Episode Ketiga

2732 Words
Jedag-jedug musik dj membuat Karin dan teman-temannya semakin terlena di bawah kendali alkohol. Mereka berjoget memperlihatkan kelihaian badanya di depan seorang anak mafia b***t. Sedangkan lelaki itu duduk menumpangkan kaki kanan di paha kirinya sambil menghisap sebatang rokok. Jourdy 'tak henti-hentinya memperhatikan lekukan tubuh wanita yang sedang berjoget di depannya. Sore ini dia berencana untuk membawa Karin ke rumah. Wanita dengan pakaian seksi berwarna ungu itu sangat senang setelah mendengar kalau Jourdy akan membawanya. Setidaknya dia bisa merasakan menjadi nyonya Jourdy walaupun hanya sementara. Setelah membayar beberapa botol bir untuk dibawa pulang, Jourdy dan Karin bergandengan tangan dan berjalan menuju parkiran mobil. "Kita akan mengadakan pesta besar ya, mengapa banyak sekali membeli birnya?" tanya Karin yang duduk di kursi mobil depan bersebelahan dengan Jourdy. "Berdua saja sayang. Malam ini kita akan bersenang-senang sepuas hati, apakah kau takut jika tidak bisa menghabiskannya? Tenang saja akan ku habiskan semua demi mendapatkanmu," jawab Jourdy memutar setir ke arah kiri. "Apakah kita akan bermain di rumahmu? Bagaimana dengan keluargamu jika nanti melihatnya?" tanya Karin sekali lagi. "Tentu, jangan merisaukan masalah itu karena mama dan kak Nino sedang di luar kota." Nampaknya lelaki itu sudah tidak sabar untuk melepas nafsunya. Bisa dilihat dari cara dia menyetir mobil, laju sekali dan membuat Karin harus berpegangan erat. Sesampainya di rumah Jourdy... Ini merupakan kali kedua wanita penghibur itu datang ke rumah Jourdy. Turun dari mobil dia berjalan dengan lenggak-lenggoknya dengan menenteng tas kain berisi bir tadi. "Pelayan dan pembantu semua kemari!" teriak Jourdy di dalam rumah sehingga menghasilkan suara gema. "Ada apa memanggil pelayan dan pembantu?" Seorang wanita berkepala empat muncul dengan membenamkan tangan ke saku celana. Terkesiap, Jourdy tidak tahu kalau mama dan saudara kandungnya ternyata sudah pulang ke rumah. Karin yang semula senang karena ingin bersantai di rumah ini merasa kecewa dengan keadaan. Kalau tahu begitu, mereka tidak akan pulang ke rumah dan akan menyewa sebuah kamar hotel. "Tante?" ucapnya tertegun menutup mulut. Denada mengetahui latar belakang wanita milik Jourdy. Bahkan dia pernah melarang putranya untuk tidak berhubungan lagi dengan wanita itu. Namun entah hal apa yang membuat Jourdy tetap bertahan menggandengnya meskipun Karin sudah tidak perawan lagi. "Bagus, ide yang bagus anakku. Kau sudah berani membawa si penghibur ini ke rumahku," kata Denada ketus. "Mama sudah pulang?" tanya Jourdy memastikan bahwa ini bukan halusinasinya. "Kenapa? terkejut?" tanya Denada kembali. "Sayang bagaimana ini? niat baik kita sudah tidak bisa dilanjutkan lagi," bisik Karin di telinga kiri Jourdy. "Niat baik apa yang akan kalian lakukan? mempraktekan pelajaran reproduksi sebelum menikah? ini tidak bisa dibiarkan, mama tahu semua rencanamu Jour. Bahkan demi wanita ini kau rela membayar mahal pihak hotel untuk menghias kamar seromantis mungkin," kata Denada. Sial, mama sudah mengetahui semuanya sekarang apa yang harus ku lakukan? aku sangat membenci suasana seperti ini, suasana yang telah menggagalkan kenikmatanku bersama Karin, Jourdy berbicara di dalam hatinya. "Bukan begitu maksud niat kita tan. Malam ini saya dan mas Jourdy hanya ingin membahas bisnis yang baru saja kita rencanakan. Dan masalah kamar tidur, itu adalah keinginan mas Jourdy dan saya tidak akan tidur bersamanya." Karin berbohong demi membela dirinya dan sang kekasih. "Jangan membawa-bawa bisnis yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Mana ada bisnis man yang membeli bir sebanyak ini dan menghias kamar dengan handuk angsa." Kantong kain milik Karin direbut oleh Denada kemudian dia menjatuhkannya ke lantai. Klotak! botol bir berjatuhan. "Astaga, mama ini apa-apaan sih? berperilaku semena-mena kepada wanitaku," ucap Jourdy membela kekasihnya. "Jourdy putraku, kau lebih membela wanita perusak ini dari pada seorang ibu yang telah melahirkanmu di dunia? Baiklah kalau itu maumu, lebih baik aku mati saja dari pada mengasuh anak durhaka sepertimu. Asisten, tolong berikan pistol itu kepadaku!" Perkataannya bukan main-main, seorang asisten yang selalu mengawal Denada mengambil sebuah pistol di dalam tas koper kemudian memberikannya. Denada menempatkan lubang peluru tepat di samping pelipis kirinya. "Ma, tolong jangan lakukan itu!" teriak Jourdy menurunkan tangan Denada. "Kau memang menginginkan aku supaya cepat mati. Dan bukankah kalau aku mati sekarang juga, kau bersama wanita itu bisa bebas ingin melakukan apa saja sesuka hati kalian? Papamu juga bisa mencarikan mama baru untukmu, dia bisa menikah lagi. Menikahi seorang ibu tiri yang tidak peduli sama sekali terhadap kehidupanmu. Bukankah itu benar Jourdy, jawab!" bentak Denada kemudian menatap bola mata putranya. Jourdy lemah, tiba-tiba kakinya tidak berdaya menopang berat badannya. Kemudian dia bersimpuh mencium kaki ibunya dan menangis memohon kepadanya untuk tidak melakukan hal itu. Air mata seorang anak mafia yang sudah lama tidak menghujani pipi menetes di sepatu hitam Denada. "Syaratnya sangat mudah jika kau tidak ingin ibumu mati sekarang. Katakan putus pada dia di hadapanku!" ucapnya menahan tangis. Bukan, ini bukanlah perkara mudah baginya. Dia sudah terlanjur mencintai Karin yang sekarang sedang menyaksikan pertunjukan ibu dan anak di hadapannya. Mau Karin sudah hilang keperawanan sekali pun, Jourdy tidak bisa berbohong pada hatinya. Jourdy mencintai Karin namun dia juga menyayangi mamanya, sungguh pilihan yang sangat sulit. Demi mama yang telah melahirkanku di dunia, aku harus bisa mengatakan ini kepada Karin walaupun hanya sebatas kata namun hatiku belum bisa melepasnya begitu saja, batin Jourdy mendongakkan kepala dan melihat betapa malang nasib wanita pilihanya. Perlahan dia bangkit dan melangkah mendekati kekasihnya itu. "Hubungan kita berhenti sampai di sini!" ucap Jourdy dengan berat hati. Benarkah ini Jourdy yang mengatakannya padaku? atau kini tubuhnya sedang diisi oleh makhluk halus sehingga dia berbicara seperti itu? batin Karin mengusap air matanya kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Perlu kau ketahui sayang, perkataanku tadi hanyalah sebatas omong kosong yang tidak tulus ku ucapkan padamu. Aku berjanji akan menarik kata-kataku setelah keadaan sudah lebih membaik, batin Jourdy membiarkan wanitanya pergi sendiri sambil menangis. Bruk! Denada lempar jauh pistolnya. "Mama berharap supaya perkataan yang kau ucapkan tadi tulus dari dalam hati, kau ini tampan, muda, dan kaya raya. Sangat mudah bagimu untuk memilih wanita di luar sana yang lebih baik dari pada Karin. Jam 8 malam nanti temui aku di resto, ada hal yang ingin ku sampaikan padamu. Kalau kau tidak datang, aku akan mengambil kembali pistol itu dan menembak diriku sendiri," ucap Denada setelah melepaskan benda api berbahaya itu kemudian meninggalkan putranya. Satu jam setelah Jourdy memutuskan Karin... Akira Back, tuan bungsu bersama dengan bodyguardnya memasuki area restoran bintang 5 dan disambut manis oleh manager dengan sopan santun. "Selamat datang tuan Jourdy Pranata yang terhormat!" sambut manager resto. Pria berblazer abu-abu itu berjalan menuju ke ruangan VIP sesuai dengan petunjuk manager. Terlihat Denada bersama Nino dan dua orang wanita yang sedang berbincang-bincang di dalam ruangan itu. Namun Jourdy tidak begitu paham dengan dua wanita asing itu karena dari belakang hanya terlihat rambutnya saja. "Itu dia putra bungsu saya