“Hai Papa,” “Kenapa berekspresi begitu? bukankah seharusnya anda menjabat tangannya?” aku berkata sejurus dengan ekspresi yang dikeluarkan Dira dihadapanku. Teramat takjub dan tidak mengira bahwa aku mungkin berani berbuat seperti ini. kemudian pria itu melangkah lebih dulu. membuatku tertinggal dan kini hanya mampu melihat adegan ini didepan mata dengan penuh minat. Adegan yang juga mengandung sedikit banyak kepedihan yang ada, aku bahkan merasa bahwa air mataku terasa sedemikian mencekik tenggorokanku sendiri. Aku tidak percaya bahwa aku telah memiliki andil besar memisahkan kedua orang itu begitu lama. But I needed to. Dira wanted to. Dira menatapku sekali lagi dengan ekspresi yang diliputi oleh kebingungan. Sebelum kemudian menatap kembali kearah Gillian. Mengulurkan tangannya ya

