04

2838 Words
Backsound: Hyorin-You Driving Me Crazy     Harusnya, semua pengurus organisasi sudah berkumpul di ruang rapat. Tapi, coba lihat sekarang? Tidak ada satupun pengurus yang hadir di ruangan tersebut. Ruangan itu masih kosong, membuat Zeva menarik napas panjang dan membuangnya keras. Gadis itu melirik jam tangan yang sedang dipakainya dan mengerutkan kening. Dia tidak terlambat, tentu saja. Dia adalah orang yang datang paling pertama dalam rapat ini, karena, pada kenyataannya, dia datang sepuluh menit lebih cepat dari waktu yang sudah ditentukan.             Malas menunggu diluar ruangan, Zeva akhirnya melangkah masuk. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di kursi depan, agar dia bisa memperhatikan siapapun yang nantinya akan berbicara di depan. Gadis itu kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan dan kembali menghembuskan napas. Tak lama, dia mengeluarkan ponselnya dan mengecek beberapa SMS serta BBM yang masuk.             “Selalu jadi orang pertama yang datang.”             Suara berat itu membuat Zeva tersentak dan menoleh. Gadis itu meringis aneh dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ketika sosok Devan muncul di ambang pintu dan akhirnya melangkah mendekatinya. Laki-laki itu duduk di samping Zeva dan menopang dagunya dengan sebelah tangan. Kedua matanya menelusuri permukaan wajah Zeva yang sangat manis menurutnya.             Ditatap sedemikian rupa oleh Devan membuat Zeva salah tingkah. Gadis itu berdeham dan menyipitkan matanya saat balas menatap Kakak tingkatnya itu, seolah-olah dengan melakukan hal tersebut, Zeva bisa menyembunyikan kegugupannya. Sayangnya, kegugupan itu masih terbaca jelas di wajah Zeva, karena Devan saat ini mati-matian menahan senyumnya agar tidak muncul ke permukaan.             “Berapa lama lo kenal sama gue, Va?”             “Hah?”             Devan akhirnya tidak bisa mengontrol diri lagi. Tawa geli itu menyembur keluar dengan keras, membuat Zeva menunduk malu. Wajahnya terasa panas dan gadis itu yakin kalau pipinya sudah merona merah saking malunya.             “Kita udah kenal cukup lama, dan lo masih gugup kayak barusan? Santai aja, kali.” Devan mengacak rambut Zeva gemas, membuat tubuh gadis itu berubah kaku.             Kalau saja Devan tahu bahwa perbuatannya barusan membuat degup jantung Zeva meliar. Kalau saja Devan tahu bahwa dia menyukai laki-laki itu selama ini. Kalau saja Devan tahu, Zeva rasanya ingin menangis kencang dan berteriak keras saat melihat laki-laki itu hanya berduaan saja dengan Neyla. Kalau saja Devan tahu semua itu, Zeva sangat yakin bahwa Devan tidak akan pernah tertawa keras seperti tadi.             “Hehehe....” Zeva menarik napas panjang dan menormalkan kembali air mukanya. “Kan, gue sama lo cuma berduaan aja di ruangan ini, Kak. Beda urusan kalau kita rame-rame kayak di pasar malam.”             “Loh? Apa bedanya?” tanya Devan bingung. Dia semakin mendekatkan wajahnya ke arah Zeva, membuat laki-laki itu bisa melihat dengan jelas kegugupan yang terpancar disana.             “Gue cewek, Kak... sementara lo itu cowok. Jadi, kalau cewek sama cowok berduaan aja di sebuah tempat, pasti, cewek itu bakalan gugup, salah tingkah atau apalah itu istilahnya.” Zeva menarik tubuhnya agar bisa menciptakan jarak diantara mereka karena gadis itu merasa Devan sedikit banyak sedang menghapus jarak diantara keduanya. “Lo ngerti, kan, maksud gue, Kak?”             “Yup, gue paham.” Devan mengangguk. Lalu, tiba-tiba saja, laki-laki itu merangkul pundak Zeva dan membawa tubuh gadis itu ke arahnya. Zeva yang tidak menduga akan diperlakukan seperti itu hanya bisa membeku dan menelan ludah susah payah. Dia semakin sulit mengontrol degup jantungnya, ketika wajah keduanya saat ini benar-benar sangat dekat. Zeva bahkan bisa merasakan helaan napas Devan pada wajahnya. “Tapi, itu baru bisa diperhitungkan kalau gue lagi melancarkan aksi pedekate sama lo, Zeva Sayang... kenyataannya, kan, gue nggak lagi pedekate sama lo. Lo itu udah gue anggap seperti adik gue sendiri.”             DEG!             Rasanya seperti ada ribuan pisau yang sudah ditaburi oleh garam dan perasan jeruk nipis, yang saat ini sedang menusuk-nusuk ulu hati juga jantungnya. Perih... sesak... sakit... dan berdarah. Zeva berusaha sekuat mungkin menahan gejolak sakit hatinya akibat ucapan Devan barusan. Laki-laki itu hanya menganggapnya sebagai adik... hanya sebagai adik... hanya sebagai adik...             Tidak akan pernah lebih dari itu.             Tentu saja Devan tidak akan pernah berpaling dari Neyla. Apa, sih, yang bisa dia banggakan dari dirinya? Dia tidak secantik dan semenarik Neyla. Dia tidak sepintar Neyla. Dia tidak sepopuler Neyla. Dia hanyalah gadis biasa yang tidak terlalu senang menonjol di depan publik. Dia ikut organisasi karena dia memang senang berorganisasi. Dia tidak pernah mendapatkan IPK lebih dari tiga koma lima, seperti yang Neyla dapatkan selama ini.             “Gitu, ya?” gumam Zeva tanpa sadar. Kedua matanya berkaca dan tanpa sadar, airmata itu bergulir turun.             “Loh? Va? Lo kenapa nangis?” tanya Devan cemas. Laki-laki itu melepaskan rangkulannya dan memegang kedua pundak Zeva dengan tegas. “Lo sakit, Va?”             “Gue nggak apa-apa, Kak,” jawab Zeva cepat sambil menggeleng. Gadis itu memaksakan seulas senyum dan menghapus airmatanya dengan menggunakan punggung tangan. “Cuma kepalanya sedikit sakit.”             “Sini.” Tiba-tiba saja, Devan menarik tubuh Zeva ke arahnya. Sebelum Zeva sempat menghindar, tubuhnya sudah berada didalam pelukan Devan. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Zeva dengan lembut. “Pelukan gue biasanya ajaib, loh, Va... biasanya, kalau Neyla lagi sakit, dia minta gue peluk dan langsung sembuh. Kata Neyla, pelukan gue itu kayak obat dokter. Hahaha, aneh, kan? Apa lo sekarang udah merasa baikan, Va?”             Zeva tidak bisa menjawab pertanyaan Devan tersebut. Gadis itu malah menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Devan dan meremas kemeja yang dikenakan laki-laki itu. Airmatanya mengalir semakin deras, namun dia berusaha sekuat mungkin menahan isakannya agar tidak keluar. Dia tidak bisa menjawab apapun pertanyaan yang nantinya akan keluar dari mulut Devan, kalau laki-laki itu bertanya kenapa dia semakin menangis.             Karena jawabannya, dia sakit hati. Sangat sakit hati.             Dia hancur. Dia remuk. Dia bagaikan gelas yang pecah, tidak bisa disatukan kembali. Itulah yang hatinya rasakan.             “Gue... sayang... sama... lo... Kak,” bisik Zeva pelan. Sangat pelan, hingga kemungkinan besar hanya dirinya sendiri yang mendengarnya.             Kalau cinta itu menyakitkan, kenapa cinta harus datang kepadanya? Kalau cinta itu menghancurkan, kenapa harus dia yang dipilih untuk menjadi korban? Kalau cinta itu memang membahagiakan, kenapa dia tidak bisa merasakannya? ### “Zevaaaaaaaa!!!”             Seruan riang itu membuat Zeva terkejut dan mendongak. Gadis itu memiringkan kepalanya saat sosok Devan muncul tepat di depannya. Zeva menoleh ke seluruh penjuru ruang kelasnya dan mendapati beberapa mahasiswi sedang berkasak-kusuk sambil menatap kagum ke arah Devan. Kemudian, tatapannya bertumbukkan dengan Jasmine. Sahabatnya itu nyengir kuda dan mengangkat dua jempolnya, lantas pergi keluar.             “Hei!” Devan menjentikkan jarinya di depan wajah Zeva, membuat gadis itu terlonjak. Perhatiannya kembali terfokus pada Kakak tingkatnya itu, yang saat ini tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya. Tangan kanannya terulur di depan wajah Zeva. “Ayo, ikut gue.”             “Hah? Kemana?” tanya Zeva bingung. Masalahnya, Devan langsung memegang pergelangan tangannya dan membantunya untuk bangkit berdiri. Sentakan napas para mahasiswi yang berada didalam kelas Zeva pun sampai terdengar jelas, ketika Devan menggenggam tangannya. Gadis itupun langsung menghentikan Devan yang sudah menariknya untuk keluar kelas.             “Kenapa, Va?”             “Jangan kayak gini, Kak,” ucap Zeva lirih. Dia melirik teman-teman sekelasnya dengan lirikan malu. “Mereka bakal ngira kalau Kakak lagi....”             “Selingkuh sama lo, gitu?” tanya Devan langsung, memotong kalimat Zeva barusan. Gadis itu tidak menjawab namun dari kepalanya yang tertunduk, Devan tahu bahwa ucapannya barusan memang benar. “Nggak usah dengerin apa kata orang lain. Yang penting, lo tau kalau gue nggak lagi berusaha untuk merayu lo. Lo tau, kan, kalau gue cinta setengah mati sama Neyla?”             Siapa yang tidak tahu? Zeva membatin.             Devan membawa Zeva ke taman belakang kampus. Laki-laki itu mendudukkan Zeva ke salah satu kursi panjang yang ada, lalu dia mengeluarkan sapu tangan berwarna hitam. Zeva belum sempat menyuarakan isi pikirannya, ketika Devan langsung menutup penglihatannya dengan sapu tangan tersebut.             “Kak! Lo lagi ngapain, sih? Kenapa mata gue ditutup begini?” tanya Zeva panik. Gadis itu berusaha untuk menghalangi tangan Devan yang sedang mengikat sapu tangan tersebut di belakang kepalanya, namun Devan mencegah.             “Jangan dibuka! Pokoknya, lo jangan buka penutup mata lo, sebelum ada aba-aba dari gue, oke?”             “Tapi—“             “Percaya sama gue, Va!” Devan memegang kedua pundak Zeva dari belakang dengan tegas. Entah mengapa, pegangan laki-laki itu pada pundaknya membuat Zeva merasa tenang dan nyaman. Juga terlindungi. “Lo nggak akan pernah nyesal. Lo pasti suka sama apa yang gue udah siapin buat lo.”             Zeva menurut. Gadis itu hanya mengangguk dan menghela napas panjang lalu tersenyum simpul. Dia bisa merasakan tangan besar Devan mengacak rambutnya. Hal yang selalu dilakukan oleh Devan dan selalu disukai oleh Zeva sejak dulu. Lalu, suasana mendadak sepi.             Entah sudah berapa lama waktu yang dihabiskan oleh Zeva untuk menunggu Devan. Gadis itu mulai tidak tenang dan mulai merasa panik. Sampai kemudian, sapu tangan yang menutup kedua matanya mendadak jatuh dan Zeva langsung tersenyum lebar.             “Kak Devan! Lama ba—“             Kalimat Zeva terhenti di udara ketika dia melihat sosok Jasmine. Sahabatnya itu sedang tersenyum meminta maaf dan membawa sebuah kue cokelat yang sangat cantik. Di atas kue cokelat tersebut, tertulis kalimat ‘Selamat Ulang Tahun Zevarsya Venzaya’ dengan krim berwarna pink. Lalu, ada ukiran wajah seorang gadis yang sepertinya sengaja dibuat menyerupai wajahnya. Zeva mengalihkan tatapannya dari kue tersebut ke wajah Jasmine. Gadis itu menarik napas panjang, menaruh kue tersebut di samping Zeva lalu duduk di sisi lain kursi panjang tersebut. Tangannya mengelus pundak Zeva lembut.             “Gue tau kalau Kak Devan mau bikin kejutan ulang tahun ini buat lo, Va. Kak Devan nyamperin gue kemarin dan bilang rencananya ke gue. Dia mau liat lo senyum, karena katanya, lo selalu murung beberapa hari terakhir ini. Dia bilang, dia tau ulang tahun lo dari data organisasi kampus yang lo berdua ikutin.” Jasmine mengambil napas sebentar, sebelum melanjutkan. “Dia nanya sama gue, toko kue dimana yang bagus dan bisa bikin ukiran wajah juga. Begitu gue kasih tau toko kue langganan gue, Kak Devan langsung kesana. Tadi, dia datang ke kelas dan ngasih kue ini ke gue. Katanya, dia nggak bisa ngasih langsung ke lo, karena... karena, Kak Neyla cemburu. Kak Neyla tau dari temannya Kak Devan kalau Kak Devan mau ngasih kejutan buat lo.”             Penjelasan Jasmine itu membuat Zeva memejamkan kedua matanya. Sakit. Benar-benar sakit. Devan menyuruhnya untuk percaya pada laki-laki itu, tapi, laki-laki itu sendiri yang sudah menghancurkan kepercayaannya. Harusnya, Zeva sadar diri bahwa Devan akan selalu memprioritaskan Neyla di atas apapun.             Bahwa Devan tidak akan pernah menyadari keberadaannya. Mungkin, Devan memang melihat sosoknya, tapi, Devan tidak pernah menganggap keberadaannya. Devan hanya melihat Neyla... Neyla... dan Neyla... tidak akan pernah ada ruang di hati Devan untuk gadis bernama Zeva.             “Jas... gue... gue bodoh, ya...?” tanya Zeva dengan suara bergetar. Isak tangis pertama meluncur dari mulutnya, membuat Jasmine langsung merangkul sahabatnya itu dengan erat.             “Elo nggak bodoh, Va... nggak bodoh sama sekali.”             “Tapi... hiks... gue... gue... hiks... masih... suka... sama... Kak... Devan, meskipun... hiks... Kak Devan... hiks... udah jadi... milik... Kak Neyla sejak dulu....” Zeva membuka kedua matanya dan mencoba menghapur airmata yang mengalir dengan kedua tangannya. Namun, airmata itu malah semakin deras mengalir. “Gue... benar-benar... hiks... jatuh cinta... hiks... sama dia... Jas....”             “Sssst....” Jasmine memeluk tubuh Zeva dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut. Tanpa sadar, Jasmine juga sudah ikut menangis. Dia tidak sanggup dan tidak tega melihat kesedihan Zeva yang selama ini selalu dipendam dalam-dalam di hatinya. “Nggak ada yang salah kalau cinta udah memilih, Va....”             “Tapi... gue... gue jatuh cinta sama orang yang salah, Jas.” Zeva memeluk erat leher Jasmine, menumpahkan tangis dan sesaknya di pundak sang sahabat. “Gue nggak kuat... gue nggak bisa terus-terusan ngeliat dia sama Kak Neyla. Gue capek... gue capek, Jas... apa yang harus gue lakuin?”             “Zeva... udah... udah....” Jasmine menggelengkan kepalanya dan menghapus airmatanya. Dia melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Zeva sambil tersenyum lembut. “Dengar... Zeva yang gue kenal itu gadis yang kuat. Gadis yang tegar, yang nggak akan pernah nangis kalau lagi ada masalah. Zeva yang gue kenal itu gadis yang sabar. Yang rela tersakiti hatinya karena mencintai laki-laki, tapi tetap mempertahankan perasaan itu. Jadi, Zeva nggak boleh nangis hanya karena masalah ini, ya?”             Zeva mengangguk beberapa kali namun tangisnya masih kencang. Gadis itu kembali memeluk Jasmine dan berbisik, “Gue cinta sama Kak Devan, Jas... gue... gue cinta sama dia....”             “Gue tau... gue tau....” Jasmine membelai rambut Zeva dan menarik napas panjang. “One day, he’ll know about your feeling. Trust me.”             Jasmine tidak memberitahu Zeva mengenai kado yang sudah disiapkan Devan untuk sahabatnya itu. Kado berupa boneka pinguin kecil beserta setangkai mawar merah. Menurut Jasmine, hal tersebut hanya akan membuat Zeva semakin bersedih. ### Devan menyipitkan kedua matanya ketika menangkap sosok Zeva yang sedang berjalan dengan kepala tertunduk di koridor kampus. Laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya dan berlari menuju Zeva. Sudah tiga hari terakhir ini, Devan tidak melihat Zeva di kampus. Semenjak insiden dia meninggalkan Zeva di taman belakang kampus di hari ulang tahun gadis itu, Zeva seolah menghilang. Bertanya pada Jasmine, sama saja bohong. Sahabat Zeva itu memilih bungkam dan menggelengkan kepalanya ketika dia bertanya dimana Zeva berada.             “Va! Zeva, tunggu!” seru Devan keras. Laki-laki itu mencekal lengan Zeva dan memutar tubuh gadis itu dengan sedikit keras. Zeva mengangkat kepalanya dan mengerjapkan kedua mata. Devan mengerutkan kening ketika melihat mata sembap Zeva itu. “Va? Lo kenapa? Abis nangis?”             Pertanyaan Devan itu hanya dijawab dengan tatapan aneh bercampur dengan kesedihan dari Zeva. Tanpa basa-basi, Devan langsung membawa Zeva menuju taman belakang kampus agar bisa mendapatkan privasi untuk berbicara. Dia merasa, semua ini adalah salahnya, karena itu, dia harus bertanggung jawab. Kalau ternyata memang benar Zeva menangis karena dirinya, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena sudah menangisi gadis sebaik dan semanis Zeva.             “Va... lo kenapa?” tanya Devan pelan, saat keduanya sudah berada di taman belakang. Dia berusaha melihat wajah Zeva karena gadis itu hanya menunduk. Devan bahkan sudah membungkukkan tubuhnya agar bisa menyejajarkan diri dengan Zeva yang hanya setinggi dadanya. “Gue benar-benar minta maaf soal tempo hari. Waktu itu, Neyla—“             “Gue... gue suka sama seseorang, Kak....”             “Apa?”             Zeva menarik napas panjang dan mengabaikan hatinya yang berdenyut sakit. Lalu, gadis itupun tidak bisa mencegah diri untuk menangis. Airmata itu mengalir begitu saja dan berusaha dia hapus dengan kedua tangan. Dia tidak berani menatap wajah Devan.             “Gue udah lama suka sama orang ini, tapi... tapi... dia seakan nggak menganggap gue ada.” Zeva menggigit bibir bawahnya sambil terisak. Lalu, gadis itu memukul dadanya beberapa kali. “Sakit, Kak... sakit banget... sesak... perih....”             “Hei... hei... berhenti, Va.” Devan mencekal pergelangan tangan Zeva yang masih memukul dadanya dengan kekuatan sedang. Laki-laki itu kemudian mengangkat dagu Zeva agar wajah keduanya sejajar. “Siapa laki-laki b******k yang nggak peka itu? Biar gue hajar karena udah bikin adik tingkat kesayangan gue nangis kayak gini.”             Orang itu elo, Kak!             Mendadak, Devan menarik tubuh Zeva ke pelukannya. Laki-laki itu memeluk Zeva dengan sangat erat, seolah-olah tidak ingin melepaskan gadis itu. Devan sangat ingin beban yang sedang dibawa oleh Zeva dipindahkan ke pundaknya. Dia tidak suka melihat Zeva menangis. Entah kenapa, hal itu sangat menyiksanya.             “Jangan nangis lagi, Va... gue nggak bisa liat lo nangis kayak gini.”             Ucapan Devan itu justru membuat tangis Zeva semakin menjadi. Tiga hari ini, Zeva sengaja tidak datang ke kampus karena masih sedih akibat tindakan Devan tempo hari di taman kampus. Karenanya, saat tadi Devan menahannya di koridor, rasa sesak dan sedih itu kembali menyergapnya tanpa ampun, membuat luka hatinya kembali berdarah.             Zeva mencengkram leher Devan dengan sangat kuat. Dia menyembunyikan wajahnya di leher laki-laki yang dicintainya itu. Dia menumpahkan semua kesedihan dan kesesakkan hatinya disana, berharap bahwa Devan bisa merasakan sedikit saja rasa sakit yang dia rasakan. Tapi, sampai kapanpun Zeva tahu, Devan tidak akan pernah sadar akan hal itu.             “Gue... gue cinta sama orang itu, Kak... tapi, gue juga sadar kalau orang itu nggak boleh gue milikin.”             “Loh? Kenapa?” tanya Devan bingung. Dia mengelus punggung Zeva dengan lembut dan semakin mempererat pelukannya.             Karena elo udah jadi milik Kak Neyla...             Pertanyaan Devan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala. Isak tangisnya semakin menggila, membuat Devan memejamkan kedua matanya dan semakin menenggelamkan Zeva dalam dekapannya.             “Jangan nangis lagi, Va... please....”             Dan keduanya tetap dalam posisi seperti itu sampai beberapa menit ke depan. Membiarkan angin pagi memainkan rambut keduanya. ### “Suka banget sama es krim, ya?”             Zeva hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia melahap es krim vanilla-nya dengan wajah senang. Matanya memang masih sembap karena habis menangis, namun Devan bisa melihat gadis itu mulai bangkit perlahan. Terlihat dari cara Zeva tersenyum saat ini. Begitu lembut dan ringan.             “Apalagi yang rasa vanilla, Kak.”             Devan tertawa dan tangan kanannya terulur ke wajah Zeva. Yang bisa dilakukan oleh Zeva hanyalah membeku saat Devan membersihkan sudut bibirnya yang terkena es krim.             “Cara makan lo lucu, kayak anak kecil.” Devan tertawa renyah, membuat semburat merah muncul di pipi Zeva.             Saat Devan sedang melahap es krimnya, Zeva menatap laki-laki itu. Senyum getir muncul di bibir Zeva. Devan, sepertinya laki-laki itu akan terus berada didalam hatinya sampai kapanpun. Tapi, Zeva berharap, suatu saat nanti, dia bisa melupakan Devan dan menemukan seseorang yang bisa membuatnya bahagia.             Meski begitu, izinkan dia untuk bersama dengan Devan hari ini, esok dan seterusnya. Sampai, seseorang datang dan menghapus semua memori tentang Devan dari dalam benaknya. ###  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD