bc

The Way You Are

book_age4+
0
FOLLOW
1K
READ
billionaire
HE
badboy
stepfather
blue collar
bxg
brilliant
highschool
like
intro-logo
Blurb

Seorang gadis di bangku sekolah menengah yang berjuang keras agar dapat masuk ke sekolah menengah atas yang sama dengan orang asing yang ia sukai. Untuk apa ia melakukannya nya? Bagaimana jika tidak sesuai dengan ekspektasi nya? Apakah dia akan bahagia atau menyesal?

chap-preview
Free preview
01. New Chapter New Disasters
“ADUH GAWAT!” Jerit gadis yang baru saja akan memulai kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah nya. Gadis tersebut segera melepas helm ojek online yang tengah kebingungan dengan tingkah laku nya. Sampai-sampai ia mencium punggung tangan sang ojek online. Pria tersebut hanya menatapnya bingung dengan tangan kanan nya yang sudah memegang ongkos senilai 20 ribu rupiah yang disodorkan gadis itu tanpa berkata-kata sangking tergesa-gesa nya. “SMA Jaksanegara” Gadis itu berhenti sejenak sangking takjub nya. Sekolah Menengah Atas Jaksanegara, sekolah yang di idamkan gadis tersebut sejak berada di bangku kelas 3 SMP. Sekolah swasta elit yang berada di Surabaya Pusat. Akreditasi sekolah A tiap tahun nya jelas menunjukkan persaingan yang hebat menjadi aktivitas sehari-hari siswa maupun guru di dalam gedung kokoh sekolah ini. Alumni SMA Jaksanegara kerap mendapat undangan universitas ternama dalam maupun luar negeri. Fasilitas yang sangat memadai, guru, sistem pendidikan, ekstrakurikuler, tidak membuat orang tua cemas soal aspek apapun untuk masa depan buah hatinya. Hanya menampung total 1.000 siswa dari kelas 1 hingga 3 SMA per tahun nya. Jelas lebih pantas jika di sebut sekolah yang sempurna. Segera ia berlari menuju pagar yang telah tertutup rapat saat ia baru saja sampai dan menjerit, “PAK! Please pak ini hari pertama saya, saya bisa mati kalo saya ga masuk pak, please hari ini aja.” Melihat peserta didik baru tersebut dengan napas yang tersengal-sengal dan rupa yang berantakan pak satpam menjawab, “Gak.” “PAAAAKKK!! PLEASE PAK PLEASE!” Mohon gadis itu sembari menggenggam jeruji gerbang sekolah baru nya. Satpam tersebut hanya mendengus muak sebelum senyum nya melebar, “Wah, wah, akhirnya si pahlawan kesiangan dateng juga.” ucapnya sembari menggelengkan kepala. “Pak jangan cuekin saya pak,” gadis itu kembali memohon sebelum ia menoleh dan berhenti sejenak. Terlihat empat orang pemuda yang acak-acakan, bet kelas yang berada di lengan kanan menunjukkan mereka berada di tingkat 2 sekolah menengah atas, tampangnya terlihat seperti orang yang wegah pergi ke sekolah seakan sekolah adalah tempat yang membosankan. “Ya ampun, untung aja ada orang-orang ini, pak satpam jahat ini pasti ga punya alasan buat ga ngebolehin kami masuk” ucap gadis tersebut dalam hati. Sekian lama ia menunggu, tetapi mereka hanya diam saja dan melanjutkan kegiatan tidak jelas mereka. “KOK MEREKA DIEM AJA SIH?!!” mata gadis itu melebar menatapi segerombolan pemuda tersebut dengan heran. Gadis itu melihat sosok laki-laki, matanya tidak berhenti memperhatikan nya, tetapi di sisi lain ia takut menatapnya terlalu lama. Aura nya sangat pekat, terlihat jelas ia bukan laki-laki yang baik. Sang laki-laki akhirnya sekilas melirik dingin ke arah sang gadis. Sang gadis tersadar kemudian mengalihkan kepalanya, mengubah pandangan ke ke kiri bawah. Serem Pak satpam yang lain nya muncul dari dalam gedung “Karena guru konseling kalian sedang berbaik hati, kalian disuruh masuk.” Ujar pak satpam. Si gadis mendongak ke arah pak satpam, senyum terulas di wajah gadis tersebut, “Terima kasih ya pak!” ucap nya ceria, segera ia beranjak melewati pagar sekolah yang telah di buka untuk mereka. “Dih sok baik, kita mah ogah,” ucap pemuda yang dari aura nya terlihat jelas dia ketua grup berandal tersebut. Mereka tertawa angkuh, Gadis itu hanya tersenyum memprihatinkan, kemudian segera lah ia masuk ke dalam area sekolah. Kini terlihat seorang pria yang sepertinya baru menginjak 30 tahun muncul dari dalam gedung, mungkin dia guru konseling yang memperbolehkan mereka berlima masuk, “Cepat masuk atau saya seret kalian semua!” seru guru konseling tersebut. Ia melangkah keluar gerbang dan menarik seragam masing masing berandal tersebut agar masuk ke dalam lingkungan sekolah yang dibantu oleh kedua satpam sekolah, keempat berandal tersebut hanya mendengus kesal. Mereka berlima kini telah berada di halaman depan sekolah. Guru konseling mengoceh tetapi ia juga tidak terkejut dengan tingkah laku murid-murid bandel kelas kakap yang baru saja naik ke kelas 2 SMA. Gadis itu berdiri sejajar dengan yang paling mengerikan aura nya, yang ia terka adalah ketua geng tersebut. Ia merasa sosok itu memperhatikan nya tetapi ia tidak berani menengok ke samping kanan atas. Samar-samar oceh an guru konseling terdengar di telinga gadis itu. Tiba-tiba si gadis merasakan kejut, matanya membulat, ia merasakan sesuatu seperti ada yang baru saja diletakkan di bahu kanan gadis itu. Tubuhnya merinding takut. Dengan segera ia meraih apa yang ada di bahu kanan nya tersebut dengan tangan kirinya. Sebuah dasi Ia kembali terkejut, karena sangat tergesa-gesa ketika akan berangkat sekolah. Ia melupakan hal yang sangat-sangat penting, ia lupa memakai dasi nya. Tatapan nya perlahan mengarah ke arah orang di sebelahnya. Ia tidak menyangka, ia tidak paham akan semua ini. Mengapa ia melakukannya? Setelah nya laki-laki itu sama sekali tidak melirik ke arah sang gadis. Segera nya gadis itu mengalungkan dasi yang diberikan oleh laki-laki tersebut. Dalam hati si gadis berucap “Terima kasih. Lagi.” senyum manis terpampang di raut wajahnya yang semula sangat ketakutan. “Maira Ayu E.” eja guru konseling dengan dingin saat langkah nya berhenti tepat di depan Maira, si gadis. Maira sampai tidak menyadarinya, ia kembali panik. “Maaf pak, tidak akan saya ulangi lagi.” sesal Maira, ia menunduk kan kepalanya. Walau ini hari pertamanya Maira resmi menjadi murid SMA Jaksanegara guru konseling tidak membiarkan nya begitu saja. “Kamu ini baru saja menjadi murid sudah lalai begini, teman-teman mu sudah rapih berbaris mengikuti upacara apel Senin! Mau jadi apa kamu kedepannya? Sepertinya mereka?!!” Gertak guru konseling menunjuk ke arah kakak kelas berandal nya. “Apasih pak sok asik banget, muak tau ga.” desis salah satu anggota geng tersebut. “Diam!” seru guru konseling, “Lihat kakak kelas kamu, mau kamu seperti itu? Atribut tidak lengkap, baju tidak dimasukkan ke dalam celana, datang selalu terlambat, selalu bolos pelajaran!” lanjut nya. “T- tidak pak, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya tolong pak saya harus ikut MPLS,” ujar Maira gemetar. “Diam! Konsekuensi apa yang cocok saya berikan untuk kamu? Apa kamu mau konsekuensi kamu disamakan dengan mereka mereka ini?” lanjut guru konseling tidak memberikan celah. Maira tidak menyerah, “Pak please dengarkan saya, saya mau menanggung seluruh konsekuensi yang saya perbuat, tetapi pak please izinkan saya untuk ikut MPLS dulu, saya akan tanggung konsekuensi saya saat pulang sekolah, bagaimana pak? Apa bapak setuju?” pinta Maira dengan seluruh harapan nya. Guru konseling hanya diam sebelum ia berbicara, “Baik, karena hari ini hari yang penting bagi kamu,” guru konseling berhenti sejenak, “dan saya tentunya,” iris nya melirik keempat berandal yang terlihat muak di raut wajah nya masing-masing. Guru konseling tersebut menarik napas dalam-dalam, “saya persilahkan kamu untuk masuk kedalam kelas baru mu dan bergabung dengan teman-teman mu di sana. Akan saya hubungi pihak yang berkenan supaya tidak terjadi kesalahpahaman” “Sekali lagi, terima kasih banyak dan maaf yang sebesar-besarnya nya ya pak!” Raut wajah Maira kembali ceria, ia menyalami guru konseling dan segera ia berlari menuju kelas nya. “Hei kalian berempat! Seperti biasa ya, berdiri di sini 20 menit, disusul lari memutari lapangan upacara 8 kali, push up 30 kali, berdiri lagi sampai jam pelajaran ke 2” tegas guru konseling. “Dih gitu doang, udah hapal gue.” ucap salah satu anggota geng degan ketus. “Cepat!” seru guru konseling. “Saya tinggal dulu, saya harus mengawasi berjalannya MPLS.” Jelas guru konseling melirik jam tangan di tangan kiri nya. “Udah sono pergi yang jauh, ga peduli gue!” seru salah satu anggota geng. “Yang becus makan nya,” guru konseling melirik ke 3 teman lain nya yang bergurau, “heh ojok guyonan, seng serius!” Seru guru konseling, karena tidak mau membuang-buang waktu menanggapi para berandal yang tidak ada habisnya ini, ia pun memutuskan segera pergi memantau berjalan nya MPLS. “COK JANCOK, tapi wes biasa,” gerutu salah satu anggota geng. Diiringi tawa oleh teman-temannya. “Mboh ancene Wiryo a*u!” Seru yang lainnya. “HAHAHAHAHA.” Tawa mereka pecah. “Gak seh, Gak salah maksud e,” imbuh yang lain nya lagi. Walau kesal dan rasanya ingin memberontak tetapi mau tidak mau mereka pun melakukan nya, tidak lain tidak bukan adalah karena mereka sudah terbiasa melakukan konsekuensi ini.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.7K
bc

TERNODA

read
205.2K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook