Hari ini hari pernikahan Adol sepupu Ester yang menjadi guru SMA di desa tetangga. Calon suaminya,Niel, adalah guru dan orang desa tetangga tersebut. Mereka menikah bertempat di rumah tongkonan, tradisional, Ester. Kebetulan Adol adalah alumnus dari sekolah Ester jadi dewan guru diundang. menghadiri pernikahan tersebut. Pengantin dua kali ganti baju, saat peneguhan nikah di gereja dan ketika diteguhkan dari kantor catatan sipil di rumah tongkonan dan resepsi pengantin memakai baju adat. Pukul dua belas pengantin sudah duduk mengikuti acara yang telah diatur oleh master of ceremony. Saat tiba acara Jamuan Kasih, tamupun dipersilahkam makan sambil diiringi orkes yang selalu dihadirkan dalam acara pernikahan. Ester sering menyumbangkan suaranya apalagi ini acara sepupunya. Suaranya yang membuat merinding orang yang mendengarnya membuat pak Rian tetap duduk manis walaupun orang sekelilingnya sudah antri ambil makanan, setelah Ester selesai menyanyi pak Rian berdiri mengambil makanan. Ester belum turun dari panggung, naik seorang pemuda tampan namun sedikit urakan membisiki Ester. Pak Rian sudah duduk makan dan tetap memperhatikan Ester. Musikpun mengalun ternyata lelaki itu meminta Ester berduet dengannya. Suara duet mengalun indah menemani orang yang sedang makan. Lagu sudah habis, Ester turun bergabung di lokasi duduk ibunya bersama tetangga-tetangganya, karena pak Luter ayah Ester duduk di lumbung bersama aparat desa.. Pak Rian duduk di tempat khusus undangan.
Andika, anak seorang camat, lelaki yang mengajak Ester berduet adalah sepupu pengantin pria. Andika menemui Ester yang duduk dengan ibunya. Andika menyalami ibunya Ester dan orang dekat duduk dengannya. Pak Rian terus memperhatikan lelaki itu dan di mana Ester duduk. Akhirnya Ester minta permisi untuk bergabung dengan teman-temannya pelayan, yang merupakan gadis di lingkungan tongkonan tersebut.
Tiba saatnya salaman dengan pengantin. Sudah ada tempat duduk kosong dekat pak Rian maka Ester datang mendekatinya.
"Terima kasih sudah datang Pak", kata Ester berbasa-basi.
"Sama-sama Dek. Suaramu bagus sekali. Tapi aku lebih suka kalau kamu nyanyi sendiri,"sahut Rian dengan rasa cemburu yang tidak bisa disembunyikan.
"Ayo kita naik bersalaman dengan pengantin Pak, maaf ya Ester"pak Silas datang memberi tahu pak Rian waktu orang yang bersalaman dengan pengantin sudah mulai berkurang.
"Ayo Ter, bersama-sama semoga suatu saat kita yang duduk di sana,"sahut pak Rian. Pak Silas dan Ester sama-sama mengaminkan.
Pulang bersalaman pengantin pak Rian dan pak Silas mendekati lumbung tempat aparat desa duduk untuk bersalaman Di sana juga duduk bapaknya Ester yang adalah kepala desa. Ester terus mendatangi ibunya yang duduk dengan tetangga Ester di pondok, tiba-tiba datang juga Andika bergabung. Ester merasa gerah dengan kehadiran Andika. Pak Rian muncul bersama pak Silas, mereka menyalamami ibunya Ester tetapi tidak peduli dengan Andika.
"Ter, bisa singgah di rumah ngecas handphoneku," pak Rian melihat pada Ester yang duduk berdekatan dengan Andika. Ibunya juga Ester berdiri, tanpa ada yang undang Andikapun ikut di belakang mereka.
"Mau ke mana?" tanya pak Silas kepada Andika. Dia melihat pak Rian tidak suka Andika berada di tengah-tengah mereka.
"Mau pergi ke rumahnya Ester", jawab Andika enteng. Andika adalah guru Olah Raga di sekolah Adol dan sepupu Niel suami Adol. Mereka berdiam diri, Rian sengaja beriringan jalan sama Ester dan ibunya. Pak Rian tidak ngecas handphonenya cuma duduk di ruang tamu. Andikapun turut duduk bersama mereka. Ester mau buat kopi untuk tamunya tapi ada chat dari Rian
Pak Rian
Ter, bisa panggil bapak untuk temani kamu di rumah, bete lihat nih cowok ikut-ikut terus. Tak usah buat kopi.
Ester telpon bapaknya untuk pulang ke rumah.
Bapaknya Ester sudah ada, pak Rian dan pak Silas pamit, kebetulan mobil pak Rian diparkir di halaman rumah Ester. Tinggal Andika dan pak Luter bapaknya Ester di ruang tamu.
"Ehm ... begini om, aku mau kenal dekat Ester" Andika langsung bicara pada pak Luter
"Sejak kapan kalian berkenalan?"
"Baru tadi om",jawab Andika singkat
"Begini anak muda, pulang dulu kapan-kapan baru datang ke sini. Om mau istirahat dulu"
"Baik om aku permisi" Andika pulang dengan wajah lesu.
Malamnya di meja makan setelah Ester makan bersama bapak dan ibunya,pak Luter membuka pembicaraan keluarga
"Te, kau sudah kelas dua belas hampir ujian, kalau pak guru yang datang tadi dua orang yang ombak rambutnya, yang tolong kau waktu di air terjun ya"
"Iya Pak, dia guru Fisika", sahut Ester sambil tunduk malu-malu. Ibunyapun turut tersenyum mendengar pertanyaan suaminya.
Di tempat Adol, Andika menyampaikan maksud hatinya pada Adol untuk mendekati Ester.
"Adik ganteng 'kan sudah punya Mery, Ester juga kayaknya sudah punya pacar.
"Tidak apa-apa dicoba kak" Andika mencari informasi waktu pulang sekolah Ester.
Andika bersama sepupunya jalan-jalan ke sekolah Ester. Ester sudah pulang berama Vero dan Erni. Dio,sepupu Andika berjalan beriringan dengan Vero dan Erni sedang Andika beriringan Ester. Anak sekolah sudah pulang semua pas diperjalanan Andika tiba-tiba terjatuh dan terguling-guling ke semak-semak.
Ester teriak minta tolong tapi ada suara gemuruh anak sungai mengalahkan suaranya. Ester mendekati Andika, tanpa disangka-sangka Andika menarik Ester dan.membaringkannya. Ester teriak tapi sebelum teriak mulutnya sudah ditutup kain, dia memberontak,menendang Andika tapi lagi-lagi kakinya diikat tali. Air mata Ester saja yang menjadi saksi betapa Andika berhati iblis. Dia membuka training spack memaksa Ester memgadakan penyatuan. Hancur aku. Hancurr,rintihan pilu Ester tatkala merasakan nyeri di selangkangannya, dan melihat bercak merah di celananya.Ester bergegas bangun tetapi tulang-tulangnya tak punya tenaga.
"Kau laki-laki iblis", dia mengumpat si Andika yang membantumya bangun",jangam menyesal kalau kau menghabiskan masa mudamu di jeruji besi" Ester menangis. Ester merasa hidupnya kini hanya seonggok sampah busuk sekarang.
"Begini Ter, aku tetap mempertanggungjawabkan perbuatanku, besok kau bilang kita nikah aku akan urus semuanya"
"Siapa juga mau nikah dengan kau yang tidak menghargai wanita" Ester masih tetap menangis. Dengan sekuat tenaga Ester memukul dan menendang Andika setelah Ester bangun dari rerumputan tempat Andika mengambil barang yang paling berharga baginya. Dengan wajah yang tidak berdosa Andika pasrah saja menerima tendangan, cakaran, dan pukulan Ester. Setelah puas menyakiti Andika, Ester menatap lekat Andika dan berkata penuh nada kebencian
"Sakit yang kau rasakan akibat tendangan dan cakaran di wajahmu tidak seberapa dari sakit yang kurasakan".
Ester menyusuri jalan yang selalu dia lalui setiap hari. Tapi hari ini langkahnya tidak menyandungkan irama indah menjemput asa seperti tadi pagi, kini hilang diterbangkan.bajingan Andika. Harapan masa cerah dengan lelaki yang dicintainya yakni pak Rian pupus sudah.
"Mengapa aku mau saja berduet dengan laki-laki b******n itu. Mengapa aku bertemu dia?",sambil menyeka air matanya Ester terus menyalahkan dirinya berkenalan dengan laki-laki itu.Langit mulai mendung, rintik hujan mulai menerpa rambutnya, wajahnya, titik-titik hujan itu hinggap di baju putih dan rok abu-abunya, sepertinya alampun turut menangis merasakan sakit yang dialami Ester. Ester mengambil payung dari tas sekolahnya yang biasa dia bawa. Hujan rintik-rintik terus menemani langkah Ester namun mataharipun hadir menerangi kanpung Ester Satu dua petani berpapasan dengan Ester sambil menghadirkan senyum yang tulus.
Tak lama kemudian pelangi muncul mengitari pesawahan yang membentang jalan yang dilalui Ester. Ester menggulung payungnya dan memegangnya saja, karena masih basah bila dimasukkan ke dalam tas. 'Ahh semoga masih ada pelangi muncul dalam hidupku setelah kejadian yang kualami hari ini' bisik Ester. Ester melangkahkan kakinya dengan perasaan yang hancur.
Kejadian hari ini membuat separuh nyawa Ester hilang meninggalkan perih yang teramat sangat. Pertemuannya dengan Si Andika secara kebetulan di panggung nyanyi telah merebut harta yang sangat sangat berharga baginya.'Sebejat itukah pak Andika Ahh sedih," batin Ester sambil menyeka aliran bening di pipinya.
Jauh di belakang Ester, Andika berjalan gontai? Apakah dia puas. Senang. Bahagia?. Tidak. Perasaan bersalah menghimpit dadanya, apakagi kalau ingat adik perempuan satu-satunya,Dewi, yang juga sudah kelas dua belas.
'Ah. Apakah yang telah kulakukan pada Ester?. Betapa hinanya diriku. Jabatanku sebagai guru yang harus ditiru jadi teladan dan panutan, tapi aku sangat diperbudak oleh nafsu untuk memiliki Ester dengan cara apapun kini penyesalan seumur hidup. Maafkan aku ya,' batinnya
ml