“Leona?” panggilan itu membuat Leona yang tengah duduk melamun, tersentak dan tersadar. Makan malam telah usai sekitar dua puluh menit yang lalu, kini mereka tengah duduk santai di ruang keluarga. “Ya?” balasnya sambil menatap orang yang memanggilnya. Darren dan Tuan Kim atau ayah mertuanya, maksudnya ayah mertua Leona Lee, menatapnya dengan kening mengernyit heran. Mungkin hanya Alex Kim yang berekspresi seperti itu, karena Darren hanya terfokus pada layar televisi yang menayangkan siaran berita. “Sepertinya kau melamun, besok mulailah bekerja di LK Group bersama Darren. Sam menitipkanmu pada Darren, dia bilang ingin membuatmu lebih hebat. Aku tidak mengerti dengan pikiran ayahmu itu, untuk apa dia menyuruhmu menjadi wanita karier, sedangkan kau dan Darren telah menikah? Lagi pula jika Darren kelak menggantikan aku, kurasa kau sudah tidak perlu mengurus perusahaan. Mungkin kau bisa menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak kalian kelak, Apa kau setuju?” tanya Alex. Wanita karier? Ibu rumah tangga? Hei, apa dirinya tidak salah dengar. Ia bahkan tidak pernah memikirkan hari esok, untuk rencana masa depannya saja dirinya belum memikirkan sampai ke sana. Darren yang mendengar ucapan papanya mendengus, pria itu melirik tajam pada Alex. "Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" tantang Alex pada Darren. "Bukankah wajar jika kalian memikirkan masalah itu?" lagi, pertanyaan Alex membuat mereka bungkam. "Bukankah tidak baik mengurusi kehidupan rumah tangga orang lain?" Darren bertanya balik. Alex memutar bola matanya malas, "Orang lain yang kau maksud adalah anak dan menantuku. Aku sudah tua, perusahaan maupun bisnis bukan lagi urusanku. Aku hanya menginginkan cucu, satu.. ah tidak, tiga mungkin cukup."
Mendengar perdebatan alot antara anak dan ayah itu, entah mengapa membuat Leona pusing. Ia tanpa sadar memijat keningnya.
Darren mendengus, "Papa kira mudah mengurus anak itu?" Alex menggeleng. "Ya, mengurus anak itu bukanlah hal mudah. Kau memerlukan kesabaran ekstra, apalagi jika memiliki anak sepertimu." Darren memasang wajah datarnya. "Tetapi membuatnya mudah," lanjut Alex membuat suasana menjadi hening. Darren menghembuskan napas kasar, matanya bergulir hingga akhirnya berhenti pada Leona yang tengah menunduk dengan telapak tangan menyentuh kening. Alex mengikuti arah mata putranya.
Sementara itu, Leona terlalu fokus pada rasa pusing membuat ia tidak menyadari Alex dan Darren yang berhenti berdebat dan tengah menatapnya. "Leo, apa kau sakit?" tanya Alex khawatir. Leona tersentak, ia menoleh. Leona tertawa canggung, kemudian menggeleng.
“Tidak! Maksudku, aku baik-baik saja. Hanya saja kepalaku sedikit pusing,” jawab Leona gugup. Alex mengernyit bingung kemudian tersenyum tipis, “Istirahatlah. Kau pasti lelah karena perjalanan kemarin.” Kini Leona yang memasang raut wajah bingung, mulutnya terbuka hendak berkata, tetapi ia urungkan. “Oke, Selamat malam,” ujarnya lalu berdiri dan berlalu dari sana menuju kamarnya di lantai dua. Darren memandang punggung Leona yang perlahan menjauh dari pandangannya. Alex diam-diam memperhatikan bagaimana tatapan mata putranya yang tak lepas dari sang menantu, meski yang ia lihat hanya ekspresi wajah datar Darren, tetapi ia yakin jika Darren peduli pada Leon. Ia tersenyum tipis, meskipun Darren berkata kasar dan mengabaikannya. Namun, anaknya yang telah tumbuh menjadi pria dewasa itu, tetaplah putra kecilnya yang manis.
Setelah memastikan jika menantunya benar-benar pergi, Alex menoleh ke arah Darren dengan serius. “Darren, Papa ingin berbicara denganmu.” Alex menghela napas saat ucapannya tak mendapat respons. “Darren, Papa bicara padamu. Ini tentang perjanjian itu.” Akhirnya Darren menoleh padanya, ia tersenyum karena tau kartu as yang akan digunakannya pada Darren.
~~
Di dalam kamar, Leona tengah membaringkan dirinya diranjang putihnya. Pikirannya kini kalut oleh kehadiran ketiga pria tadi, ia menghela napas lelah sebelum ingatannya melayang pada ucapan Alex Kim tadi. Alex berkata jika Leona Lee lelah karena perjalanan kemarin, yang menjadi pertanyaannya perjalanan apakah itu. Satu-satunya orang yang mungkin dapat ia percaya adalah Ana, melihat dari percakapan antara dirinya dan Ana tadi pagi. Leona berdiri kemudian berjalan menuju pintu, ia membuka celah pintu untuk melihat keadaan di sekitar kamar. Setelah memastikan keadaan benar-benar sepi, ia keluar dari kamar kemudian menutup pintu dan berlalu dari sana dengan berjalan jinjit.
Ia menghela napas lega begitu tiba di dapur, dan beruntungnya ia karena Ana masih berada di sana seorang diri sedang mencuci piring. “Eum... Permisi,” panggilnya membuat Ana menoleh cepat padanya. “Ah, Nona. Ada yang bisa aku bantu?” tanyanya. “Tidak ada, aku hanya ingin bertanya. Kemarin aku pulang jam berapa?” Leona bertanya dengan hati-hati. Ana memasang pose berpikir sebelum kemudian menjawab, “Nona pergi kemarin pagi. Lalu pulang malam harinya, Nona langsung masuk ke kamar. Nona juga berpesan jika Nona ingin istirahat, bahkan saat keesokan paginya yaitu hari ini sampai sore tadi, Nona masih terlelap di kamar. Karena saya pikir Nona lelah, makanya saya tidak membangunkan Nona.” Penjelasan panjang dari Sana membuatnya terdiam, apa benar ia berada dalam dunia novel. Lalu benarkah ia bepergian kemarin.
“Nona? Anda baik-baik saja?” Ana bertanya dengan khawatir. Leona tersadar dalam lamunannya, ia menggeleng sambil tersenyum tipis. “Tidak, aku baik-baik saja. Sepertinya aku benar-benar kelelahan hingga tidak sadar jika aku tertidur begitu lama. Terima kasih... “
Ana tersenyum tipis, “Nona biasa memanggilku Ana. Sepertinya Nona benar-benar kelelahan, Istirahatlah kembali.” Leona mengangguk sambil tersenyum kaku, ia berbalik kemudian berjalan meninggalkan dapur. Disisi lain Ana memandangnya bingung, tetapi memilih acuh dan kembali pada kegiatan mencuci piringnya.
~~
Di dalam kamar Leona, terlihat ia tengah berjalan mondar-mandir di depan pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon dan menghadap belakang rumah. Ia gelisah dengan apa yang akan terjadi besok, Leona rasa ia butuh persiapan jika nanti ada yang bertanya. Karena itu kini ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan, sampai akhirnya satu hal terlintas di pikirannya. Dengan cepat ia berjalan menuju lemari kecil disudut ruangan, begitu sampai di tempat, ia langsung membuka satu persatu laci lemari yang berjumlah empat. Begitu menemukan apa yang ia cari, Leona segera mengambilnya kemudian membawanya ke ranjang. Album foto dengan sampul hitam dan aksara yang ditulis dengan tinta emas adalah benda yang dapat menjadi petunjuk, ia membuka satu persatu foto.
Belum sampai pada akhir album, Leona dibuat bingung dengan isi album yang isinya foto-foto Darren dan ayahnya. Juga ada beberapa foto keluarga Darren, tetapi tak ada satu pun foto Leona Lee atau orang-orang di sekitarnya. “Kenapa album foto Pria itu ada di sini? Apakah wanita itu bodoh?” tanyanya yang merujuk pada Leona Lee. "Sepertinya Leona Lee begitu menyukai Darren Kim," ucap Leona terkekeh geli.
“Aku butuh udara segar,” ucapnya sambil berjalan menuju pintu yang terhubung dengan balkon. Seketika angin malam yang dingin menyambutnya saat Leona membuka pintu dengan lebar, ia tersenyum senang. Ternyata ada untungnya juga ia berada di sini, selain bisa menikmati makanan enak, ia juga bisa merasakan tinggal di rumah yang tiga kali lipat lebih mewah dari kediamannya di dunia itu.
Leona menghirup udara banyak-banyak, tangannya memegang pagar pembatas balkon. “Segarnya!” serunya senang. Namun, ia kembali terdiam saat memikirkan bagaimana caranya ia berada di sini. Jika ini benar-benar dunia novel, apa penyebabnya hingga ia bisa sampai ke sini. Leona kembali mengingat-ingat kejadian saat ia masih dalam Apato Irene. Irene menyuruhnya ke pasar, saat menuju pasar ia terjatuh, belanja lalu pulang. Ah, jangan lupakan makanan gratis. Yang terakhir itu akan selalu ia ingat, karena ia sudah janji akan mengajak Irene makan gratis.
Kembali ke topik. “Tidak ada yang aneh,” gumamnya. Bola mata cokelat Leona membulat, satu jawaban mampir di kepalanya. “Benda itu... “ Leona kembali mengingat saat perjalanan menuju pasar. “.. aku ingat saat sebelum jatuh, aku melihat sesuatu yang berkilau mendekat.”
Leona mengacak-acak rambutnya kesal, “Ini membingungkan, aku tidak percaya ini. Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke dalam dunia novel? Astaga, jangan membuatku tertawa.” Leona menutup matanya mencoba menenangkan diri, lalu begitu matanya terbuka, ia disuguhkan dengan pemandangan seseorang yang sedang berenang di bawah sana dalam lampu yang temaram. Ia mengernyit sambil mencoba memperjelas pandangannya, siapa orang yang berenang di tengah malam seperti ini. Leona tersentak saat orang itu, menatapnya tajam tepat dimata. Jantungnya berdetak kencang, ia meletakkan telapak tangannya di d**a dan dapat ia rasakan dadanya yang bergemuruh karena terkejut. Leona dengan cepat memasuki kamarnya lalu mengunci pintu balkon, saat melihat Pria itu keluar dari kolam renang.
“Menyeramkan! Siapa orang bodoh yang berenang di tengah malam!”
“Aku..” sebuah suara pria muncul bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka. Terlihat Darren berdiri di ambang pintu dengan kimono handuknya, pria itu menatapnya datar. Leona tidak bisa menebak apa yang ada di balik wajah tampan itu, ya, ia mengakui jika Darren termasuk dalam pria yang tampan. Namun, satu hal yang ia pertanyakan. Bagaimana bisa Darren berada di kamarnya secepat ini? Dan yang lebih membuatnya bingung adalah bukankah Darren dan Alex masih berada di lantai satu dan tengah mengobrol bersama.
“O..oh, kau yang berenang.” Leona berkata dengan terbata-bata, terlebih ketika Darren berjalan mendekat padanya, membuat ia memundurkan tubuhnya. Leona menunduk saat Darren berada di hadapannya, pria itu menengok ke belakang tempat di mana tadi ia berdiri. “Kau melihatku dari sini, apa kau mengintip?” itu bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan yang diberikan Darren padanya.
“Apa?” Leona tertawa kecil seolah yang diucapkan Darren adalah hal yang lucu, “Untuk apa aku melakukan itu? Aku hanya sedang berpikir, lalu tanpa sengaja mataku melihat sesuatu di kolam renang. Mana aku tau itu dirimu,” lanjutnya kesal. Darren tidak menjawab, pria itu masih senantiasa menatapnya membuat ia dilanda kegugupan luar biasa.
Pergilah, pergilah... Leona berbicara dalam hatinya.
“Tenanglah, aku akan segera pergi,” ujar Darren membuatnya tersentak kaget. Leona berusaha memasang wajah normal. “Tapi sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu...” Darren menjeda ucapannya membuat Leona menanti apa yang akan Darren ucapkan selanjutnya, tetapi matanya membulat saat melihat tangan kekar Darren melayang. Dalam bayangannya ia teringat akan adegan dalam novel yang ia baca itu, Darren adalah pria yang kasar. Itu semua sudah dideskripsikan dalam novel yang ia baca, dan kini apakah Darren akan membuktikan sifatnya yang di novel.
Tubuh Leona kaku seketika, satu-satunya hal yang ia lakukan adalah memejamkan mata erat sambil menolehkan kepalanya ke samping.
1 detik
2 detik
3... 4... 5 detik ia menunggu tapi Leona tak merasakan rasa sakit. Apakah di dunia novel, ia tidak akan merasakan sakit.
Matanya terbuka secara perlahan, hal pertama yang ia lihat adalah wajah Darren yang begitu dekat dengan wajahnya. Ia menahan napas saat aroma tubuh Darren memenuhi indra penciumannya, aroma musk dan kayu menambahkan kesan maskulin pria itu. Leona menatap waswas pada Darren, pria itu terkekeh geli sebelum mendengus. “Kenapa kau menutup mata? Kau takut padaku?” tanya Darren dengan nada rendah. Leona mengernyit tidak suka, “Aku tidak takut. Aku hanya mengantisipasi, mungkin saja kau ingin memukulku.”
“Dua hal yang harus kau tau. Satu, aku tidak pernah memukul perempuan. Dua... “ Darren masih setia menatapnya, tangannya merambat kemudian berhenti tepat di pipi kanannya. Elusan lembut dari Darren, nyatanya tidak membuat ia merasa nyaman. “.. pipimu terlihat lebih besar dari yang ku tau,” usai mengatakan itu, Darren melepaskan tangannya kemudian berbalik hendak pergi. Leona terdiam dengan syok, “Hei! Berhenti!”
Darren menghentikan langkahnya tanpa berbalik, Leona dengan cepat berjalan dan berdiri di depannya. “Ada dua hal yang harus kau tau. Satu, jangan pernah mengatakan tentang mengejek bentuk tubuh wanita. Dua, jangan bertanya berapa banyak makanan yang ia makan. Apalagi jika dia istrimu,” ujar Leona tegas. Perkataan terakhir Leona membuat Darren terdiam, ia tidak tau ekspresi seperti apa yang diperlihatkan, tetapi ketika kesadarannya kembali pulih. Suasana hening tercipta, Leona ikut menatap Darren. Perempuan itu melihat Darren bingung, apa dirinya mengatakan hal yang salah. Darren larut dalam keindahan kedua mata Leona, bola mata coklat itu seolah menenggelamkannya dalam perasaan asing yang tidak ia mengerti. Ah, lihatlah bagaimana mata yang memancarkan tanya itu. Senyum tipis terbit di bibir merah kecokelatan nya, tetapi tepukan keras pada lengan kirinya membuat ia tersadar.
Darren memegang lengan kirinya, tak sakit memang tapi membuatnya kesal. Ia menatap tajam Leona yang tengah mengibaskan tangannya yang terasa kebas.
Astaga, terbuat dari apa lengannya? Kenapa begitu keras? Tanganku sampai kebas, batin Leona.
"Kenapa kau memukulku?" geram Darren. "Aku kira kau kerasukan, kau melamun dan tidak sadar-sadar saat aku bertanya. Lagi pula pukulan yang kuberikan tidak sakit, kan?" keluh Leona.
Darren memejamkan matanya, ia menghirup napas dalam sebelum menghembuskannya kembali. Tidak ada gunanya bicara lagi. "Besok pukul tujuh, jangan terlambat!" usai mengatakan itu, Darren berlalu pergi dari kamar Leona. Leona mendelik sebelum menutup pintu kamar, kemudian berjalan menuju ranjang. "Kuharap semua baik-baik saja," doanya sebelum matanya terpejam.