POV MAIRA
Aku baru saja berdiri di depan kasir. Ku rapikan sejenak rambut panjangku yang kukucir satu ke belakang, merapikan kerah seragam serta apron yang bergambarkan logo kafe tempat aku bekerja paruh waktu saat ini. Aku mencatat beberapa menu yang sudah habis, serah terima pergantian shift, sejenak aku terdiam sambil membaca sedikit catatan dari Mbak Bella, kasir shift sebelumnya. Hingga denting lonceng di atas pintu berbunyi. Suara hujan di luar terdengar samar. Aku mendongak, memasang senyum seramah mungkin.
“Selamat dat...” ucapanku seketika terhenti di udara. Waktu seakan berhenti, dan jantungku berdegup lebih cepat. Susah payah kutelan ludahku sendiri. Sosok yang datang itu, sosok yang baru tadi siang aku jumpai dalam keadaan kurang berkenan. Laki-laki yang tinggi tubuhnya di atas rata-rata, berbahu lebar, dan garis wajah yang tercetak jelas. Aku menghela napas, mencoba bersikap biasa saja dan professional. Hingga laki-laki itu berjalan mendekat ke arahku.
“Selamat datang. A-ada yang bisa, saya bantu.. kak?” dua kali aku menjumpainya dan memanggilnya dengan sebutan Om, dan kini aku memanggilnya dengan sebutan Kak. Sungguh kontras sekali. Sebelum dia menjawab, dia melepas terlebih dulu kacamata hitam yang bertengger manis di hidung mancungnya yang lurus itu. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada tote bag yang dia tenteng. Tote bag bertuliskan merek pakaian yang harganya pasti sudah fantastis. Masih ingat jelas tadi siang aku sok-sokan ingin membelikannya baju untuk mengganti kemejanya yang terkena tumpahan orange jus karena kecerobohanku. Tapi sekarang aku malah mengasihani diriku sendiri. Bagaimana tidak, lihat saja tote bag yang dibawanya. Bisa jadi harga satu baju di toko itu sama dengan lima kali gajiku di kafe ini.
Laki -laki itu menatap sejenak papan menu yang ada di belakangku. “Espresso satu. Panas.” ucapnya, dan pandangan kami sejenak bertemu. Aku menggulir layar tablet di depanku, menuliskan pesanannya. “Take away atau dine in?” tanyaku lagi. Laki-laki itu melihat keluar jendela sejenak. Hujan di luar makin deras rupanya. Dia nampak menghela napas sejenak, sampai akhirnya menjawab. “Dine in.”
Aku mengangguk. “Atas nama siapa?”, “Bara.” Suaranya yang berat, datar, dan tatapan matanya yang datar, benar-benar membuat jantungku makin berdebar tanpa alasan. Cara laki-laki ini, Bara, menatap sangatlah datar, bahkan bisa dibilang tanpa ekspresi, tetapi sangat menusuk. Dan membuatku berulang kali berdehem untuk tetap terlihat professional.
“Baik. Espresso satu, panas. Total lima puluh ribu. Ada tambahan lagi, mungkin?”
“Cukup.” jawabnya singkat sambil mengangguk. Kemudian dia mengambil satu lembar uang dari dompetnya. Aku membasahi bibirku, tiba-tiba teringat kata-kata terakhirnya tadi siang. “Sampai kita bertemu lagi, aku tandain kamu.”
Sambil menuggu print out nota keluar, aku meliriknya sebentar, dan ternyata diapun menatapku. Masih dengan tatapan datarnya.
“Ehem.” Aku berdehem, benar-benar berusaha menutupi kegugupanku, entah kenapa perutku tiba-tiba merasa mulas. Tatapannya yang datar itu membuat seluruh tubuhku menegang. Tatapan dan ekspresinya seperti membawaku kembali ke semua rasa bersalah. Aku merasa kecil, kikuk, dan tanpa sadar aku menunduk. Nota sudah keluar, aku menghela napas lega. Ku sobek nota itu, lalu menyodorkannya ke Bara. Ya. Namanya Bara, kan?
“Silakan ditunggu. Terima kasih.”
Tanpa kata dan basa-basi Bara menerima kertas nota dan langsung berbalik. Bara menarik kursi paling ujung dekat jendela.
“Huuuh.” Aku menghembuskan napas. Pelan-pelan ku atur ritme jantungku. Beberapa saat kemudian, pesanan Bara sudah jadi. Robin, barista di kafe ini menyodorkan pesanan Bara kepadaku.
“Lho, enggak diantar sekalian ke sana?” tanyaku menautkan kedua alis.
“Minta tolong ya. Tiba-tiba perut gue mules.”
“Eh, lho, Mas Rob.” Belum juga selesai aku berkata Mas Robin sudah berlari kalang kabut.
“Jadi, harus aku yang nganter ini? ke dia?” gumamku mendesah frustasi.
“Bener-bener bakalan ditandain aku. Eh, tapikan aku enggak nabrak dia sekarang. Enggak mungkin ditandainkan, ya?” gumamku. Aku sejenak menatap secangkir espresso itu. Lalu beralih menatap Bara yang sedang sibuk dengan ponselnya. Akhirnya dengan keberanian yang kupunya, aku menaruh espresso pesanannya ke atas baki dan berjalan untuk mengantarkannya.
“Espresso panas, satu. Silakan.” ucapku menyodorkan pesanannya. Bara mendongak menatapku.
“Kerja di sini?” tanyanya tiba-tiba. Aku menoleh ke kanan ke kiri. Lalu menunjuk diriku sendiri. “Saya?”, “Siapa lagi? kan di sini cuma ada saya sama kamu.”, “O-oh. I-iya. saya kerja di sini.” Dia hanya mengangguk sambil menarik espressonya.
“Terima kasih.” ucapnya singkat.
“Sama-sama.” dan aku segera berlalu dari hadapannya. Aku berharap semoga ini pertemuan terakhirku dengan laki-laki ini. Sungguh, ditatap dengan tatapan tanpa ekspresi itu lebih menakutkan. Aku kembali ke tempatku, sedikit merapikan beberapa helai rambut yang menempel ke pipi. Senyum ku pasang lagi tatkala ada konsumen baru yang datang dan mulai memesan.
POV BARA
Humaira. Nama gadis itu. Nama yang tertulis di ID card yang dia kenakan. Aku menatap punggungnya yang kian menjauh setelah mengantarkan espresso pesananku. Aku terkekeh kecil. Apakah takdir memang menginginkanku untuk menandainya? Seperti kata-kata terakhirku siang tadi? Kata-kata yang sama sekali tidak terencana. Kata-kata yang hanya kuucapkan karena emosi sesaat. Sebagai laki-laki normal, menurutku, gadis itu cantik. Bukan yang berlebihan, bukan juga tipikal yang tampil mencolok. Kulitnya bersih, matanya bening. Rambut hitamnya jatuh meski diikat sederhana. Seragam kafe yang sedikit kebesaran tetapi terlihat pas di tubunya. Ada aura lemah lembut dan apa adanya yang membuatku betah berlama-lama memerhatikannya. Caranya menyambut konsumen yang baru datang. Senyum ramahnya, dan kedipan mata yang berbeda.
“Damn!” umpatku dalam hati. Saat tatapan kami kembali bertemu. Apa dia merasa sedang ku perhatikan? Buru-buru dia alihkan pandang. Aku tak ingin terlihat mencolok. Aku beranjak, meninggalkan espresso yang baru setengah kuminum. Kembali kupakai kacamataku dan keluar dari kafe ini. Hujan diluar tak kupedulikan. Aku lebih peduli dengan keadaan jantungku yang semakin berdebar saat memerhatikan gadis itu. Dan untuk pertama kali, aku merasakan debaran tak jelas tanpa alasan kala melihat perempuan lain, selain Safira, istriku.
Aku kembali ke rumah di mana aku dan Safira tinggal. Tidak seperti biasanya, mobil Safira sudah terparkir di halaman rumah. Padahal waktu masih menunjukkan pukul lima sore. Bisa di bilang terlalu awal untuk Safira menyelesaikan aktivitasnya. Saat aku masuk ke dalam rumah, Safira sedang duduk di sofa ruang tengah. Menyadari kedatanganku, Safira kemudian beranjak dan meletakkan tablet yang dari tadi berada di atas pangkuannya.
“Kamu sudah pulang? kenapa chat-ku enggak dibalas?” dia bertanya sambil meraih lenganku.
“Aku sibuk.” jawabku singkat, lebih tepatnya malas menanggapi. Sedikit aku sudah hapal dengan kebiasannya. Apabila dia pulang lebih awal, dan langsung mendekat kepadaku, akan ada suatu hal yang akan dia utarakan. Dan aku sedang menunggu, apakah gerangan hal itu?
“Duduk dulu sini, Bar.” ucapnya dengan nada yang lembut. Aku mengikuti langkahnya yang menuntunku untuk duduk di sofa. Setelah kami duduk, Safira kembali meraih tabletnya, dia gulir-gulir sebentar, sesaat kemudian Safira menunjukkan sebuah poster film terbarunya.
“Lihat, Bar. Film baruku.” ucapnya antusias. Aku melihatnya sejenak lalu mengangguk singkat.
“Pekan depan launching di hotel Arcadia.” Safira berhenti sebentar, menatapku sambil tersenyum tipis. “Aku bilang ke agensi, bagian catering-nya biar aku yang urus. Dan aku minta supaya mereka mau kerja sama dengan restoran kamu.” lanjutnya.
“Enggak perlu Fir.” balasku datar. Safira tetap menatapku tanpa menurunkan senyumnya.
“Aku cuma pengen bantu. Restoran kamu kan lagi naik daun. Lagian, buatku enggak ada yang lebih pas nyiapin hidangan untuk tamu penting selain kamu.”
Ada jeda hening di antara kami. Aku menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Safira meraih kedua tanganku dan meremasnya lembut.
“Anggap aja bentuk permintaan maafku, atas apa yang sudah aku lakukan kemarin ke kamu.”
“Safira.” kusebut namanya dengan nada datar. Sebelum kembali berkata, aku menghela napas sejenak. Kutarik tanganku yang dia genggam.
“Kamu enggak perlu repot urusin restoranku.” Kulihat Safira menaikkan alisnya, senyumnya tetap terpasang, tapi matanya meredup seakan kehilangan rasa percaya diri.
“Aku cuma mau bantu, Bar. Enggak ada maksud lain.”
“Aku sudah lama belajar, enggak semua bantuan itu perlu diterima. Dan enggak ada satu pun urusan restoran ini yang harus dikaitin sama kamu. Aku punya cara sendiri buat maju.”
Safira terdiam. Nafasnya sedikit terdengar berat. Aku berdiri, sebelum melangkah, aku kembali berkata, “Terima kasih atas niatnya. Tapi restoran ini tanggung jawabku, dan enggak butuh campur tangan siapa pun.”
Dan akupun berlalu dari hadapannya.