Leona menanti ekspresi seperti apa yang akan Shin keluarkan, pria itu tengah mengecek salah satu dokumen yang telah ditanda tangani. Leona terpaksa menggunakan tanda tangan miliknya, setelahnya ia meminta Shin mengecek dokumennya. Shin mengembalikan dokumen yang telah dicek nya pada Leona, ia tersenyum tipis. “Tidak ada yang salah, menurut saya dokumen itu juga harus diberi tanda tangan. Anda melakukannya dengan baik, jangan ragu,” ujarnya membuat Leona senang. “Boleh aku bersantai sebentar?” tanya Leona dibalas anggukan Shin, “Tentu.”
Leona menyandarkan tubuhnya yang terasa kaku di sandaran kursi, matanya menjelajahi sekitar ruangan. Sebuah coffee maker yang terletak di samping meja, menarik perhatiannya. “Boleh aku buat kopi?” Leona kembali bertanya membuat Shin yang tengah bekerja menoleh padanya. Ia berdiri membuat Leona mengernyit heran, “Kau mau kemana?”
“Membuat kopi untuk Anda,” jawabnya sambil mengambil toples berisi biji kopi dari lemari. Leona berdiri kemudian berjalan cepat ke arahnya, “Perhatikan ucapanku.” “Aku akan membuat kopi sendiri, kau duduklah dan lanjutkan pekerjaanmu,” ucap Leona sambil mengambil toples dari tangan Shin. Ia mulai memasukkan biji kopi tersebut ke dalam mesin pembuat kopi. Tak berapa lama kopi buatannya selesai di buat, ia membawa dua cangkir kopi yang telah ia buat. Kemudian menyerahkannya satu untuk Shin, pria itu menghentikan aktivitas mengecek dokumennya dan menatap Leona.
“Aku tidak suka kopi,” ujarnya membuat Leona terdiam. “Ah, maksudku apa kopinya terlihat enak? Aku sengaja membuat dua kopi, karena aku sedikit mengantuk,” ucap Leona gugup. Shin tertawa kecil, “Saya kira Anda lupa jika saya tidak menyukai kopi.” Leona ikut tertawa kecil, “Tentu saja tidak.”
“Baiklah, lanjutkan pekerjaanmu. Aku kembali ke meja.”
Leona kembali mengecek dokumen yang telah ia tanda tangani, setelah memastikan tidak ada yang salah. Ia memutuskan untuk melihat-lihat isi dari ponsel milik Leona Lee, ia penasaran dan mungkin ada setitik jawaban di sana. Hal pertama yang ia lihat adalah galeri, tapi galeri kosong tanpa ada satu pun foto. Leona mendengus, ia kemudian beralih mengecek ikon pesan. Ia penasaran seperti apa percakapan orang seperti Leona Lee.
Leona terkekeh geli melihat isi pesan pribadi di ponsel Leona Lee, rata-rata pesan adalah pesan dari rekan bisnis, Tuan Lee, dan Shin. Namun, tak ia jumpai pesan dari Darren. Hingga pesan terakhir pun, masih tidak ada. “Hubungan seperti apa yang ada di antara mereka sebenarnya?” gumamnya. Shin menoleh saat dirasa mendengar suara Leona, “Anda bicara sesuatu?” Leona menghentikan fokusnya pada ponsel, kemudian menoleh pada Shin. “Tidak ada, aku hanya bergumam. Apa semua pekerjaan sudah selesai? Maksudku, apa tidak ada yang harus kulakukan lagi?” tanyanya. Shin mengembalikan pandangannya pada meja, ia mengecek kertas-kertas yang berada di sana. “Sepertinya yang ada di sini sudah semua, sebaiknya Anda pergi menemui Mr. Darren. Beliau tau lebih jelasnya,” jelas Shin. Leona menghembuskan napas kasar, “Baiklah. Kau temani aku ke sana.”
Shin mengangguk, ia membereskan kertas-kertas berkas yang berantakan di mejanya kemudian membereskannya. Keduanya berjalan menuju ruangan Darren, tetapi langkah mereka terhenti saat suara seseorang memanggil Leona. Leona mengernyit mencoba mengingat siapa gerangan pria yang kini berdiri di depannya, ah ia ingat, pria itu adalah Pria yang ada di kediaman Darren malam tadi. Pria yang entah sejak kapan masuk dalam daftar orang yang harus ia hindari, pria yang menatapnya intens.
“Hai! Tak ku sangka kau sudah mulai bekerja di sini. Selamat,” Leona tau ucapan selamat yang pria itu ucapkan tidaklah tulus, pria itu memberikan nada sarkasme yang terdengar jelas. “Hm, terima kasih. Tapi kau tidak perlu mengucapkannya, karena aku tidak butuh itu dari orang sepertimu,” balasnya dengan nada mengejek. Hei, ia tau pria itu bernama Jay Kim. Leona tidak tau apa hubungan di antara Darren dan Jay, akan tetapi ia tau seperti apa hubungan antara Jay dan Leona Lee. Seperti musuh, dilihat dari cara Leona Lee mengirim pesan pada beberapa orang termasuk Jay. Ia dapat menyimpulkan jika Jay adalah musuh Leona Lee, Pria yang harus ia hindari karena pemikirannya yang licik.
Sekilas Leona dapat melihat raut wajah terkejut Jay, mungkin dia tak menyangka jika Leona Lee dapat mengatakan hal itu. “Ah, aku terkejut kau mengatakan itu. Memangnya orang seperti apa aku?” tanya Jay walau Leona tau itu bukanlah pertanyaan. “Kau yang lebih tau seperti apa kau. Aku permisi,” balas Leona hendak melangkah pergi, tapi suara Jay menghentikannya. “Setelah ini kita akan lebih sering bertemu, ku harap kau betah berada di sini,” ujar Jay tanpa menoleh. “Ah, satu lagi. Jangan terlalu dekat dengan sekretarismu, atau mungkin kekasihmu. Kasihan sekali kakakku tersayang,” lanjutnya kemudian berlalu pergi.
Leona mengernyit. Kakak? batinnya bingung. Leona melirik pada Shin yang berada di sampingnya, terlihat Pria itu tengah menunduk. “Shin, kau bisa kembali ke ruangan. Aku akan masuk sendiri,” ujarnya membuat Shin mendongak dan menatapnya. “Apa tak perlu saya temani?” tanya Shin memastikan, Leona menggeleng. “Tidak perlu, aku pergi.” Setelah mengucapkan itu, Leona pun memasuki ruangan Darren. Darren menoleh padanya saat dirasa pintu ruangan terbuka, tetapi pria itu kembali sibuk dengan Laptopnya. Leona mendengus mendengarnya, ia berjalan menghampiri Darren kemudian duduk di kursi tepat di berhadapan dengan Darren yang hanya terpisah dengan meja. “Jangan mengganggu,” ujar Darren tegas. “Aku tidak mengganggu, apa tidak ada yang harus kulakukan lagi?” tanya Leona. Darren menghentikan kerjanya, ia menatap Leona dengan datar. “Tidak. Ah ya, Tuan Lee memintaku untuk menjadikanmu Sekretarisku. Mulai besok.” Leona mengernyit bingung, “Kenapa aku?”
“Jangan salahkan aku, tanyakan padanya langsung. Maaf membuatmu kecewa, tapi Kekasihmu itu akan bekerja di bawah Tuan Kim,” ujar Darren. Leona baru akan bicara kembali, sebelum suara panggilan dari ponselnya menginterupsi.
Ayah. Itulah nama yang tertera dilayar ponselnya, Leona menghembuskan napas pelan sebelum mengangkat panggilan itu.
“Jam makan siang di Restoran seperti biasa, temui aku. Jangan terlambat!”
Belum sempat Leona menjawab, sambungan telepon diputus secara sepihak oleh orang yang dipanggil Leona Lee, Ayah. Leona mengernyit tak suka, apa seperti itu sifat dari seorang ayah pada putrinya. Leona semakin pusing saja, mau tidak mau ia harus terus berlakon seperti Leona Lee sampai ia dapat menemukan jawabannya. Leona menatap jam tangan emas yang dikenakan di pergelangan tangan kanannya, sudah pukul 11 siang. “Kau bisa pergi sekarang. Tetapi sebaiknya kau pergi sendiri, karena jika Tuan Lee tau kau dengan kekasihmu. Mungkin dia akan memenggal kepalamu,” ujar Darren membuat Leona tersentak. “Kenapa kau selalu menyebut Shin adalah kekasihku?” tanya Leona dengan nada kesal. “Kau sendiri yang mendeklarasikan itu, dengan tanpa tau malunya. Menjijikkan,” jawab Darren.
“Baiklah, cukup sampai di sini. Mulai sekarang jangan pernah libatkan antara pekerjaan dan masalah pribadi,” kata Leona dengan kesal. Darren menyeringai, ia berdiri dari kursi kerjanya kemudian memutari meja dan berhenti tepat di sampingnya. Pria itu merendahkan tubuhnya kemudian meletakkan kedua tangannya di masing-masing pinggiran kursi yang Leona duduki, Leona menahan napas dibuatnya. “Aku yang seharusnya katakan itu, kau melanggar ucapanmu sendiri. Perlu kau tau, aku paling tidak suka orang yang bermain-main sepertimu.” Darren berbicara dengan nada rendah, pria itu lurus menatapnya tepat ke mata. Leona meneguk ludahnya kasar, ia takut lebih tepatnya ia gugup. “Ada yang berbeda denganmu, dan aku suka itu,” ujar Darren lagi kemudian berjalan menuju pintu, membukanya dan pergi dari sana. Meninggalkan Leona dalam keadaan bingung, “Kenapa dia melakukan ini padaku?”
Berbeda? Apa Darren curiga ia bukanlah Leona Lee. Tapi jika seperti itu kenapa pria itu masih diam dan tak juga memukulnya, apa mungkin Darren yang membawanya ke dunia ini. Leona menggeleng beberapa kali, ia berdiri sambil mengambil tas jinjing nya dan berlalu dari sana. Lebih baik ia pergi menuju Restoran tempat pertemuan Leona Lee dan ayahnya, beruntung ada pesan singkat antara Leona Lee dan Tuan Lee yang menyebutkan restoran yang dimaksud. Ia terpaksa menaiki taksi untuk ke sana, ia tidak bisa mengendarai mobil meskipun banyak sekali mobil yang disediakan untuknya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, ia tiba di restoran yang dimaksud. Restoran yang dimaksud adalah sebuah restoran tradisional yang terlihat mewah, Leona memasuki restoran sambil disambut oleh beberapa pelayan di sana yang sepertinya sudah mengenali Leona Lee. Akhirnya Ia menjumpai Tuan Lee, tetapi ia tak sendiri dan tengah mengobrol dengan Darren Kim. Leona menghentikan langkahnya, dalam benaknya bertanya bagaimana pria itu sudah berada di sini. Ia kembali melanjutkan langkahnya sampai kedua pria itu menyadarinya dan menoleh, Leona membungkukkan badannya sebentar memberi salam. Kemudian duduk di kursi kosong, tepat di antara Darren dan Tuan Lee.
“Kita akan makan dulu, setelah itu aku akan berbicara,” ujar Tuan Lee. Darren dan Leona mengangguk kemudian ketiganya mulai menyantap hidangan makan siang yang telah di siapkan, Leona meneliti ekspresi yang dikeluarkan pria yang harus ia panggil ayah di dunia ini. Sampai akhirnya makan siang pun usai dengan keheningan di sela suapan, Tuan Lee mengelap sudut bibirnya dengan serbet khusus makan yang telah disiapkan. “Kau pasti sudah dengar dari Darren, jika kau akan menjadi sekretarisnya mulai besok,” ucap Tuan Lee memulai percakapan. Leona mengangguk, ia tak boleh salah bicara jika tidak mau orang-orang mulai curiga. Tuan Lee mengangkat alis kirinya, “Kau tidak melawan?” Leona menatap bingung Tuan Lee. “Sepertinya ancaman ku sudah cukup membungkam mulutmu, baguslah. Media akan semakin sulit dikendalikan jika kau masih bersama sekretarismu itu,” ujar Tuan Lee.
Ah, jadi yang dimaksud adalah Shin. Sepertinya hubungan Leona Lee dan Shin, ditentang oleh Tuan Lee. Diam-diam Leona merasa kasihan, tapi ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengasihani orang lain di saat dirinya sendiri sedang membutuhkan pertolongan, pertolongan untuk keluar dari kehidupan di sini.
Darren mengernyit, ia menatap ayah mertuanya bingung. “Ancaman?” tanyanya. Tuan Lee balas menatap Darren, “Ya, Anak itu harus diberi sedikit kekerasan agar menurut padaku.”
Kini Darren beralih menatapnya, entah tatapan seperti apa Leona tidak tau. Namun, ucapan Tuan Lee berhasil membuat tubuhnya bergidik.
Kekerasan. Satu kata yang entah mengapa membuatnya merasa kasihan dengan nasib Leona Lee, apa mungkin Leona Lee mendapat penyiksaan dari Tuan Lee. Ayahnya sendiri.
~~
Malam telah tiba ketika Leona keluar dari ruangannya, ia dan Darren kembali sore tadi dan kembali ke kantor. Shin sudah ia suruh pulang terlebih dahulu, hal itu ia lakukan agar tidak bertambah masalah yang lain. Ruang kerja Darren terlihat masih menyala lampunya, itu artinya pria itu masih berada di sana. Leona menimbang apakah ia harus ke sana atau tidak, akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam. Di sofa terlihat Darren yang tengah berbaring dengan tangan kanan yang menutupi bagian matanya, pria itu sepertinya kelelahan. Leona berjalan menuju meja kemudian mulai membereskan kertas-kertas yang berantakan, setelah selesai ia berjalan menuju coffee maker yang juga ada di ruangan Darren. Ia akan menyeduh kopi untuknya dan Darren, bertepatan dengan kopi kedua yang berhasil dibuat. Darren terbangun dan menyenderkan tubuhnya di sofa, pria itu terlihat belum menyadarinya.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Darren terkejut. Leona berjalan menghampiri Darren dengan kedua cangkir berisi kopi buatannya di kedua tangan, ia mendudukkan dirinya di sofa samping Darren.
“Untukmu,” ujarnya sambil menyerahkan secangkir kopi untuk Darren. Darren bergeming kemudian mengambil kopi itu ragu, ia mulai menyeruput kopinya. Seketika rasa hangat memasuki tubuhnya, rasanya pas tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit, sesuai seleranya. “Kau menyukainya?” tanya Leona. “Ada apa?” Darren balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Leona. “Seharusnya kau menjawab pertanyaan dariku sebelum mengajukan pertanyaan,” ujar Leona kesal.
Hening beberapa saat. “Apa pria itu memukulmu?” tanya Darren. Leona menoleh padanya, ia diam tanpa berniat menjawab. Darren kini balas menatapnya, ia menghembuskan napas panjang sembari mengusap wajahnya kasar. “Sudah ku beritahu untuk menjauhi sekretarismu. Tapi kau tidak mendengarkan dan akhirnya Tuan Lee..” Darren tidak melanjutkan ucapannya. pria itu malah membawa tubuhnya ke dalam dekapan, Leona terkejut luar biasa. Tubuhnya menegang, apa yang harus ia lakukan.
“Jangan membuatku khawatir,” gumamnya lirih.