Malam itu, langit di atas kediaman Jiang tidak berwarna hitam, melainkan jingga pekat yang mencekam. Angin tidak lagi membawa aroma debu latihan, melainkan bau sangit dari kayu yang meregang nyawa dan aroma besi panas yang meleleh.
"Lari! Amankan gerbang belakang!"
Suara itu milik seorang prajurit tanpa nama yang seragamnya sudah tercabik. Di matanya, kediaman Jenderal Jiang yang agung kini hanyalah sebuah tungku raksasa. Ia melihat gadis kecil itu—anak sang Jenderal—berdiri di tengah koridor yang mulai runtuh. Prajurit itu ingin berteriak agar sang nona muda menangis atau berlari ketakutan, namun suaranya tercekat.
A-Ning tidak berlari. Ia berdiri diam, menatap seekor serangga kecil yang terjebak di atas meja kayu yang mulai dilalap api. Ia memperhatikan dengan saksama bagaimana sayap tipis itu mengerut, menghitam, lalu lenyap menjadi abu dalam hitungan detik. Baginya, itu bukan kematian yang tragis, melainkan sebuah proses kimiawi yang jujur.
Udara semakin tipis, penuh dengan jelaga yang menyesakkan paru-paru. A-Ning melangkah pelan, telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang terasa hangat—suhu yang merambat naik, mengingatkannya pada hangatnya tangan Ibu tadi malam. Ia tidak merasa takut. Ketakutan membutuhkan emosi, dan emosi membutuhkan sesuatu untuk dipertahankan.
"A-Ning!"
Sebuah bayangan raksasa menerobos dinding api. Jiang Zhen muncul dengan zirah yang sudah menghitam. Cahaya merah dari kobaran api memantul di mata sang Jenderal, membuatnya tampak seperti dewa perang yang turun dari langit yang terbakar. Darah mengalir dari pelipisnya, menguap sebelum sempat menetes ke lantai.
"Ayah," panggil A-Ning datar. Suaranya tidak gemetar, kontras dengan gemuruh bangunan yang mulai rubuh di sekitar mereka.
Jiang Zhen berlutut di depannya. Ia tidak memeluk A-Ning dengan erat seperti ayah pada umumnya; ia tahu itu akan sia-sia. Ia hanya mencengkeram bahu kecil putrinya, menyalurkan sisa-sisa kekuatan yang ia miliki.
"Ayah harus pergi ke gerbang depan," bisik Jiang Zhen. Napasnya berbau asap dan darah. "Dunia luar sudah menunggu untuk menghancurkanmu, A-Ning. Ingat apa yang Ayah katakan semalam?"
A-Ning mengangguk pelan. "Jangan menangis untuk hal yang sudah hancur."
Jiang Zhen tersenyum tipis—sebuah senyum yang terlihat lebih menyakitkan daripada luka tebasan di tubuhnya. Ia meraih tangan A-Ning, meletakkan potongan zirah kecil yang digenggam gadis itu sejak kemarin, lalu menutup kepalan tangan A-Ning dengan paksa.
"Genggam ini. Jangan pernah lepaskan sampai tanganmu berdarah. Biarkan rasa perihnya mengingatkanmu bahwa kau masih ada."
Tanpa kata perpisahan yang puitis, Jiang Zhen berdiri dan berbalik. Ia berlari menuju lautan api di depan, menuju barisan pedang musuh yang sudah menunggu. A-Ning berdiri di sana, tidak mengejar, tidak juga memanggil. Ia hanya menatap punggung ayahnya yang perlahan ditelan oleh asap hitam yang pekat.
Pecahan atap yang membara jatuh hanya beberapa inci dari tempatnya berdiri. A-Ning menunduk, menatap telapak tangannya yang menggenggam potongan besi itu begitu kuat hingga pinggirannya yang tajam merobek kulitnya. Darah merah segar merembes keluar, membasahi logam dingin itu.
Ia tidak merasakan kesedihan. Ia hanya merasakan suhu yang perlahan mendingin saat api menjauh dari koridor itu, dan rasa amis darah yang mulai menyatu dengan bau asap.
Malam itu, kediaman Jiang habis tak bersisa. Di antara puing-puing yang masih membara, para musuh hanya menemukan mayat-mayat yang kaku. Mereka tidak menemukan gadis kecil itu. Mereka hanya melihat jejak kaki kecil yang berjalan menjauh dengan tenang, seolah-olah ia baru saja meninggalkan sebuah perayaan, bukan sebuah pembantaian.
A-Ning telah kehilangan rumahnya, keluarganya, dan dunianya. Tapi ia tidak merasa kehilangan apa pun, karena baginya, semua itu hanyalah bentuk yang sedang berubah. Ia kini hanyalah sebuah wadah yang kosong, siap untuk diisi oleh kepalsuan istana emas yang sudah menunggunya di ufuk timur.