“Aku sudah selesai,” entah mengapa aku berkata demikian. Seperti itu adalah hal yang biasa. Seperti aku harus melakukannya. Dan bagai sebuah adegan slow motion. Kedua pria itu menoleh kearahku. Aku hampir dibuat tertawa melihat perbedaan reaksi dari dua orang yang memiliki wajah yang hampir serupa itu. Yang lebih muda menatapku dengan penuh kegembiraan dan juga kekaguman penuh. Dia bahkan berlari ceria kearahku dengan semangat membara, ceria, dan bahkan sampai memelukku erat-erat serta mencium pipiku. Ini seperti sebuah serangan mendadak yang diarahkan terhadapku. Dia adalah putraku. Seorang anak laki-laki kecil yang menawan dengan caranya. Dan yang membuatku tercengang karena ini seperti sebuah anugerah dan keajaiban dari langit yang memberiku kepercayaan untuk memiliki anak selucu in

