Aqna memasangkan dasi merah di leher Zaina. Dia membelai lembut rambut ikal itu. Semua yang dimiliki Zaina mengingatkannya pada Zaidan.
“Bund, Zaina cantik, ya?” Gadis kecil itu berputar seraya mengangkat ujung rok sebelah kiri.
Aqna tersenyum seraya mengangguk. “Cantik dong.” Dia merapikan poni Zaina.
“Tapi, kok ….” Zaina terdiam sembari menarik seluruh bibirnya ke kiri. “Aku nggak mirip Bunda?”
Aqna mengikuti gayanya menarik bibir, kemudian berdiri. “Kalau kamu nggak mirip bunda, terus kamu mirip siapa?” Pertanyaan yang Aqna sendiri sudah tahu jawabannya.
Zaina mendongak. “Ayah ya, Bund?”
Aqna mengangguk kaku.
“Kapan sih Bund, ayah mau jemput kita?”
Aqna mendengkus. Pertanyaan yang awalnya tak pernah bosan ia jawab. Namun, sejak malam itu dia tidak ingin lagi menumbuhkan harapan apapun di hati Zaina.
Aqna terpejam sejenak. Kemudian menarik napas. Dia berharap kejadian malam itu tak merusak hari-harinya. “Bunda nggak tahu. Udah sekarang kamu sekolah, ya. Om Gias udah nunggu.”
“Nanti pulangnya dijemput om Haris, ya Bund?” Suara mungil itu kembali membelai telinganya.
Aqna menghela napas. “Iya, kalau om Haris-nya mau.”
“Bunda bilang dong ke om Haris, aku mau dijemput.” Dia memainkan kedua ujung jari telunjuknya.
Aqna menggelengkan kepala. “Malu, Zain.” Terkadang Aqna memang selalu heran, magnet apa yang dimiliki Haris sehingga anaknya bisa begitu dekat dengan pria itu. “Kapan-kapan deh, ya.”
“Kenapa harus kapan-kapan? Om udah ada di sini loh buat nganter kamu.” Tiba-tiba suara Haris mengejutkan Aqna dan juga Zaina. Namun, dengan riang Zaina berlari dan menyambut tangan Haris.
Aqna kemudian mendekat. “Maaf ya ngerepotin.”
“Nggak kok.” Haris mengikuti langkah kecil Zaina yang terus saja menarik tangannya.
Aqna mengikuti mereka dari belakang untuk mengantar Zaina ke depan. Zaina terus bergelayut manja di lengan Haris. Aqna tidak terlalu suka dengan sikap Zaina yang seolah memberi harapan pada pria yang lebih muda lima tahun darinya itu. Bukan apa-apa, hanya saja Aqna merasa tidak pantas untuk Haris.
“Bunda, aku berangkat, ya.” Zaina meraih tangan Aqna dan memberikan satu kecupan.
Haris tersenyum. Dia masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan salam.
“Hati-hati ya,” ucap Aqna seraya melambaikan tangan pada Zaina. Aqna sedikit membungkuk. “Haris, makasih ya.”
Haris hanya menjawab ucapan terima kasih Aqna dengan sebuah anggukan. Keinginannya untuk memperistri Aqna adalah tulus. Namun, entah sampai kapan dia harus menunggu Aqna menerima cintanya.
***
Banner produk baru sudah terpasang di depan butik. Aqna tersenyum menatap dirinya sendiri yang menjadi model gamis couple ibu dan anak itu. Senyum Zaina terlihat sangat manis dalam foto setinggi perutnya itu.
Aqna kemudian mendorong pintu kaca itu. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Aqila menoleh, sesaat setelah dia memasukan kain yang dipegangnya ke dalam goodie bag karton. “Kamu sudah baikan?”
“Aku nggak apa-apa,” jawab Aqna seraya masuk ke ruang belakang yang terhalang gorden besar. Ini adalah daerah kekuasaan Aqna, di sinilah tempat Aqna mencurahkan ide-ide besarnya tentang model terbaru brand busana muslimnya.
Kepahitan hidup di Jakarta, membuat Aqna belajar memperjuangkan hal-hal kecil. Dia belajar menjahit dari ibunya yang sudah lebih dulu bekerja pada ibunya Aqila sejak kedatangan mereka di Ibukota.
Setelah ibunya Aqila meninggal, Aqna dan Marini masih menjahit untuk butik yang sekarang dikelola Aqila. Dan sejak dua tahun terakhir, Aqila mengajaknya untuk berbisnis brand baju muslim dan muslimah.
Aqila mengikuti Aqna ke ruang jahit. “Na, Lihat deh, bagus nggak?” Dia menunjukan beberapa desain gamis.
“Ada pesanan?” Aqna meraih kertas itu.
Aqila menggelengkan kepala.
Aqna sibuk melihat beberapa desain hasil tangan Aqila. Namun, tiba-tiba kertas itu berhamburan jatuh ke lantai, satu gambar membuat kepala Aqna berdenyut nyeri, dadanya mendadak sesak.
“Kamu nggak apa-apa, Na?”
Aqna menggelengkan kepala. Dia segera menjatuhkan b****g ke kursi.
Dengan sabar Aqila memungut kertas yang berjatuhan karena ulah Aqna. “Kamu kalau sakit, harusnya nggak usah masuk.” Aqila bangkit berlalu dan kembali dengan membawakan satu gelas air hangat.
“Aku nggak apa-apa, cuma lupa minum obat.” Aqna merogoh botol obat dalam tasnya.
“Badan kamu panas, Na.” Aqila panik sembari menggenggam tangan Aqna. “Ih, kamu bandel. Udah pulang gih, istirahat di rumah.”
Aqna menghela napas. “Aku di rumah bosen, paling cuma tiduran. Mending di sini, ‘kan. Siapa tahu dapat hiburan.”
Aqila mendengkus. Dia tidak bisa menaklukan keras kepala Aqna. “Sebenarnya itu seragam gamis buat nanti nikahan aku,” ucapannya membuat Aqna tiba-tiba tersedak. Namun, Aqila menunjukkan lembar kedua, sementara Aqna sibuk menenggak air. “Ini untuk para prianya. Kemeja koko, bagus, ‘kan. Semoga nggak kayak hari raya idul fitri,” kekehnya.
Aqna tak begitu menanggapi apa yang ditunjukkan Aqila.
Lalu Aqila kembali menunjukkan lembar ke tiga. “Ini kebaya. Pasti ada beberapa orang yang ingin pakai kebaya.” Aqila juga membuka lembar ke empat. “Nah ini untuk kemeja biasa.”
Aqna memaksa bibirnya untuk tersenyum.
“Keluargaku banyak, Aqna. Tapi, aku sedih karena Mama sama Papa udah nggak ada,” ucap Aqila sembari merapikan kertas-kertas itu.
“Eh, kamu baik-baik aja, ‘kan?” Aqila mendekat kemudian membungkukkan tubuhnya di depan Aqna.
“Aku cuma sakit kepala aja.”
“Serius?” tanya Aqila memastikan.
“Iya, udah minum obat, nanti juga baikkan," tutur Aqna.
“Benar ya? Soalnya nanti jam sepuluh aku mau cari kain.”
Aqna mengangguk.
“Eh tapi, wajah kamu pucet banget, Na.”
Aqna menarik napas. “Percaya deh, aku nggak apa-apa.” Aqna terlalu pintar untuk menyembunyikan luka di hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara bell ditekan. “Kamu di sini aja, biar aku yang lihat. Mungkin itu pembeli pertama kita.” Aqila bangkit dan berlalu. Dia menyibak gorden penghalang antara ruang jahit dan butik utama.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, aku kira pembeli. Duduk Mas,” pinta Aqila pada Zaidan.
Zaidan tersenyum dan mendaratkan bokongnya di sofa. Sementara itu, Aqna berjalan pelan ke butik utama, karena Aqila memanggilnya.
Namun, sesaat dia merasa waktu berjalan lamban. Sebelum akhirnya Aqila membuatnya tersadar. “Na, Aku mau pergi sama Mas Zaidan, cari kain.” Suara Aqila seperti kicauan burung bagi Aqna. “Oh iya, kemarin aku cerita soal Zaina ke Mas Zaidan. Dan sekarang dia bawain ini buat Zaina," ucap Aqila sembari memberikan kue pie buah itu pada Aqna.
"Kapan-kapan Mas Zaidan mau ketemu Zaina boleh ya, Na?” tanya Aqila. Sementara Aqna hanya mematung. Pertanyaan dan pernyataan Aqila membuat d**a Aqna panas. ‘Astaghfirullah’.
“Kalau begitu aku pergi. Nanti sore aku kembali,” imbuh Aqila.
Pria itu tak terdengar bersuara sedikit pun. Bahkan, dia tidak menanyakan apapun soal Zaina pada Aqna. Meski begitu, Aqna hanya tidak ingin Aqila curiga soal ini. “Hati-hati, ya.”
Seketika seluruh tubuh Aqna dingin seolah hanyut kembali dalam jurang luka yang tak berujung. Jika Zaidan pikir Aqna kuat, itu semua tidak benar. Aqna terlalu rapuh, bahkan hatinya lebih rapuh dari yang orang lain bayangkan. Susah payah Aqna mengobati lukanya sendiri. Kini Zaidan hadir dengan segores luka yang baru.
Kenapa Zaidan sempat meminta Aqna untuk menunggunya. Sementara dia sendiri memberi harapan sama pada perempuan lain?
Aqna menjatuhkan tubuhnya di sofa. Meringkuk memeluk lutut. Dia merasa seluruh dingin menjalari tubuh. Aqna menggigil dengan wajah pucat pasi. Berkali-kali dia menggosokkan kedua telapak tangan dan meniupnya perlahan. Dalam hati dia melantunkan istighfar. Dia berharap rasa sakit ini akan menjadi penggugur semua dosa-dosanya.
Waktu terus berjalan tanpa menghiraukan sakit yang Aqna rasakan. Dari kemarin Aqna berdoa ingin melupakan semua tentang Zaidan. Dia ingin menghapuskan semua kenangannya dengan Zaidan.
Zaidan lagi, Zaidan lagi. Sudah cukup sepuluh tahun Aqna bertahan menantinya. Mungkin sudah saatnya Aqna menyerah dan merelakan pria itu untuk sahabatnya.