BAB 1 Di Tempat Tugas

1556 Words
"Kamu yang bernama Ester ya?" tanya bu Neli sambil mengambil sebuah donat dari loyang almunium di warung tante Yudit waktu jam istirahat. Ibu Neli adalah guru Matematika Ester waktu kelas sebelas, rambutnga dipotong pendek, suaranya berat serak, matanya berbentuk bola pingpong dengan bulu mata lentik. Kulitnya putih mulus. Secara garis besar ibu Neli cantik, cuma wajahnya sering dihiasi aura judes. Cara melihat seseorang begitu dingin. Tak heran jika dia berada di warung bu Yudit siswa-siswa urung bebelanha di situ. Nggak nyaman. Baru ada beberapa siswa masuk di warung itu. Wajah bu Neli tegang dengan sorot mata yang menakutkan tanpa senyum menatap Ester. Ester dan Erni sementara menghabiskan semangkok bakso. 'Iya Bu" jawab Ester penasaran. Ada apa dengan dirinya sehingga seorang ibu guru yang mengajar Ester di kelas sebelas dulu menanyakan namanya. "Aku dengar desas desus pak Rian memacari kamu ya, Itu tidak etis, levelnya jauh sekali," Ester terkesima.Pak Rian memacari kamu. Itu tidak etis. Ahh kata yang sangat menyakitkan. Keberanian Ester muncul. Dia menatap juga ibu Neli menunggu apa lagi yang akan dikatakannya. "Kebetulan saja pak Rian ditempatkan di sini. Besok lusa pindah. Pak Rian itu sarjana, kamu? tamat SMA saja belum." d**a Ester sesak mendengar kata-kata bu Neli. Penghinaan tingkat dewa. "Pak Rian menyampaikan isi hatinya lewat chat Bu, Ibu bisa protes kepada pak Rian mengapa beliau tertarik kepada saya yang hanya gadis kampung," kata Ester dengan wajah merah padam. Mulut bu Neli membentuk huruf O begitu juga Erni yang menemani Ester. "Pikirkan baik-baik apa yang aku katakan tadi,"bu Neli memperlihatkan ketidak senangannya. Dadanya sesak mendengar pengakuan polos dari Ester. Bu Neli membayar makanannya dan langsung keluar. "Minta tolong jangan beri tahu sama siapa-siapa ya Er", "Ok bos. Swear," jawab Erni. Kehadiran Rian sebagai guru baru di SMA itu telah memporak-porandakan hati ibu Neli yang telah ditinggalkan pacarnya nikah dengan gadis lain. Kini apakah dia akan bersaing dengan siswinya sendiri. 'Ahh mengapa takdirku selalu di pihak yang selalu kalah?' Ibu Neli membatin. Kesan pertama ibu Neli pada Rian adalah ketika pak Rian baru tiba di sekolah itu, mobil bermerk Rush berwarna merah berhenti di halaman SMA pada pukul empat sore.Ya, satu-satunya SMA yang ada di desa tersebut. Tak lama kemudian turunlah seorang pemuda berumur 24 tahun, tampan berjaket levis warna biru dengan celana panjang sewarna dengan jaketnya. Dia adalah Rian guru baru di sekolah itu yang akan mengajarkan mata pelajaran Fisika. Pak Toding yang mengajarkan Fisika di sekolah itu akan pensiun pada satu bulan yang akan datang. Rian memperhatikan sekelilingnya, sejauh mata memandang nampak pepohonan diselingi petak-petak sawah, di tanah landai yang mengelilingi letak sekolah. Bangunan SMA berbentuk huruf U berada di tanah datar di atas bebukitan dan di samping ujung kiri kanan ada bangunan mungil yang masing-masing empat petak memanjang ke belakang. Setiap petakan lengkap kamar tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan dapur dengan peralatannya. "Saya Silas guru Komputer. Selamat datang Pak Rian semoga betah di sini." Rian mengangguk, berjabat tangan dan tersenyum, Pak Silas membuka grendel pintu kemudian mereka masuk membawa barang yang dibawa Rian. Tak lama kemudian Ani, Rice, Neli dan Welni ikut bergabung, Mereka adalah ibu guru yang menempati bangunan mungil di sebelah kiri bangunan sekolah. *** Rian selalu mandiri sejak dia masih sekolah, bahkan berbisnis jual beli kerbau belang, kerbau yang harganya bisa dalam hitungan miliar. Rian berbisnis dengan pamannya,Marten. Sekarang setelah jadi guru, dia mempercayakan pamannya mengelola usaha mereka. Rian juga mandiri mengurus dirinya sendiri seperti saat ini di tempat baru dan tinggal sendiri di rumah mungil yang memang dipersiapkan untuk guru yang mengajar di sekolah itu. Pukul sembilan malam dia membaringkan tubuhnya, memakai kaos kaki, sarung batik panjang yang berukuran menutupi badan dari ujung ramnut sampi ujung kaki. Yang terakhir adalah memyelimuti dirinya dengan selimut tebal. Nyamann. Kokok ayam jantan bersahut-sahutan membangunkan semesta alam bahwa hari baru sudah menyapa. Hari baru dengan berkat dan persoalannya sendiri. Rian melirik jam tangannya sudah pukul enam, Dia bangun berdoa dan menyiapkan sarapan yaitu nasi, telor ceplok dan secangkir kopi. Dia memasak air di panci untuk mandi karena di desa tersebut memang terkenal desa dingin. Pukul tujuh pagi dia sudah berada di ruang guru. Tak lama kemudian pak kepala sekolah datang disusul pak Silas yang merupakan wakil kepala sekolah Bagian Kurikulum, guru-guru lain mulai berdatangan. Ibu Neli memperhatikan pak Rian yang sedang asik berbicara dengan pak kepsek 'Ganteng juga ini pak Rian, membuat jantungku berdebar tak beraturan' batin bu Neli. Lonceng berbunyi tanda masuk mengajar. Pak kepsek duluan berjalan diikuti Rian. "Selamat pagi anak-anak" pak kepsek memberi salam, Rian di sampingnya tersenyum dan mengangguk. "Selamat pagi juga Pak" siswa menjawab serempak, siswi berbisik-bisik sambil tersenyum memandang Rian. "Pagi ini Bapak akan memperkenalkan Pak Rian yang akan mengajar kalian Fisika" kata pak kepsek. "Status Pak?" Yosef ketua kelas bertanya ,serempak bibir temannya membentuk huruf U sambil bersuara. Sambil mengangguk ke pak kepsek Rian menjawab," terima kasih, saya masih single" "Wah ada saingan nih" Abram nyelutuk sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sekali lagi temannya berisik Pak kepsek keluar, Rian melanjutkan aktifitasnya. Dia duduk di kursinya meminta salah seorang siswanya berdoa, Selpi berdiri memimpin doa secara Nasrani karena semua siswa kelas itu beragama Kristen. Rian mengabsen siswa sambil memberi kode di absennya di mana posisi duduk siswa tersebut supaya gampang diingat. Rian memperhatikan siswanya. ' Benar kata ibuku gadis di desa ini manis-manis dan cantik. Mayoritas kulitnya kuning langsat dengan rambut panjang hitam terurai' bisik Rian dalam hati. Sampai pada nama siswa bernama Ester Mayangsari dia terpana, gadis paling cantik di kelas dengan pipi dihiasi lesung pipit, raut wajahnya mirip sekali mantan pacarnya, Ria, yang telah almarhumah. Bedanya Ria mempunyai rambut sebahu, Ester panjang dan diikat tanpa ada poni, cuma anak-anak rambutnya dekat pelipis bergoyang dipermainkan angin. *** Ester gadis ayu dengan suara khas mendayu-dayu, dia adalah penyanyi sekolah yang selalu tampil mewakili sekolahnya. Walaupun dia dari SMA di desa setiap bertanding tingkat kabupaten dia selalu mendapat juara dua atau tiga. Itu prestasi yang sudah sangat membanggakan sekolah. *** Ada rasa geram dan perih berkecamuk di d**a bu Neli. 'Anak ingusan! sok cantik', Bu Neli hanya bisa gundah sendiri karena Rian ramah pada semua guru. Dan tadi dia dengar jelas dari Ester bahwa Rian mulai mendekati Ester. Kelas dua belas sibuk mengikuti les tambahan setiap hari kerja pukul setengah tiga sore sampai jam empat. Yang jauh rumahnya bermalam di rumah keluarganya di lokasi pasar dekat sekolah. Tak terkecuali Ester yang jauh rumahnya. Malamnya dia memberitahu ibunya dia akan bermalam di rumah Vivi,sepupumya dekat pasar. Ibunya menyiapkan beras dan sayur mayur yang akan dibawa Ester besok pagi, tidak lupa mengurung ayam yang akan dibawa juga "Hati-hati Nak ya, jaga diri baik-baik" "Iya Bu, Ibu juga baik-baik di rumah sama bapak, saya siapkan buku dan baju ganti ya Bu" Ester masuk ke kamarnya menyiapkan apa yang akan dibawa besok. Saat seperti ini dua tahun yang lalu bila ada kegiatan di luar rumah, Ester tak ambil pusing, ada kakaknya yang selalu membantunya.Tius, yang guru SD siap mengantar kemanapun dia pergi. Ester menyeka air matanya, dadanya perih, 'Ah mengapa kau lakukan itu Kak? mengapa kau diam saja? membelenggu dirimu dalam bisumu? Ah sakit tak terkirakan membalut kami, Kakak. Kehilanganmu mengubur separuh nyawa kami pergi bersamamu'. Ester masih menangis, rambut yang jatuh di bantal ikut basah hingga akhirnya Ester tertidur dalam kelelahan batin. *** Tius anak pertama dari keluarga Ester. Bapaknya, pak Luter, adalah kepala desa sedangkan Marta ibunya adalah guru SD. . Kakak Ester yang kedua Roni kuliah di fakultas Teknik di Makassar. Roni tinggal menungu hari wisudanya. Ester adalah anak ketiga atau anak bungsu dari keluarga pak Luter. Setelah lulus PGSD Tius, kakak sulung Ester, ditempatkan di desanya menjadi guru SD yang berlainan dengan tempat ibunya mengajar. Tius terangkat jadi guru PNS, dia berkenalan dengan Tati seorang guru honor di sekolahnya.Mereka membina hubungan pacaran yang disetujui kedua belah orang tua Tius Tati. Sifat Tius memang pendiam paling-paling cuma senyum kalau ada sesuatu. Tius anak yang baik suka membantu bapaknya di sawah dan di kebun. Dia suka memelihara ikan mas di sawah mereka. Di kebun, selain tanaman kopi dia juga menanam alpukad dan tamarillo. Tak kalah hebatnya dia juga menanam talas di sawah mereka. Ya! tidak ada hari tanpa kerja. Setelah berkenalan dengan Tati sekitar enam bulan Tius menyampaikan kepada keluarga untuk menikahi Tati. Orang tua, saudara, dan keluarga setuju. Mereka menikah dan tinggal di rumah khusus guru dekat sekolah. Namun suatu hari, pagi-pagi benar Tius datang menangis di hadapan ibu dan bapaknya, katanya Tati sudah hamil tiga bulan dari lelaki lain, dia tidak mau lagi tinggal sama Tati. "Terserah kau Nak,"kata pak Luter "saya akan tinggal lagi di sini sambil mengurus surat cerai,"kata Tius dengan mantap. Tius tinggal di rumahnya , Tati juga kembali ke orang tuanya.Tius mengurus cerai di pengadilan sampai keluar surat cerai resmi berpisah. Setelah resmi berpisah Tius tambah pendiam dan sering mengurung diri di kamar. Sampai suatu sore sekitar pukul enam sore, ibunya membangunkan Tius, tidak ada jawaban. Pintu didobrak bapaknya, ya Tuhan! Tius sudah kaku dengan seutas tali di lehernya. Ibu bapak, Roni yang kebetulan libur, Ester meratap pilu menghadapii jasad Tius yang sudah kaku. Ibu Marta dan Ester sebentar-sebentar pingsan. Ahh perpisahan memilukan. Duka memyayat kalbu kehilangan seorang kakak. Ya kehilangan seorang saudara laksana kehilangab tangan kanan, tangan yang selalu siap membantu kapanpun dibutuhkan. Ester merenung merangkai kebersamaan dengan kakaknya. 'ya aku harus kuat mengejar mimpiku menjadi seorang sarjana. Memang sepicik itukah pandangan seorang sarjana seperti ibu Neli melihat seseorang? ml
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD