POV MAIRA
Aku sedang memerhatikan anak laki-laki di depanku saat ini. Namanya Rafael, atau yang sering dipanggil Rafa. Rafa adalah salah satu anak didikku di TK tempat aku mengajar. Usia Rafa lima tahun. Meskipun anak ini masih kecil, tetapi bibit unggul sudah nampak jelas di wajahnya. Kulit putih bersih, hidungnya yang mancung, dan mata yang indah saat berkedip. Tak heran, karena kedua orangtua Rafa pun secara fisik juga sangat mendukung. Ayah Rafa bernama Rendy, yang berprofesi sebagai salah satu tim cyber di kepolisian, dan Mamanya bernama Anita, yang berprofesi sebagai Dokter Gigi di salah satu rumah sakit ternama di kota ini. Gimana? enggak gemen-gemen, kan?
Aku dan Mamanya Rafa – Anita – sudah lumayan dekat. Bahkan kadang-kadang Anita mengajakku keluar walau hanya sekadar makan siang bersama. Dan saat ini, Rafa sedang berada di rumahku. Setelah sepulang sekolah, tiba-tiba Anita mendapatkan panggilan darurat dari rumah sakit, sedangkan suaminya – Rendy – sedang dinas keluar kota, alhasil Anita menitipkan sebentar Rafa kepadaku. Tidak masalah, karena Rafa sendiri tergolong anak yang penurut.
Ku lihat tangan mungil Rafa sedang mewarnai gambar hasil karyanya sendiri.
“Gambar apa sayang?” tanyaku sedikit membungkuk melihat gambarannya.
“Rafa lagi gambar Ayah, Mama, sama Rafa, Miss.”
“Waah, bagus banget.” ucapku melihat gambaran Rafa yang memang benar-benar bagus, bukan hanya sekadar pujian untuk membuat hatinya senang. Rafa menggambar sosok polisi dengan seragam lengkap, lalu dokter perempuan yang juga menggunakan baju dokter lengkap dengan jas dan stetoskopnya, dan sosok anak kecil yang memakai seragam pilot.
“Itu, siapa yang ditengah? yang pakai baju pilot?” tanyaku yang kini duduk di sampingnya.
“This is me. Yeeeay.” jawabnya dengan antusias sambil mengepalkan kedua tangannya yang masih menggenggam crayon.
“Wow! It’s amazing boy. Are you going to be a pilot, Rafa?”
“Yes. I am. I will fly Ayah, Mama, and Miss Maira to the sky.”
Aku tertawa mendengarnya. Lalu kuusap lembut kepala Rafa. “Really? Then i’ll be your first passenger, okay?” tanyaku lagi dengan antusias.
“Deal.” jawabnya mengacungkan kedua jempolnya yang mungil itu. Kucubit pelan pipinya yang lumayan berisi itu. Lalu tak lama kemudian ponselku yang terletak tidak jauh dari Rafa berkedip-kedip. Saat kulihat layarnya, Anita is calling..
“Halo, iya, Mbak?” tanyaku menjawab panggilannya.
“Ra, aku sebenarnya udah di jalan mau jemput Rafa, tapi pas sampai tengah-tengah jalanan macet total. Ada kecelakaan, kendaraannya belum bisa dievakuasi.” ucap Anita di seberang sana.
“Oh, gitu. Iya Mbak, enggak apa-apa. Terus gimana? Rafa juga anteng-anteng aja, kok.”
“Aku lagi di restoran temanku, enggak jauh dari lokasi kecelakaan, dan enggak jauh juga dari kontrakan kamu. Kalau kamu ke sini anter Rafa gimana? soalnya Rafa mau langsung di jemput Eyangnya. Kalau Eyangnya jemput ke kontrakan kamu kejauhan, Mai.”
“Bisa, Mbak. Bisa. Restorannya dimana?”
“The A’s Table. Dekat perempatan pertama kalau dari arah kontrakan kamu. Tapi beneran enggak apa-apa, nih? sory banget lho aku banyak ngerepotin hari ini.”
“Enggak apa-apa, Mbak. Santai aja ih. Lagian hari ini libur shift di kafe. Eh, restonya yang ada pilar-pilar gede ala ala bangunan belanda gitu bukan sih, Mbak?”
“Alhamdulillah, makasih banget ya, Ra. Rezeki banget Allah kasih aku teman seperti kamu. Iya betul. Nanti langsung masuk aja, ya. Aku duduk di deket pintu, kok.”
“Oke, Mbak. Sip. Sebentar lagi aku on the way, ya.” aku kemudian menutup panggilan telepon dan beersegera mengemasi barang-barang Rafa lalu bersiap mengantarkannya.
***
Di dapur Bara asap mengepul halus dari wok. Tangan Bara sangat cekatan. Memotong d**a ayam dengan ukuran yang presisi, melumurinya dengan minyak zaitun, bumbu-bumbu, dan beberapa herbs. Setelah merata Bara kemudian menjatuhkan potongan d**a ayam ke atas griddle panas. Suara desis langsung terdengar, aroma bumbu marinasi menyebar memenuhi dapur.
Setelah selesai dengan potongan d**a ayam, Bara lanjut memotong beberapa sayuran seperti paprica, kembang kol, pokcoy, wortel, dan brokoli. Tak lupa perbawangan dari bawang putih, bawang merah, dan bombay. Air di panci sebelah sudah mendidih, Bara sedikit menaburkan garam dan gula ke dalamnya. Kemudian bergantian merebus sayuran-sayuran yang dia potong tadi, hanya sebentar.
Ditumisnya bawang merah, bawang putih, dan bawang bombay ke dalam wok yang sudah panas, setelah beberapa saat Bara memasukkan sayuran-sayuran itu, mengaduknya, dan tak lupa memberi bumbu supaya makin terasa lezat. Sekiranya sudah siap, Bara mengangkatnya dan menaruh tumisan itu serta d**a ayam tadi ke wadah kotak dari stainless steel yang berbeda.
“Pesanan Nyonya Rendy sudah siap.” ucap Bara menyodorkan makanan yang dia olah tadi kepada seorang perempuan – Anita – Mamanya Rafa.
“Hem.. cepat banget Bar.” ucap Anita yang menatap kotak-kotak itu dengan antusias.
“Khusus untuk tuan muda Rafa.” Ujar Bara sambil terkekeh. Bara menarik kursi dan duduk di sebrang Anita.
“Jadi berapa semua?” tanya Anita sambil membuka dompetnya.
“Apanya? Enggak usah. Bawa aja, anggap hadiah kecil untuk Rafa.” jawab Bara.
“Lho, enggak bisa gitu, dong.”
“Bisa-bisa aja. Udah, jangan bikin semuanya rumit. Next time aja bayarnya. Dan ini..” Bara kemudian menyerahkan satu lembar voucher untuk makan gratis di restorannya.
“Apa ini, Bar?” tanya Anita memandangi selembar kertas yang lumayan tebal itu.
“Voucher untuk makan gratis di sini. Lebihan tahun lalu waktu grand opening, sayang kalau enggak dipakai. Kalau kamu enggak mau, bisa kasih ke siapa gitu.”
“Waaah, boleh, deh. Aku kasih ke temanku ya.” Bara hanya mengangguk.
“Oke, aku balik ke dapur dulu ya.” pamit Bara.
“Ya. Makasih banget, lho. Udah dibuatin foodprep ditambah kasih voucher lagi, semoga restonya ramai terus ya.”
“Sip. Sama-sama.” balas Bara mengacungkan kedua jempolnya. Lalu Bara berlalu dari hadapan Anita. Beberapa saat setelah Bara masuk kembali ke dapur, pintu utama restoran Bara terbuka.
“Mamaaa!” panggil Rafa antusias sambil berlari menghampiri mamanya.
“Hei, anak Mama.” balas Anita sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Rafa ke dalam pelukan. Rafa memeluk Anita dengan erat.
“Nurutkan sama Miss Maira?” tanya Anita sambil mengecup dahi Rafa.
“Yes. Rafa nurut sama Miss Maira today.”
“Good boy.” ucap Anita mengacak puncak kepala Rafa. Maira berjalan mendekat ke arah ibu dan anak itu.
“Thanks banget ya, Ra. Kamu bener-bener penolongku hari ini.” ucap Anita melepas pelukannya dari Rafa dan kemudian menggenggam kedua tangan Maira.
“Sama-sama, Mbak. Aku cuma perantara. Allah yang mudahkan.” jawabnya lembut.
“Masyaallah. Duduk dulu sini, Ra.” Anita menuntun Maira untuk duduk di mana Bara tadi duduk, di sebrangnya.
“Ini, ada hadiah kecil buat kamu.” Anita menyodorkan beberapa kotak berisi makanan yang tadi dimasak Bara.
“Lho, apa ini, Mbak?” tanya Maira mengernyit.
“Foodprep. Lumayan buat stok lauk kamu di kontrakan. Biar bisa sat set. Ada kulkas, kan, di kontrakan?”
“Ada. Kulkas kecil, dipinjamin sama yang punya kontrakan.” jawab Maira mengangguk sambil tersenyum.
“Sip. Dan ini.” Anita kembali menyodorkan voucher yang tadi diberikan Bara.
“Apalagi ini, Mbak? banyak banget, ih.”
“Ini voucher makan gratis di sini. Kata temanku, yang punya resto ini, itu lebihan waktu grand opening resto ini tahun lalu. Daripada kebuang, jadi dikasih ke aku. Terus aku kasih ke kamu. Anggap aja ini ucapan terimakasihku karena udah mau aku repotin hari ini buat jagain Rafa. Diterima, ya?”
“Ya ampun, Mbak Anita, segitunya banget, deh. Jadi enggak enak aku.” ucap Maira merasa sungkan.
“Enggak enak kayak sama siapa aja sih, Ra. Diterima ya? kalau enggak, nanti aku sedih. Oke?”
“Baiklah. Terimakasih sekali pokoknya, semoga Allah balas dengan yang berlipat-lipat.” ucap Maira sambil menerima voucher itu.
“Aamiin.” sahut Anita.
Ketika Anita dan Maira terlibat obrolan yang seru, Bara dari balik kaca dapur tak sengaja melihat pemandangan itu. Bara menyipitkan kedua matanya, mencoba menelisik siapa yang sedang berbicara dengan Anita. Bara beberapa kali berkedip, menajamkan lagi penglihatannya. “Gadis itu..” gumam Bara pelan. Bara kemudian dengan langkah cepat melepas sarung tangan yang dia kenakan dan membuka pintu dapur. Namun saat dirinya sudah di luar dapur, Anita dan gadis itu sudah pergi. Kursi yang tadi diduduki Anita dan gadis itu kini sudah kosong. Gadis itu, yang menabraknya tempo hari, dan dia jumpai lagi sebagai kasir di kafe.
“Humaira..” gumam Bara pelan.
***
Malam harinya, Maira sudah berdiri tepat di depan restoran yang tadi siang menjadi tempat dia bertemu dengan Anita. Maira diam sejenak, menatap selembar voucher yang dipegang kedua tangannya. Maira mendongak, menimbang-nimbang akankah masuk atau tidak.
“Beneran gratis, kah? pasti mahal kalau makan di sini.” gumamnya bermonolog pada diri sendiri. Maira hendak berbalik, tetapi sesaat kemudian Maira mantap melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu. Lonceng di atas pintu berdenting. Seorang perempuan, yang Maira yakini adalah karyawan restoran ini datang menghampiri sambil tersenyum dengan ramah. Perempuan ini terlihat rapi, dengan pakaian berkerah berwarna hijau muda, celana bahan berwarna gelap yang longgar, dan rambutnya yang digelung rapi ke belakang. Tidak lupa mengenakan apron yang bertuliskan nama restoran ini.
“Selamat malam, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?” tanya karyawan yang bernama Kamila – dari nametag yang dia kenakan – kepada Maira dengan ramah.
“Selamat malam. Em, maaf, tadi saya dapat ini dari seorang teman.” jawab Maira memperlihatkan voucher yang dia bawa. Kamila menatap sejenak ke voucher itu. Untuk beberapa saat Kamila terlihat bertanya kepada seseorang lewat HT yang dia letakkan di pinggangnya. Maira mengedarkan pandang. Betapa luas dan besar restoran ini. Dan dari penampilan para pengunjung yang datang, bisa ditebak bahwa mereka berasal dari kalangan menengah ke atas. Bukan kaleng-kaleng.
“Permisi Ibu.” panggil Kamila kepada Maira.
“Eh, iya?” Maira menoleh, sedikit terkesiap.
“Silakan mau duduk di mana? mau langsung pesan atau lihat menu dulu?”
“Em, saya mau duduk di dekat jendela sana aja ya, Mbak. Menunya apa aja deh, yang enak di sini, biar cepat. Udah keburu lapar, hehe.”
“Baik Ibu. Silakan ditunggu, ya.” ucap Kamila masih dengan senyumnya yang ramah.
Dan Maira kemudian berjalan ke meja yang dia tuju. Maira duduk sambil mengamati restoran ini yang semakin malam semakin ramai. Waktu sudah berjalan hampir tiga puluh menit, tetapi makanannya tidak kunjung datang. Lalu ketika ada pramusaji yang lewat, Maira memberanikan diri bertanya.
“Maaf, Mas. Pesanan saya kok belum datang-datang, ya?”
“Oh, mohon maaf Ibu. Restoran malam ini sangat ramai, mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Mohon ditunggu, saya akan cek lagi pesanan Ibu.”
Maira hanya mengangguk mengiyakan. Maira kembali menunggu hampir lima belas menit. Tangannya yang sedari tadi bertumpu di atas meja kini mulai mengetuk-ngetuk permukaannya tanpa sadar. Jari telunjuknya beradu lembut dengan kayu meja, ritmenya tak beraturan – tanda ia mulai gelisah.
Sesekali Maira mengembuskan napas panjang, matanya melirik jam di pergelangan tangan, lalu kembali menatap ke arah pintu dapur. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan rasa kesal yang perlahan mulai muncul.
“Kok lama, ya..” gumamnya lirih, nyaris seperti berbisik.
Bahunya perlahan naik turun menandakan ia mencoba sabar. Kakinya bergerak pelan di bawah meja, berganti posisi setiap beberapa detik. Maira menyandarkan punggungnya ke kepala kursi, lalu beberapa saat kemudian menegakkannya lagi. Hingga, kedua bola mata Maira perlahan membulat, mulutnya ternganga. Saat seseorang yang tak asing untuknya berjalan mendekat, menghampiri. Seorang laki-laki yang berbadan tegap, tinggi badannya yang bagi Maira tidak kira-kira, terlihat gagah dengan chef jacket berwarna hitam yang ia kenakan. Dan di sebelah kanan bertuliskan “BARA”. Maira menutup mulut dengan satu tangannya. Perlahan Maira berdiri, dan ketika laki-laki itu sudah berada di hadapannya.
“A-an-anda...?” Maira menunjuk laki-laki itu dengan jari telunjuknya.