Udara di barak militer utara tidak lagi berbau keringat dan besi panas, melainkan aroma manis arak yang tumpah dan hawa musky yang memabukkan. Api unggun melonjak tinggi, memantulkan bayangan liar di dinding tenda. A-Ning, dalam keadaan setengah sadar namun penuh gairah yang impulsif, benar-benar menjadi pusat kekacauan.
Ia menari dengan ritme yang menghancurkan logika. Tubuhnya meliuk, kain sutranya basah oleh sisa arak, menempel pada kulitnya yang pucat. Di sampingnya, Yan Xiu telah kehilangan kendali diri. Sang Pangeran Ular yang biasanya dingin dan penuh perhitungan kini bersandar sepenuhnya pada tubuh A-Ning. Kepalanya terkulai di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma kulit A-Ning dengan rakus seolah itu adalah satu-satunya penawar racun di dunia.
"Kau... benar-benar... monster kecil," bisik Yan Xiu dengan suara serak, lidahnya yang bercabang sesekali menyapu tulang selangka A-Ning, memicu sensasi dingin yang menggelitik di tengah panasnya suasana. Ia tidak hanya mabuk arak, ia mabuk oleh keberadaan A-Ning.
A-Ning tertawa—sebuah suara yang jarang terdengar, terdengar kosong namun provokatif. Ia menjambak rambut hitam Yan Xiu, menarik kepala pria itu ke belakang hingga mata mereka bertemu. "Kau terlalu lemah untuk seekor ular," ejeknya sebelum mendaratkan ciuman yang lebih menyerupai gigitan di bibir pucat Yan Xiu. Darah merembes, mempermanis rasa arak yang mereka bagi.
Mo Yu muncul dari kegelapan, berdiri diam seperti patung gagak yang mengamati kehancuran. Wajahnya datar, namun matanya mencerminkan rasa tidak percaya yang mendalam. "Kau tidak kasihan melihat ular itu kehilangan martabatnya?" suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara genderang.
A-Ning tidak berhenti menari, tangannya masih melingkar di pinggang Yan Xiu yang uget-uget tidak berdaya, berusaha merapatkan tubuh mereka lebih intim lagi. "Terlalu berisik," jawab A-Ning singkat tanpa menoleh. Ia mengangkat dagu Yan Xiu yang terkulai, menatap iris vertikal yang kini melebar karena nafsu dan mabuk. "Kau tak apa?"
Yan Xiu hanya mengerang, menyembunyikan wajahnya kembali di leher A-Ning, tangannya meraba punggung gadis itu dengan posesif yang putus asa. Gerakan tarian mereka semakin berani, melintasi batas etiket yang pernah diajarkan di istana, membuat Mo Yu hanya bisa menggelengkan kepala sebelum menghilang kembali ke bayang-bayang.
Namun, euforia itu meledak dalam sekejap.
BOOM!
Gerbang barak hancur berkeping-keping. Suara terompet perang Tang membelah malam. Li Jian muncul di atas kuda hitamnya, diikuti oleh pasukan elit dan aura salju yang menyengat dari Shen Wei yang mengamuk. Darah mulai tumpah saat pedang-pedang pasukan istana membantai para prajurit barak yang masih terhuyung karena mabuk.
Pesta berakhir dengan genangan merah di bawah kaki mereka.
A-Ning berhenti bergerak. Ia menatap pembantaian di depannya dengan tatapan kosong yang sama seperti saat ia melihat api melahap rumah ayahnya. Tidak ada takut, tidak ada sedih. Ia hanya merasa "jam pesta" telah habis dan ia harus pulang ke sangkar emasnya.
"A-Ning! Kemari!" geram Li Jian, melompat turun dari kuda dan menarik paksa tangan A-Ning dari pelukan Yan Xiu.
Yan Xiu terjatuh ke tanah, kesadarannya tersentak kembali oleh rasa sakit dan kehilangan mendadak. Ia menatap punggung A-Ning yang diseret pergi, matanya menyala oleh kebencian dan pengkhianatan. Ia yakin ini adalah rencana A-Ning sejak awal—untuk membuatnya lengah dengan tarian dan sentuhan hot itu agar Li Jian bisa menyerang.
Ia tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah paham, bahwa bagi A-Ning, pelukan dan ciuman yang mereka bagi hanyalah sebuah interaksi sesaat tanpa makna. Saat A-Ning menoleh sekilas, matanya tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia hanya melihat seorang ular yang tergeletak di tanah, lalu berbalik mengikuti Li Jian tanpa ragu.
Obsesi Yan Xiu lahir total malam itu—bukan dari cinta, tapi dari rasa sakit karena menjadi satu-satunya yang merasa "penuh" saat berhadapan dengan wanita yang selamanya "kosong".