Gama berkacak pinggang memandang setumpuk kertas HVS di atas meja. Beberapa kali asupan karbondioksida ia tiup hingga mengudara bebas. Cowok itu mendelik cukup sengit. Tapi mendapati wajah takut Angel, rasa iba pun menderanya.
"Maaf, Kak," sesal Angel menunduk menatap lantai. Tangannya sedikit gemetar, terlihat dari kertas yang ia peluk tampak bergerak seirama tubuhnya yang kelimpungan menahan ngeri.
Tahu apa penyebabnya? Ia terpaksa mencetak semua file dalam flashdisk. Untungnya tidak banyak. Hanya setumpuk saja. Maklum saja, ia adalah anggota baru di organisasi. Masih banyak tak tahu menahu seluk beluk acara.
"Panggilin Nessa sekarang!" bentak Sunggyu tetap sedatar mungkin. Sekuat tenaga ia menahan letupan emosi dalam dirinya.
"Baik, Kak."
Angel berlari secepat ia mampu. Mencari sosok sekertaris Senat yang belum juga kelihatan batang hidungnya. Hari ini Nessa tengah absen dari organisasi, karena harus menyelesaikan konsultasi tugasnya pada seorang dosen. Ia tak mau mengulang tugas lagi bila sampai terjari kekeliruan seperti tempo lalu. Sudah dua kali Nessa mendapat teguran bu Erina, dosen salah satu mata kuliah yang cerewetnya mengalahkan presenter acara gosip. Wajar jika ia tak ada di aula seperti biasa.
"Kak Nessa!" Panggil Angel menahan sesak di d**a. Ia berhenti sembari memegangi d**a. Napasnya kembang kempis tak beraturan.
"Akhirnya ketemu juga," katanya senang. Akhirnya ia mendapati Nessa tengah berbincang dengan dua temannya di pojok lorong kampus. Angel berjalan menghampiri mereka dengan langkah tergopoh.
Nessa meneliti tampang panik di wajah Angel. "Kenapa mukamu kayak orang habis ditagih rentenir gitu?" selorohnya.
"Itu Kak, anu-"
"Anu apa? Ngomong yang jelas."
"Kak Gama nyariin Kak Nessa. Aku habis kena marah, Kak," jelas Angel menahan tangis. Orang tuanya saja tak berani meneriakinya. Pantas saja ia baper saat Gama menekankan nada tinggi padanya.
"Udah biasa kalau dia marah, justru luar biasa kalau dia tebar senyum apalagi bagi-bagi angpao," gurau Niko tidak peduli suasana genting yang baru dialami Angel. Anna mencubit lengan Niko. Memberi instruksi agar cowok resek itu tutup mulut.
"Masalahnya apa?" selidik Nessa belum sadar. Ia baru selesai urusan dengan bu Erina, tak mau berurusan lagi dengan omelan Gama.
"Maaf Kak, aku mencetak semua file yang ada di flashdisk. Aku nggak tahu yang mana yang bener. Judulnya hampir sama semua."
"Hah? Perasaan di flasdisk itu cuma ada satu folder dan judulnya jelas semua." Nessa memicing bimbang. "Lagian kenapa nggak nanya dulu tadi?" lanjutnya.
"Habisnya Kak Nessa terlanjur lari duluan."
"Kenapa nggak dicek dulu satu-satu?" Anna menimpali.
"Aku panik duluan, Kak. Kak Gama ngomel terus karena kerjaku lamban katanya. Jadi kepencet semua."
Alasan yang sangat masuk di akal.
Niko menepuk jidat mendengar penuturan gadis di hadapannya. Memang bukan main kecerewetan Gama, bisa dibilang mampu bersaing keras dengan ibu-ibu rumpi di komplek. Bahkan anggota baru yang harusnya dimaklumi sedikit saja, juga jadi sasaran empuk. Sungguh Gama yang perfeksionis tapi sadis.
Nessa tampak menimbang sesuatu. Ia teringat ada hal rahasia di dalam flasdisk tersebut. "Bentar deh, elo nggak cek sama sekali? Seriusan?" tanyanya meyakinkan diri.
Angel mengangguk. Seketika Nessa melotot. Ia baru ngeh ada sesuatu tak beres. Salah satu file rahasia yang juga ia beri judul berkaitan dengan pentas seni. Semakin yakin Nessa bahwa ada yang genting dalam hidupnya. Tanpa perduli kanan kiri lagi, ia pun langsung melesat kilat bagai pelari tingkat kabupaten tengah berlomba di lapangan.
"Sial! Jangan sampai ketahuan!" rutuknya was-was.
Niko garuk kepala memandang kepergian temannya yang amat sangat tergesa. "Kenapa harus lari segala? Udah kayak kuda balap aja," celotehnya heran.
"Wah. Akhirnya kisah cintanya bakal dimulai nih," seloroh Anna dengan senyum cantiknya.
Niko dan Angel hanya terbengong tak mengerti perkataan Anna barusan maksudnya apa.
========
Gama membanting beberapa kertas sembarangan. Ia frustrasi harus meneliti satu per satu makalah yang ada. Sampai dua mata elangnya menangkap gambar tak asing pada selembar kertas.
"Ini kan gue? Kok ada di sini?" Gama bermonolog.
Dia adalah matahari pagi yang menghangatkan
Dia adalah kejora malam yang berkilauan
Dia adalah angin yang menyejukkan
Dia adalah udara yang menenangkan
Dia adalah makhluk purba yang terus menetap di hatiku
Langka
Unik
Dan manis bagiku
Kalau kopi pahit tanpa gula
Atau sayur asem hambar tanpa sambel terasi
Maka aku..
kosong tanpa dia..
Because...
Dialah romantisme dalam hatiku...
-Nessa-
***
Gama baru selesai membaca bait puisi singkat, dengan gambar dirinya terpampang jelas di atas bait tersebut. Otaknya berusaha mencerna dengan baik maksud isi puisi. Dan derap langkah bersamaan deru nafas tak beraturan, menghalangi isi kepalanya. Sosok Nessa menyembul dari balik pintu. Masuk dan berniat mengambil alih tumpukan kertas di atas meja.
"Maaf. Biar gue urus semua ini," katanya panik.
Gama meneliti raut muka Nessa. Pelipisnya berkeringat mungkin akibat lari maraton dadakan. Senyuman Gama tertahan. "Wait!" Gama menahan lengan Nessa. Keduanya bertemu pandang. Tapi buru-buru Nessa buang muka. Ia tak mau ketahuan kalau jantungnya serasa seperti sedang berperang di dalam sana. Bunyi dentumannya hampir mirip bom yang menyerang Nagasaki atau Hirosima di Jepang. Nessa salting setengah mati.
"Apa? Kenapa?" Nessa berusaha melepaskan pegangan tangan Gama, sebelum debarannya makin meledak-ledak.
Gama menatap makin intens. Membuat Nessa makin tak karuan. Bagaimana kalau Gama tahu perasaannya? Bisa kacau semua.
"Nes, jangan bilang kalau selama ini elo ngefans sama gue?"
Brak.
Seluruh tumpukan kertas yang dipegang Nessa pun berjatuhan di lantai. Nessa mendelik dengan tatapan kecewa sekaligus kesal yang mendalam. Ia menghentak tangan Gama, kemudian menendang semua kertas di bawah sana. Lalu pergi begitu saja.
"Ness! Mau ke mana?! Gue belom selesai ngomong! Kok jadi elo yang ngambek sih!" omel Gama tak peka.
Gama menghela napas panjang. Memandang sebaran kertas di bawah pijakan kakinya. Tak ada orang di ruangan ini selain dirinya sendiri sekarang. Mau tak mau Gama berjongkok untuk membereskan semua kekacauan yang ditinggalkan Nessa. "Aneh banget. Cewek nggak jelas. Ditanya gitu doang pakai marah," dumelnya sambil memunguti kertas.
Beberapa saat berlalu, Gama menemukan ada banyak tulisan samar seperti bayangan di tengah kertas. Jelas sekali matanya baru menyadari bahwa itu adalah namanya.
"Nih cewek beneran fans banget ya sama gue?" racaunya kesenangan.
Ia pun malah melupakan tugasnya dan asik membaca satu per satu tulisan Nessa yang ia sendirikan. Isinya puisi, biodata, dan cerita tentang Gama. Bibir Gama tak kuasa menahan senyum tiap membaca isinya yang kadang manis, kadang melankolis, bermacam rasa mengusik sudut hatinya. Bisa diprediksi dari tampang Gama, ia tengah terkagum pada semua tulisan itu.
Namun, semua terhenti ketika Gama menemukan sebuah paragraf. Sangat menohok dirinya beserta batin terdalamnya.
Hari itu aku tahu, aku mendapatkan sebuah panah asmara dari cupid. Sepertinya cupid baru saja menunjukkan perasaan yang membuat jantungku bergejolak. Ah, rasanya memang benar susah dipungkiri.. kalau aku jatuh cinta pada... Gama ... Hmm...
-Nessa-
***
Seketika Gama terhenyak dengan perasaan tak menentu. Dadanya terketuk oleh sesuatu tak pasti. Ia merasa aliran darahnya berdesir tak karuan. Perasaan yang selama ini belum pernah Gama nikmati, seolah kini menyekap tanpa jawab pasti. Ia kebingungan tapi juga aneh karena merasa kupu-kupu mengitarinya dalam pandangan semu.
"Jadi, selama ini Nessa naksir gue?"
============♡Romanceship♡============