Huh, pria itu telah membuat Laura kesal setengah mati. Baju sekolah yang semula rapi menjadi kusut karena ulah si arogan itu. Laura tidak habis pikir, mengapa di dunia ini masih saja ada makhluk seperti dia.
Gadis 17 tahun itu turun dari mobil. Dia telah sampai di SMA Nusa Kuasa sekolah elit tingkat pejabat. Tampilan dari luar saja sudah membuat orang yang melihatnya menggelengkan kepala.
Sekolah dengan luas tanah setengah hektar itu merupakan sekolah termahal di kota tempat tinggal Laura. Dengan membawa IPad silver miliknya, Laura berjalan memasuki area sekolah.
"Bagus juga sekolah ini," gumam Laura berjalan sambil memeluk IPadnya.
Berbeda dengan sekolah biasa, untuk bisa naik ke lantai atas sekolah ini telah menyediakan lift untuk siswa, fasilitasmya juga lengkap. Di sepanjang lorong sekolah Laura melihat dinding kanan dan kirinya dipenuhi oleh lukisan, lemari piala, dan mading sekolah.
Beberapa siswi yang sedang bersantai di depan kelas sangat asing dengan kedatangan Laura. Kelasnya terletak di pojokan dekat dengan tangga darurat lantai 3. Di sudut sana ada sekumpulan geng cewek yang beranggotakan lima orang.
"Eh lihat! rupanya ada anak baru di kelas kita," kata Anggia si ketua geng setelah melihat kehadiran Laura dari ujung sana.
"Dekil banget cewek itu," sambung Jane.
"Permisi apakah ini ruang kelas 11 IPA 1?" tanya Laura kepada mereka.
"Kamu tidak bisa membaca? itu tulisan besar sekali 11 IPA 1," jawab Ragil menunjuk ke papan yang menggantung di atas pintu kelas.
Ragil ini adalah seorang pria, namun entah mengapa cara dia berbicara, berpakaian, dan berperilaku persis seperti perempuan. Seharusnya laki-laki ini menggunakan seragam celana bukan rok mini seperti anak perempuan pada umumnya.
"Oh iya...ma-maaf boleh permisi sebentar? aku ingin masuk tapi pintunya terhalang olehmu," jawab Laura. Dia tidak bisa langsung masuk ke dalam kelas karena di halangi oleh Erika dan Yaoyao. Namun mereka berdua malah berdiam diri dan tidak mau menyingkir sampai pada akhirnya ada seorang siswa yang membatu Laura.
Siswa bernama Gilang Baguswara anak kelas 12 IPA 2 yang kelasnya bersebelahan dengan 11 IPA 1 datang menghampiri mereka.
"Tolong beri dia jalan!" ucap Gilang yang berdiri di belakang Laura.
Gadis itu berbalik badan setelah mendengar suara seorang pria. Laura jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia benar-benar tidak bisa bergerak bebas setelah kehadiran Gilang di hadapannya. Anggia si ketua geng yang tergila-gila dengan Gilang langsung terlihat cemburu.
"Kak Gilang," ucap Anggia tersenyum sok cantik.
"Seharusnya kalian tidak boleh begini kepada teman kalian. Apalagi dia anak baru di sini, takutnya anak ini menjadi ketakutan karena ulah kalian. Erika, Yaoyao ayo minggir dulu!" ujar Gilang.
Dua anak gadis itu langsung tunduk kepada kakak kelasnya. Bagaimana tidak? semua wanita di sekolah ini mengidam-idamkan Gilang. Mereka rela melakukan apa saja demi menaklukan hati pria tampan ini.
"Iya kak," jawab Yaoyao.
"Terima kasih kak, kalau begitu aku masuk ke kelas dulu. Dan aku ingin minta maaf sama kalian karena gara-gara aku kalian jadi dimarahi oleh kakak ini," kata Laura menundukkan kepala.
Raut wajah Anggia dan anak buahnya terlihat masam. Sepertinya mereka tidak suka dengan Laura. Susah untuk mengambil hati Gilang, kini Anggia dan teman-temannya harus mendapatkan saingan lagi.
Gilang menjulurkan tangannya. "Aku Gilang anak kelas 12 IPA 2," ucapnya memperkenalkan diri.
"Laura," jawabnya sembari menjabat tangan Gilang.
"Nama yang cantik seperti orangnya," kata Gilang sedikit gombal.
Ehem....ehem...ehem...
Anggia sengaja berdehem dan melengos mendengar gebetannya menggombali cewek lain. Ucapan Gilang tadi membuat Laura jadi salah tingkah di hadapannya. Begitu pula dengan Gilang, setelah itu dia melepaskan tangan Laura dan langsung berlari menuju kelasnya.
Pintu sudah terbuka lebar, Laura masuk ke dalam kelasnya. Namun Ragil sengaja menjulurkan kakinya dan menghalangi langkah Laura. Untung saja Laura tidak jadi tersungkur ke bumi.
"Lama-lama hatiku panas. Ayo kita bolos ke toilet saja!" kata Anggia kemudian berjalan menuju toilet dengan diikuti oleh 4 orang anggotanya.
Di dalam kelas itu terdapat beberapa orang siswa dan siswi yang sedang duduk sembari berbincang-bincang. Gadis itu berdiri mematung di depan meja guru karena bingung apakah yang harus ia lakukan.
Valen yang melihat kedatangan Laura langsung melepas earphonenya dan berjalan mendekati gadis itu.
"Hei kamu anak baru di kelas ini ya? Namaku Valen di depanku ada bangku kosong kamu bisa duduk di sana. Oh iya apakah aku boleh jadi sahabatmu?" kata Valen, riang.
"Halo Valen aku Laura. Aku ingin bersahabat dengan siapa pun yang ada di sini jadi kamu boleh menjadi sahabatku. Sebelumnya terima kasih karena telah mencarikan bangku kosong untukku," jawab Laura.
"Aku bahagia banget bisa sahabatan sama kamu. Masalah bangku, sebenarnya itu adalah bangku milikku tapi aku disuruh oleh seseorang untuk mundur ke belakang dan mengosongkan bangku itu," jelas Valen yang membuat Laura jadi penasaran siapakah orang itu.
Laura mengernyit dan dia berkata, "Seseorang? Siapakah itu?" tanya gadis itu semakin penasaran.
Valen yang sudah dijanjikan oleh seseorang itu untuk tidak memberitahukan kepada Laura malah keceplosan membicarakan hal ini.
"Bu-bukan siapa-siapa, hehe. Duduk yuk kita nonton film dulu aku baru saja mengunduh film baru!" ucap Valen mengalihkan pembicaraan.
Hampir saja ketahuan, batin Valen.
Hari pertama masuk sekolah semuanya berjalan dengan lancar. Laura mendapatkan banyak teman sekaligus musuh. Siang ini semua guru dan karyawan sekolah akan mengadakan rapat di SMA sebelah jadi siswa dan siswi dipulangkan 3 jam lebih awal dari jam biasa.
Valen dan Laura turun ke lantai bawah dengan ditemani oleh Gilang. Mereka bertiga berpisah di gerbang sekolah karena arah rumah yang berbeda. Valen pulang dengan diantarkan oleh ojek online sedangkan Gilang selalu membawa mobil pribadi pemberian neneknya.
"Kamu belum dijemput juga? Ayo pulang sama aku saja!" kata Gilang menawarkan bantuan kepada Laura.
"Terima kasih kak tapi aku bisa pulang sendiri," tolak Laura.
"Oh begitu, ya sudah aku pulang dulu," jawab Gilang kemudian langsung menjalankan mobilnya.
1 jam kemudian...
Satu jam telah berlalu namun pak sopir belum kunjung menjemput Laura. Gadis itu berteduh di sebuah warung untuk menghindari terik sinar matahari. Dari tadi dia menoleh ke kanan dan ke kiri berharap si sopir segera datang menjemputnya.
"Pak sopir lama sekali, atau coba aku hubungi saja kalau begitu," gumam Laura mengambil IPad di dalam tasnya.
Gadis itu menekan tombol power IPad silvernya namun layar benda elektronik itu menampakkan baterai yang tersisa 10%. Dia berusaha menyalakannya dan berhasil menyala namun kemudian mati kembali, begitu pula seterusnya.
Karena kesal dan sudah lelah menunggu akhirnya Laura menemukan ide. Taxi adalah jalan salah satunya. Walaupun dia tidak memiliki uang cash untuk membayarnya, dia pikir nanti bisa dibayar setelah sampai rumah.
"Taxi!" teriak Laura setelah berjalan ke trotoar.
Hatinya sangat lega setelah berhasil mendapatkan tumpangan untuk pulang ke rumah. Roda taxi itu sudah berputar sejauh 1 km, namun tiba-tiba saat melewati jalanan yang sepi mesin taxi bermasalah dan mengakibatkan mobil berhenti mendadak.
"Kenapa pak, mogok?" tanya Laura panik.
"Maaf non tiba-tiba mesinnya bermasalah," jawab sopir taxi.
"Butuh berapa lama untuk memperbaikinya?" tanya Laura.
"Saya tidak bisa memastikannya mungkin akan lama sekali," jawab sopir itu.
"Ya sudah kalau begitu saya turun di sini saja, maaf saya tidak bisa membayarnya dengan uang tapi saya punya cincin emas ini dan mungkin kalau dijual nominalnya bisa lebih besar," ucap Laura melepakan cincin emas miliknya kemudian memberikan kepada sopir taxi.
"Baik terima kasih non."
Buk! membanting pintu mobil.
Tidak ada jalan lain, di sini sangat jarang ada kendaraan umum yang lewat jadi mau tidak mau Laura harus berjalan kaki sejauh 500 m untuk bisa sampai ke halte bus.
Selangkah demi selangkah Laura jalani dengan tubuh lemas sambil membawa IPadnya. Kanan dan kiri jalanan ini dipenuhi oleh pohon-pohon besar dengan dedaunan kering yang berjatuhan ke tanah. Sesekali gadis itu mengeluh membuang napas melewati mulutnya.
"Sepi banget jalanan ini, perasaan tadi waktu berangkat tidak melewati pohon-pohon besar namun mengapa sekarang jalannya berbeda, apakah aku tersesat?" gumam Laura berbicara sendiri.
Sekitar 15 menit lamanya, Laura melihat ada sebuah gedung besar di tengah-tengah perjalanan. Gedung yang terlihat kumuh dan kotor namun ada dua buah mobil yang terparkir di depannya. Dia berhenti sejenak untuk mengamati tempat apa sebenarnya.
Di tempat itu ia melihat ada seorang perempuan yang sedang di tutupi mulutnya oleh seseorang dan dipaksa untuk masuk ke gedung misteri tersebut.
"Astaga Tuhan, orang itu mau diapakan?"
Karena kasihan, akhirnya Laura memberanikan diri untuk memasukinya. Dengan berhati-hati dan mengecilkan suara langkah kakinya. Tanpa sengaja kaki Laura menginjak sebuah kaleng sehingga menghasilkan bunyi.
"Siapa di sana?" teriak seorang laki-laki dari dalam gedung.
Aduh ketahuan, batinya kemudian berbalik badan dan berlari.
"Hei mau lari kemana kamu?" Tiba-tiba seseorang itu menangkap Laura dari belakang.
Gadis itu panik dan terus memberontak sampai IPadnya terjatuh dan dia dibawa masuk ke dalam oleh pria tidak dikenal itu.
