaskan aku! kurang ajar sekali kau mengatakan padanya kalau aku ini kekasihmu yang baru, baru juga kenal sudah mengakui aku sebagai pacarmu saja." Laura menghempas tangan Jourdy yang merangkul pundaknya. "Bawel sekali kau," ucapnya singkat kemudian pergi menjauh dari Laura. Gadis itu mengepalkan tangannya seakan-akan ingin memukul Jourdy dari belakang karena geram. Namun dengan tidak sengaja, tangan Laura malah mengenai sup panas yang dibawa oleh pelayan. Mangkuk sup itu pecah ketika bersentuhan dengan lantai. Jourdy yang belum jauh dari jangkauan Laura langsung berbalik badan karena mendengar teriakan Laura. "Ah, panas. Mamaaaaaa...." teriak Laura mengibas-ibaskan tangannya. "Laura." Blazer mewah seharga puluhan juta dia lepas kemudian mengelap sisa-sisa sup panas di tangan Laura. Panik, Jourdy tidak tahu harus berbuat apa, dia malah memarahi seorang pelayan yang sedang memunguti serpihan beling di lantai. Karena Laura terus menangis merasakan tangannya sangat perih, akhirnya Jourdy menggendong Laura untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Atas pertolongan Tuhan kepada gadis yang selalu berbaik hati, jarak rumah sakit bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sekitar 2,5 km pria itu menggendong tubuh mungil Laura. "Tahan Ra, sebentar lagi kita sampai," ucap Jourdy yang sudah bercucuran keringat. "Perih Jour. Mengapa tidak naik mobil saja, 'kan kamu jadi capek karena menggendongku?" jawabnya melingkarkan kedua tangan di leher Jourdy supaya tidak jatuh. "Aku takut kita terjebak macet di jalan, lagi pula rumah sakitnya juga dekat. Sudahlah kamu tenang saja jangan banyak tanya, apa mau aku turunkan kamu di sini?" responnya sambil terus berjalan walau kakinya terasa pegal. "Jangan dong." Ternyata dibalik sifatnya yang buruk terdapat hati yang baik, batin Laura melihat keringat Jourdy bercucuran di leher. Beberapa menit kemudian Jourdy mendudukkan Laura di kursi roda setelah sampai di klinik terdekat. Bajunya dibasahi oleh keringat, apalagi dibagian ketiaknya. Sungguh perjuangan yang patut diapresiasi karena memiliki jiwa penolong yang tinggi. "Suster!" Jourdy mendorong kursi roda itu kemudian mencari petugas kesehatan. Dua orang perawat langsung membawa Laura ke ruang IGD setelah mengetahui kondisi tangannya yang telah membengkak. Suster langsung menangani pasiennya yang kini tengah berbaring di atas bed dan mengoleskan obat luka bakar ke tangannya untuk mencegah infeksi. Tindakan berjalan selama kurang lebih 15 menit, Laura keluar dari ruangan itu dengan perban yang melilit tangan. "Jour!" panggil Laura melihat Jourdy tidur berbaring di kursi koridor klinik. Pria itu 'tak menjawab hanya sedikit menggerakkan kepala saat Laura duduk di sampingnya. Gadis itu mencoba untuk membangunkan Jourdy, namun dia tidak bangun juga. Laura sedikit mengangkat kepala Jourdy dan menidurkan di pahanya. "Bagaimana mau pulang kalau Jourdy kebo sekali tidurnya. Mama, iya aku bisa menghubunginya. Astaga, tasku tertinggal di restoran itu. Ya Tuhan s**l sekali hari ini," gumam Laura ketika tersadar kalau dia pergi ke klinik dengan tangan kosong. "Jour bangun ayo kita pulang!" ucapnya menggoyang-goyangkan tubuh Jourdy dan sesekali mencubit pipinya supaya terbangun. Karena sudah larut malam dan keadaan klinik sudah sepi hanya ada mereka berdua bersama beberapa suster yang bertugas, lama-kelamaan Laura juga ikut tidur di sana hingga pagi datang membangunkan mereka dari dunia mimpi. * Hoam, pria itu merenggangkan otot-ototnya. Matanya terbuka, dia baru sadar kalau semalam ketiduran di kursi ini saat menunggu Laura. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di bawah kepalanya. "Laura," ucap Jourdy kemudian memposisikan badannya untuk duduk. "Ra...Ra bangun!" Laura membuka mata, dilihatnya seorang pria yang kini tengah duduk bersebelahan dengannya. Sesekali dia meringis kesakitan sangat terasa di tangannya. Dia baru sadar kalau semalam menginap di sini bersama Jourdy. "Kita ketiduran di sini, mengapa kamu tidak membangunkanku?" tanya Jourdy. "Aku sudah membangunkanmu berkali-kali tapi memang kamunya saja yang kebo jadi aku ikut tidur saja di sini menunggumu sampai bangun," jawab Laura. "Astaga. Maaf ya Ra, oh iya bagaiamana kondisi tanganmu?" ucap Jourdy perhatian kepada Laura. Dia memegang tangan Laura yang terlilit perban kemudian mengeceknya. Jo-Jourdy meminta maaf padaku? apa aku tidak salah mendengar? batinnya. "Ra? ya ampun malah melamun, jangan anggap kalau aku ini perhatian sama kamu. Sikapku seperti ini karena aku hanya ingin menolong orang yang sedang membutuhkan bantuanku," kata Jourdy. Hampir saja Laura terpikat dengan pria ini, namun lagi-lagi dia terjebak oleh perasaannya sendiri. Merasa malu, Laura berdiri dengan spontan kemudian berjalan meninggalkan Jourdy. Pria itu bingung dengan gadis ini, mengapa tiba-tiba dia menjauh darinya. Bukannya bilang terima kasih malah pergi begitu saja, ternyata ego wanita memang sulit dikalahkan, batinnya membuntuti Laura dari belakang. Di pinggir jalan sana dia langsung memberhentikan taxi yang lewat untuk segera pulang. Mata Laura melirik tajam ke arah Jourdy yang memperhatikannya sebelum jauh dari jangkauan. Buk, gadis dengan dress panjang itu menutup rapat pintu mobil dan menyuruh driver untuk segera jalan. "Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Laura saat ini?" gumam Jourdy menggelengkan kepala. Selama di perjalanan, pikiran Laura malah dikacaukan oleh bayang-bayang wajah Jourdy yang terus menghantuinya. Dia merasa bersalah karena telah meninggalkan orang itu begitu saja sedangkan Jourdy telah menolongnya. Apa aku balik saja ya? kasihan Jourdy, batin Laura. "Pak kita putar balik ya, kembali ke klinik tadi soalnya ada barang saya yang tertinggal!" perintah Laura kepada driver taxi. "Baik kak." Setelah memutuskan untuk berputar balik dan kembali ke klinik itu, dia mendapati Jourdy yang sedang berjongkok entah menunggu siapa. Laura turun dari taxi kemudian langsung menarik tangan si pria dan membantunya berdiri. "Eh-eh kenapa ini? kamu mau bawa aku kemana?" respon Jourdy. "Ayo kita pulang naik taxi supaya aku bisa mengantarkanmu sampai ke rumah!" ajak Laura masih menggandeng tangan Jourdy. "Beneran?" tanya pria itu. "Bawel sekali sih, tinggal ikut aja apa susahnya?" sungut Laura memaksa pria itu untuk ikut bersamanya. Akhirnya Jourdy mengikuti kemauan Laura yang memaksa dirinya. Dia duduk di samping Laura yang sedari tadi bungkam selama di dalam perjalanan. Biasanya dia cerewet tapi kenapa sekarang jadi pendiam seperti ini? apa dia marah karena kejadian tadi malam karena aku mengakuinya sebagai kekasihku? batin Jourdy memandang wajah Laura secara diam-diam. "Jalan Romusa nomor 32 ya pak!" kata Jourdy mengarahkan driver taxi. "Siap pak." Setelah melewati beberapa gundukan polisi tidur, mobil taxi itu berhenti di depan gerbang sebuah rumah mewah milik keluarga Hendrawan. "Terima kasih ya Ra karena kamu sudah mengantarkan aku," ucapnya sebelum turun dari taxi. Akan tetapi gadis itu menjawabnya dengan suara ketus, "Sama-sama. Sudah sana turun!" ucapnya mengusir Jourdy. "Galak banget sih jadi cewek. Aku doakan supaya cepat tua seperti nenek-nenek baru tahu rasa kamu," cetusnya kemudian keluar dari mobil taxi. "Biarin, doa orang jahat tidak akan dikabulkan oleh Tuhan," jawabnya sambil menjulurkan lidah dan meledek Jourdy. "Jalan pak!" perintah gadis itu. "s**l, gadis itu sangat berani meledekku. Kalau saja kita bertemu kembali aku berjanji akan mencubit keras pipinya," gerutu Jourdy kesal. Dia menendang sebuah batu besar yang terletak di pinggiran jalan. Jelas saja ujung kakinya akan merasa sakit karena dihantamkan dengan benda keras itu. Jourdy menyeringai kesakitan kemudian berjalan pincang masuk ke dalam rumah. * Suara percikan air terdengar begitu jelas saat membasahi tubuh mungil Laura. Tepat setelah dirinya pulang ke rumah kondisi rumahnya sangat sepi tidak ada keluarganya. Gadis itu bergegas mandi membersihkan kuman-kuman membandel yang selalu mengganggu hidupnya sehingga sulit untuk mendapatkan pacar. Masa sekarang ini penampilanlah yang paling diutamakan, tidak memandang baik atau tidaknya orang itu. Yang pintar dan baik hati pasti akan kalah dengan wanita yang bertubuh sempurna. Dia meraih sebuah handuk piyama yang menggantung kemudian menyelimuti tubuhnya. Nampaknya piyama itu sudah terlalu sempit dan kecil untuk digunakan oleh Laura. Sehingga menampakkan paha mulusnya yang sebenarnya berwarna putih pucat namun berubah menjadi lebih gelap karena malas menggunakan lulur atau pun body lotion. Sedari tadi, Laura melakukan kegiatannya hanya dengan menggunakan satu tangan. Walaupun itu sangat sulit bagi Laura tapi mau bagaimana lagi? tangan yang satunya masih terbalut oleh perban yang seharuanya diganti sehari dua kali. Laura duduk di kursi meja belajarnya setelah selesai membenahi diri. Dia membuka macbook applenya yang juga berwarna silver untuk mengecek apakah ada informasi dari Valen atau tidak. Ting...ting...ting... Satu persatu notifikasi dari Valen bermunculan di layar macbook, ternyata sedari tadi malam Valen telah mengirim pesan kepada Laura kalau besok lusa ada kegiatan camping di lapangan sekolah. "Astaga, jadi lusa akan ada camping dan bersifat wajib bagi seluruh siswa-siswi? bagaimana ini sedangkan tanganku saja masih belum sembuh." Laura panik dia tidak tahu harus membalas apa kepada Valen. Akhirnya untuk mengetahui info lebih jelas Laura melakukan panggilan video kepada temannya itu. "Halo, Len. Kamu masih di sekolah? kalau masih aku boleh tidak meminta tolong kepadamu untuk mengizinkanku supaya tidak mengikuti camping itu? lihat ini tanganku sedang terluka!" kata Laura berbicara terburu-buru sambil menunjukkan perban di tangannya. Valen yang berada di sana memperhatikan temannya yang sedang berbicara panjang sehingga dia hanya bisa menganga melihat Laura. "What, ta-tanganmu kenapa?" jawabnya. "Tersiram sup panas," kata Laura. "Ya Tuhan mengapa bisa?" tanya Valen. "Ceritanya panjang sekali, Len. Sekarang kau bisa tidak mengizinkanku kepada bu Rasti?" ucap Laura. "Bisa tapi aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya sedangkan ini adalah acara tahunan yang bersifat wajib," kata Valen. "Katakan padanya kalau aku sedang terluka dan itu sangat mustahil jika aku mengikuti camping. Katakan apa saja yang menurutmu bisa meyakinkan bu Rasti supaya memberikanku izin tapi ingat harus berupa fakta, jangan dilebih-lebihkan. Oke?" jelas Laura seperti menjelaskan materi tentang laporan hasil teks observasi yang di dalamnya harus berupa fakta. Valen mengacungkan jempol memberi tanda kalau dia mengerti tentang penjelasan Laura barusan. Tidak lama kemudian mereka mengakhiri panggilan video karena jam istirahat sekolah telah usai. Laura merasa sangat lega setelah menyerahkan urusannya kepada Valen. Selang beberapa waktu saat Laura sedang sibuk melamun, seseorang datang membuka pintu kamar Laura dan berlari menghampirinya. "Laura, ya ampun sayang kamu kemana saja? ini tangan kamu kenapa diperban seperti ini? apa yang telah terjadi denganmu sayang? aduh, mama sangat khawatir sekali dengan kondisimu yang tiba-tiba menghilang begitu saja tadi malam," cetus Sarah sambil memeluk putrinya. Laura berusaha menghindar dari pelukan Sarah, bukannya tidak sopan dengan mamanya tapi pelukan Sarah yang begitu erat membuat Laura jadi sulit untuk bernapas dengan tenang. "Mama, aku tidak apa-apa hanya sedikit terluka saja," ucapnya menahan napas. "Kau sedang tidak baik-baik saja, tanganmu terluka bagaimana mama bisa tenang melihat kondisimu sekarang? apa lagi bulan depan mama dan papa akan kembali ke Seoul," kata Sarah masih memeluk Laura. "Iya aku tahu perasaan mama, tapi tolong lepaskan aku ma, aku tidak bisa bernapas dengan lega," kata Laura. Seketika Sarah berhenti menangis dan melepaskan tubuh Laura kemudian mengusap air matanya. Huh, napas Laura kembali normal. "Percayalah kalau kondisiku sekarang baik-baik saja. Sebenarnya aku ingin sekali ikut mama dan papa kembali ke Seoul. Tapi mau bagaimana lagi ini semua juga demi kebaikanku untuk belajar mandiri saat jauh dari mama papa," kata Laura sedih. "Kamu tenang saja ya, semuanya akan baik-baik saja saat kamu tinggal di sini. Mama juga sudah membayar beberapa asisten rumah tangga untuk membantumu. Jadilah gadis yang bijaksana, Laura. Belajar yang rajin supaya cepat lulus dan bisa menggapai cita-citamu untuk menikah muda dengan pria kaya," ucap Sarah yang membuat pipi Laura berwarna merah jambu. "Mama ih, kenapa jadi membicarakan hal itu? Laura malu ma kalau berbicara tentang pria kaya yang belum bisa aku dapatkan di depan mama," ucapnya. "Mengapa harus malu? kalau saja kau sudah mendapatkan pria itu setelah lulus sekolah dan langsung menikah, mama dan papa akan merestuimu asalkan pria itu baik dan bisa menghargaimu. Laura, anak mama hanya satu yaitu kamu. Tidak ada salahnya 'kan kalau mama ingin segera cepat menimang cucu?" kata Sarah membuat Laura tersipu malu. Memang usia Sarah sekarang telah pantas untuk menimang seorang cucu. Cita-cita Laura untuk menikah muda mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Mengingat dahulu kedua orang tua Laura yang menikah diusia hampir 32 tahunan dan sangat sulit untuk memiliki momongan sehingga harus menjalani proses bayi tabung karena rahim Sarah yang bermasalah. Perbincangan mereka yang cukup lama telah memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Tiba-tiba saja Laura jadi teringat pada lelaki yang telah membawanya ke klinik. Apakah sikapnya tadi sudah sangat keterlaluan? Hatinya gelisah, apakah dia harus meminta maaf kepada pria itu dan membawa sesuatu untuk berbalas budi? "Mama tahu tidak, orang yang telah membawaku untuk berobat ke klinik tadi malam adalah Jourdy. Dia rela menggendongku dan berjalan ke klinik itu hingga keringatnya keluar bercucuran. Kemudian dia menungguku sampai tertidur di kursi klinik hingga pagi tadi. Sekarang aku bingung ma, apakah aku harus mengatakan terima kasih kepadanya atau tidak?" "Kau belum mengatakan terima kasih kepada orang sebaik dan setulus Jourdy? Astaga Laura mengapa anak mama melakukan itu? apakah kau tidak sadar dengan perlakuanmu yang seperti ini kau telah jahat kepada perjuangan seseorang yang begitu perhatian terhadapmu. Mama tidak mau tahu, sekarang juga kamu ganti baju kemudian temui dia di rumahnya. Akan mama bawakan makanan yang bergizi untuknya," kata Sarah kemudian keluar dari kamar Laura untuk menyiapkan makanan. Benar sekali apa kata mama, aku terlalu jahat untuk seseorang yang telah menolongku. Padahal dulu mama tidak pernah mengajariku hal yang sedemikian. Ah, bodoh sekali kau Laura. Laura mengobrak-abrik lemari pakaiannya, dia menjajal semua bajunya satu persatu. Tidak ada pakaian yang cocok dengan hatinya selain celana jean, baju putih polos yang dilapisi oleh bolero hitam, dengan sepatu boots hitam sebagai alas kaki. Sebuah lipstik berwarna peach juga dia gunakan untuk memoles bibirnya supaya tidak terlihat pucat. Setelah berdandan dengan rapi, Laura keluar dari kamarnya dan menghampiri Sarah di dapur. "Ma aku sudah siap, apakah makanannya juga sudah siap?" tanya Laura yang berdiri di belakang Sarah. "Sudah, ini ada nasi dan chicken wings dengan semur jengkol buatan mama. Dan di meja depan telah mama siapkan tasmu beserta isinya yang kemarin tertinggal di restoran," ucap Sarah memberikan sebuah rantang kepada Laura. "Jadi ini makanan bergizinya? semur jengkol?" kata Laura tertawa. "Ini enak tahu, coba rasakan semur jengkol mama. Dijamin akan ketagihan dan tambah terus," kata Sarah memuji masakannya. Laura hanya menggeleng kepala sambil tertawa melihat semur jengkol itu. Ia ingin sekali mencicipinya namun waktu yang tidak mencukupi ini menggagalkan rasa penasarannya. Setelah berpamitan dengan Sarah, Laura langsung bergegas pergi ke rumah Jourdy. Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD