Bara datang, lalu menyodorkan air mineral kepada Maira. Maira sedikit terkaget sebelum pada akhirnya menerima air minum itu.
“Eh.” Maira kemudian dengan sedikit canggung menerimanya.
“Terima kasih.” ucap Maira, Bara hanya mengangguk. Bara kemudian mengambil duduk di sebelah Maira. Dan Maira sedikit mengambil jarak, bergeser sedikit. Bara, Maira, dan Rafa akhirnya bermain di taman kota.
Bara dan Maira duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu di pinggir taman, sedangkan Rafa asyik bermain bola sendirian di tengah rumput hijau. Maira dengan seksama terus mengawasi Rafa, sesekali dari samping, Bara mendapati bibir Maira tertarik ke atas, tersenyum.
“Jadi.. guru atau barista?” tanya Bara sambil menenggak minumnya. Maira menoleh, menatap Bara sejenak, lalu pandangannya kembali kepada Rafa.
“Em.. kalau pagi guru, terus siang barista.” jawabnya.
“dua tempat?” tanya Bara lagi.
“Iya.” Bara mengangguk-angguk.
Bara menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman, membiarkan tubuhnya sedikit rileks setelah berjuang keras menenangkan Rafa.
“Rafa kayaknya lengket sama kamu.” Maira tidak langsung menjawab. Maira menelengkan sedikit kepalanya.
“Ya, karena udah kenal, Chef. Eh, enggak apa-apa, kan, saya panggilnya, Chef?”
“Setidaknya tidak terlalu tua, seperti Om.” jawab Bara yang kemudian mengundang senyum Maira. “Aku dan Rafa juga sudah kenal, tapi Rafa enggak lengket ke aku kayak dia lengket ke kamu.” tambah Bara. Maira sedikit tergelak. Bara menautkan kedua alisnya, menatap Maira keheranan.
“Ya, kan saya hampir setiap hari ketemu Rafa di sekolah, Chef. Memang Chef ketemu sama Rafa setiap hari?” Bara menggeleng pelan. “Naah, makanya.” ucap Maira. Lalu Bara hanya manggut-manggut. “Pengen banget lengket sama Rafa, Chef.”
“Biar gampang bikin dia diem kalau nangis.”
“Anak kecil kalau nangis biarin nangis aja, Chef. Nanti kalau udah capek juga akan berhenti sendiri, nah kalaau sudah berasa lama, baru kita alihkan pelan-pelan perhatiannya. Jangan langsung di suruh diem saat itu juga. Sesak tahu rasanya.”
Maira menghela napas sejenak, sebelum sesaat kemudian melanjutkan perkataanya, “Kita aja yang udah gede, kalau baru nangis di suruh langsung diam pasti sesak, apalagi anak-anak seperti Rafa yang belum tahu kehidupan nyata tuh seperti apa.”
Bara menatap dalam Maira. Kemudian, saat Maira menoleh dan membenarkan posisi duduknya menghadap ke Bara, Bara mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Chef, kalau mau balik ke restoran enggak apa-apa, lho. Rafa biar sama saya aja.”
“Kamu ngusir saya?”
“Eh, eh, bu-bukan, bukan gitu maksud saya, Chef.” jawab Maira sedikit tergagap sambil melambai-lambaikan kedua tangannya. Kemudian Maira menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal. Lebih tepatnya salah tingkah. Bara sedikit terkekeh.
“Nevermind. Sory, saya bercanda.”
Maira terdiam. Sejenak pandangan mereka bertemu. Sampai tiba-tiba bola berwarna biru muda milik Rafa mendarat tepat di pangkuan Bara.
“Uncle Bara, let’s play with me!” ajak Rafa dengan antusiasnya sambil menggoyang-goyangkan keduan tangan Bara. Bara membulatkan kedua bola matanya.
“A-apa? Uncle?” tanya Bara menunjuk dirinya sendiri keheranan. Kini Rafa beralih ke Maira, “Miss, I want to play with Miss Maira and Uncle Bara.” Kemudian jari telunjuknya terarah ke anak-anak yang berlari sambil tertawa riang bermain bersama kedua orangtua mereka. Maira memerhatikan ke arah yang di maksud Rafa, Maira kemudian tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Rafa dengan sayang.
“You want to play like them too, huh?” tanya Maira lembut. Rafa mengangguk cepat, matanya tetap tak lepas dari pemandangan di depannya. Rafa kembali menggenggam tangan Bara, “Come on, Uncle, come on.”
Bara menatap Maira, dan Maira mengangguk pelan seakan berkata it’s okay. Akhirnya dengan perasaan yang masih ragu-ragu, Bara berdiri dan mengikuti kemauan Rafa untuk bermain bola. “Let’s go, Capt.” ucap Bara yang membuat Rafa berlonjak riang dan dengan bersemangat berlari ke tengah hamparan rumput yang hijau.
Rafa sangat bersemangat saat menendang bola, sedangkan Bara pura-pura tidak bisa menangkap bolanya. Itu sungguh membuat Rafa berteriak dan bersorak gembira. Lagi, Rafa menendang bola untuk yang kesekian kali, tapi Bara berlagak akting tidak bisa menangkap bola itu, hingga saat Bara balik menendang bola, bola itu malah terbang dan hampir mengenai Maira, tetapi Maira bisa menangkisnya meskipun dengan sedikit terkaget. Bara terkaget, langsung berlari menghampiri Maira.
“Kamu enggak apa-apa?” tanya Bara sedikit khawatir dengan nafasnya yang sedikit memburu.
“Ya, enggak apa-apa, Chef. I’m fine.” jawab Maira sambil tersenyum, meyakinkan kalau dirinya memang baik-baik saja. Kemudian Rafa berlari menghampiri keduanya.
“Come on, Miss. Join us.” Rafa langsung menarik tangan Maira, dan Maira tidak bisa mengelak. Akhirnya Bara, Rafa, dan Maira bermain bola bersama di tengah hamparan rerumputan yang luas ini. Rafa begitu senang, terlihat jelas di binar matanya, berlari mencoba merebut bola dari kaki Bara, sedangkan Maira membantu Rafa. Mereka tidak sadar sesekali berteriak karena hampir berhasil mendapatkan bola, sampai akhirnya mereka kelelahan. Rasa lelah karena bermain berebut bola bercampur lelah karena terlalu bersemangat berteriak saking bahagianya. Ketiganya terduduk di atas rumput. Wajah mereka semua kemerah-merahan, bukti bahwa mereka benar-benar mengeluarkan energi hanya sekadar untuk bermain bola.
“Minum dulu, sayang.” ucap Maira kepada Rafa sambil menyodorkan air minum yang tadi diberikan Bara. Rafa langsung meminumnya, begitu cepat hingga kini tinggal sisa seperempat botol.
“Rafa haus?” tanya Maira. Rafa hanya mengangguk. Bara dan Maira terkekeh melihatnya. Sesaat kemudian Rafa merebahkan dirinya ke pangkuan Bara. Kedua kaki dan tangannya terulur ke samping, matanya menatap langit yang terhampar luas. Maira meraih salah satu kaki Rafa, memijatnya lembut.
“Ayah sibuk menangkap penjahat, Mama sibuk benerin gigi kakak-kakak yang bolong. Rafa senang banget karena hari ini bisa main bola sama Uncle Bara, sama Miss Maira.” ucap Rafa sambil mengerjap dengan polosnya. Baik Bara dan Maira, keduanya terdiam. Bara menunduk, menatap Rafa yang masih betah melihat langit sambil sesekali mengerjap, mungkin karena sedikit silau. Ada sesuatu dalam nada polos Rafa yang membuatnya tercekat. Maira juga, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia menatap Rafa dengan pandangan lembut – antara iba dan kagum pada kepolosan anak kecil itu.
“Rafa anak yang hebat.” ucap Bara mengusap puncak kepala Rafa.
Rafa menoleh, tersenyum lebar, seolah tidak menyadari kesedihan yang sempat melintas di mata dua orang dewasa ini.
Tak terasa langit di atas sudah mulai menguning. Suara anak-anak lain yang masih bermain pelan-pelan mereda. Rafa berdiri, lalu menarik tangan Bara dan Maira bersamaan.
“Ayo pulang, Uncle, Miss.” ajak Rafa polos.
Bara dan Maira saling tatap sejenak – ada keraguan kecil di sana, tapi Rafa sudah dulu menarik lagi keduanya. Bara dan Maira hanya bisa menuruti langkah kecil itu, membiarkan Rafa berada di tengah-tengah mereka, layaknya keluarga kecil.
Di sepanjang jalan, Bara sesekali melirik ke sisi kiri, tempat di mana Maira berjalan. Seragam guru yang sedikit kebesaran yang dikenakan Maira membuatnya tampak berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu di supermarket.
“Bola dari Uncle tadi kenceng banget.” ucap Rafa dengan binar mata yang tidak redup.
“Makanya, Miss tadi enggak ikut, takut.” sahut Maira supaya suasana tidak terlalu canggung.
“Don’t be afraid Miss. Nanti Rafa yang lindungin Miss, tadi tendangan Rafa kenceng juga. Ya kan, Uncle?” Rafa kini beralih ke Bara.
“Karena Uncle bisanya cuma masak di dapur, Rafa. Enggak bisa main bola.” Rafa dan Maira pun tertawa mendengarnya.
Mereka bertiga berjalan beriringan dengan tawa bahagia. Ditambah Rafa yang sesekali menggoyang-goyangkan tangan Bara dan Maira. Sinar senja jatuh menyinari wajah ketiganya. Bara tidak menyangka, dia yang selalu kaku, bisa menjadi sedikit lunak hanya karena menemani seorang anak kecil bermain. Bara menatap Rafa, bibirnya sedikit tertarik ke atas. Sesaat kemudian Bara kembali menatap ke depan. Lalu tiba-tiba ada satu pertanyaan yang bergema di dalam hatinya,
“Apakah ini yang kuinginkan? Kenapa hatiku merasa aneh? Terlebih saat..” Bara menoleh ke kiri, menatap Maira, bersamaan dengan itu, Maira juga sedang menatap Bara.
“Aku menatapnya. Maira.”