“Apa maksudmu Reca? Bisa-bisanya kau berkata begitu?” Kali ini Adelia bahkan bereaksi lebih dengan menyentak tanganku. Sesungguhnya aku hanya mengemukakan kegelisahanku saja. Tidak lebih dari itu. Dia hanya bertanya, barangkali sahabatnya merasakan jenis perasaan yang sama dengan miliknya. “Aku hanya mengatakan apa yang mengisi kegelisahanku saja,” Adelia menghela napas pelan, dia sepertinya sedikit lelah untuk mengerti dan berempati untuk saat ini. “Apa gara-gara perempuan itu?” “Entahlah… bagaimana bisa aku menyalahkannya kalau toh, jelas-jelas suamiku juga menyukainya. Yang salah adalah aku yang tiba-tiba hadir diantara keduanya. Akulah pihak ketiganya, tapi aku malah bersikap sebaliknya dan mencari pembenaran atas itu.” “Reca…” sekali lagi kedua mataku terasa pedas. Berkaca-kaca

