5. Ketemu!

2216 Words
Perasaan Reginald tidak karuan saat menahan diri untuk stay melihat pemandangan dua sejoli yang sangat mesra di hadapannya. Meski beda usia sangat jauh, tidak menghalangi niat mereka untuk bersatu. Meski niat Reginald kukuh ingin mendapatkan Jesica, apa daya, tangan tak sampai, mana mungkin jadi pacar tante sendiri, nanti di sangka tidak waras gara-gara cinta. Dia ingin pergi dari tempat lamaran ini. Lebih baik mencari perempuan misterius di banding menyaksikan ayahnya sedang bermesraan bersama gadis yang ia sukai. "Tahan, Re. Tahan …." Tinggal beberapa menit lagi ia akan pergi dari tempat ini. Tempat yang indah dan romantis. Sayang baginya malah terasa berbeda. Tempat yang sejuk di penuhi rumput dan pohon Pinus yang rapi ini malah terlihat seperti gurun panas nan gersang. Reginald dengan sabar menunggu acara selesai. Dia duduk di samping Elgio. Elgio sangat peka terhadap perasaan Reginald. Dia dapat melihat binar kekecewaan di mata anak remaja ini. "Re … jangan galau!" Elgio menepuk pundak Reginald. Masa iya cowok ganteng galau. Stok cewek cantik banyak shay. Elgio saja kewalahan. Sayang kutukan si nenek membuat pedang panjangnya tidak berfungsi. "Apaan sih, Om. Siapa yang galau?" Reginald berani melempar tatapan tajam pada Om-nya ini. Dia tidak terlalu takut pada Elgio. Malah sangat dekat dan bersikap santai. Kali ini Reginald kesal karena di bilang galau.. "Ga usah ngeles. Om udah bisa baca. Baca kalau kamu lagi galau maksimal. Eya …." Elgio malah mengolok-olok. Dia memang jahil pada keponakannya ini. "Om paranormal? Apa? Maksimal? Emangnya baju maksimal XXL gitu. Om ada-ada aja." Reginald menggelengkan kepalanya sambil mengunyah cupcake. Bagi orang lain rasa cupcake ini manis, bagi Reginald ini rasanya pahit. Maklum lidahnya sedang mati rasa. Bagaimana tidak mati rasa? Makanan sih semuanya enak, pemandangannya yang tidak enak! "Wong keliatan jelas gitu, Re!" Elgio mengusap wajah Reginald dengan lima jari. "Om nyebelin deh." Reginald menepis lengan Elgio. Jika bukan Elgio pasti satu bogem mentah sudah ia hantarkan ke wajah orang yang mengejeknya. "Re mending cariin sugar baby buat Om. Ntar om kasih komisi! Wkwkwkwk." Sayembara Elgio tidak berhasil. Dia sudah kehabisan akal untuk mematahkan kutukan. "Seganteng ini minta di cariin sugar baby? Masih waras Om?" Reginald tahu Om-nya laku. Tapi kenapa repot-repot cari sugar baby. Bukannya banyak wanita yang antri minta di jadikan istri. "Waras, Re. Lagi ada masalah nih." Elgio tidak bisa lama-lama untuk tidak menggunakan asetnya. "Bukannya kata Om, cowo ganteng yang bersikap dingin, irit ngomong, tampilannya modis dan sukses gampang dapetin cewek? Cewek mantan pacar Om yang bejibun banyaknya itu pada kemana? Itu cewek fans fanatik om juga kemana? Masa gak ada yang om suka?" Reginald menyilangkan tangan di depan d**a. Dia lebih nyaman melihat Elgio dibandingkan dengan melihat Jesica dan Biyan. "Mereka udah pada hilang di telan bumi?" tambahnya lagi. Mana mungkin cowok ganteng gak laku. "Om kena karma ya, gara-gara jadi playboy? Kasihan, deh." Reginald balik mengejek. Sampai-sampai dia mengibaskan jari kelingking ke kanan dan ke kiri dari atas sampai bawah. "Lebih kasihan lo, Re. Di tinggal kawin gadis yang di sukai. Gkgkgkgkgk …." Elgio malah terbahak. Jelas dari binar mata Reginald, pria itu patah hati karena Jesica malah mau menikah dengan Biyan. "Om rese, ngejek mulu!" Dia memalingkan wajahnya. Awas saja jika tahu rahasia Elgio apa di balik mencari sugar baby atau apapun yang intinya cari pasangan. Akan habis bersih dia olok-olok. Beberapa jam saja di tempat ini terasa hingga beberapa hari. Reginald akhirnya terbebas saat acara sudah selesai. Dia menumpang di mobilnya Elgio lalu rencananya akan pulang ke rumah Reyhan. Mereka berencana mencari keberadaan perempuan bule misterius. Tunggu! Bukankah Elgio ini pengusaha kaya raya dan memiliki banyak teman? Kenapa Reginald tidak meminta bantuan Elgio saja? Reginald yang memikirkan hal ini pun akhirnya mau meminta pertolongan Elgio. "Om baik, mau di cariin cewek?" tanya Reginald sambil menyeret kursi agar mereka berdekatan. "Mau. Kok tiba-tiba baik?" Elgio mengangkat satu alis. Dia curiga ada udang di balik batu. "Kalo mau di cariin cewek bantu aku cari cewek." Ini kata yang membingungkan bagi Elgio. Masa iya minta di cariin cewek balik. Ngaco! "La … masa sama-sama bantuin cari cewek. Aneh kamu!" Elgio tidak tertarik dengan tawaran Reginald. "Serius, Om. Om pasti punya koneksi ke hotel bintang lima, kan?" Reginald langsung membahas hotel. Tadi pagi dia tidak bisa mendapatkan informasi pribadi mengenai wanita bule misterius itu gara-gara pelayanan sangat menjaga privasi tamu. "Ini kenapa nanyain hotel bintang lima? Kamu mau ena-ena sama cewek di hotel bintang lima biar ga terciduk kumpul kebo gitu? OMG jangan kotori kamu yang alim dan masih ABG, Re." Elgio malah berburuk sangka. "Buat cari cewek yang abis cek in ke hotel bintang lima, Om. Enak aja buat ena-ena! Cewek misteriusnya hilang dan aku penasaran." Dia langsung to the poin saja, tentu tanpa bilang bahwa dia semalam tidur dengan gadis itu. Pikiran Elgio langsung aneh-aneh. Dia mulai curiga. Pasalnya semalam Biyan menanyakan keberadaan Reginald yang tidak pulang. "Kamu abis ena-ena terus ceweknya pergi?" tuduh El yang memang benar adanya. "Ih enak aja." Reginald sekarang malah menjauh. Kenapa dia malah di tuduh seperti ini. Memang benar sih, tapi kenapa Om-nya ini pintar sekali menebak. "Selamat kamu di campakkan, Re. Sama orang kaya!" Elgio bertepuk tangan. Dalam pikirannya, Regianald menyukai seorang wanita, one nigh with wanita misterius lalu di tinggalkan. Habis di icip bujangannya lalu di campakkan. "Eh … om negatif thinking." Reginald mengibas-ngibaskan tangan agar Om-nya kira dia tidak terima dengan pernyataan itu. "Kata kunci dari kamu adalah cek in dan cari cewek misterius. Di pikiran om, kamu abis ena-ena, terus di tinggalin dan si cewek gak kasih tahu jati dirinya. Bener kaaann … bener dong!" Elgio melirik sambil menaikkan alis. "Enggak ih!" Reginald terus membela diri. Bisa malu nanti, belum lagi bisa saja Om-nya ini melaporkan kejadian ini pada Biyan. Bisa abis bersih Reginald. "Uh, uh, yang bohong pipinya merah!" Elgio menunjuk pipi Biyan. "Ih apaan sih, Om." Reginald mulai panik karena Om-nya ini cerdas. Elgio pun berinisiatif mau membantu Reginald. Dia juga pernah muda, meski tidak pernah di campakkan, Elgio tahu rasanya di campakkan. Wanita yang ia tinggalkan kebanyakan menjadi uring-uringan. "Demi kamu, om cariin itu cewek. Siapa tahu benih kamu jadi!" "Eh om makin ngaco deh!" Reginald sekarang malah tidaj mau bantuan Elgio. Bisa ketahuan nanti. "Alah … kamu gak bisa bohong dari om." Elgio menyilangkan tangan di depan d**a. Dia mulai berlagak sombong. "Mana hotelnya?" tanya Elgio. Reginald pikir ulang. Elgio gampang berubah pikiran. Mumpung Om-nya ini mau, ya harus bagaimana lagi. Reginald hanya anak yang baru lulus SMA, tidak memiliki banyak teman dan kekuasaan serta pekerjaan. Akhirnya dia mau menerima bantuan Elgio demi menemukan sang gadis yang misterius. Ingin menjelaskan apa yang terjadi semalam. Dia juga butuh kejelasan apakah masih perj*ka atau tidak.  "Jemput temen aku dulu, Reyhan ya Om. Alexton nama hotelnya. Temen aku rumahnya gak jauh dari sana kok!" Reginald sudah janji akan membawa Reyhan. Anak itu bisa marah nanti kalau tidak diajak. "Oke meluncur!" Elgio langsunh memutar stir menuju alamat rumah Reyhan. Reyhan di jemput terlebih dahulu. Mereka bertiga ke hotel tempat Reginald menginap. Beruntung Elgio memiliki banyak teman. Ternyata pemilik hotel ini adalah temannya sewaktu SMA. Elgio dengan mudah mengetahui identitas wanita misterius yang Reginald cari. "Nih anak ABG!" Dia mengerjakan kertas berisi informasi pada Reginald. "Apa Om?" Reginald langsung meraihnya. "Tuh alamat dan nama si cewek." Reginald segera membacanya. Dia mengerutkan dahi karena keheranan stas alamat gadisnya. "Hah … Paris? Kita cari ke Paris gitu?" "Bhahaha … kamu main ama gadis bule, Re!" Selera Reginald menurut Elgio bagus juga. "Eh tapi bukan om namanya kalo gak bisa nyari tu cewek." Elgio menganggap enteng. Dia bisa langsung mencari saat ini juga. "Gimana Om?" tanya Reginald. Masa iya Om-nya langsung bisa menemukan orang di Jakarta yang luas ini. "Pelayan disini sempet ngobrol gitu. Tes dia bisa bahasa kita apa enggak. Pelayan itu tanya, si cewek disini ngapain. Katanya doi model dan lagi ada job disini." Pagi tadi Rimelda sempat berbincang dan melatih bahasa Indonesianya. "Wah … tuh, kan, Re. Cewek lu berkelas. Benih lo gak salah sangkar, Cuy." Reyhan bertepuk tangan. Nasib Reginald meski apes tapi beruntung mendapatkan gadis bule seorang model. "Kampret, jaga mulut lo. Om gue denger." Reginald membekap mulut Reyhan. Tindakan ini sebenarnya tidak perlu, krang Elgio sudah mendengar apa kata Reyhan sangat helas  "Gak papa Han. Orang om udah bisa nebak."  "Sekarang gimana cari model asal Paris di Jakarta yang luas ini?" Reginald kini memikirkan cara agar dia tidak perlu lama mencari orang.  "Ehem … mantan om banyak yang model dan designer kalee …. Mau di cariin lagi?" tawar Elgio. "Mau!" "Wani piro?" Elgio mengangkat kedua alisnya. Tampaknya Reginald bisa move on oleh gadis ini. "Udah banyak duit Om. Jangan perhitungan bantu ponakan." Melihat antusias Reginald. Elgio akhirnya mau membantu lagi. "Yaudah cus!" Elgio menghubungi satu persatu model dan designer kenalannya. Menanyakan apakah ada yang mempekerjakan model asal Paris. Dunia itu sempit memang. Elgio tentu sangat mudah menemukan orang yang Reginald cari. Sangat mudah karena ada klue pekerjaannya model dan negara asal Paris. Mantan pacar Elgio yang bekerja pada Ivan Gumawan mengatakan jika saat ini dia tengah bekerja sama dengan model asal Paris. Namanya pun sama yakni Rimelda Moeres. Mereka pergi ke lokasi pemotretan yang letaknya lumayan jauh dari sana. Gedung tiga lantai milik Igum yang merupakan galerinya itu bisa di pakai untuk studio foto semua koleksi terbaru. Ivan Gunawan saat ini sedang malas menggunakan model lokal. Dia tertarik dengan wajah Rimelda yang cantik, populer dan sering di pakai oleh majalah dan brand barang ternama. Kini Reginald menapakkan kaki di galeri Igum bersama Elgio dan Reyhan.  "Beuh … mantap cewek kamu, Re. Berkelas!" Elgio menyimpan kedua tangan di pinggang dan memperhatikan galeri Igum. "Bener Om. Bukan main ceweknya Reginald." Reyhan menggelangkan kepalanya pelan. "Apaan sih kalian berdua. Ayo masuk!" ajak Reginald lalu masuk lebih dulu. "Ada yang bisa saya bantu?" tnaya salah satu pegawai. "Kami mau bertemu seorang model." jawab Reginald sopan. "Maaf sedang pemotretan, tidak bisa di ganggu." Pelayan itu seperti tidak mengizinkan Reginald masuk lebih dalam ke galeri. Elgio mendekat lalu berdehem. "Ehem … tolong panggil Syifa. Dia tahu siapa saya!" Dia berlagak berwibawa. "Baik, Tuan." Orang ini segan dengan gaya Elgio yang menandakan bukan dari kalangan biasa saja. "Berlaga dingin dan berwibawa, Re. Dengan begitu orang akan tunduk pada kita." Elgio memberikan tips. "Oke Om ku yang berkuasa!" Reginald memberikan sikap hormat ala anak sekolah ke bendera merah putih. "Hallo, El!" Syifa langsung menyapa dan mencium pipi kanan dan kiri elgio. "Hai, Syif!" Elgio juga menikmati ciuman singkat di pipinya. "Itu pacar kamu emang?" Selidik Syifa. "Bukan, Syif. Mau di deketin ponakan aku yang ini." Elgio menunjuk Reginald. "Pantes. Cantik banget orangnya. Yuk ke dalem. Tapi kalian nonton aja dulu sampe pemotretannya selesai ya!" Mereka di perbolehkan menonton. Ad abangku kosong yang bisa mereka duduki agar bisa melihat gadis model terkenal ini berlaga di depan kamera. "Gila …. Cantik banget!" Elgio mengagumi kecantikan Rimelda. "Buat gue aja, Re." Reyhan menepuk-nepuk pundak Reginald. "Pantes di campakin, Han. Orang ceweknya cantik begitu. Mana mau sama Reginald. Paling jadi cinta satu malam aja. Gantengan om, ya gak, Han?" Elgio lagi-lagi mengejek Reginald. "Sama Regi aja gak mau. Apa lagi sama aku, ya? Sama Om kayanya doi mau!" Reyhan ikut-ikutan menggoda Reginald. "Nah kan!" Photografer tengah serius mengambil gambar. Satu pose dari Rimelda sangat menawan dan tidak boleh terlewatkan. Kamera sangat mengagumi Rimelda, jadi mau pose apapun, pasti terlihat sangatlah cantik. "Waduh gawat. Model pria-nya kok belum dateng-dateng." ujar salah satu crew yang panik karena sudah saatnya mengganti baju dan tema pemotretan. "Syif, barusan model telpon katanya kecelakaan pas di jalan." ujar anggota crew lain. Mereka mengadu pada Syifa. "Yah … yah …. Gimana dong ini. Pemotretannya kan yang sekarang tema couple." Syifa kebingungan. Mana ada model yang mau jadi model pengganti yang bersifat mendadak. "Itu banyak cogan, Syif!" Tunjuj teman Syifa yang melihat Elgio, Reginald dan Reyhan. "Bentar gue izin kak Igum dulu." Syifa harus mendapatkan izin dulu. Walaupun dia seksi penanggung jawab, tapi harus selalu izin pada perancangan bajunya. Syifa mendekat pada Igum yang sedang memeriksa hasil goto Rimelda. "Kak model cowoknya kecelakaan. Gak bisa hadir. Gimana nih? Ada cowok-cowok temen aku, ganteng-ganteng. Bole pilih buat jadi model pengganti? Kepepet waktu nih kak!" Syifa meminta izin. "Boleh. Mau gimana lagi. Kita dikejar waktu. Mana cogannya biar saya lihat dulu?" Igum duduk dan bersiap melihat model. Syifa membawa Igum mendekat ke arah Elgio. "El … boleh minta bantuan gak?" Dia langsung saja tanpa basa basi. Lumayan hemat waktu. "Apa Syif?" tanya Elgio sambil mengangguk sopan pada Igum. "Butuh model cowok ngedadak nih!" "Nih ponakan gue model!" El menyeret Reginald agar bamgun. "Eh … Om, aku bukan model!" Reginald mengibas-ngibaskan tangan. Dia sama sekali tidak pernah mendaftar diri ke kelas model. Apalagi menjadi model, tentu ini adalah hal baru yang tidak ia gemari. "Dia aja Syif, gue udah gak muda lagi, gak pantes. Kalo ini temennya kurang ganteng. Ponakan gue ganteng, kan, Syif." Elgio tidak mau melepaskan Reginald. Dia takut ponakannya kabur. "Kenalkan ini ka Igum." Syifa mengenalkan Igum pada Reginald dan Elgio. "Ka Igum, orangnya yang buat model pengganti yang ini." Syifa menunjuk Reginald. Dia sudah mengerti apa mau Elgio. Pria itu juga pasti tidak akan merekomendasikan bukan yang abal-abal. "Bagus. Tampan Syif." ujar Igum setelah memperhatikan regina. "Tapi saya bukan model." Reginald panas dingin. Tema couple? Berarti dia beradegan mesra dengan Rimelda. "Dia bisa kok. Dia berbakat, Kak!" tambah Elgio agar Reginald tidak di ragukann. "Om …."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD