9. Mencoba Professional.

1240 Words
Langit sore sudah full menguning. Jalanan semakin ramai karena sudah memasuki jam pulang kantor. Rafa yang tadinya berjalan di tengah-tengah Bara dan Maira, kini dalam gendongan Bara. Lelah katanya. Dan ketika mereka sudah hampir sampai di restoran Bara. “Itu, Ayah!” ucap Rafa dengan matanya yang berbinar sambil menunjuk ke arah Ayahnya – Rendy – yang sudah menunggu sambil menyandar di pintu mobil jeep-nya. Rafa langsung merosot perlahan dari gendongan Bara, Bara akhirnya sedikit menurunkan tubuhnya untuk memudahkan Rafa memijakkan kaki ke tanah. “Ayaaah!” Rafa berlari merentangkan kedua tangannya. Rendy yang menyadari kedatangan anak laki-lakinya itu langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya juga. “Hello, My boy.. Hap.” Rafa langsung memeluk Ayahnya dan langsung diangkat ke udara oleh Rendy. “Rafa hari ini main bola sama Uncle dan Miss Maira, Ayah. I’m so happy today.” ucap Rafa dengan sorot mata yang penuh kebahagiaan. “Oh, ya? Uncle bisa main bola, kah?” tanya Rendy yang tak kalah antusias. “Bisa. Tapi tetap Rafa yang menang. Horeeee.” “Horeeee. Anak Ayah memang hebat. I’m so proud of you, Capt.” Bara dan Maira kini berada di hadapan Rendy dan Rafa. Rendy menatap Bara dan Maira bergantian. “Terima kasih untuk hari ini. Maaf aku selalu ngerepotin kalian.” ucap Rendy sedikit merasa sungkan. “Santai. Untung ada Maira, kalau enggak, aku juga bakal ikutan nangis kayak Rafa.” Baik Bara, Rendy, dan Bara semua tertawa. “Sama-sama, Pak Rendy. Enggak ngerepotin sama sekali. Toh Rafa juga nurut anaknya.” balas Maira. “Ayo Ayah, kita pulang. Aku capek. Pengen berendam sama McQueen.” ujar Rafa sesekali mengucek matanya. “Oke. Say thank you dulu sama Uncle dan Miss Maira.” “Uncle, Miss Maira, thank you for today. God bless you all.” “Sama-sama, Rafa.” balas Maira. Sedangkan Bara hanya mengacungkan kedua ibu jarinya sambil tersenyum dan mengangguk. “Aku pamit dulu, ya. Oh, iya, tas Rafa sudah aku ambil tadi.” “Sip.” balas Bara. Rendy kemudian membukakan pintu untuk Rafa di kursi belakang, mendudukannya ke atas carseat, dan menyusul duduk di belakang kemudi. “Saya juga pamit dulu, Chef.” ucap Maira kepada Bara. “Em, tunggu.” ujar Bara menahan langkah Maira sejenak. “Ya?” tanya Maira. “Kamu.. enggak masuk shift kafe?” tanya Bara. “Saya lima hari kerja dan dua hari libur, Chef. Dan hari ini kebetulan jadwal libur saya.” “Ooh..” “Kenapa?” “Enggak apa-apa. Sekadar bertanya.” jawab Bara singkat. “Baiklah kalau gitu. Saya.. pamit dulu.” pamit Maira sambil sedikit membungkuk. “Hati-hati.” pesan Bara, dan Maira hanya membalas dengan senyuman. Maira kemudian melangkah dan berlalu dari hadapan Bara. Bara menatap punggung Maira yang kian lama kian menjauh. Ada perasaan aneh yang muncul kala gadis itu pergi. Seperti rasa tidak rela. Bara menggelengkan kepala, buru-buru menghalau pikirannya yang dia khawatirkan akan kebablasan. Ketika Bara masuk ke dapur, Melisa – Business Development Manager – di restoran Bara, menghampiri Bara dengan wajah sumringah sambil membawa map berwarna biru tua. Di mana map yang berwarna biru tua biasanya berisi kontrak kerja sama yang berskala besar. “Bar. Gue ada berita bagus buat, lo.” “Apaan?” tanya Bara mengernyitkan dahinya. “Ini maksudnya apa, Mel?!” tanya Bara dengan suara sedikit meninggi. Map yang tadi di bawa Melisa di letakkan lagi oleh Bara dengan sedikit kasar. Melisa terdiam beberapa detik. Tidak menyangka reaksi Bara berbanding terbalik dengan apa yang dia kira. “I-ni, proyek kerja sama Bar.” “Sama siapa!?” “Agensinya Safira. Safira Arman. Artis yang lagi naik daun itu, lho. Lo enggak tahu siapa dia? Mereka minta restoran kita yang handle seluruh konsumsi pas launching film barunya.” jawab Melisa mengambil lagi map-nya. Senyum kecil muncul di wajahnya. “Ini kesempatan bagus banget, Bar. Publikasi nasional, exposure gila-gilaan. Kalau ini jalan dan berhasil, nama resto lo makin melejit.” tambah Melisa. Bara menatap Melisa tajam tapi tetap berusaha tenang meskipun nafasnya sedikit memburu. “Dan lo terima? udah ACC juga?” “Ya iyalah.” jawab Melisa nagak ngegas, nada yang penuh dengan keyakinan. “Apalagi yang perlu dipikirin? Ini symbiosis mutualisme, Bar. Mereka butuh kualitas, kita butuh exposure. Win-win.” Bara berdiri dari posisi duduknya, tangannya sejenak memijit pelipis. Bara diam tapi napasnya berat. “Kenapa enggak diskusi dulu sama gue?” Melisa mengangkat kedua alisnya, sedikit defensive. “Ya, karena gue pikir lo bakal setuju. Lo biasanyakan enggak ribet soal kerja sama yang jelas-jelas menguntungkan. Eh.. tapi, kok lo kayak enggak suka gitu, sih?” Bara berjalan pelan ke arah jendela. “Kemarin orangnya udah ngomong langsung ke gue. Tapi gue tolak.” ujar Bara. “Hah?! Serisu lo?” Melisa tidak percaya. Tapi memang benar, kan? Safira sudah berusaha membujuk Bara, tapi Bara tetap tidak mau. Safira cerdas, tidak kehilangan akal. Akhirnya Safira menyuruh salah seorang dari agensinya untuk menemui orang kepercayaan Bara secara langsung tanpa diketahui Bara. Melisa, yang tidak tahu kalau sebenarnya Bara dan Safira mempunyai hubungan pernikahan di dunia nyata, menganggap ini adalah kesempatan emas dan peluang besar untuk semakin menaikkan nama restoran di skala nasional. Bekerja sama dengan Safira Arman, artis yang sedang naik daun, siapa yang tidak mau? sudah pasti akan memberikan dampak positif yang besar untuk ke depannya. “Ini project besar, Bara. Agensinya Safira, bahkan Safiranya sendiri yang datang ke kita, bukan lo atau gue yang nyari.” hening sejenak, “Lo enggak suka sama Safira, ya? sampe segini banget reaksinya.” Bara berbalik perlahan, menatap mata Melisa, tatapannya dalam tapi dingin. “Bukan soal suka atau enggak suka, Mel. Cuma..” Bara menggantungkan perkataannya. “Udahlah. Nevermid.” lanjutnya setengah frustasi. “Gue salah ya, Bar?” Melisa bertanya dengan nada pelan. “Enggak.” jawab Bara menggeleng. “Gue aja yang.. mungkin belum siap.” Helaan napas Bara berat, suaranya datar tapi tetap lembut. Hening sejenak, Melisa menatap Bara, mencoba memahami, tapi memilih tidak bertanya lebih jauh. “Gue.. ngerti. Tapi kontraknya udah dikirim balik, Bar. Mau gue batalin?” “Enggak usah. Eksekusi aja kayak biasanya. Udah terlanjur.” “Oke. Lo.. oke, kan?” “Anggap aja kayak gitu.” Bara tersenyum tipis, tapi matanya kosong. Melisa diam. Setelah beberapa detik, ia keluar dari ruangan, meninggalkan Bara sendirian dengan pikirannya. Bara bersandar ke kursinya, menatap map di meja – yang berisi salinan kontrak kerja sama dengan agensi Safira – nama Safira masih tertera jelas di sana, seakan sengaja menantang. Bara mengusap wajahnya pelan, jemarinya menekan pelipis, mencoba meredakan sesuatu yang mengganjal di dadanya. “Kenapa..?” gumamnya lirih. Udara di ruangan terasa berat. Setiap kali nama Safira terdengar, ada bagian dari dirinya yang menegang – antara ingin acuh, tapi juga tidak benar-benar bisa. Bara menatap jendela, menatap bayangan dirinya. Bara tertawa kecil, getir. Lalu membuka map itu sekali lagi. Nama Safira terpampang di bawah logo agensinya. “Kamu menang lagi, Fir," bisik Bara pelan. “Tanpa harus ngapa-ngapain.” Restoran besar. Tim hebat. Karier yang terus naik. Semua hal yang dulu Bara impikan. Tapi tetap saja, ada ruang kosong yang tidak bisa ia isi. Bara kembali menghela napas panjang, berusaha menegakkan bahu. Menelan perasaan yang belum sempat ia benahi. “Professional, Bara.” katanya pelan pada diri sendiri. Bara kemudian mengambil ponsel dari saku celananya. Bara mengetik pesan, “Aku ingin bicara, Safira..” Setelah mengetikkan pesan itu dan mengirimnya, Bara kemudian mengambil langkah keluar dari ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD