Bab 6 LK GROUP

2037 Words
Tubuh mungil yang berbaring di atas ranjang itu, terus membalikkan tubuhnya mencoba mencari posisi yang nyaman untuk mulai tidur. Namun, sudah dari dua jam yang lalu rasa kantuk belum juga menghampirinya. Leona menghembuskan napas kasar, matanya memandang langit-langit kamar yang dihiasi cat putih. Padahal tadi kedua matanya sudah mulai terpejam, ia kira akan langsung tertidur. Alasan mengapa ia tidak bisa tidur tentu saja memikirkan keadaannya saat ini, ada satu hal yang harus ia lakukan, yaitu menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. “Darren.. “ ia bergumam sambil memikirkan antara tokoh Darren dalam novel yang dibacanya dan Darren yang saat ini bersamanya. Leona masih tidak tau seperti apa Darren, bisa saja seperti dalam novel. Sekarang yang masih menjadi pertanyaan besar baginya adalah tentang tempat saat ini ia berada. Leona menghela napas saat menyadari orang-orang di sini menggunakan bahasa Korea untuk berbicara, pantas saja ia merasa ada yang mengganjal. Untung saja ia pernah belajar bahasa Korea sejak Junior High School bersama Irene, jika tidak bisa dipastikan ia sudah dicurigai sejak awal. Leona kembali mengingat jika novel My Sweet Romance yang dibacanya menggunakan bahasa Jepang, tetapi mengambil latar di Seoul. Kini satu pertanyaan telah terjawab, ia tinggal mencari jawaban lainnya dengan masih memerankan sosok Leona Lee. Lima belas menit berlalu, tetapi rasa kantuk masih belum ia rasakan. Leona menghela napas kasar, bagaimana ia bisa tidur sedangkan banyak sekali hal yang ia pikirkan. Leona turun dari ranjang kemudian mengedarkan pandangannya ke seisi kamar, terdapat sebuah ruangan yang membuatnya penasaran. Ia berjalan ke sana lalu dibukanya pintu yang sewarna dengan tembok, mulutnya menganga karena kagum. “Walk in closet?” ia bergumam sambil memasuki ruangan yang merupakan tempat menyimpan pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya. Semakin ia memasuki ruangan, semakin meningkat pula rasa kagumnya. Gaun-gaun indah yang berkilau, Perhiasan yang terbuat dari berlian dan emas, juga high heels dan tas-tas yang ia yakini mahal harganya. Leona menggeleng beberapa kali, ia harus segera keluar dari sini. Leona kembali mengitari kamar setelah keluar dari walk in closet, Leona memutuskan kembali ke ranjang. Tidak ada satu pun benda yang dapat menjadi petunjuk, bahkan brankas yang ia percaya ada di rumah seperti ini, tak ia temukan. Matanya memberat setelah pusing memikirkan jalan keluar dari masalahnya, hingga tak berapa ia pun tertidur. Tanpa menyadari pagi yang perlahan menyapa. Tidurnya terusik oleh suara lembut disertai elusan di kepalanya, Leona menggeliat kan tubuhnya mencoba menghiraukan hal itu. Namun, belum sempat ia terlelap kembali, suara seseorang yang sudah tak asing masuk ke pendengarannya. “Kau ternyata sangat pemalas,” ejek Darren yang sontak membuatnya terduduk dan terjaga dari tidurnya. Kepalanya menoleh ke arah pintu yang terbuka, dan di sanalah pria itu tengah menatapnya datar dengan kedua tangan yang menyilang di depan d**a bidangnya. “Selamat pagi! Maaf aku terlambat, aku tidak bisa tidur tadi,” ujar Leona canggung. Ana tersenyum memaklumi, sedangkan Darren tetap diam tak merespons ucapannya. “Bersiaplah! Hari ini kau pergi denganku, itu yang Ayah perintahkan,” ujar Darren. Leona menatapnya cepat, “Ti.. tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.” Darren menatapnya tajam, “Dengan apa? Jika kau lupa, mobilmu rusak. Jika kau memaksa dengan mobil lain, akan ku pastikan mobil lainnya pun ikut rusak.” Leona menggigit bibir bawahnya menahan kesal, kini sifat Darren yang lainnya muncul. Pemaksa. “Terserah kau saja, keluar sana! Aku akan bersiap!” ujarnya kesal kemudian berdiri dari ranjang dan berlalu menuju kamar mandi. Ana dengan segera membereskan ranjang Leona yang berantakan, sementara Darren mendengus sebelum akhirnya berlalu dari sana. Leona keluar dari kamar, setelah beberapa menit berdebat dengan Ana mengenai pakaian apa yang akan ia kenakan ke Perusahaan. Akhirnya ia kalah dan harus memakai pakaian kantor yang Ana pilih, kemeja merah dengan rok lipit hitam juga high heels hitam 5 cm yang terlihat runcing. Leona terus menarik roknya agar tidak terlalu menampakkan pahanya, rok yang dipilih Anak memiliki panjang selutut, lebih tepatnya 5 cm di atas lutut. Dengan setelan yang serba ketat, membuatnya tak nyaman. Ia berdandan seadanya, untung saja Irene sempat mengajarinya merias diri. Walaupun ia tak yakin, tetapi mau bagaimana lagi, saat ini ia sedang memerankan tokoh Leona Lee. Leona tiba di lorong yang terang, matanya menjelajahi sekitar lorong yang sepi. Rumah mewah ini begitu indah dengan d******i warna putih dan krem. Terlihat serasi dengan interior klasik modernnya, meski begitu sepertinya rumah besar ini hanya diisi oleh ia dan Darren juga beberapa Pelayan dan penjaga gerbang. Kini pertanyaan lain muncul di kepalanya, kenapa Leona Lee dan Darren tidak tidur seranjang sedangkan keduanya sudah menikah. Namun, pikiran itu hilang setelah ingatannya melayang pada novel. Bagaimana mungkin keduanya tidur bersama, sedangkan Darren dalam novel digambarkan sebagai sosok yang kejam. Leona lagi-lagi merutuki sifatnya yang bodoh, ia berjalan semakin cepat setelah menuruni tangga. Begitu memasuki area dapur, ia mulai mencium aroma sedap dari masakan para Pelayan. Ia tersenyum senang lalu duduk di kursi makan sambil menunggu sarapan siap, matanya memandang sekitar mencari keberadaan makhluk lain selain dirinya dan para pelayan. Tak berapa lama seseorang yang dicarinya muncul, dengan kemeja putih dan jas hitam yang tersampir di kursi makan. Darren duduk tepat di depannya dengan mata yang masih fokus terhadap handphone yang ada ditangannya, tak berapa lama sarapan telah siap dihidangkan. Leona memandang takjub makanan yang mengundang selera makannya, sementara Darren meletakkan ponselnya kemudian mulai menyuapkan potongan Sandwich ke dalam mulutnya, sambil mengunyah, ia menatap heran Leona yang tengah menyuapkan potongan daging ke dalam mulutnya. Ia mengernyit, “Sejak kapan kau suka makan daging di pagi hari?” tanyanya membuat wanita itu terbatuk karena terkejut. Leona segera meminum air putih di sampingnya hingga tandas, matanya berair dan memerah menahan rasa sakit di tenggorokan. “Aku bosan sarapan seperti biasa, lagi pula aku butuh tenaga untuk mulai bekerja,” jawab Leona. “Terserah. Pastikan saja kau tidak muntah di mobilku,” ujar Darren. Leona mendengus tak suka, “Jangan ucapkan itu saat berada di meja makan!” Darren mengangkat bahunya acuh. Sekitar dua puluh menit kemudian, keduanya telah menyelesaikan sarapan. Kini mereka tengah berada di dalam mobil sport milik Darren, Leona diam-diam memandang kagum kemewahan seorang Darren. Namun, kekagumannya hilang setelah lima menit kemudian, Pria itu menaikkan kecepatan mobilnya. Leona tersentak dibuatnya, ia segera mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman. Kedua matanya tertutup rapat, “Pelankan laju mobilmu!!” Darren mengerem mobil secara mendadak, hal itu membuat Leona yang tidak siap terantuk. Leona bersiap untuk menyemburkan kalimat pedasnya, tetapi ucapan Darren lebih dulu membungkamnya. "Sejak kapan kau menjadi banyak bicara?" tanya pria itu sambil menatapnya tajam. "Kenapa kau harus memusingkan hal itu?" Leona balik bertanya meskipun dalam hatinya gugup luar biasa. Kini giliran Darren yang terdiam, ia mendengus sebelum kembali mengendarai mobilnya. Diam-diam Leona menghembuskan napas lega, setidaknya untuk sekarang ia aman. "Pertanyaan yang aneh," gumamnya. "Lagi pula kenapa kau merepotkan hal seperti itu? Kau senang aku yang tidak banyak bicara?" Ah, seharusnya Leona diam saat ini juga, kan? Tapi entahlah, ia hanya ingin mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak penting itu. Darren tak merespons ucapannya, pria itu semakin mempercepat laju mobilnya membelah jalanan kota yang padat. Hingga akhirnya mobil berhenti, Leona membuka matanya sambil mengatur napas. Darren sudah keluar terlebih dahulu, Leona menggeram marah, ia dengan cepat keluar dari mobil. “Sifatnya buruk sekali pada wanita,” gerutu Leona begitu kaki berbalut high heels nya menginjak tanah. Leona memandang kagum bangunan megah yang merupakan Perusahaan itu. “Cepat! Kau bukan Tuan Putri yang harus aku sambut,” sentak Darren membuat Leona tersentak. Ia dengan cepat berjalan menyusul Darren, para karyawan yang berada dalam Perusahaan memandang mereka kemudian membungkuk memberi hormat. Leona sesekali membalas dengan senyum tipis sambil terus mengikuti Darren, pria itu bahkan acuh dengan sambutan karyawannya. Sifat kedua Darren muncul, Sombong. Mereka memasuki Lift yang dikhususkan untuk orang-orang penting Perusahaan, di dalam Lift hanya ada mereka berdua. Leona memandang punggung tegap Darren, dilihat dari belakang pun pria yang berdiri di depannya ini terlihat tampan. Leona mendengus, ya, ia mengakui jika Darren adalah pria yang tampan. Ting. Lift akhirnya berhenti lalu terbuka di lantai yang dituju, Leona masih setia mengikuti Darren. Ia memandang sekitar, seorang wanita cantik dengan pakaian seksi menyambut mereka saat Darren tiba di depan sebuah pintu. “Selamat pagi, Mr. Darren” sapanya yang hanya dibalas angin lalu. Leona tersenyum tipis saat wanita itu menatapnya, tetapi senyumnya pudar saat wanita itu menatapnya sinis. Ia kemudian menyeringai saat Darren mengacuhkan wanita itu, ia dengan cepat masuk ke dalam ruangan lalu menutup pintunya cepat. Leona kembali memperhatikan sekitar ruangan, sebuah lemari besar yang memperlihatkan buku-buku, sofa hitam yang terlihat mahal, sebuah meja kerja yang ada Darren di baliknya, dan sebuah ruangan yang ia tidak tau apa itu. Ruang kerja milik Darren ini terkesan elegan dan misterius, ia malas mengakui jika Darren memiliki selera yang tinggi. “Kemari!” perintah Darren membuatnya dengan cepat menghampiri Pria yang mulai sibuk dengan Laptopnya. “Eum.. apa yang harus kulakukan?” tanyanya begitu tiba di depan Pria itu. Darren menghentikan ketikannya pada keyboard, ia kemudian menatap Leona intens. “Aku rasa otakmu sedikit bergeser karena perjalanan jauh kemarin,” ledek pria itu membuat Leona kesal, ia hendak membantah sebelum Darren kembali berbicara. “Tuan Lee menyuruhku untuk membuatmu mengerti tentang cara kerja LK Group, karena selama ini kau hanya fokus untuk mengembangkan satu Perusahaan. Jika kau lupa, LK Group menggabungkan dua bidang,” jelas Darren membuat Leona terdiam. Astaga, dia lupa jika Leona Lee adalah seorang wanita karier. “Sekarang, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya bingung. “Tentu saja kau harus memperhatikan cara kerja LK Group, meskipun kau anak Tuan Lee, belum tentu kemampuanmu sama dengannya. Aku tau kau berpendidikan tinggi, tapi bukan berarti kau orang yang cerdas,” ujar Darren. “Kenapa masih di sini?” tanya Darren sambil menatapnya. “Masuk ke ruanganmu dan temui Kekasihmu, dia pasti dengan senang hati menjelaskan padamu,” lanjut Darren. Leona mengernyitkan keningnya tak mengerti, ia baru saja akan bertanya sebelum ponsel milik Leona Lee yang berada dalam genggamannya bergetar. Sebuah panggilan masuk dengan nama Shin, memenuhi layarnya. Leona menggeser tombol hijau, kemudian menempelkan ponsel ke telinganya sambil menunggu orang di seberang sana berbicara. “Nona, saya sudah berada di luar ruang kerja Mr. Darren.” Suara seorang pria terdengar. “Apa? Ah, maksudku, baiklah. Aku akan keluar sekarang,” balas Leona kemudian menutup panggilan tersebut. Ia berbalik hendak pergi, tetapi tidak jadi saat teringat sesuatu. “Kurasa kau perlu mengganti Sekretarismu, wanita itu tidak sopan dan memiliki attitude yang buruk,” ujarnya sebelum kembali berjalan. Darren memperhatikan Leona yang perlahan menghilang di balik pintu, tatapannya tajam dengan fokus lurus ke depan. Seorang pria dengan kemeja putih dan jas hitam, menyambutnya ketika pintu ruang kerja Darren terbuka. Pria yang sama tampannya dengan Darren, mungkin yang membedakannya hanya senyum tipis yang pria itu berikan untuknya. “Nona, ruangan Anda telah saya siapkan. Sesuai dengan apa yang Anda minta. Mari, saya antar,” ujarnya kemudian berjalan terlebih dahulu. Leona mengikuti langkah pria itu, keduanya tiba di sebuah ruangan yang nyatanya berdampingan dengan ruangan Darren. Begitu pintu terbuka, Leona menyipitkan matanya karena silau dengan cahaya dan desain ruangan itu. Perpaduan warna cokelat dan emas, membuatnya mengernyit tak suka. Kenapa Leona Lee memiliki kriteria yang menurutnya buruk seperti ini. “Saya sudah menyiapkan dokumen yang perlu Anda tanda tangani, tetapi sebelum itu, Anda dapat membaca berkas tentang LK Group. Semuanya sudah tersedia di meja, saya akan menunggu di meja samping sana.” Pria yang ia ketahui bernama Shin itu, menunjuk ke arah meja kerja di samping miliknya. Leona mengangguk mengerti, ia berjalan menuju meja yang kini menjadi meja kerjanya. Lalu mulai mengecek berkas-berkas yang dimaksud Shin, ia menggigit bibir bawahnya. Ia memang pernah belajar tentang Perusahaan, akan tetapi tidak sebesar ini. LK Group adalah Perusahaan yang bergerak di bidang pembangunan, dan otomotif. LK Group merupakan Perusahaan terkenal di antara para pebisnis, tak heran jika Kekayaan LK Group mencapai posisi pertama dalam urutan Perusahaan terkaya. Terlebih hasil yang di dapat LK Group, beberapa kali memenangkan penghargaan. Leona mendengus, betapa gilanya Perusahaan ini, dan kini ia akan menjadi bagian dalam perusahaan. Tatapan matanya beralih pada Shin, Pria itu sejak tadi sibuk dengan Laptopnya. Jadi, pria itu adalah Kekasih Leona Lee. Apakah Leona Lee dalam novel memang memiliki kekasih, entahlah. “Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya Shin membuat Leona terkejut. “Apa? Ah, maksudku tidak ada,” balas Leona. Shin mengangguk mengerti, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Leona mengecek dokumen yang kata Shin perlu ia tanda tangani, yang menjadi pertanyaan, seperti apa tanda tangan Leona Lee. Seketika rasa panik memenuhi dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD