Bab 15 — Ular

618 Words
Aula utama Istana Daming bergetar oleh amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya. Li Jian berdiri di tengah ruangan, pedang pusakanya telah menghancurkan meja giok hingga berkeping-keping. Napasnya memburu, matanya yang biasanya sedingin es kini menyala seperti api neraka. Di hadapannya, Jiu Ming dan Shen Wei tertunduk—bukan karena takut, tapi karena rasa bersalah yang mencekik. "Dua siluman agung dan pengawal paling setia... dan kalian membiarkannya dibawa pergi seperti debu ditiup angin?" Suara Li Jian rendah, namun mengandung tekanan yang membuat udara terasa berat. "Di mana jenderal Feng Yan saat ini?!" "Beliau masih tertahan di perbatasan, Yang Mulia. Kerusuhan di barak utara sengaja dipicu untuk mengalihkan fokus militer kita," jawab seorang kasim dengan suara gemetar. Li Jian mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Feng Yan sudah bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di ibu kota demi menjaga kedaulatan, meninggalkan A-Ning tanpa pelindung manusia yang paling ia percaya. Sementara itu, jauh dari amarah Li Jian, A-Ning terbangun di sebuah tempat yang sama sekali berbeda. Bau dupa istana yang menyesakkan digantikan oleh aroma tanah basah dan kulit binatang. Ia berada di barak militer musuh—wilayah kekuasaan Yan Xiu. Yan Xiu, sang Pangeran Kesembilan yang selama ini dianggap sebagai "korban" politik yang lemah, duduk di sudut remang tenda. Wajahnya pucat pasi, matanya yang sipit mengamati A-Ning dengan iris vertikal yang kadang muncul. Ia adalah anak selir yang dihina, yang tumbuh dengan rasa benci dari saudara dan ayahnya sendiri. Di mata dunia, ia menyedihkan. Namun di hadapan A-Ning, ia adalah ular yang sedang melingkar, siap menyuntikkan racun. A-Ning bangkit dari ranjangnya tanpa ekspresi takut sedikit pun. Alih-alih meratap atau mencoba melarikan diri, ia justru menatap Yan Xiu dengan rasa ingin tahu yang janggal. "Kau diam sekali," gumam A-Ning. "Lebih tenang daripada orang-orang di istana." Yan Xiu terpaku. Tak ada yang pernah menatapnya seperti itu. Namun, manipulasi adalah napasnya. "Mereka membenciku, A-Ning. Sama seperti mereka membuangmu," bisik Yan Xiu, mendekat dengan gerakan halus seolah-olah ia tidak memiliki tulang. Ia meraih tangan A-Ning, membelainya dengan jemari yang dingin—dingin khas hewan berdarah dingin. Namun, A-Ning bukan sandera biasa. Malam itu juga, ia melakukan sesuatu yang membuat para penjaga barak hampir kehilangan akal. A-Ning keluar dari tenda penahanannya seolah itu hanyalah paviliun pribadinya. Ia berjalan menuju api unggun besar di tengah barak, tempat para prajurit kasar sedang berpesta arak. Bukannya bersembunyi, A-Ning justru meraih cawan arak dari tangan seorang tentara yang terperangah dan meminumnya sekali teguk. "Musik!" perintahnya pendek. Di bawah sinar rembulan yang pucat, A-Ning mulai menari. Itu bukan tarian istana yang kaku dan anggun. Gerakannya impulsif, liar, dan penuh daya pikat yang tidak disadari. Tubuhnya meliuk-liuk mengikuti ritme tabuhan genderang barak, jubahnya yang longgar tersingkap memperlihatkan lekuk bahu dan kakinya. Ia berputar di antara para prajurit, tertawa bersama mereka, bahkan merangkul pundak beberapa orang tanpa peduli pada statusnya sebagai tawanan. Yan Xiu memperhatikan dari kejauhan, napasnya memburu. Obsesinya meledak saat melihat bagaimana A-Ning bisa begitu bebas di tempat yang seharusnya menjadi penjaranya. Ia melangkah maju, membelah kerumunan prajurit, dan menarik A-Ning ke dalam pelukannya. "Kau keterlaluan," desis Yan Xiu di depan bibir A-Ning. "Dan kau terlalu kaku," balas A-Ning. Ia melingkarkan tangannya di leher Yan Xiu, menarik pria itu hingga tubuh mereka merapat sempurna. Yan Xiu tidak bisa menahannya lagi. Di depan pasukannya sendiri, ia mencium A-Ning dengan kasar—sebuah ciuman yang sarat akan klaim kepemilikan dan rasa haus yang telah lama ia pendam. Lidahnya yang sesekali terasa bercabang menyapu bibir A-Ning, memberikan sensasi dingin yang menggelitik namun panas di saat yang sama. Bagi A-Ning, Yan Xiu hanyalah mainan baru yang menarik. Bagi Yan Xiu, A-Ning adalah satu-satunya "hangat" yang ia temukan di dunia yang membeku. Di tengah barak musuh, romansa kontroversial ini dimulai dengan tawa A-Ning dan obsesi gelap sang ular.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD