Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah terciprat kubangan air, nyemplung juga! Cocok untuk kejadian yang di alami Reginald.
Sudah bangun tidur tidak berbusana, tidak jelas masih perj*ka, di tambah sentuhan dari tante-tante girang, semuanya menodai harga diri dan kejantan*n Reginald.
Aset terpenting dalam hidupnya sudah ternodai. Pagi yang sepahit ini. Membuat dia geleng-geleng kepala dengan perasaan frustasi.
Bagaimana dia melanjutkan hidup jika tidak tentu berhasil menanam benih atau tidak. Bagaimana caranya menjelaskan pada ayahnya nanti?
Cahaya mentari yang sudah terang benderang dan hari yang menurut orang menyenangkan karena tidak turun hujan. Menurut pandangan Reginald, ini adalah hari yang paling mendung, paling suram dengan petir-petir yang menyambar.
Gara-gara memaksa menerobos masuk klub malam dan mencoba alkohol. Reginald harus menerima kenyataan pahit, bangun tanpa ingat apa-apa dan pulang mendapatkan pelecehan dari tante girang.
Reyhan menatap aset kepunyaan Reginald yang tertutup celana katun hitam. Dia membayangkan bagaimana nikmatnya menggunakan aset itu semalam. Beuh … Reyhan sama sekali belum mencoba. Hanya untuk mengeluarkan air kencing tiap kali kantong kandung kemih penuh saja.
"Udah sih jangan frustasi." Reyhan kembali fokus mengemudi.
"Gue kan gak jelas banget ini statusnya." Reginald menggaruk tengkuknya dengan kasar.
"Bhahaha … bukannya bagus? Siapa tau kalo itu cewek bule hamidun. Lo menanam benih di tempat yang berkualitas, bibit bobotnya mantep. Cakep ga, Re? Buat gue aja juga gak papa kalo lo gak mau! Dia aja bayarin hotel bintang lima Cuy. Berarti cuannya banyak dong!" Reyhan malah memandang dari fisik dan dari segi dompet sambil bercanda.
"Eh lo, malah mikir bibit bobot, cantik dan cuan. Dasar lo, Han." Reginald menjentik kening Reyhan. Mungkin bagi Reyhan itu adalah poin terpenting selain orangnya bersifat baik.
"Reginald kaga perj*ka. Reginald gak perj*ka." Reyhan terus berteriak sambil bergoyang dan menyetir mobil. Dia kali ini sangat girang mengerjai Reginald. Ini hiburan receh menurutnya. Kapan lagi bisa mengejek cowok cool di sekolah.
"Kampret lo ngejek gue." Dia semakin kesal karena di olok-olok. Reyhan se-jahil ini padanya. Jika saja tidak membutuhkan jemputan dan perantara untuk menyampaikan alasan pada Daddy-nya, mungkin Reginald tidak akan meminta bantuan Reyhan.
Reyhan meraih ponselnya yang berbunyi. Dia melirik, mengusap lalu menempelkan pada telinganya. "Hallo Daddy!" Dia terlihat serius.
Reginald mengira itu adalah telepon dari ayahnya. Dia sampai mengeluarkan keringat dingin sambil menggigit ujung jari. Berharap Reyhan banyak beralasan yang logis.
"Iya ini ada Reginald-nya, Dad." Reyhan melirik Reginald.
"Malam Reginald abis bobok sama yang bening-bening bule buat tebar benih." Dia membeberkan kebusukan Reginald pada orang yang menelpon. Mata Reginald pun membulat dan wajahnya memerah.
"Apaan sih lo ngomong di telepon sama Daddy gue." Reginald merebut ponsel Reyhan. Dia harus mengklarifikasi.
Reyhan meraihnya lagi. "Boong, dih. Ini telepon dari pacar gue. Liat tuh." Dia memperlihatkan layar. Pria ini hanya mengerjai Reginald saja dengan mengobrol seolah-olah dengan Daddy-nya Reginald.
"Eh … pacar lo tau dong. Ah … lo. Kalo dia ember gimana?" Reginald yang di kerjai pun panik. Ini rahasia terbesar dalam hidupnya.
"Tenang dia orangnya gak ember!" Reyhan menempelkan ponselnya lagi ke telinga.
"Hallo Sayang. Aku kesana abis ini, ya!" Reyhan pun mematikan panggilan tersebut. Dia ada janji bersama pacarnya.
Reginald mencubit gemas sahabatnya yang jahil ini. "Kampret lu ngerjain gue."
"Adaw …. Jangan panik terus dong gara-gara gak perjaka. Toh masa iya sekali tebar benih langsung jadi. Iya kalo dia mau mengandung anak lo. Kalo enggak?" Reyhan berpikir logis. Sedikit kemungkinan jika dia memiliki anak hanya dengan bermain satu kali.
"Eh … tapi kalau emang iya gimana? Sengaja cari benih buat bisa mengandung lalu kabur. Gak tau anak gue dimana nanti." Reginald mengacak-acak rambutnya. Pria tampan itu kini terlihat berantakan karena seorang wanita bule. Reginald jadi sedikit melupakan Jesica.
"Yang zabar ea!" Reyhan mengelus-elus pundak Reginald.
"Ada parfum gak?" tanya Reginald saat sedikit lagi akan sampai di rumahnya. Dia harus menyembunyikan bau alkohol. Bisa ketahuan nanti.
"Ada, nih!" Reyhan menyerahkan parfum yang ia ambil dari rak mobilnya.
"Minta biar gak bau alkohol!" Reginald menyemprotkannya sangat banyak sekali.
"Eh gila lo nyemprot banyak banget. Mabok gue cium wanginya." Reyhan mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung.
Reginald pun sampai. Benar saja, dia melihat Daddy-nya sudah berpenampilan tampan dan menawan. Sudah siap melamar Jesica.
"Dad maaf baru pulang!" Reginald langsung mencium tangan Biyan. Dia sangat menghormati ayah kesayangannya ini.
"Dari mana semalam?" Seringai tatapan curiga sangat terpancar dari wajah Biyan. Dia harus sangat mengawasi anak. Apalagi pergaulan zaman sekarang aneh-aneh. Harus ekstra ketat pada Reginald.
Indra penciuman Biyan sangat peka. "Ini kok bau parfum banget sih?" tanya Biyan sambil mengendus-endus.
"Biar gak bau asem, Dad. Belom mandi!" Reginald tersenyum sangat lebar. Semoga ayahnya ini tidak curiga dan tidak mencium aroma alkohol.
"Ih ganteng-ganteng jorok." Ejek Biyan. Reginald hendak pergi tapi langkahnya lagi-lagi terhenti.
"Ets … tunggu."
Reginald menoleh sambil merasa ritme jantungnya yang semakin kencang. "Apa lagi, Dad? Aku mau mandi."
Biyan menarik kemeja Reginald. Ada noda yang menjadi perhatiannya. "Ini apa ada pink-pink di baju kamu? Kok kaya lipstik cewe sih?" Mata Biyan sampai mengkerut dan tangannya bergerak menghapus noda itu.
"I- i- ini, oh iya. Temen sekolah kepleset terus Reginald tolongin. Nempel jadinya deh!" Alasan ini sepertinya cukup logis dan di terima akal sehat manusia. Bhahaha.
"Bener?" tanya Biyan masih curiga.
"Iya Daddy. Aku mandi dulu. Daddy udah cakep masa anaknya belom." Reginald ancang-ancang langsung kabur.
"Daddy nervous pertama kali mau ngelamar cewek." Biyan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah agar menghadirkan semilir angin. Padahal ada AC.
"Santai aja, Dad. Udah ganteng dan oke maksimal." Reginald langsung lari terbirit-b***t ke kamarnya.
Dia harus memberikan diri dari pergulatan semalam agar tidak merasa kotor dan tercemar.
Kesuciannya di renggut wanita bule yang tidak jelas entah dari mana asal usulnya.
Kini Reginald berdiri di depan kaca. Dia sudah menanggalkan semua pakaiannya.
"Miliku sayang, milikku malang!"
Hiks …. Reginald meratapi nasibnya saat ini. Dia membersihkan pedang tajam, aset untuk menebas gua cakrawala di lembah segitiga bermuda.
"Bagaimana cara menggunakan ini?" Bahkan ia saja tidak tahu caranya membuka gembok dan membobol.
"Kenapa semalam tidak ingat sama sekali?" Dia membentur-benturkan kepalanya ke tembok toilet. Mengguyur tubuh dengan air hangat dari shower.
Mungkin dengan ini pikirannya menjadi jernih dan tubuhnya menjadi lebih bersih. Tidak ada jejak wanita itu lagi.
Reginald harus segera bersiap karena hari ini adalah hari dimana Biyan melamar Jesica.
Dia sudah di siapkan baju yang sama dengan sang ayah. Atasan putih dan celananya berwarna coklat.
"Ayo, Re!" ajak Biyan yang sudah menunggu anak bujangnya dari tadi
Mereka akan pergi ke sebuah hutan Pinus. Tempat dimana akan menjadi saksi BIyan melamar Jesica. Siang itu Reginald membantu mengecek ulang catering dan dekorasi.
Setelah menunggu beberapa saat. Akhirnya yang di tunggu datang juga. Jesica terlihat sangat cantik dengan balutan baju berwarna putih dan hiasan kepala. Anak rambutnya juga terlihat curly di dekat telinga. Rambutnya di kepang ke belakang.
"Oh Tuhan. Jodoh ayahku cantik sekali. Sayangnya bukan jodohku!" gumam Reginald. Semoga tidak terdengar tamu lain.
Jesica berjalan anggun melewatinya dan mendekati sang ayah. Hampir saja Reginald tidak sadar dan menghentikan langkah kaki Jesica agar memeluknya. Untung dia masih waras. Masa iya berhalusinasi bahwa Jesica adalah pasangannya.
"Oh em ji." Reginald cemburu melihat dua insan saling berpelukan di atas panggung.
Sekelebat bayangan gadis bule yang bersama dia semalam pun lewat.
"Kenapa malah mengingat gadis itu?"
tanyanya sambil melirik ke arah sana-sini.
Wanita bukan berkebangsaan Indonesia itu berhasil sedikit mengalihkan pikirannya dari Jesica.