Bara mematikan mesin mobilnya. Mobil itu berhenti di pelataran rumah yang besar. Beberapa pilar berwarna putih berdiri kokoh. Setelah itu Bara kemudian membuka bagasi dan mengambil beberapa belanjaan dari supermarket. Saat Bara membuka pintu, baru beberapa langkah, seorang perempuan paruh baya berjalan menghampirinya.
“Sudah pulang, Tuan?”
“Sudah.” Jawabnya singkat. Perempuan paruh baya itu, yang bernama Mbok Darmi, mengambil alih belanjaan Bara.
“Biar saya saja, Tuan.”
“Makasih, Mbok.” Ucap Bara seraya menyerahkan belanjaannya ke tangan Mbok Darmi. Bara berjalan menuju kamarnya di lantai dua. Kosong. Itulah kesan pertama yang Bara lihat setelah pintu kamarnya terbuka. Bara tidak langsung masuk, namun melihat ke sekeliling sejenak.
“Belum pulang.” Gumamnya pelan. Pelan, Bara melangkahkan kakinya masuk. Kemudian Bara melepas kancing kemeja yang ia kenakan satu per satu, masuk ke dalam kamar mandi, dan menyalakan shower. Seketika tubuh Bara menjadi lebih rileks saat air hangat menyentuh kulitnya. Tetapi tiba-tiba, bayangan gadis di supermarket tadi muncul.
“Maaf, Om.”
Wajah gadis itu yang menunduk beberapa kali denga raut wajah yang menyesal karena telah menabraknya. Bara mendengkus, lalu segera menyudahi mandinya. Saat keluar dari kamar mandi, sosok perempuan yang dia cari ternyata sudah duduk manis di depan cermin rias. Bara keluar dari kamar mandi mengenaka bath-robenya yang berwarna abu-abu.
“Kamu sudah pulang, Saf?”
Yang ditanya menoleh. Terlihat wajah perempuan itu yang cantik. Hidung mancung, bulu mata lentik yang asli, wajah yang tirus, dan kulit yang bersih.
“Sudah. Baru aja.” jawabnya dengan senyum. Bara menghampiri perempuan yang sudah ia nikahi lima tahun itu. Safira. Safira Ardelia Arman. Dialah perempuan beruntung yang dinikahi oleh Bara. Safira kembali menghadap cermin di hadapannya, dan melepaskan satu per satu aksesoris yang ia kenakan.
“Sudah makan?” tanya Bara lembut sambil menciumi pelipis Safira.
“Sudah tadi.”
“Aku ada resep baru. Mau coba?”
Safira berpikir sejenak sambil menelengkan kepalanya.
“Aku sebenarnya mau, Bar. Tapi ini sudah malam, nanti bikin dietku gagal. Besok aja, ya?”
“Badan kamu sudah bagus, Saf. Buat apa die-diet segala?” tanya Bara yang kini membuka lemari pakaiannya, mengambil kaos polos dan celana santai selutut.
“Aku tahu, tapi orang akan lebih tahu kalau badanku mulai berubah. Nanti mendadak viral dengan judul aneh-aneh. Nanti dikira aku hamil.” Jawab Safira sambil membersihkan sisa make-up di wajahnya dengan milk-cleanser.
“Bukannya bagus? Orang-orang mengira kamu hamil dan kita enggak harus menutup-nutupi pernikahan ini lagi, kan?”
Safira menghentikan gerakannya. Dia berbalik dan kini menatap Bara dengan tatapan tidak suka.
“Bar?” panggil Safira. Bara sudah mengenakan pakaian dan celananya, dan kini duduk di tepi ranjang. Bara tidak menjawab panggilan Safira, melainkan hanya mengedikkan kedua bahunya.
“Kita sudah bahas ini berulang kali.” Ucap Safira.
“Tapi itu keputusan sepihak, Saf. Dan itu enggak adil buat aku.” balas Bara dengan nada santai.
“Kita sudah sepakat menyetujuinya.”
“Kita atau kamu?” Safira terdiam. Bibirnya tak mampu menjawab.
“Kamu minta supaya kita menutupi pernikahan ini, oke, aku turutin. Kamu bilang kamu mau nunda punya anak, oke aku turutin. Dan kemarin, kamu bilang pengen childfree, aku diam, Saf, aku enggak ngomong apa-apa.” Bara kini berdiri dengan tajam menatap istrinya. Safira memejamkan kedua matanya, lalu menghela nafas.
“Katanya kamu mau dukung aku?”
“Aku dukung kamu, Safira. Kapan aku enggak dukung kamu? Apa kamu enggak capek sembunyi-sembunyi gini terus?”
“Aku masih punya banyak mimpi dan keinginan Bara. Semua ini belum seberapa.”
“Satu Indonesia sudah mengenal kamu, Saf, bahkan itu jauh sebelum kamu kenal aku dan kita menikah. Mimpi apa lagi yang kamu kejar?” tanya Bara bersedekap.
“Bara. Aku capek. Aku mau istirahat, aku enggak mau bahas ini lagi.” Tanpa menoleh dan melihat Bara, Safira beranjak dan kemudian pergi meninggalkan Bara yang masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Beberapa saat kemudian Safira keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang lebih segar. Safira berhenti sejenak di ambang pintu kamar mandi, dia menatap Bara yang sudah berbaring dengan posisi memunggunginya. Dalam diam Safira merasakan kesedihan sebenarnya. Dia ingin menjalani rumah tangga seperti yang diinginkan Bara, tetapi ambisinya masih terlalu tinggi. Safira masih ingin menjadi pusat perhatian, masih ingin berkarier, dan masih ingin bersinar. Tak ingin kehidupan pribadinya membuat apa yang selama ini ia bangun menjadi redup.
Kemudian perlahan Safira mendekat ke ranjang. Ponselnya yang di atas nakas berkedip, menandakan notifikasi muncul. Safira menggulirkan layar ponsel ke atas. Nama Kinan muncul, manager sekaligus asisten pribadinya mengirimi pesan.
“Besok ada jadwal wawancara pagi di channel X, jangan sampai telat.”
“Oke.” Balas Safira singkat. Safira menata bantal dan guling, kemudian merebahkan dirinya menghadap Bara. Dilihatnya punggung dan bahu yang lebar itu. Punggung yang ia kagumi saat memasak di dapur, punggung yang selalu ia peluk setiap malam. Kemudian perlahan Safira mendekatkan dirinya ke Bara, menelusupkan tangannya ke bawah lengan Bara yang kokoh. Safira menempelkan pipinya ke punggung Bara. Namun saat Safira mencoba memejamkan mata, Bara mengubah posisi tidurnya menghadap Safira. Dan kini mereka berdua saling berhadapan. Bara dan Safira saling pandang sejenak. Sebelum pada akhirnya wajah Bara semakin dekat dan mencium bibir Safira dengan lembut. Safira sempat terkesiap karena mengira Bara sudah tidur. Bara memagut pelan tetapi sedikit menuntut balasan. Sampai akhirnya kedua tangan Safira menangkup wajah Bara dan membalas ciuman itu sama dalamnya. Kini Safira sudah di bawah kungkungan Bara.
“I miss you, Saf.” Ucap Bara lirih dengan suara beratnya. Tetapi saat Bara hendak mencium leher Safira, Safira mendorong pelan d**a Bara.
“I know, but i’m sory, tapi jangan malam ini, ya? besok pagi aku ada wawancara.”
Seketika Bara menghentikan gerakannya, lalu menatap Safira dengan pandangan yang sulit diartikan. Saat Safira hendak meraih tengkuk Bara, Bara langsung bangkit dari kasur dan masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit keras. Bahkan saking kerasnya Safira sampai sedikit terlonjak. Safira terdiam sejenak, kemudian menatap pintu kamar mandi itu dengan perasaan campur aduk.
Malam telah berganti pagi, dan kini Bara sudah bersiap hendak menjalankan rutinitasnya seperti biasa. Bara sedang berdiri di depan cermin lemari pakaiannya sambil menggulung lengan kemeja berwarna hitam yang ia kenakan sampai ke siku, dan perlahan muncul bayangan Safira dalam cermin. Bara diam sejenak, hingga kemudian berbalik badan dan bergegas untuk berangkat. Namun langkah Bara tiba-tiba terhenti di ambang pintu. Bara merasakan lembutnya kedua tangan Safira memeluk dari belakang, Bara mendongak sedikit, mencoba bersikap biasa saja, meskipun jauh di dalam hatinya Bara merindukan Safira yang seperti ini. Bara bergeming, dan suasana diantara mereka hening.
“Aku harus berangkat, Saf.” ujar Bara datar tetapi sangat terasa dingin. Safira menggeleng. Bara menghela nafas namun sedikit terasa berat, tangannya terangkat mencoba melepaskan tangan Safira, akan tetapi Safira malah mengencangkan pelukannya.
“Bukannya kamu ada wawancara pagi ini? Aku tahu kamu artis professional, kamu enggak boleh terlambat. Reputasi mu dipertaruhkan.” ucapan Bara seakan menjadi pisau yang menusuk relung hati Safira. Ucapan itu terdengar biasa, tetapi di telinga Safira itu terdengar seperti sindiran. Akhirnya dengan perasaan yang sedikit tidak rela, perlahan namun pasti Safira mengurai kedua tangannya, seakan berat hati melepas Bara. Tanpa basa-basi Bara mengambil langkah lebarnya dan berlalu dari hadapan Safira. Safira terdiam, membisu, dan membeku, menatap punggung Bara yang semakin jauh. Bahkan bukan hanya punggungnya, tetapi hatinya juga.
Sebelum Bara masuk ke dalam mobil SUV berwarna abu metallic miliknya, Bara terdiam dan menunduk sejenak. Bara berbalik dan melihat rumah yang sudah dia huni bersama Safira selama bertahun-tahun itu. Rumah yang berdiri megah dan kokoh. Tapi sayang, rumah itu kosong. Bukan kosong karena tidak berpenghuni, tetapi kosong karena tidak ada lagi rasa saling memiliki dan rasa untuk ingin tetap tinggal lebih lama.