Di dalam ternyata tidak hanya ada perempuan tadi, namun juga ada dua perempuan lain yang sedang diikat badannya dan ditutup mulutnya.
"Duduk!" perintah pria itu.
Mulut Laura ditutup menggunakan lakban hitam dan badannya diikat menggunakan tali yang dikaitkan dengan kursi. Ya Tuhan tolong aku tempat apakah ini? batinnya.
"Berani sekali kamu masuk ke sini tanpa izin. Kau datang tidak diundang itu artinya kau telah menyerahkan dirimu untuk dijual ke luar negeri. Aku akan melaporkan hal ini kepada tuan bungsu," ucapnya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celana.
Apa? jadi tempat ini adalah..ah tidak aku tidak mau dijual, batin Laura ketakutan
"Lapor tuan, baru saja ada seorang gadis kecil yang datang kemari sepertinya dia masih sekolah dan anak ini sudah saya tangkap, lumayan kita mendapat untung banyak jika dia dijual," kata pria itu berbicara lewat telepon kemudian menutup pembicaraan dengan bosnya setelah beberapa saat.
"Hei anak kecil jangan harap kamu bisa lolos," ucapnya.
Laura terus memberontak dan menggoyang-goyangkan tangan berharap tali itu bisa terlepas dari tangannya. Di luar terdengar suara mobil, Laura berharap semoga saja itu mobil polisi yang ingin menyelamatkannya.
Namun dugaannya salah besar, bukan polisi yang datang tetapi malah seorang pria dengan menggunakan baju kantor lengkap yang memasuki ruangan ini. Dia adalah tuan bungsu, anak dari seorang bos besar pemilik usaha penjualan manusia.
Sial! ternyata dia pemiliknya? batin Laura setelah melihat seorang pria yang pernah ditemui sebelumnya.
*
"Kamu...ka-kamu mengapa tersesat di sini, kulit hitam?" Jourdy terkejut terbata-bata setelah melihat keberadaan Laura yang rupanya tersesat di gudang miliknya.
Bola mata Laura membulat lebar. Ia ingin berbicara dan memarahi mafia jadi-jadian itu, namun kini mulutnya masih tertutup rapat dengan lakban. Dia berbicara tidak jelas hanya mengeluarkan suara.
"Tuan bungsu mengenalinya?" tanya anak buah Jourdy yang menyekap Laura.
"Cewek ini yang ku temui di jalan tadi pagi dan dia sempat membuat masalah denganku," jawab Jourdy menatap Laura.
Jelas-jelas dia yang bersalah, batin Laura.
Gadis itu bungkam, bergerak berlebihan dan menjatuhkan diri ke lantai. Si pria mafia itu berlutut dan menolongnya walaupun sedikit menahan tawa. Kemudian dia menarik lakban yang menempel di mulut Laura dengan kencang.
Grek!
"Aw sakit g****k. Apakah tidak bisa pelan saja menariknya?" bentak Laura yang masih terjerat tali tambang.
"Tidak bisa, memangnya kenapa?" kata Jourdy.
"Dasar mafia jadi-jadian yang tidak berperikemanusiaan. Lepaskan aku sekarang juga! aku ingin segera pulang." Laura menggoyang-goyangkan kursi dan terus memaksa supaya dia dibebaskan.
Dua orang gadis yang disekap tadi juga ikut menyaksikan adu mulut antara Laura dan Jourdy. Kemungkinan besar mereka sudah tidak bisa selamat kembali karena malam ini juga akan diterbangkan ke London.
Jourdy masih saja menyiksa gadis itu. Segala macam cara Laura lakukan bahkan dia sampai menangis dan merengek kepada Jourdy supaya cepat dibebaskan.
"Ku mohon lepaskan aku, tuan bungsu. Coba lihatlah kembali tidak ada namaku didaftar barang daganganmu, kasihanilah aku dan kedua orang tuaku mereka tidak memiliki anak lagi karena aku 'lah anak satu-satunya," rengek Laura kepada Joudry yang sedang meminum anggur merah bersama keempat anak buahnya.
Pria yang sedang menghisap batang rokok itu berdiri dan berjalan menghampiri Laura. Gadis itu lemas dan pucat, rambutnya acak-acakan tidak tertata.
Huhhhh! mendekatkan wajahnya ke muka Laura kemudian mengepulkan asap nikotin di depan wajah gadis itu.
"To-long jangan bu-ang asap itu di de-pan wa-jah-ku," kata Laura 'tak berdaya. Dia tidak terbiasa menghirup udara yang bercampur dengan asap rokok.
Huhhhh, sekali lagi Jourdy menghisap dan mengembuskan asap rokoknya namun kali ini bukan di depan wajah Laura.
Hari semakin gelap, sebentar lagi malam akan tiba. Rasa kasihan terhadap Laura sedikit terselip di hati kecil Jourdy. Apa mungkin dia akan melepaskan musuhnya begitu saja?
Ya, sisi positif Jourdy muncul setelah dia melihat betapa lemasnya Laura. Dia takut jika terjadi masalah dengan perempuan yang belum dia kenal ini. Lagi pula setelah ini Jourdy akan pergi ke Dragonfly diskotik, habitat para wanita dengan busana minim.
"Baiklah aku akan melepaskan dan mengantarmu pulang sampai rumah. Bagong tolong lepaskan talinya!" perintah Jourdy kepada anak buahnya kemudian mematikan rokok di asbak.
"Siap tuan bungsu," jawab Bagong.
Laura bangkit dari kursi setelah tali itu dilepaskan. Namun dia terjatuh saat ingin melangkahkan kakinya. Entah mengapa lututnya sangat lemas saat ingin digerakkan.
"Aih kenapa lagi dia?" Dengan terpaksa Jourdy harus menggendongnya sampai mobil. Tangan kekar miliknya tidak terlalu keberatan saat menggendong Laura yang sudah pingsan menahan lapar. Namun pandangan mata Jourdy tidak bisa dijaga saat melihat b*******a milik Laura yang tidak sengaja terbuka.
Tubuh Laura masih dalam dekapannya. Pria itu berhenti sejenak untuk melihat lebih luas lagi bagian buah itu.
Ah tidak! dia masih sangat kecil. Lebih besar dan memuaskan milik Karin, batin Jourdy merasa bersalah setelah melihatnya dan berjalan kembali sampai di pintu mobil.
Saat Jourdy membaringkan tubuh Laura di jok belakang mobil, tiba-tiba saja wanita itu sadar dan berteriak karena ada seorang lelaki di depannya.
"Hei mau apa kau? jangan macam-macam kepadaku atau aku akan melaporkan ini kepada polisi!" teriak Laura terkejut dan langsung menutupi bagian dadanya.
"A-aku tidak melakukan apa pun, hanya ingin mengantarkanmu pulang ke rumah." Jourdy juga ikut terkejut, dia jadi salah tingkah karena Laura sudah sadar.
"Lantas mengapa kau menyentuh tubuhku?" bentak Laura.
"Tadi kau pingsan dan aku hanya menggendongmu untuk masuk ke mobil. Aku tidak berniat jahat, tadi hanya sedikit melihat..." Laki-laki itu semakin bingung dan hampir saja keceplosan tentang apa yang dilihatnya tadi.
Laura membulatkan matanya, khawatir jika ternyata kancing baju yang sengaja dibuka malah menampakkan buah apel miliknya.
"Hah? melihat apa?" kata Laura bersiap-siap untuk menampar pria arogan itu.
"Ti-tidak, ah aku lupa kalau di rumah punya buah apel. Kita harus segera pulang dan memakan buah itu karena aku takut kalau buah apel itu membusuk." Jourdy menutup pintu belakang mobil.
Buk!
