BAB 6 Ibu Ratna Bertemu Ester

1070 Words
"Nah sekarang gantian tanya, cantik mana aku atau Ester?", Yuli memberikan pertanyaan pada Rian. "Hmm Esterlah mana.lagi suaranya uhmm bikin merinding habis, kamu itu jelek sekali kalau nangis kalau pergi main datang hujam bukannya lari malah duduk menangis", mereka bertiga tertawa memdengar jawaban Rian. "Tunggu-tunggu, suaranya bikin terbang ke awan biru? jangan-jangan yang kita dengar itu hari Bu", Yuli melirik ke ibu Ratna. "Ya betul Yul, tapi kita belum tahu apa itu Ester atau bukan. Kita jangan seperti orang membeli kucing dalam karung.Betul 'kan An?",ibu Ratna melihat pada Rian. "Semoga Ester bisa bertemu Ibu dan Yuli besok, dan kucingnya lebih indah dari yang diharapkan".jawab Rian membalas peribahasa ibunya. Ibu Ratna dan Yuli sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk mereka bertiga. Lombok, sayur, dan daging yang mereka bawa dari kota masih baik karena kampung yang dingin, minyak bimolipun mengental dalam botolnya, nanti mencair kembali kalau mau dipakai dan dicairkan dengan menaruh air panas di baskom dan mencelupkan botol bimoli tersebut bebrapa lama, sampai minyak itu mencair. Rian sibuk men chat Ester agar besok dia ketemu dengan ibunya karena lusa ibu Ratna dan Yuli akan pulang ke kota. "Ter, besok ya kamu ketemu dengan camermu, cepat datang bedok yahh". ""Semoga bisa kak Rian" Setelah chattingan dengan Rian, Ester menjumpai ibuknya yang sibuk menyiapkan malam. "Buk, kita bicara di kamarku sehabis makan malam ya buk sayang", kata Ester sambil memeluk ibuknya dari belakang. "Iya anak cantik, ayo ambil piring dan teman-temannya kemudian panggil bapakmu, kita makan. Ikan.mas goreng sambal kesukaanmu sudah masak tuh". "Sip ibukku sayang". Setelah menyiapkan perlengkapan makan di meja, Ester memanggil ayahnya yang sedang nonton TV untuk makan. Pak Luter memimpin doa mengucap syukur atas rahmat Tuhan melalui makanan malam.ini. Mereka bertiga makan dengan lahapnya, tanpa mengeluarkan suara. Setelah membersihkan peralatan makan Ester dsn ibunya masuk ke dalam kamar Ester. "Nak apa kamu sudah haid bulan ini?", tanya ibunya Ester sambil harap-harap cemas jangan sampai hal- hal yang dia takutkan terjadi yaitu hamil.setelah si b******n Andika merebut kehormatan Ester. "Iya Buk sudah bersih dua hari yang lalu", jawab Ester sambil melihat kecemasan yang tergambar di raut wajah ibuknya. "Syukurlah Nak, ibuk tetap.mendoakan yang terbaik untukmu", kata ibunya Ester sambil membelai rambut Ester. Mereka duduk di tempat tidur Ester berhadap-hadapan. "Begini Buk, ibunya pak Rian datang dan pak Rian meminta saya ketemu beliau besok karena lusa sudah mau pulang. Saya malu buk", kata Ester sambil memegang tangan ibuknya. "Bersikap biasa saja. Salah tingkah boleh saja tapi usahakan bersikap normal. Ajak temanmu satu untuk temani, tapi usalaman kamu yang salaman dulu". "Iya Buk. Ehh lupa tadi beritahu bapak sama ibuk sehabis makan, saya di terima di fakultas seni di luar pulau melalui penelusuran bakat. Jadi saya rencana kuliah di sana Buk". "Mudah-mudahan. Tetap jaga diri baik-baik. Nanti ibuk beritahu bapakmu. Ayo kita tidur Nak. Besok toh mau ketemu camermu", kata ibu Marta mengganggu anak gadisnya. Sesampai di sekolah Ester melihat sudah ada Erni, maka dia menghampiri Ermi. "Er, boleh nggak tolong aku pagi ini". pinta Ester pada Erni, mereka tidak belajar lagi karena sudah ujian praktek, ujian sekolah, dan ujian nasional. Siswa kelas dua belas hanya datang melihat apakah ada informasi bagi mereka. "Mau tolong apa Ter, yang penting jangan yang berat-berat yah", kata Erni sambil tersenyum. " Pulang dari misi kemanusiaan, saya traktir makan bakso", jawab Ester sambil tersenyum juga. "Kasih tahu dong pertolongan apa yang tuan putri inginkan?" " Begini Er, bisa temani saya ketemu ibunya pak Rian?", "Mau mau, sekarang? Ayo, saya temani", Erni menerima tawaran itu dengan gembira. Mereka berjalan menuju rumah pak Rian. Rumahnya masih tertutup. Ester mengetok pintu, tak lama kemudian pak Rian muncul membukakan pintu. Wajah Ester menjadi merona alami, malu bercampur kikuk. "Selamat pagi Pak", sahut Ester dan Erni bersamaan " Pagi juga. Ayo masuk..Silahkan duduk", sambut pak Rian yang sudah memakai baju seragam tapi bajunya masih di luar, kayaknya belum memakai ikan pinggang. Ester dan Erni duduk, pak Rian masuk ke dalam memanggil ibunya. Wanita paru baya yang masih cantik dan.mirip sekali dengan pak Rian muncul diikuti oleh seorang wanita berkacamata dan anggun. Ester dan Erni berdiri menyalami mereka sambil menyebut nama masing-masing. Ibu Ratna tersenyum sanbil memperkenalkan Yuli yang sudah berjabat tangan dengan Ester dan Erni. "ini Ibu Yuli guru Bahasa Inggris di sebuah SMP di kota, teman bermain Pak Rian waktu kecil kareba rumah kami berdekatan", kata bu Ratna panjang lebar . Mereka duduk berhadap-hadapan. Ibu Ratna dan Yuli melihat Ester dengan tatapan menilai. "Cantik memang ini Ester. Lesung pipit dikedua pipinya sangat menggemaslan.bila dia tersenyum.Kulitnya yang kuninng langsat dengan rambut panjang sebatas pinggang melengkapi kecantikannya", bisik ibu Ratna dalam hatinya. Yulipun terus memperhatikan Ester dengan pandangan kagum. " Kalau sudah tammat SMA, rencananya apa Ester?", tanya ibu Ratna. Apapun jawaban Ester sedikit banyak menyangkut juga anaknya. Ibu Ratna, Rian, Yuli, dan Erni menunggu jawaban Ester. Rian berharap Ester menjawab pertanyaan ibunya bahwa Ester akan mengaggur. "Saya akan melanjutkan di pendidiksn guru fakultas kesenian, puji Tuhan sudah lulus melalui program penelusiran bakat dan minat tante", Ester sekuat tenaga mengumpulkan keberaniannya menjawab ibu Ratna "Di mana universitasnya?", pak Rian menampakkan kegelisahannya. "Di pulau Jawa Pak". jawab Ester sambil menunduk. "Jauh amat dan makan tahun", Yuli sengaja mengaggu Rian yang mulai kelihatan galau. Ibu Ratna mencoba menetralisir keadaan dengan bertanya hal-hal yang ringan seperti berapa bersaudara dan pertanyaan lain yang senada. Yuli membuatkan mereka kopi dan menghidangkan pisang goreng yang memang sudah disiapkan untuk menjamu Ester hari ini. Mereka berlima mencicipi pisang goreng yang terhidang. Rian menatap Ester penuh cinta yang tertunduk malu karena merasa diperhatikan oleh Rian. Olalaa cinta Adam dan Hawa selalu tumbuh subur di mana, kapan, dan siapapun tanpa dibatasi waktu, kedudukan dan hal-hal keduniaan lainnya. Semua berawal dari kata cinta, Rian sepuas-puasnya memandang Ester walaupun Rian tahu Yuli memperhatikan hal itu,"persetan semuanya, ada saat nyaman memandang Ester, mengapa dilewatkan", bisik Rian dalam hatinya. Setelah kopinya habis, Ester dan Erni pamit kembali ke sekolah. Rianpun merapikan baju seragamnya dan beranjak ke sekolah untuk mengajar. Sesuai dengan janji Ester kepada Erni untuk makan bakso maka mereka langsung menuju ke warung tante Yudit. Belum lapar sih mereka namun tidak ada yang mau dibuat di kelas. Tak lama kemudian muncul si ibu pemarah, ibu Neli, Ester dan Erni mengucapkan salam walaupun Ester masih ingat kata-kata dan perbuatan ibu Erni padanya. "Ibunya pak Rian datang dengan calomnya pak Rian ya", uhh datang lagi ini tukang gosip",kata Ester dalam hatinya. "Kami baru pulang ketemu ibuya pak Rian Bu", sahut Ester, mengatakan yang sebenarnya. ml
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD