Aroma rempah memenuhi dapur siang itu. Suara desisan wajan, suara renyah dari ayam goreng yang masuk ke dalam minyak yang panas, wangi dari tumisan bawang bombay, semua menjadi satu. Namun di salah satu pojok dapur, Bara berdiri di hadapan tiga orang staf kitchennya. Yaitu Aldi, Ryan, dan Angga. Mereka staf di bagian fry cook.
“Bisa jelasin apa, ini?” tanya Bara dengan suaranya yang khas. Dingin tapi jelas sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bara menyodorkan piring kecil yang di atasnya terdapat beberapa udang goreng tepung. Ketiga stafnya hanya saling pandang.
“Saya cuma nanya, ini apa?” tanya Bara sekali lagi namun dengan sedikit nada penekanan.
“Em… udang goreng tepung, Chef.” Jawab Aldi.
“Sudah kamu icip, sebelum kamu serve ke konsumen?” tanya Bara lagi.
“Su-sudah, Chef.” jawab Aldi dengan wajah yang mulai menegang.
“Coba kamu icip.” tangan Aldi perlahan mengambil udang goreng itu, kemudian Bara menyodorkan yang lainnya kepada Angga dan Ryan. Ketiga stafnya terlihat mengunyah perlahan, mencari apa yang salah dengan hidangan yang mereka buat.
“Tahu salahnya dimana?”
“Tepungnya enggak nempel sempurna, Chef.” jawab Aldi.
“Masih mentah sedikit, Chef.” sambung Angga.
“Ada rasa gosong di bagian bawah, Chef.” Tambah Ryan.
“Good.” timpal Bara lalu meletakkan piring kecil yang dia pegang tadi ke meja yang terbuat dari stainless stell di depannya. Tetapi Bara meletakkannya dengan sedikit melempar, suaranya renyah sampai mengundang atensi dari staf yang lain. Bara bersedekap, menghela nafas sebelum akhirnya membuka suara.
“Saya enggak mempermasalahkan salahnya. Orang bekerja, orang belajar, pasti ada dan pernah buat salah. Cuma yang saya garis bawahi di sini, dapur saya punya standar. Bukan dapur rumahan yang pakai ilmu kira-kira. Semua resep ada takaran dan tekniknya. Yang pertama, tepungnya enggak nempel? kenapa?” Bara menatap Aldi.
“Saya tadi balurin maizena ke udangnya dalam keadaan udang masih basah, Chef. Belum saya lap dulu.” jawab Aldi menyadari kesalahannya.
“Oke. Yang kedua, kenapa udangnya masih mentah? mau banyak, mau sedikit, kalau kita serve ke konsumen itu bisa jadi fatal. That’s not good.”
“Minyak kurang panas, Chef. Dan saya buru-buru ngangkatnya tadi.” jawab Angga.
“Yang ketiga, kenapa ada rasa gosong? ini udang goreng tepung, bukan udang bakar. Meskipun ini jadinya udang bakar, tapi gosongnya enggak dominan seperti ini.”
“Siap, Chef. Tadi minyaknya terlalu panas, saya panik karena minyaknya udah berasap dikit.” Angga menjawab.
“Oke. Sekali lagi saya bilang, ya. Saya tidak mempermasalahkan hasilnya, karena saya sendiri paham kalau beda tangan akan beda rasa dan beda hasil. Tapi yang saya tekankan di sini, dapur ini punya standar. Saya enggak peduli dulu kalian pernah kerja di mana, pernah bekerja sama Chef A atau Chef B, tapi kalau sudah di sini, di dapur saya, otomatis kalian harus ikut prosedur saya. Biar apa? biar hasil sama. Beda sebelas dua belas enggak masalah, tapi ini? ini udah jauh dari standar restoran ini. Paham?”
“Paham, Chef.” jawab ketiganya dengan mantap.
“Kita punya tim, kalau kalian enggak tahu bisa tanya Rafa, bisa tanya Laras. Di WA juga grup, jangan diam, apalagi sok-sok an pakai insting atau ilmu kira-kira.” Bara menghela nafas sejenak.
“Oke, balik ke station kalian lagi.” ucap Bara. Bara kemudian melepas chef jacket dan menggantungkannya di railing gantungan dekat pintu dapur.
“Rafa.” panggil Bara. Rafa datang sambil berlari kecil.
“Iya, Chef?”
“Saya mau keluar sebentar. Titip dapur.” ucap Bara.
“Siap, Chef.” Bara mengangguk sejenak, kemudian berlalu dari hadapan Rafa.
Siang itu lantai satu sebuah mall terlihat sangat ramai. Pengunjungnya kebanyakn wanita. Sebuah panggung kecil berada di tengah-tengah kerumunan itu. Panggung yang didekor denga pita-pita berwarna merah muda, dan bunga-bunga mawar merah. Di panggung itu ada sebuah banner dengan tulisan “Meet and Greet Safira Arman.”
Siapa yang tidak kenal dengan Safira Arman? Artis berbakat yang sedang naik daun. Film-film yang dia bintangi selalu sukses dan meledak di pasaran. Bahkan hampir setiap lawan mainnya di film namanya juga terangkat berkat Safira.
Safira, sang artis yang kehadirannya sudah lama ditunggu, tiba-tiba masuk ke toilet dengan mantel panjang, topi hitam, kacamata hitam, dan masker. Kinan, managernya dengan cekatan mengunci toilet dari dalam, supaya tidak ada pengunjung yang ikut masuk dan mengetahui keberadaan sang artis.
“Kenapa panggungnya kecil, Kinan?” tanya Safira melepas masker yang ia kenakan.
“Itu sudah standarnya, Mbak. Semua sudah dijamin aman.”
“Tapi saya enggak mau. Saya enggak mau kalau jarak saya dengan fans terlalu dekat.”
“Tim keamanan bisa jamin Mbak. Kalau dilihat-lihat memang berbeda dengan panggung yang biasa kita pakai, tapi kalau Mbak lihat dari dekat, enggak seburuk yang Mbak kira kok.” ucap Kinan mencoba membujuk Safira. Artis yang berada di bawah manajemennya sejak setahun terakhir. Kinan menghela nafas. Benar-benar pusing menghadapi Safira yang terlalu perfeksionis setiap melakukan meet and greet.
“Come on Safira, kamu harus professional.” ucap Kinan yang sudah mulai frustasi.
“Mereka sudah lama menunggu. Mereka sudah jauh-jauh hari beli tiket untuk acara ini, dan nominal tiket ini enggak murah. Mereka itu jembatan kamu bisa sukses sampai sekarang.” Safira bersedekap sambil mendengkus kesal. Kemudian atensi Safira dan Kinan tertuju pada salah satu bilik toilet yang perlahan terbuka. Safira buru-buru mengenakan maskernya lagi. Seorang gadis biasa, berpenampilan sederhana muncul sambil melepaskan earbud dari kedua sisi telinganya. Saat gadis itu mendongak, tatapannya bertemu dengan tatapan Safira.
“Eh.” ucap gadis itu.
“Ka-kamu, mau keluar?” tanya Kinan kepada gadis itu.
“Oh, i-iya.” jawabnya.
Kinan segera membuka kunci toilet. “Maaf, tadi ada sedikit miss, jadi aku kunci dulu.” tambah Kinan.
“Oh, iya, enggak apa-apa. Permisi.” ucap gadis itu sopan sambil sedikit membungkuk. Saat gadis itu keluar dari toilet, Kinan sedikit berlari menghampirinya.
“Em, sory.” ucap Kinan yang langsung menghadang langkah gadis itu.
“Iya?”
“Em, kamu, tadi enggak dengar apa-apa, kan?”
“Dengar? maksudnya?” dia balik bertanya dengan menautkan kedua alisnya.
“Obrolan kami, obrolan saya dan teman saya, yang pakai masker. Sebelum kamu keluar dari toilet.” tanya Kinan hati-hati dengan senyum canggungnya.
“Oh. Enggak. Aku enggak dengar apa-apa.” jawabnya membalas senyum, tapi senyum gadis di depan Kinan ini sangatlah manis dan.. terlalu jujur.
“Oke, terimakasih.”
“Sama-sama.” Kinan menyingkir, memberi jalan, dan gadis itu kemudian berlalu dari hadapannya. Kinan menghela nafas lega sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam toilet.
Tempat meet and greet semakin banyak di datangi pengunjung. Mereka sangat antusias ingin melihat dan bertemu dengan artis kesukaan mereka. Hal yang tidak terduga, Bara tiba-tiba muncul dari pintu utama. Niat ingin mencari kopi untuk menenangkan perasaannya setelah sedikit insiden di dapurnya tadi, Bara malah di hadapkan dengan keadaa mall yang sangat padat.
“Kenapa ramai begini? enggak seperti biasanya?” gumamnya pada diri sendiri. Kemudian saat Bara hendak berbalik, tiba-tiba…
BRUKKK !
Kedua mata Bara membulat. Baju kemeja warna putih gading yang dia pakai tiba-tiba berubah warna menjadi orange menyala. Bara menunduk memperhatikan kemejanya yang basah. Satu cup orange jus tumpah membasahi hampir separuh tubuhnya. Bara mendongak, mendapati seorang gadis yang sama-sama membulatkan kedua matanya. Sama-sama terkejut dan terkaget. Bara menajamkan kedua mata saat memperhatikan gadis di depannya ini.
“Kamu?” ucap Bara.
“O-o-om, Om, ma-ma-maaf.” ucap gadis itu tergagap.
“Saya bukan Om kamu!” ujar Bara sedikit menaikkan nada suaranya. Membuat gadis itu sampai tersentak.
“Kenapa kamu suka sekali menabrak saya?!”
Dan ya, gadis yang menumpahkan minuman sehingga membuat bajunya basah adalah gadis yang menabraknya tempo hari di supermarket.