*
Jourdy menginjak dalam rem mobil. Mereka telah sampai di depan gerbang rumah Laura. Seorang satpam si penjaga rumahnya langsung membuka lebar gerbang setelah mengetahui Laura yang datang.
"Mobil siapa itu?" gumam Sarah yang sedang berjalan mondar-mandir menunggu kepulangan putri tunggalnya.
Masih dalam kondisi lemas, Laura turun dari mobil ditemani oleh Jourdy. Sarah langsung memeluk putrinya dan memberitahukan bahwa dia cemas dengan keadaan Laura.
"Ya ampun sayang kamu kemana saja, mengapa jam segini baru pulang?" ucap Sarah memeluk putrinya.
"Maaf ma tadi saat di jalan pulang aku..." tiba-tiba penjelasan Laura dipotong oleh Jourdy.
"Tadi dia diculik oleh seorang preman tante. Saya melihatnya sedang diikat di sebuah rumah tua. Beruntung waktu itu saya pandai bertengkar dan langsung saya habisi preman itu. Anak ini baik-baik saja, mungkin hanya sedikit kelaparan," jelas Jourdy mengarang cerita.
Wajar saja jika Laura langsung melotot padanya sambil menggelengkan kepala. "Sebenarnya..." lagi dan lagi Laura tidak mendapat kesempatan untuk berbicara.
Jourdy menginjak kaki kiri Laura dan membuatnya meringis kesakitan.
"Sebenarnya dia takut ingin bercerita kepada mamanya kalau habis diculik, katanya nanti mamanya bisa pingsan saat mendengar ceritanya. Namun mau bagaimana lagi karena tante sudah terlanjur mendengar," sambung Jourdy. Si anak mafia itu terus mengarang cerita supaya dia tidak disalahkan oleh orang tua Laura.
"Terima kasih sekali nak sudah menyelamatkan nyawa putri saya. Aduh kamu baik sekali sih, beruntung sekali Laura bisa mendapatkan teman sepertimu. Masuk dulu supaya tante bikinkan minuman!" ajak Sarah. Dia tidak tahu kalau hampir saja putrinya ini akan dijual oleh Jourdy.
"Tidak perlu repot-repot tan saya harus segera pergi karena masih ada urusan. Saya ingin langsung pamit saja," jawab Jourdy sok baik.
"Baiklah."
Sebelum pergi, Jourdy sempat menjulurkan lidah dan mengedipkan mata kepada Laura yang masih tenggelam dalam pelukan mamanya. Kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dengan membunyikan klakson. Sumpah, Laura sangat benci dengan orang itu. Berani sekali dia membohongi Sarah demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Laura berjanji tidak akan melewati jalan itu lagi selamanya. Walaupun itu menjadi jalan utama, namun dia akan berusaha mencari jalan yang lain.
Pintar sekali dia beracting menjadi protagonis di depan mama, batin Laura kesal.
"Ganteng ya," ucap Sarah setelah Jourdy pergi.
"Siapa?" tanya putrinya.
"Itu cowok yang tadi, sepertinya dia sangat perhatian kepadamu. Siapa pun wanita yang kelak menjadi istrinya pasti akan beruntung sekali," kata Sarah memancing kepekaan Laura yang telah lama menjomblo.
"Ganteng dari mananya ma? mukanya saja seprti topeng begitu. Sudahlah aku malas kalau membahas tentang dia, membuang-buang waktuku saja," cetus Laura masuk ke dalam rumah dengan muka masam.
"Efek terlalu lama jomblo ya seperti ini. Sayang tungguin mama dong," gumamya ikut masuk ke dalam rumah.
Sarah tidak tahu saja siapa Jourdy sebenarnya. Kalau mama muda itu tahu jika Jourdy adalah anak seorang mafia bagaimana ya reaksinya? Masihkah dia memuji kalau Jourdy itu tampan dan baik? padahal pekerjaan ayahnya adalah membunuh dan menjual manusia.
Continued...