Mereka bertujuh, masuk kedalam rumah hantu. Suasana terlihat sangat mencekam. Elsa sudah melingkarkan tangannya di lengan Yasha. Dan tampaknya Yasha belum menyadari hal itu.
Tepat di sebuah ruangan, ada beberapa jenis mahluk halus yang mendekat ke arah mereka. Ada suster ngesot yang memegang kaki Elsa membuat perempuan itu menjerit histeris. Yasha pun membantu Elsa, lalu mereka berdua lari dari ruangan itu. Keduanya berhenti di sebuah ruangan kecil, nan gelap.
Dada Elsa terasa sesak, air matanya juga ikut turun. Elsa mengidap Claustrophobia, Claustrophobia adalah ketakutan tidak beralasan pada ruang tertutup atau ruang sempit. Yasha belum menyadari akan pipi Elsa yang sudah basah. Lelaki itu hanya sedang mengatur nafasnya.
Yasha terdiam, buku kuduknya tiba-tiba merinding ketika mendengar suara isak tangis. Yasha pun merogoh ponselnya dan menyalakan flash ( lampu ponsel) ia melihat Elsa yang sedang menangis.
"Elsa lo kenapa?" tanya Yasha sembari mengoyangkan lengan Elsa. Elsa menatap Yasha lalu memeluk Yasha, Yasha akan menolak pelukan Elsa. Namun, ia tahu Elsa sedang tidak baik-baik saja.
Elsa menangis di dalam dekapan Yasha.
"Yas, gue takut... Na...nafas gue sesek banget," Suara Elsa begitu lirih, dan juga di sertai dengan isak
"Gue ada di sini, lo nggak perlu takut," ujar Yasha membalas pelukan Elsa. Elsa sedikit tenang. Parfum Yasha sangat menenangkan membuat Elsa menghirup dalam-dalam parfum Yasha. Yasha hanya diam, ia masih bingung mengapa tangisan Elsa begitu menyayat.
Merek bertahan beberapa saat
Elsa juga melingkarkan tangannya di bahu Yasha. Entah sejak kapan keduanya larut dalam hal adegan itu. Ponsel Yasha berdering ada panggilan masuk dari Angga.
"......"
"Gue kejebak di ruangan gelap. Ini Elsa malah nangis," ucap Yasha.
"......'
"Astaga, pikiran lo, negatif terus Ngga!" ucap Yasha kesal dengan ucapan Angga. Lalu tanpa permisi Yasha mematikan sambungan telponnya. Yasha sempat melihat jam di layar ponsel. Ternyata pukul 11 kurang 10 menit! Gila berapa lama dirinya memeluk Elsa yang menangis.
"El, lo bisa tenang sekarang?" tanya Yasha Elsa mengangguk dalam dekapan Yasha.
"Lo kenapa?" tanya Yasha.
"Gue pengidap Claustrophobia, " jawab Elsa dengan isak tangisnya.
Yasha mengekurkan keningnya bingung.
Tapi ia tak ambil pusing, Yasha hanya bisa mengelus bahu Elsa.
"Tenang El, gue ada di sini. Lo nggak usah takut. Kita hadapi sama-sama," ujar Yasha.
Elsa diam, dalam kegelapan gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Bahagia? Yah, ini suatu keberuntungan untuk Elsa.
Tidak berapa lama, tiga orang masuk kedalam ruangan tersebut. Sembari membawa senter, dengan sigap Yasha menggendong tubuh Elsa dan mengikuti orang-orang yang menjemput mereka.
Mereka sudah keluar dari rumah hantu tersebut. Yasha dapat melihat wajah Elsa yang sangat pucat, dangan keringat dingin di sekujur tubuhnya.
"Ya ampun Elsa Yas, dia nggak pa apa kan?" tanya Nayang panik.
"Gue nggak tau Nay, kita bawa ke rumahnya aja," jawab Yasha ikut panik.
"Ya udah ayo kita bawa kerumahnya," ucap Gina.
"Yas, kayaknya Elsa naik motor lo ya. Karena kalau Gina yang bawa motor gue takut mereka kenapa-napa," ucap Nayang.
"Iya Nay, biar Elsa sama gue aja," ujar Yasha. Yasha mendudukkan Elsa di motor matic miliknya. Yasha tidak membawa helm, begitu juga dengan Elsa. Yasha juga membiarkan Elsa untuk memeluk tubuhnya dari belakang.
Yasha melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Elsa memilih untuk menyandarkan kepalanya di bahu Yasha. Menikmati semilir angin malam yang sangat dingin, tangan Elsa juga mempererat pelukannya pada tubuh Yasha.
"Yas?" panggil Elsa tepat di telinga Yasha.
"Iya El kenapa? Dingin ya?" tanya Yasha membuat Elsa mengelengkan kepalanya. Meskipun begitu, Yasha dapat melihatnya dari kaca spion motornya.
"Salah nggak kalau gue cinta sama lo," ujar Elsa tanpa ragu, membuat Yasha mengerem mendadak karena kaget.
"El lo ngomong apa sih?" tanya Yasha tidak paham.
"Gue cinta sama lo Yas. Lo gak pernah peka sama perasan ini. Maaf karena gue udah cinta sama lo," ucap Elsa lirih. Yasha masih mendengarnya bahkan suara Elsa begitu jelas.
"Gue nggak tau apa yang gue rasain ke lo, gue mulai takut kehilangan lo Yas. Tapi gue yakin kalau gue cinta sama lo," sambung Elsa, Yasha dapat mendengarnya namun lelaki itu memilih diam. Ia sedang terhanyut dalam lamunannya sendiri.
Hening tidak ada pembicaraan lagi. Elsa tersenyum kecut, ia melihat raut wajah Yasha dari kaca spion. Raut wajah biasa saja, tanpa ekspresi Elsa tidak tahu apa yang sedang di pikir kan oleh Yasha. Apa Elsa salah karena telah mengungkapkan isi hatinya kepasa Yasha.
"Maaf, lupain semua ini," gumam Elsa. Yasha bisa mendengarnya. Namun lagi, dan lagi Yasha hanya diam mendengar ucapan Elsa.
15 menit kemudian, mereka sampai di halaman rumah Elsa. Di ikuti oleh motor Anna, Gina, Angga, Elang dan Sean. Elsa turun dari motor. Di bantu oleh Nayang.
"Gue cabut duluan," ucap Yasha memutar motornya. Lalu pergi begitu saja. Hal itu membuat teman-teman Elsa dan teman-teman Yasha menjadi aneh. Kenapa Yasha begitu? Itulah kira-kira ucapan mereka.
"Kalau gitu kita juga pamit," ucap Angga memakai helm di kepalanya.
"Hati-hati sayang, eh calon Imam," sahut Gina dengan nada bicara centilnya.
"Heh Gin!" tegur Anna. Setelah Angga dan teman-temannya pergi.
"Duh Angga manis banget sih. Pengen karungin deh," ucap Gina setelah kepergian mereka.
"Angga apa Elang?" ucap Anna.
"Eum, please jangan buat gue mikir deh," ucap Gina delima.
Anna tertawa, lalu memutar spion motornya. "Mending ngaca dulu deh Gin," ledek Anna.
"Sue! Lo Ann," ucap Gina kasar. "Tapi bener sih, gue harus ngaca, duh kan betapa cantiknya gue," sambung Gina.
"Idih udah! Retak kaca spion gue!" seru Anna.
"Guys, mending sekarang kita masuk. Kasihan Elsa udah kedinginan," ucap Nayang yang sedari tadi memperhatikan keduanya.
"Oh iya! Kan sampek lupa. Maaf ya El," ucap Anna lalu membantu Elsa berjalan.
Gina mengetuk pintu, lalu Alisa membukakan pintu. "Loh Elsa kenapa lagi?" tanya Alisa.
"Kita masuk dulu deh," ucap Anna. Alisa pun membuka pintu lebih lebar.
Nayang, Anna dan Gina mengantarkan Elsa sampai kedalam kamarnya. Mereka merebahkan tubuh Elsa yang masih lemas. "Eh tadi kalian belum jawab pertanyaan gue. Elsa kenapa?" tanya Alisa panik.
"Tadi kan kita ke pasar malam. Terus kita masuk rumah hantu, nah di situ gue gak tahu kenapa Elsa bisa kek gini. Eh El, lo ngapa-ngapain Yasha nih? Kan tandi lo ilangnya sama Yasha. Mana tahu lo khilap kan?" ucap Gina.
"Sttt..., mulut lo Gin! Gak bisa diem apa?" tegur Nayang. Seketika Gina diam.
"Rumah hantu? Duh pasti lo kumat ya El? Obat lo, lo taro mana?" tanya Alisa panik.
"Di laci sebelah kanan Al," jawab Elsa dengan nada begitu lirih. Alisa mengambil obat yang di maksud oleh Elsa.
Dengan sigap Alisa meminumkan obat tersebut kepada Elsa. Mereka bertiga bingung. Apa yang di alami oleh Elsa.
"Lo istirahat gih," ucap Alisa setelah itu.
"Al, Elsa kenapa?" tanya Nayang.
"Jadi Elsa tuh punya phobia," ucap Alisa.
"Ha? Cewek kek Elsa punya phobia? Serius?" tanya Gina tidak percaya.
"Iya. Elsa punya phobia. Dia gak bisa terlalu lama di ruangan sempit terus gelap. Pasti dia bakalan begini," jelas Alisa.
"Pantes aja," ucap mereka tidak menyangka.
"Guys! Mampus udah jam 12 malam nih. Gimana dong?" tanya Anna menyadari sesuatu.
"Ha? Gila demi apa?" ucap Gina tidak percaya.
"Kalian nginep di sini aja deh. Udah malam besok juga minggu," ucap Alisa.
Mereka bertiga saling memandang. "Gue sih nyokap bokap gue lagi gak di rumah. Jadi bisa lah," ucap Anna.
"Nah kan, Bunda gue chat. Katanya apa coba? 'Kamu gak usah pulang ya. Nginep di rumah temen kamu. Bunda males buka pintu' Njir, emak gue gini amat," ucap Gina membaca pesan Bundanya.
"Kalau gitu, gue nelpon Mama gue dulu deh," ucap Nayang keluar kamar Elsa. Untuk menelpon Mamanya.
Tidak lama setelah itu Nayang masuk kedalam kamar Elsa. Lalu memotret Elsa yang sedang tertidur. "Lah lo ngapain moto Elsa? Mending gue," ucap Gina memasang gaya.
"Biar Mama gue percaya," jawab Nayang. Anna tersenyum tipis.
"Enak ya lo Nay, selalu di perhatikan sama orang tua lo. Gak kek gue," ucap Anna.
"Utu-utu, jangan sedih dong Anna. Lo masih punya kita," ucap Gina memeluk Anna. Begitu juga dengan Nayang.
"Iya Ann, lo masih punya kita," sambung Nayang.
"Elsa, lo beruntung. Dapat teman-teman seperti mereka," batin Alisa yang sedari gadi memperhatikan mereka.
****
Yasha duduk termenung di atas ranjangnya. Hari ini hari minggu, entah mengapa ia sangat malas untuk beraktifitas. Lelaki itu sedang memikirkan perkataan Elsa tadi malam. Ia tidak menyangka di balik sifat bar-bar Elsa. Gadis itu menyimpan rasa untuknya.
Saat sedang asyik melamun, Yasha di timpuk oleh bantal sofa oleh seseorang. Yasha menatap seseorang itu tidak suka.
"Sore-sore ngelamun, ke samber tahu rasa lo," ucap Angga lalu duduk di samping Yasha. Yasha tidak menanggapi ucap Angga. Lelaki itu hanya diam.
"Oh iya Ngga? Gimana semalam lo nggak jadi deketin dia?" tanya Yasha setelah beberapa menit hening.
"Boro-boro mau deketin dia. Anna nempel mulu sama Gue. Kan jadi nggak bisa deketin dia," ujar Angga membuat Yasha tertawa.
"Masa lo kalah sama Elsa sih," ucap Yasha membuat Angga menatap bingung kearah Yasha.
"Maksud lo?" tanya Angga.
"Semalam waktu gue nganterin Elsa, dia bilang kalau dia cinta sama gue," ucap Yasha jujur Angga membulatkan matanya.
"Eh serius si Elsa bilang gitu ke lo?" tanya Angga memastikan. Yasha hanya mengangguk.
"Terus lo jawab apa?" tanya Angga.
"Gue nggak jawab apa-apa. Gue pura-pura gak denger," jawab Yasha santai.
"Gila lo Yas, nggak kasihan lo sama dia?" ucap Angga.
"Enggak lah ngapain! Gue juga nggak suka sama dia. Malah gak pernah terpikir kalau gue akan suka sama dia," ucap Yasha tidak perduli.
"Nih ya Yas, kalau gue di gituin sama--"
"Nayang? Ngarep!" potong Yasha terkekeh.
"Gue buktiin deh suatu saat gue bakal deketin Nayang," ucap Angga.
"Emang rencana lo apa?" tanya Yasha penasaran.
"Gue bakal deketin dia pas nanti Kunjungan Industri," jawab Angga dengan semangat 45-nya.
"Eh gue tadi belum selesai ngomong soal Elsa. Lo tuh bener-bener nggak punya hati banget deh Yas, Elsa udah mau ngomong dulu sama lo. Harusnya lo hargain dia kek," ucap Angga.
"Hargain dia dengan cara gue terima cintanya tanpa gue cinta sama dia gitu?" ucap Yasha. Yasha meninggalkan Angga laki lelaki itu berjalan menuju balkon kamarnya.