"Mau jadi pacarku?" Aku mengerjapkan kedua mata tak percaya. "Maksudnya?" Arya tersenyum. "Kenapa harus kaget seperti itu? Apa selama ini, cuma aku yang menyukaimu?" Aku berpaling dari tatapnya. "Bukan begitu, tapi ...." "Kamu mau?" Aku bergeming. "Dinda." "Kakak enggak lagi ngerjain aku, 'kan?" Kutatap lagi wajahnya. "Apa aku kelihatan lagi bercanda?" Arya tersenyum kecil. "Ya, enggak apa kalau kamu enggak mau. Aku cuma menyampaikan apa yang aku pendam selama beberapa bulan ini." Arya berdiri. Sepertinya dia kecewa karena tidak mendapat respon dariku. "Aku pulang kalau gitu," ujarnya. "Kak," panggilku, ketika dia hampir menyentuh handel pintu. Arya menoleh. Aku memberi sebuah anggukkan. Arya menggerakkan kepala, seperti sebuah isyarat 'apa?'. "Aku mau ... jadi pacar Kakak. Tap

