Bab 17 — Retakan

601 Words
Paviliun Giok tidak pernah seberisik ini. Biasanya, tempat ini hanya diisi oleh ocehan Ling’er atau petikan kecapi yang malas. Namun malam ini, suasananya lebih mirip pasar di tengah badai salju. Bau garam laut, pinus dingin, dan wangi mawar hutan bertabrakan di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi siapa pun yang tidak memiliki kekuatan gaib. Di tengah ruangan, A-Ning duduk bersila di atas meja giok—posisi yang sangat tidak sopan bagi seorang nona bangsawan. Ia masih mengenakan pakaian dari barak yang berbau arak dan asap. Di sekelilingnya, para pria dengan aura mematikan berdiri dengan wajah yang sanggup membekukan air terjun. "Aku bisa menjelaskan semuanya kok," ujar A-Ning dengan tawa canggung yang terdengar datar. Ia tidak merasa bersalah, ia hanya merasa suasana ini terlalu berisik oleh emosi yang tidak ia pahami. "Menjelaskan bagian mana?" desis Li Jian. Sang Putra Mahkota berdiri dengan tangan terkepal di balik jubahnya. "Bagian kau menari seperti orang gila, atau bagian kau membiarkan ular menjijikkan itu menghisap lehermu di depan ribuan prajurit musuh?" "Engga, engga, bukan gitu..." A-Ning mencoba menenangkan, meski matanya tetap kosong. "Dia cuma mabuk. Kalian juga kalau mabuk suka aneh, kan?" "Kami tidak mabuk arak dan menciumi tawanan di depan umum, Jiang A-Ning!" bentak Shen Wei. Aura serigalanya bocor, membuat suhu ruangan turun drastis. Bulu-bulu halus mulai muncul di lengannya. "Hm... pernyataan kamu gak salah," gumam A-Ning, memiringkan kepalanya. "Tapi... hm... bisa kita ganti pembahasan? Aku lapar. Ling’er, ada bakpao?" "NONA!" Ling’er berteriak dari ambang pintu, wajahnya memerah antara marah dan malu. Ia segera berlari mendekat, berusaha merapikan kerah baju A-Ning yang masih berantakan. "Tolonglah, bersikaplah seperti nona polos yang tergila-gila pada Putra Mahkota! Jangan buat hamba jantungan!" "Tapi aku tidak gila," bantah A-Ning polos. "Justru itu masalahnya!" timpal Jiu Ming dari sudut ruangan. Sang rubah tidak lagi tersenyum manja. Ia mematahkan kipas cendananya menjadi dua. "Kau membuatku terlihat seperti pecundang yang tidak bisa menjaga mainannya sendiri." "Tenang... tenang, aku gak apa-apa kok. Lihat, gak ada luka yang dalam," A-Ning menepuk-nepuk pundak Jiu Ming, berusaha menghibur seperti menghibur anak kecil yang kehilangan kelereng. Ia benar-benar tidak mengerti bahwa kemarahan mereka bukan karena keselamatannya, tapi karena cemburu yang membakar harga diri mereka sebagai predator. Tiba-tiba, seorang kasim tua masuk dengan tergesa-gesa. "Yang Mulia! Permaisuri mengirim utusan! Beliau mendengar keributan di Paviliun Giok dan—" "Suruh mereka pergi!" perintah Li Jian tanpa menoleh. "Tapi Yang Mulia, Selir Mei Lian juga sedang menuju kemari bersama Putri Bai Shuyin!" Kekacauan semakin memuncak. Interupsi dari para pelayan yang berlarian, suara piring pecah karena aura Lan Zhao yang membuat air di dalam vas meledak, hingga pertengkaran antara para ML yang saling menyalahkan. "Kalau saja kau tidak mencoba menidurkan kami dengan nyanyian bodohmu, Lan Zhao, dia tidak akan diculik!" tuduh Shen Wei. "Oh, katakan itu pada dirimu sendiri, Serigala. Kau yang paling dekat dengannya tapi malah sibuk menggeram," balas Lan Zhao dingin. Di tengah badai teriakan itu, A-Ning hanya menghela napas. Ia turun dari meja, mengambil kepingan zirah ayahnya yang jatuh di lantai, dan mulai mengetuk-ngetuknya ke pinggiran kursi kayu. Ting... ting... ting... Ritme itu teratur. Satu-satunya hal yang masuk akal baginya di tengah emosi manusia yang meledak-ledak. Ia melihat mereka semua bertengkar dan merasa bahwa dunia yang "hidup" ini benar-benar melelahkan. Ia merindukan sunyi, namun ia sadar, sejak ia masuk ke sangkar ini, sunyi adalah kemewahan yang tidak akan pernah ia miliki lagi. "Kalian berisik sekali," gumam A-Ning pelan, namun di ruangan yang tiba-tiba hening karena auranya yang mendadak dingin, suara itu terdengar seperti vonis mati. "Kalau mau bertengkar, di luar saja. Aku mau tidur." Retakan di antara mereka semakin lebar. Malam tanpa bulan di Istana Daming baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD