Menahan Luka

1625 Words

Ponsel berdering, mengusik ketenangan ibu satu anak itu. Dia memang lupa tidak mematikan ponsel. Terpaksa Aqna harus menjawab panggilan tersebut.  Aqna menyalakan lampu tidur di atas meja. Dia memicingkan mata melihat deretan angka yang tidak dikenal.  [Halo.]  Aqna terkejut mendengar suara di seberang sana.   Hening …. [Aqna.]    Deg ….  [Aqna.] panggil seseorang di seberang telepon.  Aqna menarik napas. Membuang rasa sesak yang melanda. “Dari mana kamu dapat nomorku?”  “Di pintu butik. Lowongan kerja, hubungi Aqna.” ‘Astaghfirullah .…’ Tak seharusnya Aqna izinkan Zaidan kembali, meski jelas-jelas dia tak pernah pergi. Bahkan, mungkin sebenarnya Zaidan terjebak di hatinya.  “Bunda ….” panggil Zaina. Namun, mata bulatnya masih tertutup.  “Sssssttttt … Bunda di sini, Sayang.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD