4. Ku Tandain kamu!

1248 Words
Bara memutuskan untuk tidak kembali ke restoran. Setelah insiden bajunya yang ketumpahan orange jus tadi di mall, Bara memilih pulang. Tetapi bukan rumah Safira yang dia tuju, melainkan apartemen pribadi miliknya. Apartemen yang dulu dia tempati sebelum menikah dengan Safira. Pintu unit itu terbuka, Bara menyalakan lampu, melepaskan sepatu, dan kemudian merebahkan diri ke sofa ruang tengah. “Haaaah.” ucap Bara saat punggung lebarnya menempel ke sofa. Bara memejamkan mata sejenak, kemudian menatap langit-langit. Entah kenapa pikirannya kini tertuju kepada gadis yang tadi menumpahkan orange jus ke bajunya. “Ma-maaf, Om, eh, ma-maksud saya, ma-maaf Pak.” ucapnya terbata. Dan wajahnya tidak bisa berbohong kalau dia sedikit ketakutan. Bara menatapnya tajam, rahangnya mengeras, dan nafasnya naik turun. Antara ingin marah tetapi harus dia tahan karena dia sedang berada di tempat umum. Memarahi orang di depan umum bukanlah dirinya. “Kenapa gadis itu selalu..” Bara menggantungkan perkataannya. “Selalu menabrakku?” lanjutnya. “Dan kenapa harus memanggil dengan Om? apa aku setua itu, hah?” Bara perlahan terkekeh. Bara berdiri, kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi. Bara berdiri di depan cermin, menatap kemejanya yang benar-benar sudah tidak berwujud. Kemeja yang tadinya berwarna putih gading, kini hampir seluruh bagian depannya berwarna orange menyala. Bara terkekeh sejenak. Terbayang kembali saat gadis itu mencoba membersihkan bekas tumpahan di bajunya dengan sapu tangan. “Sa-saya bersihkan, ya.” Gadis itu dengan cepat mengeluarkan sapu tangan merah muda dari dalam tas mungilnya. Kemudian berusaha sedikit keras membersihkan sisa-sisa orange jus yang masih basah. Dia beberapa kali berdecak kesal karena noda itu tidak bisa hilang. Sesekali mendongak ke atas, menatap Bara yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. “Sa-saya kira, nodanya enggak bisa hilang. Ba-bagaimana, ka-kalau bajunya saya gan~” “Enggak perlu.” potong Bara cepat dan tegas. Gadis itu menggigit bibir bawahnya. Tangannya masih berusaha membersihkan kemeja Bara meskipun dia tahu itu tidak ada gunanya. “Baju ini saya beli di luar negeri. Dan enggak ada yang jual di sini.” Mulut gadis itu ternganga. Tangannya mengepal, dan perlahan melepas ujung kemeja Bara yang dia genggam. Dia menghela napas, membasahi bibirnya, bingung harus berbuat apa. “Ma-maaf. Saya beneran enggak sengaja. Saya ada janji mau ketemu sama teman, dan saya coba kirim pesan, saya akui saya salah karena enggak memperhatikan jalan dan fokus ke ponsel. Maaf, maaf.” Terang gadis itu sambil mengatupkan kedua telapak tangannya. Bara mengambil sapu tangan dari tangan gadis itu sedikit kasar. “Sekali lagi kita bertemu dan kamu masih nabrak saya. Saya tandain kamu!” ucap Bara sedikit memberi tekanan pada akhir perkataannya. Gadis itu mengangguk beberapa kali seakan mengiyakan. Kemudian Bara berbalik dan pergi dari hadapan gadis itu. Di depan cerminnya Bara kemudian teringat sapu tangan merah muda milik gadis itu. Bara mengeluarkannya dari dalam saku celana. “Kenapa aku ambil ini dari dia?” gumam Bara pada diri sendiri. Bara menggeleng, membuang napas, tidak sadar apa yang telah dia lakukan. Bara kemudian melepas kemejanya, membuka kancing dari bawah ke atas, setelah kemejanya terlepas, dan hendak ia masukkan ke dalam keranjang baju kotor yang terletak di bawah wastafel, Bara memandangi kemejanya sejenak. “Om?” ucap Bara menirukan gadis polos itu ketika memanggilnya. Lagi-lagi Bara terkekeh. Kemudian memasukkan kemejanya ke dalam keranjang. Bara keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Bara melangkah ke dapur, membuka kulkas dan mengambil air mineral dingin. Bara menyandarkan tubuhnya ke kulkas, kemudian membuka tutup air mineral itu dan meminumnya. Satu teguk Dua teguk Tiga teguk Pandangan Bara kosong. Entah apa yang di pikirkannya sekarang. Namun tiba-tiba ponselnya yang berada di atas meja ruang tengah berbunyi. Bara segera mendekat. Dan saat melihat siapa gerangan yang menelepon. Safira is calling. Bara menghela nafas, alisnya bertaut, dalam benaknya Bara menimbang-nimbang, menjawab panggilan itu atau tidak. Akhirnya Bara memilih untuk tidak menjawabnya. Setelah ponselnya berhenti berbunyi, satu notifikasi pesan masuk muncul. Dan lagi-lagi dari Safira. Safira : Bara, kamu di mana? tadi aku lewat resto tapi mobilmu enggak ada. Bara memandangi sejenak pesan itu tanpa membukanya. Safira : Kamu masih marah? aku minta maaf. Safira kembali mengiriminya pesan, namun lagi-lagi Bara abaikan. Sejenak Bara terdiam, kemudian muncul bayangan Bara dan Safira dulu saat keadaan mereka masih baik-baik saja. Kala itu, di malam hari, saat Bara baru saja pulang dari restoran. Safira dengan wajah cantiknya membuka pintu dan menyambut kepulangan Bara dengan antusias. Safira begitu cantik dengan dress rumahan bermotif bunga-bunga yang sangat pas menempel di tubuhnya, riasan di wajah yang sederhana tetapi sangat cantik di mata Bara, dengan rambut panjang hitam lurus sepinggang. Menambah kesan feminim dan anggun yang membuat Bara semakin terpesona. Safira berjinjit dan mengecup bibir Bara sekilas. Bara membalas kecupan itu sangat dalam, di rengkuhnya pinggang sang istri dan kaki mereka melangkah memasuki rumah dengan perlahan. Safira mengurai pagutan mereka sambil berkata, “Mandi dulu, aku sudah siapin makan malam buat kamu.” Bara mengangguk sambil tersenyum dan kembali mengecup sekilas bibir Safira. Bara sudah selesai mandi, dan kini duduk manis di meja makan dengan Safira yang berdiri mengambilkan makan untuknya. “Di restoran, Chefnya boleh kamu, tapi kalau di rumah, kamu cuma boleh makan masakanku.” ucap Safira yang mengundang gelak tawa Bara. Safira menaruh nasi, ayam goreng bumbu rempah, sambal terasi, dan tumis brokoli. Menu rumahan, tapi itu sangat istimewa untuk Bara. Makanan yang dimasak oleh istri, menjadi satu-satunya penawar lelah setelah seharian berjibaku dengan kepadatan dan keriuhan di dapur restoran. Tetapi sesaat kemudian bayangan indah itu menjadi bayangan buruk, yang bahkan tidak ingin Bara ingat. Malam hari tatkala Safira sampai di rumah setelah beberapa hari pergi keluar kota untuk melakukan promosi film pertamanya. Bara duduk di tepi ranjang, memandangi Safira yang baru keluar dari kamar mandi. “Capek ya?” tanya Bara saat Safira merebahkan dirinya di kasur. Safira hanya mengangguk tanpa memberi jawaban. Namun Bara tetap berusaha untuk tersenyum. “Mau aku buatkan sesuatu?” tanya Bara. “Oh, aku ada resep baru di restoran.” tambah Bara yang nampak antusias. Bagi Bara, tidak ada yang lebih berharga daripada melihat orang yang paling ia sayangi menjadi yang pertama mencicipi hasil tangannya. “Aku lelah Bara, dan aku hanya ingin istirahat. Lagipula aku juga yakin kalau masakan kamu selalu enak. Selamat malam.” ucap Safira yang kemudian menarik selimut dan tidur dengan posisi memunggungi Bara. Bara menggeleng-gelengkan kepalanya. Menghalau segala kenangan yang tiba-tiba datang mengusik. “Kenapa aku ini?” gumamnya. Bara kemudian mengambil kaos polos hitam di lemari pakaiannya, celana jeans panjang berwarna senada. Setelah merasa siap Bara melangkah keluar. Entah kemana kakinya akan melangkah, Bara hanya ingin pikirannya segar kembali tanpa bayang-bayang masa lalu yang tak ingin dia ingat. Langkah Bara terhenti di tepi trotoar pusat kota yang sibuk di jam siang menuju sore. Lalu lintas mulai memadat karena jam pulang kantor. Bara mengenakan kacamata hitam, menenteng tote bag bertuliskan merek pakaian terkenal di tangan kanannya. Begitu lampu penyebrangan untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau, Bara menyebrang dengan langkah tenang khas dirinya. Tenang, rapi, dan teratur. Namun sebelum sampai di seberang, rintik-rintik hujan jatuh dari langit, cepat, dan berubah menjadi hujan deras. Bara mendesah pelan, menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu berlari kecil menuju ke sebuah kafe di sudut jalan. Bara membuka pintu, membuat lonceng kecil di atas pintu berdenting. Bara sempat menepuk-nepuk bahunya yang basah karena air hujan, lalu Bara mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kafe. Tetapi pandangannya tiba-tiba jatuh kepada sosok gadis yang berdiri di balik kasir. Bara membuang nafas dan terkekeh kecil, sebelum pada akhirnya Bara berkata kepada dirinya sendiri. “Hah. Apa aku harus bener-bener nandain kamu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD