"Nak, kita harus kuat. Harus tabah dan ikhlas. Kakakmu sudah berada di dunia yang lain. Tuhan mengampuni dosa-dosanya," kata pak Luter sambil terus fokus menyetir mobilnya.
Pak Luter memperhatikan wajah sembab
Ester saat mereka sarapan bersama tadi.
"Iya Pak, saya cuma begitu rindu pada kak Tius kalau ada kegiatan saya seperti saat ini dia akan dengan gembira mengantar jemput tanpa tinggal di rumah orang," kata Ester lirih.
"Tante Rut orang baik bersama suami dan anaknya Nak. Bapak mau antar jemput kamu kalau les sore, tapi jalannya cukup jauh,"
"Ah nggak apa-apa Pak, biar saya belajar juga jauh dari ibu dan bapak. Sudah hampir kuliah loh Pak,"
"Iya ya, Anak gadis Bapak sudah besar." Pak Luter dan Ester tertawa bersama menghangatkan suasana.
Malam ini Ester berbagi ranjang dengan Vivi, sepupunya.Vivi kelas sepuluh di SMA yang sama dengan Ester. Vivi mempunyai satu adek perempuan namanya Dina.
Alarm pukul lima pagi sudah berbunyi Ester mengusap wajahnya, merenggangkan tangan dan kakinya lalu dia bangun. Vivipun sudah ke kamar mandi buang air kecil.
Ester merapikan tempat tidurnya, duduk dan berdoa, kemudian mengambil alkitab dan membacanya. Selesai membaca beberapa ayat Alkitab dia sekali lagi berdoa.
.***
Pukul setengah tiga sore sekolah kembali ramai dengan siswa kelas dua belas. Kelas Ester akan mendapat pelajaran tambahan Fisika. Rian sudah memberi tahu siswa membawa buku kelas sepuluh.
Ester yang lemot di pelajaran ini bertekad untuk mempelajarinya sungguh-sungguh, apa lagi gurunya membuat Ester terkena desiran angin surgawi. Cinta pertama menyandungkan nada-nada indah dalam hati Ester.
Pak Rian masuk di kelas disapa dengan siswa selamat sore. Dia minta siswa membuka buku paket dan halamannya. Rian menerangkan materinga diikuti beberapa nomor soal dari kategori yang mudah sedang, sampai sukar.
Ester melihat soal di papan tulis, 'yah!! nomor dua bisa nih', batin Ester Setelah Ratna mengerjakan nomor satu, Ester langsung angkat tangan mengejakan nomor0 dua. Diperiksa pak Rian ya betul.
Ester senang sekali. Tambah semangat dia belajar. Pak Rian memberikan lagi materi baru diikuti dengan soal enam nomor untuk dikerjakan di rumah.
Selpi menulis soal di papan tulis, pak Rian berjalan mengelilingi siswanya perderetan bangku. Sampai di bangku Ester dia berhenti di belakang Ester yang tidak tahu kehadiran pak Rian.
Ester sementara memperhatikan handpone di pangkuannya.
Aba
Te, kita makan bakso di warung tanteYudit sepulang nanti ya.
Pak Rian ikut membaca chattingan itu. Ada rasa perih terasa di dadamya. Dia tak ingin siapapun memiliki Ester. Ester memang belum membalas curhatan perasaan pak Rian yang telah dikirim. 'Aku cari akal untuk membatalkan rencana pengirim chat pada Ester', bisik Rian dalam hati.
Ester mulai mengetik chat ke Abram, ada gesekan di kakinya. Dia melihat ke bawah.Kaki Erni. Ester menoleh ke kiri. Matanya membelalak. Dia menutup mulutnya dengan ke dua tangannya. Dia merasakan mukanya memerah. Teman-temannya cekikikan.
Ternyata pak Rian sudah memperhatikan Ester sekitar sepuluh menit. Ester salah tingkah. Pak Rian memandang siswanya satu persatu dan berkata
" Sejak pertama kali masuk di kelas Kalian, Bapak sudah peringatkan kalau sementara belajar pantang main handphone, kecuali pada saat mengerjakan soal hitucngan. Paham?"
"Paham Pak," serempak siswa menjawab
"Karena Ester melanggar kesepahaman kita maka soal tugas untuk Ester ditambah lima nomor.
Harus selesai hari Rabu"
Rian maju ke depan mengambil selembar kertas dari dalam tasnya berisi lima soal diserahkan kepada Ester 'Aduhhh mak!!!! hari ini hari Senin apa bisa mengerjakan soal Fisika yang aduhai sukarnya hari Rabu' jerit batin Ester.. Ester memperhatikan soal yang dikasih pak Rian. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ester melirik ke Abram yang pesannya tadi dia baca sementara senyum-senyum sendiri, Untung Ester tidak menulis nama Abram di ponselnya.
***
Waktu les sudah selesai, pak Rian berdiri di depan kelas.
"Anak-anak saya akan membagi kebahagiaan saya dengan kalian. Hari ini ibu saya ulang tahun, tapi beliau jauh jadi saya mengundang kalian makan bakso di tante Yudit saat ini." Kelas menjadi gaduh, ada yang tepuk tangan ada yang pukul mejanya. Cuma Abram kelihatan lesu.
Ester dan Erni jalan bareng, mereka menuju ke warung tante Yudit dan mengambil tempat di sudut yang berhadapan dengan pintu masuk. Ester duduk di bangku panjang paling ujung dan Erni duduk di sampingnya.
Abram duduk di bangku panjang lain bersama tiga teman laki-lakinya pas behadapan dengan Ester, Erni, Selpi, Uchi. Mereka cerita tentang keadaan di les tadi. Abram senyum-senyum simpul sambil menatap Ester.
Mereka terdiam tatkala pak Rian dan pak Silas masuk. menempati bangku yang kosong. Siswa ada yang mengambil tempat duduk di gazebo dekat warung tante Yudit. Tak lama kemudian datang ibu Welni dan ibu Neli bergabung, mereka duduk dengan pak Rian.
Tante Yudit sementara memasak kuah bakso, bu Welni berdiri
"Selamat sore Bapak,Ibu, dan anakku sekalian, kita memgucapkan selamat ulang tahun kepada ibu terkasih pak Rian, semoga panjang umur dan sehat selalu.Ayo kita menyanyi Panjang Umurnya."
Selesai memyanyi, ibu Welni memberikan satu permainan karena kuah bakso belum.masak
" Kalian sekarang kelas dua belas. Ibu tanya yang cowok, siapa belum punya pacar angkat tangan," sambil malu-malu , Yosef, Geri; dan Abram angkat tangan.
"Ada tiga orang. Ibu beri petunjuk kalau di kelas ini tembakannya kasih jempol, kalau bukan di kelas ini gebetannya kasih telunjuk artinya jauuh. Sambil yang lain menyemangati : I shoot you. Oke?," kata Welni.
Bu Neli memetik tiga kuntum mawar di halaman sekolah diberi pada Yosef,Abram, dan Geri.
"Kita mulai, silahkan Yosef berdiri sambil pegang mawarnya.Satu ... dua ... tiga... I shoot you ",
Warung tante Yudit ramai. Yosef mengangkat jempol berarti cewek yang dinaksir di kelas. Tembakannya jatuh pada Erni. Semua tepuk tangan, Erni malu-malu, wajahnya merona alamiah.
Kini giliran Abram memberi tanda jempol. Riuh rendah suara I ... shoot ... you ... Abram mengelilingi meja sampai di gazebo diluar, kembali masuk warung dan dia berhenti pas di meja Ester. Dengan menjongkokkan kakinya Abram memberikan bunga mawar merah kepada Ester.
Tepuk tangan dan suit suit temannya ramai terdengar. Kini giliran Gery, dia berdiri dan mengambil bunga mawar dari ibu Neli. Geri berdiri dan mengangkat telunjuknya. Teman-temannya berisik.Gery kembali duduk. Ibu Welni berdiri dan berkata:
"Permainan selesai tapi harus pedekate dulu jangan-jangan Ester atau Erni sudah punya pacar, mengerti?"
"Mengerti Bu." Tidak lama kemudian bakso terhidang. Mereka makan dengan lahap apalagi sudah mulai dingin,untung mereka memakai sweater kalau les tambahan
Rasa galau, jengkel, cemburu berkecamuk di d**a Rian. Dia menatap Ester yang hanya tertunduk malu. Di sisi lain Neli bersorak kegirangan dalam hatinya.'Permainan brilliant,''bisik Neli dalam hatinya.
Malam beranjak menyapa diiringi bunyi jengkrik bersahut-sahutan. Vivi sepupunya juga sibuk belajar, bapak, ibuk,dan adeknya Vivi sementara menonton di ruang tengah. Ester mengambil buku Fisikanya dan memperhatikan soal untuk seluruh siswa dan soal hukumannya. Dia mengamati soal itu, yang bisa dia kerjakan cuma tiga nomor.Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ada chat dari pak Rian.
Pak Rian
Malam Cantik. Pertanyaanku itu malam belum dijawab ya. Aku menunggu ini malam Ter.
Ester
Selamat malam juga Pak.Belum sempat menjawab Pak. Ini soal Fisika sukar sekali
Pak Rian
Ah gampang Ter. Tolong foto soal yang sukar baru kirim ke Whatsappku Tapi ada syaratnya
Ester
Syaratnya apa Pak?
Pak Rian
Jawaban pertanyaan kata hatiku
Ester melamun membayangkan ibu Neli dan Abram. Kedua orang itu silih berganti muncul dalam pikirannya. Kata-kata bu Neli di warung tante Yudit menciutkan nyalinya dan menyesakkan d**a. Namun ada debar- debar aneh hadir dalam dadanya, Ester juga suka kepada pak Rian. Di sisi lain Ester memikirkan Abram yang sangat baik tapi dia merasakan Abram adalah hanyalah saudaranya, tidak mempunyai perasaan khusus.
Siapa yang dijadikan Ester belahan jiwanya? Pak Rian atau Abram. Penasaran? Silahkan baca bab selanjurnya.
ml