'Sudah aku peringatkan, Jangan dekat dengan Lelaki itu! Kau tuli?!’
'Apa? Kau menyuruhku seperti itu, sedangkan kau berselingkuh dengan sekretarismu di belakangku!’
Plak. Sebuah tamparan keras ia terima dari Suaminya, tubuhnya terjatuh karena tamparan itu. Suaminya berlalu tanpa mengucap sepatah kata pun, wanita itu terkekeh miris dengan kehidupannya. Suaminya berubah, dia tidak seperti ketika mereka pacaran. Yang selalu memperlakukannya dengan manis.
~~
Leona menekuk wajahnya kesal, tokoh pria yang ada dalam novel yang dibacanya, sungguh menjengkelkan. Kenapa pula pemeran utama wanitanya tidak bisa lebih tegas. Entah sebuah kebetulan atau apa, nama pemeran utama dalam novel yang salah dibelinya itu bernama Leona. Ia terkekeh geli, tapi sifat Leona Lee dalam novel berbeda dengan dirinya. Jika ia berada dalam posisi Leona Lee, ia akan dengan senang hati membalas tamparan itu. “Astaga, aku tak habis pikir,” keluhnya bertepatan dengan itu Irene berjalan menghampirinya. Ngomong-ngomong Leona sudah menetap di Apato Irene sejak dua Minggu yang lalu. “Ada apa? Kenapa kau terlihat kesal?” tanya Irene. Leona menyimpan novelnya di meja samping kursi, “Aku kesal dengan pemeran utama dalam novel ini.” Irene mengernyitkan keningnya bingung, “Novel apa memangnya?” Leona mengambil kembali novel yang sempat ia simpan kemudian memberikannya pada Irene, Irene menerimanya lalu mulai melihat-lihat novel itu. “My Sweet Romance?” Irene mengulang judul yang ada pada cover. Leona menangguk cepat, “Ya. Kau tau tidak, dalam novel tidak ada nama pengarang maupun tanggal terbit. Lalu yang lebih membuatku bingung, nama pemeran utama wanitanya adalah Leona Lee.”
Irene mengernyit heran, “Mungkin hanya kebetulan. Apa kau membelinya saat aku memergokimu bolos kuliah?” Leona mengembungkan pipinya kesal. “Aku tidak bolos,” elaknya. Irene terkekeh, “Ya, terserahlah. Sekarang..”
Irene memandang area sekitar kamarnya, pakaian bersih yang telah dicuci, berserakan di atas tatami (Lantai kayu). Diikuti buku-buku dan beberapa sampah makanan ringan, ia kembali menoleh pada Leona dengan tatapan malas. “... bereskan kamar ini segera, sebentar lagi makan malam tiba. Setelah itu pergilah ke pasar dan belilah bahan makanan,” lanjut Irene dengan berkacak pinggang.
Leona menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 4.00 p.m., ia kembali menatap Irene. “Tapi ini masih sore, lagi pula kenapa harus aku yang ke pasar? Kau tidak takut aku salah membeli bahan?” tanya Leona. Irene mendengus, “Karena itu aku telah menyiapkan kertas berisi list bahan masakan. Sekarang pergilah, tapi sebelum itu.. bereskan dulu semua kekacauan ini.” Leona berdiri kemudian menyimpan novelnya ke meja, “Baiklah. Nanti masakan aku yang enak, ya.”
“Tentu, sekarang cepat bereskan. Aku mandi dulu,” Irene berlalu menuju kamar mandi, Leona mengangguk sebelum mengambil kantung sampah kemudian mulai memungut beberapa sampah makanan bekas dirinya. "Astaga, aku ternyata begitu jorok. Pantas saja tidak ada Pria yang tertarik padaku," gumamnya.
Beberapa menit kemudian ia selesai dengan segala urusan di kamarnya, bahkan kini ia sudah memakai mantelnya bersiap untuk pergi belanja.
Suasana jalanan Kota Tokyo sore ini begitu sibuk, lagi ia tiba di Pasar. Dalam setiap langkah kakinya, ia melamunkan nasib ke depannya. Masih belum ada panggilan interview kerja, padahal ia sudah mengirim banyak lamaran langsung maupun online. Sekitar 6 Km lagi maka dirinya akan sampai di pasar, matanya memandang hamparan pohon sakura yang bermekaran. Musim semi di bulan April ini, memberikan warna dihidupnya yang kini seorang diri. Udara dingin di sore hari membuatnya mengeratkan mantel yang ia kenakan, meski saat ini musim semi, tetapi begitu sore tiba maka harus menyiapkan mantel.
Leona menyisir rambutnya ke belakang, lalu menatap langit yang terlihat indah dengan semburat jingga. Matanya menyipit kala melihat sesuatu yang berkilau mendekat padanya, keningnya berkerut heran benda apakah itu.
Bruk.
Tubuhnya segera oleng lalu terjatuh dengan b****g yang mencium tanah terlebih dahulu. “Aduh, sakitnya,” keluhnya sambil mengusap pinggangnya yang terasa kaku. “Seharusnya aku memperhatikan jalan...”
“... tapi benda apa itu?” Matanya memandang area sekitar, tapi tidak ada satu pun benda di tanah.
“Sudahlah, aku akan terlambat jika terus seperti ini.” Leona mencoba berdiri walau disertai ringis kesakitan, ia kembali berjalan dengan lebih hati-hati.
Akhirnya Leona tiba di pasar, dengan semangat membara, ia mulai memilah bahan-bahan yang Irene suruh beli. Butuh sekitar setengah jam sampai belanjaannya lengkap, “Akhirnya selesai juga.” Ia hendak melangkah pergi sebelum sebuah papan spanduk, menarik perhatiannya. Dengan rasa penasaran ia melangkah mendekati stand makanan itu. “Silakan, Takoyaki nya. Gratis untuk hari ini,” seorang perempuan muda berseru untuk menarik para pelanggan. Bola mata cokelat milik Leona membulat terkejut, “Benarkah gratis?” tanyanya memastikan yang dibalas anggukan perempuan penjaga stand. “Kalau begitu, tolong masakan satu untukku,” ujar Leona senang. “Baik, mohon tunggu sebentar.”
Tak berapa lama Takoyaki pun siap dihidangkan, “Selamat menikmati.” Leona mengangguk sambil tersenyum tipis, tangannya mengambil makanan berbentuk bola-bola kecil yang terbuat dari adonan tepung terigu diisi potongan gurita di dalamnya. Lalu memasukkannya ke dalam mulut, ia mulai mengunyah makanan itu. Sensasi rasa gurih dan asin dari adonan, bercampur dengan rasa manis saus beradu di dalam mulutnya. “Astaga enak sekali, apalagi jika gratis. Lain kali akan aku ajak Irene ke sini,” ujarnya sambil melanjutkan makannya. Lima belas menit berlalu untuk Leona melahap habis takoyaki, ia mengusap perutnya yang terasa penuh. “Jam berapa ini?” Leona mengecek jam tangannya yang menunjukkan pukul 5.15 p.m. “Aku terlambat! Semoga saja Irene tidak mengusirku,” ujarnya yang langsung berjalan cepat dengan dua kantung belanjaan. Di tengah perjalanan tubuhnya sempat oleng. “Astaga, aku mengantuk sekali, sepertinya aku terlalu banyak makan tadi. Ayo, cepat!” Leona mempercepat langkahnya, hingga tak berapa lama ia tiba di Apato Irene. Begitu pintu terbuka, ia disambut Irene yang sedang menonton televisi. Sedangkan ia memilih langsung ke kamar setelah menyimpan kantung belanjaan di dapur. “Sudah semua yang dibeli?” Irene bertanya yang balas anggukan Leona tanpa menoleh padanya.
Irene mengernyitkan keningnya, kemudian mematikan televisi dan berjalan menghampiri Leona.
Ia duduk disisi Leona yang bergelung dengan selimutnya, "Ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya mengantuk," jawab Leona tanpa membuka selimutnya.
"Kau tidak mau makan malam dulu? Atau mandi?"
Selimut bergerak saat Leona menggeleng, "Tidak, aku sudah sangat mengantuk."
“Oke, Istirahatlah. Aku ada urusan di luar, akan aku kunci pintunya.” Irene menghela napas kemudian berdiri dan berlalu dari sana. Ia menoleh ke arah Leona sebelum pintu tertutup, memastikan jika Leona baik-baik saja. Setelah memastikan semua aman, Irene keluar dari rumah, mengunci pintunya kemudian memberhentikan taksi. Setelah taksi yang ditumpangi Irene menjauh dari Apato, pintu kembali terbuka dan seseorang masuk ke dalam sana.
~~
Malam telah datang, selimut putih itu bergerak diikuti tubuhnya yang terduduk.
Leona menggaruk tengkuknya yang gatal, lalu menguap sambil mengusap wajahnya. Tangannya lalu menyentuh selimut yang menutupi tubuhnya, terasa lembut dan nyaman. Sama seperti selimut saat ia kecil, ia tersenyum lalu membaringkan tubuhnya lagi tanpa membuka mata.
Ah, nyaman dan wangi. Kasur ini terasa begitu lembut, wanginya bahkan menenangkannya. Tak seperti biasanya yang tak nyaman, bahkan aromanya begitu berbeda dari kemarin.
Perlahan kesadaran mulai menariknya ke dunia nyata sebelum sebuah suara mengusik indra pendengarnya.
Ia menggeliat mencoba kembali tertidur, tetapi usapan lembut di kepalanya membuat ia mau tak mau membuka kedua matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah seorang Wanita paruh baya yang berusia sekitar 40 tahunan.
Leona mengerutkan keningnya heran siapa Wanita di depannya ini.
"Nona Leona, sebentar lagi waktu makan malam. Saya ke sini karena tak mau jika Tuan Darren yang membangunkan Anda," ujarnya lembut.
Leona terdiam sejenak, nama itu terdengar tak asing ditelinganya. Seketika matanya membulat terkejut saat ingat siapa itu Darren.
"A.. Apa maksud Anda, Darren Kim?".
Wanita di depannya terlihat heran sebelum mengangguk, "Iya, Suami Anda."
"Apa?" otaknya seketika berhenti berpikir saat mendengar ucapan wanita itu.
Hening beberapa saat hingga suara teriakan Leona mengejutkan mereka yang ada di sana.
"Tidak!!"
Wanita berpakaian maid itu tersentak mendengar teriakannya, untung saja ia sempat menutup telinganya. “Nona, ada apa?” tanyanya khawatir. Leona terdiam, otaknya mendadak buntu. Sebuah sentuhan di pundak membuat Leona tersentak, “Ya, ada apa?”
“Saya bertanya, apa Nona baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja. Hanya terkejut akan sesuatu, apa kau bisa keluar kamar sebentar? Maaf."
Wanita itu tersenyum tipis sambil mengangguk, “Tentu Nona. Air hangat telah siap, jika Nona perlu bantuan, dua pelayan menunggu di depan pintu.”
Setelah memastikan pintu kamar benar-benar tertutup, Leona dengan cepat berlari menuju meja rias yang terpasang apik di samping ranjang putih besar. Matanya membulat terkejut ketika mendapati pakaian yang ia kenakan saat ke pasar, berbeda dan berganti dengan gaun tidur tipis. “Astaga, kepalaku,” Leona meringis sambil memegang pelipisnya. “Ayo ingat apa yang terjadi sepulang dari pasar,” gumamnya sembari berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun, tidak ada satu pun hal yang aneh. “Apakah aku masuk ke dalam dunia novel?” tanyanya pada diri sendiri.
“Darren Kim.. “ lirihnya
Pintu terbuka membuatnya terkejut, ia dengan cepat memeluk tubuhnya sendiri. Lalu melihat siapa gerangan yang datang, ia mengerutkan keningnya mendapati pria seusianya dengan wajah dingin dan pakaian rapi. “Ada apa?” tanya pria itu dengan nada rendah. “Ya..?” balas Leona bingung. “Kenapa memanggilku?” tanya 0ria itu mengulang. “Apa...?” Leona terdiam sambil mengolah ucapan pria itu, lalu sedetik kemudian ia terlonjak ke belakang karena terkejut. Jadi pria di depannya adalah Darren Kim? Si peran utama pria kejam yang berasal dari novel yang ia baca, tapi bagaimana bisa.. Ia tersadar saat Pria bernama Darren Kim itu menatapnya dengan menyelidik. “Ah, tidak apa-apa. Aku hanya tak sengaja memanggil namamu. Ngomong-ngomong ada apa kau kemari?” tanya Leona hati-hati, ia hanya takut salah bicara dan bisa-bisa pria itu memukulnya.
Darren tak menjawab dan terus memberikannya tatapan dingin, “Cepatlah! Papa menunggu,” ujar Darren kemudian berlalu pergi. Leona menghembuskan napas yang sempat ia tahan, pria itu memiliki energi yang kuat. Walau Darren hanya diam, tetapi matanya yang tajam seolah membuatnya kehabisan napas. “Papa? Siapa yang dia maksud? Lebih baik aku cuci muka saja dulu,” gumamnya sebelum memasuki kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Leona dibuat kagum oleh arsitektur kamar mandi yang elegan. Ia tertawa kecil, “Astaga. Seberapa kaya pria itu? Bahkan kamar mandinya pun terlihat mahal, lebih mahal dari rumahku dulu.”
~~
“Kenapa lama sekali?” pertanyaan itulah yang Darren ucapkan saat ia memasuki ruang makan, ada tiga orang pria dan salah satunya adalah Darren. “Eum, maaf,” ujarnya pelan.
“Sudahlah, tak apa. Duduklah, Nak,” ujar pria paruh baya yang memiliki wajah sedikit mirip dengan Darren. Leona mengangguk dan mulai duduk di sana tepat di samping Darren. “Ana! Siapkan makanannya,” ujar pria paruh baya yang mirip Darren itu. Ana, wanita pelayan yang tadi berada di kamar itu kini tengah berjalan dengan beberapa Maid di belakangnya yang sedang mendorong troli makan. Hidangan mewah kini tersaji di meja makan panjang yang terbuat dari kaca, Leona meneguk ludahnya kasar. Ia dapat merasakan seseorang tengah memperhatikannya, tapi ia yakin itu bukan Darren. “Baiklah, selamat makan,” ujar pria itu. Mereka mengangguk singkat tanpa mengucap sepatah kata pun, makan malam diisi dengan keheningan. Leona menelan makanannya dengan susah payah, kini ia tau siapa yang memperhatikannya sedari tadi. Dia adalah pria seusianya yang duduk berhadapan dengannya, ia kembali menunduk saat matanya tanpa sengaja bertubrukan dengan mata pria itu. Seringai tipis muncul di bibir pria itu, Leona bergidik ngeri memikirkannya.