Fajar di pinggiran Chang’an tidak membawa harapan, hanya cahaya putih yang menyilaukan dan dingin yang menggigit. Di sisa-sisa reruntuhan kediaman Jiang yang masih mengeluarkan asap tipis, A-Ning berdiri sendirian. Pakaiannya yang tadinya sutra halus kini compang-camping, menghitam karena jelaga, dan lengket oleh darah yang sudah mengering di telapak tangannya.
Ia tidak menangis saat melihat gundukan tanah yang digali terburu-buru oleh para prajurit kekaisaran yang datang terlambat. Ia hanya menatap kepingan zirah di genggamannya, memastikan benda itu masih terasa tajam.
"Nona Jiang, kereta sudah siap," suara seorang kasim tua terdengar gemetar. Pria itu menatap A-Ning dengan tatapan antara iba dan ngeri. Anak ini terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan dunianya dalam satu malam.
A-Ning tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kereta kuda yang tertutup rapat. Perjalanan menuju pusat kota Chang’an terasa lambat. Di balik tirai, ia bisa mencium bau pasar yang mulai menggeliat, bau kuda, dan bau manusia. Namun, begitu roda kereta melintasi gerbang utama Istana Daming, aroma dunia berubah total.
Bau asap yang melekat di rambutnya mendadak ditabrak oleh wangi dupa yang terlalu manis, aroma bunga mawar yang dipaksa mekar di musim yang salah, dan bau lantai marmer yang dicuci bersih setiap jam.
Terlalu wangi, pikir A-Ning. Wangi ini mencoba menyembunyikan sesuatu yang busuk.
Pintu kereta dibuka. Cahaya matahari pagi memantul di atap-atap emas paviliun istana, membuat mata A-Ning perih. Ia turun dengan kaki telanjang yang kotor, melangkah di atas hamparan karpet merah yang membentang menuju Aula Besar. Di ujung jalan itu, ratusan pejabat berdiri dengan jubah kebesaran mereka, menatapnya seperti menatap sebuah anomali.
"Anak Jenderal Jiang..." bisik-bisik itu merambat seperti ular. "Satu-satunya yang selamat."
"Lihat matanya, tidak ada setetes pun air mata. Apa dia sudah gila?"
A-Ning terus berjalan. Ia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan. Langkahnya ringan, hampir tanpa suara, kontras dengan denting perhiasan para selir yang menonton dari kejauhan. Di matanya, istana ini hanyalah sebuah sangkar emas yang dibangun di atas tumpukan janji-janji kosong.
Di depan pintu gerbang raksasa berwarna merah darah, ia berhenti sejenak. Ia mencium bau udara yang berbeda dari dalam aula—bau tinta, bau kertas tua, dan bau dingin yang absolut. Itulah bau kekuasaan.
"Nona Jiang A-Ning," seorang penjaga berteriak, suaranya bergema di dinding batu yang tinggi. "Silakan masuk menghadap Baginda Kaisar."
A-Ning menarik napas dalam-dalam. Bau asap di paru-parunya kini benar-benar tertutup oleh wangi cendana istana. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kepingan zirah ayahnya menusuk dagingnya sekali lagi. Rasa perih itu adalah satu-satunya hal yang nyata di tempat yang penuh kepalsuan ini.
Ia melangkah maju, melewati ambang pintu emas itu tanpa pernah melihat ke belakang. Baginya, Jenderal Jiang, kakaknya, dan ibunya sudah berubah bentuk menjadi debu yang tertinggal di reruntuhan. Di sini, ia akan memulai hidup baru sebagai hantu yang terperangkap dalam kemegahan Tang.
Selamat datang di titik nol kekuasaan, A-Ning. Di sini, lagu besimu mungkin akan berhenti, tapi insting liarmu baru saja dimulai.