DUA PULUH EMPAT

1124 Words
Gelap.             Di sini sangat gelap. Florencia berlari ke segala arah, tapi tak kunjung menemukan cahaya. Di mana ini? Kenapa dia bisa ada di tempat sedingin dan semenyeramkan ini? Seingatnya, tadi dia sedang mengendarai mobilnya, kemudian... Florencia berhenti berlari. Cewek itu mematung di tempatnya dan tubuhnya gemetar hebat. Peluh dingin itu mulai membasahi wajah cantiknya.             Dia mengalami kecelakaan.             Setelah mobilnya menabrak sesuatu, Florencia tidak mengingat apa pun lagi. Samar, dia memang melihat seseorang berlari ke arahnya sambil menyerukan entah apa. Wajahnya terlihat cemas dan panik. Kemudian, semua menjadi gelap, seperti saat ini. Apakah itu artinya... dirinya sudah meninggal dunia?             Berhentilah menatap ke masa lalu dan mulai menatap ke arah gue, Zevarsya Venzaya!             Suara yang tidak dikenalnya itu membuatnya kaget dan menoleh ke segala arah. Kalimat itu... terasa tidak asing baginya. Suaranya pun terkesan familiar. Karena mendengar kalimat itu secara terus menerus, kini Florencia merasa kepalanya sangat sakit. Dadanya bergemuruh dan jantungnya berdegup sangat kencang, hingga rasanya sesak.             Zeva...             “Siapa?” tanya Florencia sambil meringis dan memegang kepalanya.             Zeva...             “Siapa?!” kini, Florencia mulai berteriak. Cewek itu terengah dan jatuh berlutut. Tangannya masih memegang kepalanya yang sakit bukan main. Jantungnya semakin berdegup kencang hingga saat ini, bukan lagi terasa sesak, namun terasa sakit.             Zeva... i love you....             “Siapa itu Zeva?! Gue Florencia!” teriaknya. Cewek itu kemudian menangis dan berteriak histeris. “Gue bukan Zeva! Gue Florencia!”             Percuma saja dia berteriak karena tidak ada yang mendengarnya. Yang ada, kepalanya semakin terasa sakit dan dadanya semakin terasa tidak enak. Dia ingin mengeluarkan jantungnya saja kalau bisa.             Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul di benak Florencia. Bayangan seorang cowok dan cewek yang sedang berhadapan. Cowok itu menatapnya dengan tegas, tapi anehnya, Florencia tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya seperti apa. Yang Florencia tahu dan yakini, cowok itu memang memberikan tatapan tegasnya.             Berhentilah menatap ke masa lalu dan mulailah menatap ke arah gue, Zevarsya Venzaya!             Florencia terkesiap, kemudian membelalak.             Zevarsya... Venzaya...?             Sekelebat bayangan lainnya kembali muncul. Kali ini, beberapa orang sedang bermain sesuatu. Seorang cowok mendapatkan gilirannya. Mereka menyebut permainan itu truth or dare dan bertanya kepada si cowok akan memilih truth  atau dare. Cowok tersebut memilih dare dan tanpa ragu, dia mencium kening seorang cewek.             “Ugh!” Florencia memejamkan kedua mata dan meringis menahan sakit. Benar-benar tidak bisa tertahankan rasa sakit pada kepalanya. Kalau bisa, Florencia ingin memecahkan kepalanya agar rasa sakit itu menghilang.             Kali ini, bayangan yang muncul adalah seorang cowok dan cewek yang sedang joging bersama. Lalu, dua orang lainnya muncul dan menghampiri mereka. Mereka sempat berdebat, kemudian masing-masing pergi begitu saja. Setelahnya, Florencia melihat bayangan seorang cowok yang memberikan kalung kepadanya. Kalung yang sama, hanya berbeda inisial. Yang pertama berinisial KZ dan dipakai oleh si cowok, kemudian kalung berinisial ZK dipakaikan oleh si cowok kepada cewek di hadapannya.             “Kalung... ZK?” Florencia terengah dan menelan ludah. “Kalung... gue...?”             Ketika Florencia memegang lehernya, dia tidak menemukan kalungnya di sana. Cewek itu kaget dan panik. Dengan cepat, dia bangkit dan mencarinya ke segala penjuru. Sia-sia saja karena tempat ini sangatlah gelap.             “Di mana?” gumam Florencia dengan panik. Cewek itu berjalan cepat, kemudian berubah menjadi berlari. “Di mana kalung itu? Itu kalung pemberian Krisna!”             Tiba-tiba, sebuah cahaya menyilaukan mata muncul di kejauhan, membuat Florencia memicingkan mata dan menutup sebagian wajahnya dengan menggunakan sebelah lengannya. Dia menatap cahaya di kejauhan itu dengan tatapan waspada.             “Apa... itu...?”             Zeva...             Suara itu...             Zeva...             Tanpa ragu, Florencia berjalan ke arah cahaya tersebut yang seolah memanggilnya. Anehnya, Florencia merasa suara itu memang memanggilnya, meskipun nama yang diucapkan adalah Zeva dan bukannya Florencia. Hati-hati, Florencia mulai menerobos cahaya tersebut dan saat dia membuka kedua matanya...             Langit-langit putih menyambutnya.             Cewek itu memejamkan kedua matanya, kemudian membukanya kembali. Dia tidak mengenali tempat ini, tapi, setidaknya tempat ini jauh lebih baik dari tempat yang sangat gelap tadi. Sesuatu menutupi hidung dan mulutnya dan Florencia baru menyadari kalau itu adalah oksigen yang dipakaikan kepadanya.             Jadi... dia belum meninggal dunia?             Saat Florencia menengok ke samping, seorang cowok yang tidak dikenalnya sedang bersandar di dinding sambil bermain ponsel. Florencia berdeham agar cowok itu bisa menyadari dirinya, tapi sepertinya suara dehamannya terlalu kecil. Namun, kekhawatiran Florencia mengenai cowok itu yang tidak bisa mendengar suara dehamannya tidak terbukti, karena cowok itu langsung menatap ke arahnya saat dia berdeham.             “Oh, udah sadar?” tanya cowok itu. Wajah dan suaranya terdengar datar. “Sebentar, biar gue panggilin dokter. Kakak lo juga ada di sini tapi lagi ke kafetaria.”             Ketika cowok itu akan pergi, tangan Florencia langsung menahan tangannya. Meskipun masih terasa lemah, tapi Florencia berusaha mengerahkan semua tenaganya. Bisa Florencia lihat wajah si cowok terlihat kaget, pun dengan tatapan matanya.             Gazakha tadinya sedang bermain ponsel sambil menunggu Florencia siuman. Atau, mulai saat ini, karena kecurigaannya sudah terbukti benar, Gazakha akan memanggil Florencia dengan Zeva. Tapi, tentu saja Gazakha belum tahu apakah dia harus menceritakan hal ini pada Keylo atau tidak. Gazakha takut jika Keylo tahu yang sebenarnya, kakaknya itu akan bertindak gegabah mengingat dia sudah sangat merindukan Zeva dan selalu mencari keberadaan Zeva di mana pun.             Saat Florencia sudah sadar, Gazakha merasa lega luar biasa. Namun, dia tetap harus memanggil Fitz karena saat ini, cowok itu berperan sebagai kakak dari Florencia alias Zeva. Ketika Gazakha akan pergi memanggil dokter dan Fitz, cowok itu merasa tangannya ditahan. Dia menoleh dan wajah Florencia terlihat memelas. Karena merasa kasihan, Gazakha akhirnya mendekati wajahnya ke arah wajah Florencia.             “Siapa... itu... Zeva...?”             Gazakha mematung. Cowok itu menelan ludah dan menatap Florencia yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu. Selain itu, mata Florencia juga terlihat berkaca, membuat Gazakha bimbang. Apakah dia harus membeberkan fakta yang sebenarnya di hadapan Florencia atau tidak. Masalahnya, jika terjadi sesuatu pada Florencia akibat dirinya, bukan hanya dokter dan Fitz yang akan memarahinya, Keylo pun demikian. Mungkin kakaknya itu pun akan membunuhnya. Walau bagaimanapun, meski Florencia sedang mengalami amnesia, dia tetaplah Zeva. Cewek yang sangat dicintai dan digilai oleh Keylo sang kakak.             “Lo kenal Zeva?” tanya Gazakha kemudian, mencoba memancingnya.             Florencia menggeleng lemah dan melepaskan tangannya dari tangan Gazakha. “Seseorang... seseorang... terus... memanggil... nama... Zeva... di... dalam... mimpi... gue... tadi....”             Entah kenapa Florencia menceritakan hal ini pada orang asing yang berada di hadapannya. Tapi, dia merasa orang di depannya ini tahu sesuatu. Instingnya mengatakan demikian.             Gazakha menarik napas panjang dan mengusap kepala Florencia. Cowok itu kemudian tersenyum lembut dan berkata, “Sabar sebentar lagi, Kak Florencia. Ini belum saatnya. Gue harus mengumpulkan banyak informasi dan bukti lebih dulu. Tapi, satu hal yang harus Kakak ketahui. Orang yang memanggil-manggil nama Zeva itu... dia adalah orang yang sangat mencintai Kakak.”             Florencia hanya diam. Tidak mengerti dengan ucapan cowok di depannya. Meski begitu, entah kenapa, dadanya terasa hangat. Dan, tahu-tahu saja, Florencia sudah mengangguk menyetujui ucapan si cowok itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD