Setelah sampai di atas jalanan Ester mempercepat langkahnya. Rasanya dia ingin sekali terbang mendapatkan ibunya untuk menangis dan menenggelamkan wajahnya di pelukan ibunya. Dia tidak peduli lagi di mana siiblis itu berada kini.Sampai di rumah dia tidak melihat mobil di tempat parkiran
"Bapak mana Buk"
"Rapat di kantor camat Nak, kenapa matamu bengkak?,Ester belum sempat menjawab ibuknya dia sdah memangis sambil memeluk ibuknya.Ibu Marta menenangkan putrinya mengajak Ester duduk sambil minum air putih. Ester mulai menceritakan dari awal sampai akhir musibah yang Ester temui hari ini.
"Kalau bapak tahu hal ini satu kampung akan mencincang laki-laki kurang ajar itu.Sabar ya Nak. Kau fokus untuk ujianmu saat ini Nak", ibu Marta membelai rambut Ester dan memeluknya. Ibu Marta juga menangi
"Begini Nak, ini rahasia kita berdua untuk saat ini malah bertiga dengan b******n itu.Jangan lagi gampang percaya laki-laki, jangan terpisah dari teman-teman perempuan.Tidak usah beritahu siapapun dulu Nak. Ayo makan pasti kamu sudah lapar".
"Makasih Ibuk terhebatku, teman dan sahabatku,"Ester memperat pelukannya, mencium lembut ibuknya. Ester makan ditemani ibuknya yang cerita hal-hal yang membuat Ester tersenyum, padahal dalam hatinya ysng paling dalam dia juga sangat marah
Seperti biasa Ester menunggu teman-temannya berangkat sekolah bersama. "Aku harus kuat, tidak boleh cengeng,"bisik Ester dalam hati. Sampai di sekolah ada seorang ibu paruh baya mirip pak Rian tersenyum kepada anak sekolah yang lewat dekat tempat pak Rian ditemani seorang wanita berkacamata, berumur dua puluh empat tahun duduk di bangku dekat pintu kamar pak Rian.
"Ibu, Yuli aku pamit dulu ya, baik-baik di rumah", pak Rian pamit untuk pergi ke sekolah. Rumah guru mungil yang ditempari pak Rian memanjang ke belakang dibagi tiga sekat tripleks satu ruang tamu dengan satu set kursi rotan, satu ruang tidur dengan dua ranjang kayu lengkap dengan kasur dan bantalnya, satu dapur lengkap dengkan meja makan dan kamar mandi. Mungil dan.menyenangkan.
"Yul, kalian 'kan sudah mulai libur.Mungkin ada baiknya kita pulang dengan Rian untuk acara melamar di orang tuamu". kara ibu Ratna,ibunya Rian.
"Bagaimana baiknya Ibu,, kalau kak Rian setuju"
"Kamu 'kan dengan Rian sudah kenal mulai dari TK nanti pisah saat kuliah. Orangtuamu juga sudah kenal dengan kami sekeluarga.". Ibu Ratna menyampaikan maksudnya minta ditemani Yuli yang adalah tetangganya.
Ujian mata pelajaran pertama adalah Praktek Seni Suara, ketika gilirannya Ester, dia menyanyikan lagu daerah Toraja dan satu lagu pop. Penghayatannya luar biasa dengan vocal khasnya membuat siapapun mendengarnya akan merinding.
"Suaranya bagus sekali. Ini belum pake musik sudah bagus apalagi kalau pake musik". kata ibu Ratna mendengar suara dari sekolah.
"Suaranya enak sekali masuk di telinga Bu".jawab Yuli
Rian sudah pulang ke rumah. Kini dia sedang menikmati masakan ibunya tercinta. Yuli sedang jalan-jalan ke pasar dekat sekolah yang bertetapan hari iini. Pasar digelar sekali seminggu. Yuli membeli ubi talas pesanan ibunya.
"Begini Rian, selain Ibu rindu sama kamu, Ibu mau menjodohkan kamu dengan Yuli, orang tuanya juga sudah setuju kok", kata ibu Ratna, ibunya Rian setelah melihat Rian selesai makan.
"Ah Ibu, aku menganggap Yuli itu adikku. Tak lebih Bu. Yuli baik, sopan, dan pintar. Aku menganggapnya adik perempuanku mulai dari dulu Bu. Pasti Yuli juga sudah punya pacar apalagi dia cantik"
"Kalau Kak Rian tidak setuju perjodohan ini tidak apa-apa Kak"tiba-tiba Yuli
muncul dan menjawab apa yang dikatakan Rian. Yuli tertunduk dan terus ke dapur menyimpan belanjanya. Ibu Ratna mengikuti Yuli yang sementara menghapus air matanya. Ibu Ratna memeluk Yuli dan mengelus rambutnya, kemudian pulang ke tempat Rian berada.
"Atau kamu sudah punya pacar?",tanya ibu Ratna.
"Iya Bu", jawab Rian
"Guru di sini?"
"Bukan Bu".
"Jadi siapa An. Petugas rumah sakit?" ibu Ratna terus mencari siapa wanita yang sangkut di hati anak laki-lakinya. Yuli memasang telinganya siapa gerangan perempuan yang mengalahkan pesonanya di hati Rian.
" Namanya Ester Bu. Baru mau tamat ini tahun". Yuli yang mendengar jawaban Rian tertawa dalam hati. "Seistimewa apa itu anak SMA sampai bisa menaklukkan hati Rian"
"Rian Rian kau datang ke sini untuk mengajar siswa, bukan memacari dia. Mereka masih panjang perjalanannya, kuliah kalau mampu orang tuanya, cari kerja atau nikah . Kamu itu sarjana Nak, guru yang harus dicontoh. Yuli paling cocok mendampingi kamu."
"Kak Rian bebas memilih Ibu. Aku percaya Tuhan akan memberikan jodoh terbaik bagiku. Aku tetap menganggap kak Rian sebagai kakakku yang terbaik bagiku Bu" , sahut Yuli dari dapur,tidak memaksa Rian untuk menjadikan dia sebagai istrinya. Ahh cinta memang aneh, dia hinggap di manapun dia suka.
Karena Rian terus terang tidak setuju dengan perjodohannya dengan Yuli, ibu Ratna meminta Rian untuk dikenalkan kepada siswa SMA yang memikat hati Rian.
":Kalau begitu, bisakah kami kenalan dengan pacarmu, karena lusa kami akan pulang"
"Kenapa buru-buru Ibu, tinggallah beberapa hari lagi, Ibu masih capek duduk di atas mobil seharian. Perjalanan melelahkan Bu"
"Jawaban kamu lebih melelahkan An," kata ibu Ratna sambil melirik Yuli yang
duduk depan bu Ratna.
"Nggak papa Bu, nanti saya kenalkan Adam sama Ibu", Yuli menyebut sebuah nama yang memang sangat memperhatikan Yuli. Sebenarnya sih Yuli tertarik sama Rian tapi kini harapan itu pupus setelah mendengar keterusterangan Rian. Kini Yuli mencoba menyulam masa depannya dengan Adam yang entah berapa kali Yuli menggantumg jawaban ketika Adam meminta kepastian hubungan mereka. Ibu Ratna menatap Yuli dan Rian bergantian "Yahh sudahlah kalian berhak hidup bahagia dengan takdir kalian masing-massing", bisik ibu Ratna dalam hatinya.
Yuli adalah ibu guru yang pintar dan luwes, Yuli mau saja diajak ibu Ratna mengunjungi Rian yang memang sejak kecil sudah saling mengenal karena tetangga dekat. Apalagi Yuli suka memgunjungi daerah yang belum pernah dia datangi. "Tak apalah aku membuka hati untuk orang yang punya hasrat hidup bersama merenda masa depan. Adam tidak kalah ganteng dengan Rian, masa depannyapun cerah sebgai kepala cabang bank pemerintah daerah. Oii Adam..sudah ada tempatmu di hatiku",bisik Yuli dalam hatnya sambil tersenyum.
"Yuli, kau adik yang baik yang selalu membantuku bila aku butuh pertolongan, cuma kamu sedikit cengeng dan egois,tapi bukan itu masalahnya sampai saya tidak menerima perjodohan kita. Saya yakin kau pasti mendapatkan seseorang yang akan menyayangmu sebagai pendamping hidup. Saya menyayangmu sebagai seorang kakak tempatmu curhat. Bukan begitu Hawa?",
"Ihh kak Rian mulai kumat sifat meledeknya, saya Yuli bukan Hawa," Ibu Ratna, Rian, tertawa mendengar rajukan Yuli.
"Oke, kembali ke laptop, Adam itu mana gantengan dengan saya", Rian pura-pura bertanya serius.
"Yahh Adam lah, kamu itu paling malas mandi, malas bangun cepat,kalau libur. Pokoknya serba malaslah" ,jawab Yuli. Kekakuan yang sempat terjadi karena keinginan ibu Ratna menjodohkan Rian dan Yuli berangsur cair menjadi cerita adik kakak yang lama berpisah.
"Dengar itu Bu, si cerewet ini sudah punya pangeran tampan yang melebihi ketampanan anak Ibu", Rian menjawab sambil melihat ibunya yang asik memperhatikan mereka. Mereka bertiga menikmati quality time antara ibu dan anaknya.