7. Miss Maira.

2027 Words
POV MAIRA. Aku hanya bisa menganga sambil memandangi berbagai jenis makanan yang ada di hadapanku saat ini. Tidak hanya satu jenis, tetapi lima jenis. Mulai dari makanan pembuka, makan utama, penutup, dan pencuci mulut yang kuyakini rasanya pasti sangat enak. “I-ini, se-semua, buat, saya.. Chef?” aku bertanya kepada laki-laki yang duduk di depanku kini. Laki-laki yang tempo hari kutabrak di supermarket, lalu kutumpahi orange jus, dan yang kutemui saat aku masuk shift di kafe. Dan ya, namanya memang Bara. Chef Bara menautkan kedua alisnya, tangannya bersedekap sambil menyandarkan punggungnya ke kepaka kursi. “Jadi sekarang manggilnya ganti lagi jadi, Chef?” bukannya menjawab pertanyaanku dengan jawaban, Chef Bara malah balik bertanya. Aku mengatupkan bibirku, “Apa aku salah bicara? bukankah dia memang seorang Chef, kan?” ucapku bermonolog dalam hati. “Em..” aku bergumam, sebelum akhirnya Chef Bara dengan cepat memotong perkataanku, “Sudah, lupakan.” sedikit bibirnya menerbitkan senyum. Sedikit sekali. “Jadi, kamu temannya Anita?” “I-iya.” jawabku mengangguk. Saat hendak kembali bersuara, tiba-tiba salah satu staf laki-lakinya yang memakai ID Card bertuliskan nama Rafa mendekat. Langkah kakinya terlihat sedikit tergesa. Rafa kemudian sedikit membungkukkan badannya, berbisik tepat di telinga Chef Bara. “Saya harus balik ke dapur, dulu.” ucap Chef Bara setelah Rafa selesai dengan perkataannya. Sepertinya lumayan penting, pikirku. Dan aku lagi-lagi hanya bisa mengangguk, karena tidak tahu harus menjawab seperti apa. Chef Bara kemudian berdiri dan berlalu dari hadapanku. Setelah Chef Bara tidak lagi terlihat, tatapanku kembali ke meja yang hampir setengahnya penuh dengan makanan. Aku menghela nafas dan geleng-geleng. Bagaimana aku bisa menghabiskan ini semua, batinku. Tiba-tiba terdengar suara kemruyuk dari perutku. Aku tidak bohongkan? aku memang lapar. Akhirnya perlahan aku mulai menganbil sendok dan garpu. Kucicipi satu per satu makanan yang bisa kutebak harganya pastilah mahal. Seruputan kuah pertama membuat kedua bola mataku membulat. Ini enak, benar-benar enak. Lalu aku beralih ke piring kedua, ketiga, dan seterusnya. Waktu sudah berjalan selama tiga puluh menit, perutku sudah kenyang, benar-benar kenyang. Dan sesuai perkiraanku, aku tidak bisa menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian. Akhirnya ditengah-tengah aku makan, aku menghadang pramusaji yang kebetulan lewat dan meminta tolong kepadanya untuk membungkus semua makanan yang tidak bisa kuhabiskan. Aku menunggu pramusaji itu sambil menggulir-gulir layar ponselku. “Ini.” aku spontan mendongak saat suara berat itu kembali tertangkap indera pendengaranku. “Chef..” aku langsung berdiri ketika mengetahui yang mengantarkan makanan bukan pramusaji yang kumintai tolong tadi, melainkan Chef Bara. Dan kedua bola mataku semakin membulat ketika Chef Bara menyodorkan beberapa kotak makanan. “I-ini..?” “Tenang. Ini semua makanan baru, bukan makanan yang tidak laku terjual.” ucapnya. “Eh, bu-bukan, bukan gitu maksud saya.” buru-buru aku menyanggah pikirannya sambil melambai-lambaikan kedua tanganku. “Mak-maksud saya, kenapa jadi makin banyak makanannya?” “Enggak apa-apa. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena pesanan kamu tadi datangnya lama.” “Ta-tapi..” “Tolong diterima. Itu sudah lebih dari cukup.” Aku sejenak menatap kotak-kotak makanan itu. Benar-benar tak kusangka hari ini aku begitu banyak menerima makanan. Dari Mbak Anita tadi dan sekarang dari Chef Bara. Eh, tunggu, kenapa aku sekarang memanggilnya Chef Bara? “Em.. terimakasih, Chef. Benar-benar buat aku ngirit keluar uang makan untuk beberapa hari ke depan. Hehe.” ucapku sambil meraih makanan itu dan sudah dikemas rapi ke dalam task ain yang bergambarkan logo restoran ini. Dan kulihat Chef Bara sedikit terkekeh mendengar ucapanku. Apakah dia memang seperti ini? selalu ngirit untuk sekadar tersenyum? Ah, bukan urusanku. Aku menilik jam di pergelangan tanganku, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. “Saya pulang dulu, Chef. Terima kasih untuk makanannya. Benar-benar enak.” ucapku dengan sungguh-sungguh. Dan Chef Bara hanya mengangguk. Chef Bara kemudian mundur selangkah, memberiku jalan, dan akupun melangkah berlalu dari hadapan Chef Bara sambil membawa bingkisan-bingkisan makanan yang lumayan banyak ini. POV BARA Aroma bumbu yang ditumis memenuhi dapur siang ini. Semua station sibuk, dan antrian di ticket holder sudah penuh. Suara antar staf saling bersahutan. Aku mengecek setiap makanan yang sudah siap untuk diantar ke konsumen. Hingga suara telepon di dapur berbunyi. Telepon dari depan. Aku mendekat kemudian menjawab panggilan itu. “Iya.” “Chef, di depan ada teman Chef. Namanya Bapak Rendy.” “Rendy?” aku membeo. Aku melihat jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih lima menit. Atensiku kembali ke telepon. “Ya, suruh tunggu sebentar. Aku ke depan sekarang.” jawabku. Aku kemudian melepas sarung tangan dan apronku. Dari pintu dapur aku melihat Rendy, tengah menggendong anaknya – Rafa – yang sedang tertidur pulas. “Hai, Ren.” sapaku ketika sudah berdiri di hadapan Rendy. “Bro, sory kalau aku datang mendadak. Aku mau ngerepotin.” ucapnya. “Kenapa?” tanyaku. “Aku nitip Rafa di sini sebentar bisa? tiba-tiba ada panggilan darurat dari kantor. Anita juga pas aku telepon siap-siap mau tindakan operasi. Kalau aku paksa bawa ke kantor, takut nanti Rafa kaget dan dia bisa rewel seharian. Tahu sendirikan keadaan kantor polisi gimana?” aku diam sejenak. Bukan karena aku tidak mau. Hanya saja, aku sendiri belum punya anak. Aku sendiri tidak yakin bisa menjaga Rafa. Terlebih keadaan dapur sedang crowded seperti ini. Aku melirik pintu dapur sejenak. “Gimana, Bar?” tanya Rendy lagi dengan raut wajah yang benar-benar diburu waktu. “Oke, sini.” jawabku tanpa pikir panjang. Lalu kuangkat pelan tubuh Rafa dari gendongan Rendy, dan kusandarkan kepalanya ke bahuku. Satu tanganku menopang b****g Rafa, dan satu tanganku yang lain meraih tas ranselnya yang berbentuk karakter McQueen. “Tenang ya, Bar. Aku enggak ngejar orang, aku cuma mau benerin data yang dibobol orang. Semoga cepat.” ucap Rendy menepuk pelan bahuku beberapa kali. Aku hanya mengangguk. Dan Rendy dengan langkahnya yang lebar dan cepat langsung kembali masuk ke mobilnya dan berlalu dari hadapanku. Aku hanya menghela napas. Meskipun aku dan Rafa sudah saling mengenal, dan beberapa kali Rafa menunjukkan rasa nyamannya saat berada di dekatku, tetap saja namanya anak kecil tidak bisa ditebak, kan? meskipun aku belum punya anak, tetapi tidak sekali dua kali aku melihat anak-anak kecil di sekitarku suka melakukan hal-hal yang tidak terduga. Dan membuat orangtua mereka mengelus dadaa. Aku membuka ruanganku di pojok dapur. Ruangan khusus untuk menerima tamu penting. Di ruangan ini ada sofa yang empuk dan lumayan nyaman untuk dipakai tidur. Perlahan kubaringkan Rafa di sana. Kusesuaikan suhu AC, supaya tidak terlalu dingin, kemudian mengambil selimut tipis yang kusimpan di dalam laci meja kerja. Selimut yang memang sengaja kusiapkan, karena terkadang kalau kurasa waktu sudah terlalu malam untuk pulang aku memilih tidur di restoran. Kutarik selimut sampai ke leher Rafa. Setelah itu, saat kurasa tidak ada lagi yang tertinggal, aku melangkah keluar untuk kembali ke dapur. Pikirku, kalau Rafa terbangun dia akan keluar sendiri. Waktu sudah enam puluh menit berlalu, dan Rafa masih terlelap dalam tidurnya. Semakin siang restoranku semakin ramai karena jam makan siang. “Kuah rawonnya kurang pekat ini.” ucapku pada Rafa, tangan kananku di dapur, sambil menyesap sedikit kuah rawon dengan sendok. “Ini jeruk buat apa, Dim?” tanyaku kepada Dimas yang sedang menyusun kondimen di beberapa mangkok. “Buat garnish soto sama bakso, Chef.” Aku menghela nafas sejenak. “Sini.” titahku kepada Dimas. Dimas langsung menghentikan aktivitasnya dan berlari kecil menghampiriku. Aku mengambil jeruk limau yang masih utuh. Kemudian mengambil pisau yang kecil namun ujungnya sangat tajam. Perlahan aku memotong jeruk limau itu pas di tengah, antara ujung dan pangkalnya. “Kalau motong jeruk tuh kayak gini Dim. Kamu udah berapa lama di sini?” “Lho, bukannya sama aja, Chef?” tanya balik Dimas menatapku sambil menautkan kedua alisnya. “Kamu, kalau motong jeruk dari pangkal ke ujung,” aku mencontohkan cara yang salah, “Nanti nyusahin orang,” aku memencet jeruk itu dan air jeruknya terlihat muncrat kemana-mana. “Nah, isi jeruknya jadi muncrat kemana-mana, kan? nanti lagi kalau motong jeruk belah pas di tengah, antara ujung dan pangkalnya. Jangan terbalik. Paham?” “Oh, iya. Siap, Chef.” jawab Dimas mengangguk mantap. “Dah, lanjut lagi, sana. Kurang apa?” “Sudah siap semua, Chef. Tinggal serving aja.” “Oke. Go.” Dimas segera kembali ke stationnya. Namun beberapa saat kemudian, pintu dapur terbuka dan menampilkan Rafa yang terbangun dalam keadaan menangis. “Ayaaah. Huaaaa.” Rafa mencari ayahnya. Aku cepat-cepat melepas sarung tangan beserta apronku. Aku lalu berjongkok tepat di hadapan Rafa, dengan suara yang kuusahakan lembut, aku mencoba menenangkannya. “Hei, Rafa sudah bangun..” “Where is, Ayah uncle Bara?” tanyanya dengan air mata yang terjun bebas dari matanya yang bening itu. “Ayah lagi di kantor, ada panggilan urgent, katanya. Rafa di sini dulu sama Uncle Bara, oke?” ucapku sambil mengusap puncak kepalanya. Rafa menggeleng. “No. I just need Ayah.” jawab Rafa menyeka air matanya dengan satu lengan. Aku tidak tega melihatnya menangis seperti itu. Aku menghela nafas, lantas kuposisikan kedua tanganku ke posisinya masing-masing, kemudian perlahan kuangkat tubuh mungil Rafa, kugendong dia dan kuajak keluar restoran. Supaya Rafa bisa menghirup udara segar, tidak panas seperti di dapur utama. Aku menunjuk gerombolan burung-burung yang terbang di langit, berusaha mengalihkan perhatiannya, namun bukannya tenang, Rafa malah semakin menangis dan sempat sedikit meronta. “Hei, lihat itu. Ada apa di sana? mau ke sana?” bujukku menunjuk ke arah lain. “No. Aku mau Ayaaaah. Huaaaaa. Ayaaaaaah.” Rafa mulai menambah tenaganya untuk meronta lebih kencang. “Hei, Rafa. Nanti Rafa bisa jatuh kalau seperti itu.” ucapku menahan gerakan Rafa, khawatir kalau dia bisa saja terjatuh. Tetapi tangis Rafa perlahan mereda. Rafa mengusap matanya yang basah, menarik napas berat disertai isakan kecil yang tertahan. Kedua mata Rafa melebar, seperti melihat seseorang yang dia kenal. “Miss Maira..” gumamnya lirih. “Apa, Rafa?” tanyaku sambil mengikuti arah pandang Rafa. “Miss! Miss Maira!” panggil Rafa dengan suaranya yang keras. “Itu, itu Miss Maira, Uncle Bara. She is Miss Maira.” Rafa menunjuk ke sebrang jalan. “Maira..” aku membeo. Dan ya, indera penglihatanku menangkap sosok gadis yang kuketahui namanya Humaira. “Miss! Miss Maira!” panggil Rafa lagi dengan suara lantangnya. Akhirnya yang dipanggil menoleh. Maira – gadis itu – melebarkan matanya, lalu dari jarak yang tidak begitu jauh, aku lihat gerakan bibirnya yang menyebut Rafa. Maira kemudian menengok ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang, perlahan Maira mendekat ke arahku dan Rafa. “Rafa.” ucapnya sesaat sudah berada di hadapanku. Rafa langsung mengulurkan kedua tangannya, meminta gendong ke Maira. Maira yang cepat tanggap langsung meraih tangan Rafa, dan sekarang Rafa beralih dalam gendongan Maira. “Why are you crying, Rafa?” tanya Maira sambil menepuk-nepuk pelan p****t Rafa. “Ayaaah. I need Ayah, Miss.” Jawab Rafa dengan isakannya, tetapi isakannya lebih tenang dan tanpa meronta. “Ayah?” Maira membeo sambil menatapku, seakan bertanya kepadaku di mana Ayahnya. “Kantor.” jawabku tanpa suara. Maira meletakkan kepala Rafa ke bahunya, dan berpindah menepuk-nepuk punggungya. “Oh, Ayah Rafa lagi kerja di kantor sayang. Kantor polisi bukan tempat yang friendly buat anak yang lucu kayak Rafa. Rafa di sini dulu sama Miss, mau?” suara Maira benar-benar lembut. Dan Rafa langsung mengangguk. “All right. Kita duduk dulu di bangku sana, ya. Waaah, di sini so hot Rafa. Panas banget, Miss takut kalau nanti Rafa gosong. Hehe.” ucap Maira yang kuyakini mencoba menghiburnya. Rafa lalu menegakkan badannya, matanya membulat. “Gosong? kayak roti panggang buatan, Ayah.” ucap Rafa dengan kekehannya. “Oh, ya? Ayah suka gosong kalau bikin roti panggang?” tanya Maira sambil mengusap air mata di pipi Rafa dengan ibu jarinya. Kini Maira berjalan menuju bangku dari kayu yang letaknya di bawah pohon yang cukup rindang. Memang suka dijadikan orang-orang untuk duduk sekadar bersantai atau hanya ingin merasakan hembusan angin yang segar. Aku diam. menatap gadis itu – Maira – yang sangat terlihat sisi keibuannya. Cara Maira menatap dalam Rafa, cara Maira yang menenangkan Rafa, dan cara Maira yang terus mengoceh untuk sekadar mengalihkan perhatian Rafa, supaya Rafa sejenak melupakan kesedihan karena saat dia terbangun, dia tidak menemukan Ayahanya. Tetapi, tanpa kusadari, bibirku tertarik ke atas. Degup jantungku berdebar lebih cepat dari biasanya. Lalu, tiba-tiba pikiranku kembali tertartik ke kenyataan. Sebentar, apakah aku tersenyum barusan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD