BAB 7 Penamatan

1034 Words
" Kenapa bisa?",tanya bu Neli kepo "saya disuruh pak Rian ketemu karena mereka akan pulang besok Bu", jawab Ester yang mulai bete menjawab pertanyaan bu Neli. "Jangan terlalu banyak mengharap sama pak Rian. Lebih baik terima love Abram yang terang-terangan suka sama kamu", sambil bicara bu Neli berdiri dan mendekati tante Yudit membayar makanannya sambil keluar. Ester dan Erni saling memandang mencebikkan bibir mereka. "Tidak bosan-,bosannya nenek lampir itu kepo ya", Ester menggerutu sambil berdiri membayar ke tante Yudit, Ernipun menunggu Ester dan mereka kembali ke kelas. Di kelas ada wali kelas mereka yakni pak Silas, mereka memberi salam dan masuk duduk di tempat mereka. " Jadi saya ulang lagi apa yang saya sampaikan tadi ya, bahwa hari Sabtu minggu depan akan diadakan perpisahan dengan kelas dua belas mulai pukul sembilan pagi sampai selesai. Semua kelas dua belas diharapkan pakai baju adat dan berpoles secantik dan seganteng mungkin ya. Untuk konsumsi kalian kumpul uang tiga puluh ribu rupiah untuk konsumsi para undangan dan guru-guru. Kalau konsumsi untuk kalian pakai uang kas kelas kalian ya. Yang menjadi panitia Penamatan adalah kelas sepuluh dan sebelas, kalian tinggal duduk manis dan akan dipanggil ke panggung menerima map ya."kata pak Silas. Kelas riuh rendah mendengar pengumuman tersebut Mereka ngobrol pakaian apa yang akan dikenakano. Ada yang rencana menyewa baju di salon di kota. Ester sensiri akan memakai baju adat yang baru satu kali dipakainya waktu sepupunya nikah. Di tempat Rian pada malam harinya setelah ibu Ratna bertemu Ester ramai memperbincangkan Ester. "Cantik amat si kembang desa, pantas perjaka ting ting dari kota keseng sem", Yuli mulai mwnggoda Rian "Belum seberapa itu Hawa, kalau dia nyanyi lautan apipun bisa kusebrangi untuk mendapatkan dia," Rian tak mau kalah melawan ocehan Yuli. "Ngomong-ngomong, menurut Ester dia akan melanjutkan sekolahnya di luar pulau, dan itu akan makan waktu yang lama", kata ibu Ratna. " Paling lima tahun Bu. Zaman canggih begini jarak tidak jadi persoalan. Yang penting sama-sama setia", Rian mencoba memberikan pendapat kepada ibunya walaupun di hati kecilnya ada ketakutan luar biasa kehilangan Ester. " Ester itu cantik alami, murah senyum, polos, dan bagus suaranya, begini Kak Rian kalau ada sepuluh orang laki-laki ,dua orang laki-laki melirik dan delapan lainnya memelototi dia", Yuli sengaja menggangu Rian yang tidak bisa menyembunyikan lagi kekuatirannya. "Atau begini An, kau nikah dulu baru Ester pergi melanjutkan kuliahnya", bu Ratna mencoba memberi jalan keluar. "Begini Bu, klau memang jodoh pastilah akan dipertemukan. Biarkan Ester menggapai cita-citanya. Dia gadis baik", Rian memberikan pendapatnya. Di satu sisi Rian tidak mau Ester pergi jauh dari sisinya tetapi di sisi yang lain Rian tidak mau mengandaskaskan cita-cita Ester. Acara penamatan siswa kelas dua belas berjalan semarak dan meriah. Master of Ceremony secara berpasangan mengenakan baju adat dengan suara yang mirip dengan pembawa acara di televisi menambah semaraknya acara penamatan, dilanjutkan dengan tari joget bersama dan tari daerah dibawakan oleh siswa-siswa kelas sepuluh dan sebelas. Acara pembacaan siswa siswi yang berhasil diterima di perguruan-perguruan tinggi negeri adalah acara yang ditunggu-tunggu Ester. "Puji Tuhan, akhirnya aku diterima di fakutas Seni yang memang aku suka", Ester berdoa dala hatinya atas kasih Tuhan pada dirinya, walaupum ada sedikit rasa nyeri di hatinya mengingat Rian yang akan jauh darinya. Cita dan cinta dua hal yang beda-beda tipis dalam kehidupan orang muda. Cita memberikan gairaj hidup penuh warna, memberi gairah hidup melangkah dan berjalan dalam situasi yang penuh tantangan. Sementara cinta menjadi payung yang melindungi dikala panas terik atau disaat hujan fatang melanda. "Adakah yang salah dalam langkahku, mengapa cinta dan citaku terlalu jauh berseberangan, cintaku tinggal di sini sedang citaku jauhh di ujung sana. Ahh capek memikirkannya", guman Ester yang duduk dekat jendela kamarnya sore ini sambil menatap burung elang terbang sendiri mengitari langit. Sangat sedih dia memikirkan hari-harinya kelak tanpa menyaksikan kehadiran Rian di dekatnya. Walaupun hanya berpandangan jauh itu sudah cukup membuat Ester senang .Namun cita-citanya untuk menjadi seorang sarjana membuat Ester lebih realistis berpikir, apa lagi kedua orang tuanya memberikan dukungan penuh untuk tetap kuliah. Orang tuanya menyanggupi semua biayanya karena kakak laki-lakinta, Roni, tinggal menunggu hari wisuda, tempat kuliah juga sudah ada tinggal menunggu pengumuman lulus atau tidak di SMA. "Bulatkan tekatmu Ester, pak Rian tidak akan kemana kalau dia memang jodohmu", Ester berbisik pelan pada dirinya. Setelah hari acara penamatan untuk siswa kelas dua belas, Ester lebih banyak waktunya tinggal di rumah browsing internet mencari tahu tentang kampus yang dia akan tempati nanti. Kampus juga menyediakan asrama putra dan puteri. Dia memperhatikan biaya asrama tersebut dan mwmberi tahu ayah ibunya, mereka merasa mampu membayar, namun Ester belum membooking kamar asrama tersebut karena belum ada pengumuman apakah dia lulus atau tidak. Di tempat yang lain, Rian juga mulai membayangkan betapa sunyinya tanpa melihat Ester berada dekatnya. Setelah siswa kelas dua belas tidak muncul lagi di sekolah termasuk Ester terasa ada yang hilang walaupun Rian hanya memandang Ester dari jauh dan menyaksikan Ester tertawa lepas dengan teman-temannya itu sudah membuat Rian bahagia Ahhh wujud cinta yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata hanya dirasakan dalam d**a yang terasa perih bila tak kesampaian atau memekarkan bunga dalam d**a bila cinta tersambut baik Waktu hari pengumuman kelulusan telah tiba. Ester dan teman-temannya sudah berada di kelasnya. Mereka ngobrol memakan cemilan yang mereka bawa dari rumah. Pakaian seragam baju putih dengan celana atau rok abu-abu mereka gunakan.Di tas mereka telah tersimpan cat pilox sprayer yang akan mereka gunakan menulis namanya di baju putih teman-temannya, walaupun kepala sekokah sudah peringatkan supaya semua baju seragam kelas dua belas dikumpul di sekolah untuk diserahkan kepada siswa yang membutuhan. Tapi Ester dan teman-temannya sudah mengiklaskan satu potong bajunya ditululisi nama teman-temannya untuk disimpan sebagai kenang-kenangan. Siswa kelas dua belas tampak mempunyai kesibukan sendiri-sendiri sambil menunggu saatnya saarnya pengumuman, ada yang masuk warungnnya tante Yudit, ada yang duduk-saja di gazebo, Ester dan beberapa temannya menghabiskan waktunya berfoto ria bersama dengan gaya suka-suka. Pak Rian yang kebetulan tidak mengajar hanya berdiri di depan pintu ruang guru didekati Abram untuk berfoto bersama, Abram melihat ke kantor ternyata ada pak kepala sekolah, dengan sopan Abram meminta kesediaan beliau foto bersama dengan siswa kelas dua belas Jadi dehh foto bersama dengan riang gembira. Setelah merasa cukup banyak foto bersama, pak kepala sekolah permisi dan tinggal pak Rian yang masih betah tinggal bersama siswa tersebut. ml
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD