Dennis mengacak rambutnya sendiri dengan tangan kirinya yang bebas. Dia melirik kearah tangan kanannya yang entah sudah keberapa kali dia usahakan bebas selalu berakhir sama. Tergenggam erat. Si empunya masih terus berupaya menggiringnya atau lebih tepatnya berupaya untuk menyeretnya kemanapun sesuka hati. Setengah menculiknya padahal dia sudah berupaya sebisa mungkin untuk melepaskan pegangannya. Tapi yang terjadi terakhir kali adalah perempuan itu menangis. Salahkan pada sikap ketidaktegaannya. Sehingga pada akhirnya dia malih jadi makin terbebani seperti sekarang. “Hei…” “…” Perempuan itu tidak merespon, atau barangkali memang sengaja bertingkah begitu agar terlihat semakin membuatnya kebingungan dalam situasi sekarang. “Kau mau bawa aku kemana? Kenapa kau melibatkanku dalam sesuat