sudah datang," ucap Denada begitu melihat Jourdy. Kedua wanita itu memutar kepala, melihat siapakah putra bungsu Denada. "Kamu?" ucap Jourdy terkejut saat melihat wanita muda dan mamanya yang duduk bergabung bersama keluarga Denada. Manager resto Akira Back menyeret kursi ke belakang dan mempersilakan Jourdy untuk duduk. Pria itu malah terdiam bak disambar petir setelah melihat wanita muda itu. Ke-kenapa dia ada di sini sih? atau jangan-jangan wanita ini ingin dijodohkan denganku? habislah riwayatku, ini tidak boleh terjadi secepatnya aku akan keluar dari ruangan ini, batin Jourdy. * "Apakah kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Denada, wanita itu melihat kalau Jourdy dan dua orang yang ditemukannya seperti sudah saling kenal. Laura dan Sarah, mereka berdualah orang yang ingin dikenalkan kepada Jourdy. Dua mama muda ini dulunya adalah teman di bangku sekolah dasar. Sebenarnya dulu sebelum Denada pindah ke luar negeri Laura dan Jourdy sempat bertemu, namun mereka masih balita tentu saja mereka belum mengingatnya. "Jadi kamu anaknya Denada?" tanya Sarah kepada Jourdy yang tengah duduk di samping kanan Laura. Pria itu mengangguk, "Benar tante saya Jourdy putra dari Denada Hendrawan dan adik dari Elnino David Mahardika," ucap Jourdy. "Putramu ini kemarin menolong Laura saat dia diculik oleh preman. Aku akui dia adalah pria yang hebat, pasti kau bangga memilikinya, Den." Sarah tidak tahu saja kalau sekarang hati Denada hancur berkeping-keping akibat hubungan terlarang putranya dengan si pela***. Jourdy bisa menjadi hero untuk orang lain tapi mengapa dia tidak bisa menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri. "Oh begitu. Anak ini memang sangat gentleman sekali," kata Denada tersenyum kepada Jourdy begitu pula sebaliknya. Tidak ada perbincangan antara Laura dan Jourdy di sana. Mereka berdua hanya setia mendengarkan cerita masa lalu orang tuanya. Laura merasa bahwa kini waktu berjalan sangat lambat. Tubuh sisi kanannya terasa panas, tidak sama dengan sisi kirinya. Mungkin karena ada Jourdy, jelas-jelas gadis itu membenci pria ini tapi mengapa takdir mempertemukan mereka kembali. Mama lama sekali sih ceritanya, aku sudah tidak betah lagi duduk di sini dan ingin segera pulang. Jangan sampai hidupku menjadi s**l lagi karena pria ini, batin Laura menampakkan wajah masam sambil menyangga kepalanya. "Ma, ayo pulang jangan lama-lama!" bisik Laura menyenggol tangan Sarah. "Sebentar Ra, mama masih ingin ngobrol sama tante Denada. Kamu ajak Jourdy bicara kek supaya tidak bosan di sini." Ih najis aku tidak mau terlihat rendah di depannya, kalau dia memiliki kepekaan terhadap seorang wanita seharusnya dia tidak mendiamkanku seperti ini, batin Laura sesekali melirik ke arah Jourdy. Karena kesal dengan mamanya akhirnya Laura memutuskan untuk menyendiri di toilet sampai Sarah benar-benar puas mengghibah bersama Denada. "Ma, tante, dan semuanya aku ke toilet dulu ya." Dengan mengangkat sedikit rok panjangnya Laura bergegas pergi meninggalkan ruangan. Seketika napasnya menjadi lega, seperti orang dengan penyakit asma yang seakan kehilangan penyakitnya untuk selamanya. Laura sudah berhasil menghindar dari Jourdy, namun tanpa diketahuinya ternyata lelaki itu menyusul Laura secara diam-diam. Bukan ingin macam-macam Jourdy hanya ingin berbicara sebentar dengan Laura. Cermin besar memantulkan bayangan seorang gadis manis yang sedang menggerutu kesal. Omelannya seketika terhenti ketika di cermin itu tampak bayangan seorang pria yang masuk ke dalam toilet wanita. Laura berbalik badan, seketika dirinya menjadi panik atas kedatangan Jourdy. "Mengapa kamu masuk ke dalam toilet perempuan?" tanya Laura. "Ingin menemuimu," kata Jourdy singkat. Otak Laura langsung mengarah kepada hal yang tidak benar. Isi pikirannya memang sudah sedikit kotor akibat sering menonton film berbahasa Jepang yang mengajarkan ilmu keintiman. Laura mencoba untuk tetap tenang dengan mengalihkan perhatiannya kepada handphonenya. Sedangkan di depan dirinya Jourdy terus menatap wajah ayu Laura dengan tatapan misterius. "Kenapa bisa ya kedua orang tua kita saling mengenal tanpa kita ketahui lalu apa tujuan mereka mempertemukan kita di sini?" ucapnya memasukkan tangan ke saku celana. Jari-jemarinya tetap sibuk menggeser-geserkan layar handphone. "Mana aku tahu," tanggapannya memanyunkan bibir. Mendengar jawaban wanita itu Jourdy semakin mendekatkan dirinya kepada Laura. Sekitar tiga langkah lagi dia maju, kali ini Laura benar-benar sudah tidak bisa bergerak karena terhalangi oleh badan kekar besar yang mengepungnya. "Menjauhlah!" bentak Laura mendorong d**a Jourdy. Was-was semakin menyelimuti perasaan Laura. Dia takut kalau terjadi sesuatu yang menurutnya khilaf setelah dilakukan. Apalagi di dalam toilet itu hanya ada mereka berdua, pasti ada yang ketiga di sini yaitu setan. Habislah sudah jika manusia satu ini termakan oleh godaan setan yang terkutuk. Semakin lama Jourdy semakin mendekatkan wajahnya kepada Laura, bahkan bibir Jourdy hampir bersentuhan dengan kening Laura. "Om jangan nodai saya om, saya masih sekolah," ucap Laura. Namun ternyata dugaan Laura salah besar. Jourdy hanya ingin mengambil seekor kutu yang berjalan di rambut Laura. Ucapannya itu membuat Laura malu seumur hidup, rasanya ingin sekali menghilang dari bumi. "Siapa juga yang ingin m*****i anak kecil bau kencur sepertimu? aku hanya ingin mengambil kutu di rambutmu karena aku paling tidak suka dengan hewan yang menjijikkan." Setelah itu Jourdy mundur kembali dan menjaga jaraknya. Tidak mungkin ada kutu di rambutku. Ini pasti hanya modusnya saja supaya bisa membodohi aku, batin Laura. Wajah Laura berubah menjadi merah jambu. Lauraaaa ada apa denganmu? mengapa kau tidak bisa menjaga pikiranmu dengan baik? lihatlah sekarang aku sangat malu di depan om-om gila ini, batin Laura. "Ekspektasimu terlalu tinggi, anak kecil. Apakah kau sangat menginginkan untuk aku menodaimu sekarang?" kata Jourdy tersenyum nakal. Laura menaikkan sisi kanan bibir atas, telinga gadis itu pun ikut mual karena jijik mendengarkan suara Jourdy. Kalau saja tidak dengan pria ini mungkin Laura tidak masalah jika hanya sekedar dicium saja. Dia pun sangat meninginkan ciuman dari pria yang dicintainya, tapi sampai detik ini pun gadis itu belum pernah sama sekali berpacaran. "Menyingkirlah! aku ingin pulang saja, malas membahas hal yang tidak penting denganmu," kata gadis itu kemudian mendorong sedikit bahu Jourdy karena pria itu menghalangi jalan keluar. Pria itu ikut keluar setelah Laura pamit undur diri dari hadapannya. Sedangkan di meja nomor 43 terlihat Karin yang sedang bermesraan dengan laki-laki selain Jourdy. Laura yang melihatnya sementara berhenti dan terus mengamati wajah gadis itu. Itu adalah wanita yang waktu itu berciuman dengan pacarnya di pinggir jalan, iya benar itu adalah dia, kata Laura di dalam hatinya. "Ada apa berhenti di sini? katanya mau pulang," tanya Jourdy yang belum melihat kekasihnya sedang bercanda dengan pria lain. Laura menunjuk ke arah sana kemudian dia berkata, "Kau ini mengagetkanku saja. Itu beberapa hari yang lalu aku pernah melihat wanita yang ada di sana dicium sama pria di pinggir jalan," jelas Laura. Jourdy menyipitkan mata memandang ke arah yang ditunjuk oleh Laura. "Karin?" ucapnya sebelum perang dunia dimulai. Karena merasa cemburu, akhirnya Jourdy berjalan menghampiri Karin dan pria asing itu. "Apakah kau mengenali wanita itu?" tanya Laura. Namun belum sempat dijawab, Jourdy malah langsung pergi begitu saja. Kali ini Jourdy melihat dengan mata kepalanya sendiri. Wanita yang selama ini menjadi teman pelampiasan nafsunya sedang berpegangan tangan dengan mesra bersama lelaki yang terlihat lebih muda dari usia Karin. "Oh jadi seperti ini kelakuanmu di belakangku?" ucap Jourdy yang telah berdiri di dekat mereka. "Mas Jourdy?" Karin terkejut, dia langsung melepaskan tangan laki-laki itu kemudian menjelaskan kepada Jourdy. Pria bertubuh gagah itu sudah tidak perlu membutuhkan penjelasan lagi karena dia sudah terlanjur sakit hati oleh perbuatan Karin. "Mas aku bisa jelasin semuanya. Ini tidak seperti apa yang kau lihat, dia ini adalah adik sepupuku. Aku sangat mencintaimu mas, hanya kau seorang yang ada di dalam hatiku," jelas Karin menggandeng tangan Jourdy. Tapi Jourdy malah mengangguk-angguk seakan percaya oleh penjelasan Karin. "Sayang siapa pria ini? sadarlah, aku ini calon suamimu dan kau sedang mengandung anakku tapi mengapa kamu malah mengatakan kepadanya kalau aku hanya adikmu? apakah kamu tidak ingat kejadian malam itu saat bersama denganku? janin di dalam perutmu ini aku yang menyalurkan benih-benihnya," kata pria asing itu kepada Karin yang sudah menangis. "Jadi kamu hamil?" kata Jourdy melotot. Baru calon suami tapi sudah hamil? berarti benar apa kata pak sopir, mayoritas penghuni kos-kosan itu adalah wanita penghibur. Aku yakin sebagian besar wanita penghibur itu sudah hilang keperawanan mereka dan lihat, inilah akibatnya, dalam hati Laura yang menyaksikan perdebatan 21+ ini. Plak! telapak tangan Jourdy melayang ke pipi Karin. "Aw, sayang sakit sekali mengapa kau menanparku?" kata Karin menangis sambil memegangi pipinya. "Apa-apaan kamu seenaknya saja menampar calon istriku. Rasakan ini..." Pria asing itu membalas memukul Jourdy dengan kuat. Di dalam restoran itu hampir saja mereka berkelahi, namun Laura telah mencegah dan menenangkan Jourdy untuk membujuknya supaya mau bicara baik-baik dengan Karin. Emosinya sudah tidak dapat terbendung lagi, dia harus meluapkannya sekarang juga. "Setelah apa yang kita lakukan ternyata kau sangat tega membunuh perasaanku seperti ini. Aku sudah memberikan banyak kepadamu tapi ternyata ini adalah balasan yang kau suguhkan padaku, kau egois Karin....aaaaaaaaa dasar wanita pela***." "Kau juga egois dan kejam, Jourdy. Apakah kau tidak ingat kejadian tadi sore di rumahmu? hatiku hancur berkeping-keping di sana, kaulah yang memutuskan hubungan kita beberapa jam yang lalu, apakah kau ingat? dan kau mengatakan kalau aku egois, namun pada kenyataannya kau juga egois, manusia bodoh. Siapa wanita yang kau bawa ini?" bentak Karin menunjuk ke arah Laura. Kesempatan bagus, Jourdy bisa memanfaatkan kehadiran Laura di sini untuk membuat Karin cemburu. "Dia adalah kekasihku yang baru, mau apa kau? namanya Laura dia sangat cantik, menawan dan yang pastinya masih perawan," jawab Jourdy dengan terpaksa sambil menyeret bahu Laura dan merangkulnya. Deg, jantung Laura seketika tidak berdetak sama sekali. Jourdy mengakuinya sebagai kekasihnya, padahal dibalik layar mereka selalu bertengkar. Laura mengingnkan tangan itu lepas dari bahunya, jatuhlah harga dirinya jika dia terus menerus dijadikan bahan pameran. Jourdy memang benar-benar kurang ajar, batin Laura. Karin terdiam mendengar pernyataan Jourdy. Ternyata laki-laki itu benar-benar sudah melupakannya hanya dalam hitungan jam. Suasana yang semakin memanas ini sangat tidak cocok dengan kemauan dirinya. "Ayo sayang kita pulang saja, hanya aku satu-satunya pria di dunia ini yang bisa membahagiakan dirimu. Lagi pula pria ini sudah memiliki pacar baru," ucap kekasih baru Karin kemudian membawa pergi Karin menjauh dari tempat itu. "Pergi jauh-jauh atau kalau perlu berbulan madulah di neraka," teriak Jourdy kemudian mengacungkan jari tengahnya kepada mereka berdua. Continued...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD