1 Minggu sebelum pernikahan Tante Hani dan si Ganteng ku , semua orang terlihat sibuk dengan segala sesuatu Nya. Seribet ini kah menikah. Yah memang begitu sepertinya. Aku hanya bisa membantu sebisa ku. Asal mama, Tante, atau Mbah yang menyuruh ku, aku iya saja asal aku terlihat sibuk dan melupakan laki-laki gila itu.
Kenapa harus hamil dulu, apa sih yang ada di otak mereka. oh my... apa karena aku kecewa dengan laki-laki itu dan aku jadi uring-uringan begini??.
"Hai nduk, kok ngelamun.." Itu suara ibu nya Pak Banyu, kami sedang berada di kamar tante Hani sekarang karena Tante Hani harus mencoba baju pengantin yang di pakai saat resepsi yang sebelumnya salah ukuran.
"Eh nggak kok buk.. eh aduh apa ya te panggiNya". Jawab ku dengan canggung. Jujur saja aku bingung harus memanggil ibu dari laki-laki yang aku cintai ini apa. Karena dia bukan akan menjadi mertuaku, tapi Tanteku.
"Kamu ini kok lucu sih nduk. Panggil ibuk aja nggak apa-apa. Lagi pula saya ini kan nggak punya anak perempuan, jadi waktu ketemu Tante mu ya saya seneng . Akhirnya dapet anak perempuan ya, dan di tambah ada kamu. Makin banyak ya anak perempuan ibuk."
Dengan senyum nya yang selalu mengembang ibu Pak Banyu menjawabku . Dan Tante pun hanya tersenyum, seakan-akan dia seberuntung itu mendapat kan mertua seperti ibu Nya pak Banyu.
"Iya Li panggil ibuk aja. Nanti sering-sering main kerumah ibuk deh li. Biar di masakin terus. Nanti bisa temenin aku dulu juga dirumah mas Banyu yang sebelahan sama ibuk, ya buk."
"Iya nduk Li. Kata Banyu kamu baru aja lulus kan. Bisa itung-itung liburan nanti kerumah ibuk dl deh ya."
Laki-laki sialan itu untuk apa menceritakan tentang ku pada Mamanya. Memang dasar biaya sange an. Ya Allah mama tolong carikan aku jodoh saja...
"Iya buk insyaallah deh nanti aku main. Mumpung belum dapet panggilan kerja juga sih."
"Emang udah nglamar dimana aja Li?."
"Baru di deket-kedet aja sih te, belum naruh di bank yang di kota. Sebenernya sih masih pengen dirumah. Capek soalnya skripsi kemaren aku ngerjainnya Sampek kaya gitu.Tapi takut dibilang nggak guna sama tetangga" jawab ku sambil bercanda, aku memang ingin bekerja di bank yang ada di kota. Atau di Semarang. Yah tentu saja aku ingin menghindar dari Tante dan suami sialan nya itu.
"Haha.. Duh kamu ini nduk. Jangan dengarkan omongan tetangga nduk yang penting kamu itu nyaman. Saya juga yakin mama kamu nggak akan setega itu untuk nuntut kamu kerja kan. Anak secantik gini lebih baik memang dirumah aja yakan . Jangan jauh-jauh."
Itu kan untuk lari dari kenyataan buk karena ditinggal menikah oleh anak mu.
"Iya lah buk anak cantik-cantik gini mama pasti nggak rela jauh dari aku."
jawab ku dengan khas bercandaanku yang ini.
"Buk sudah pas ini buk nggak terlalu ketat juga.... bla..bla...bla.."
Aku keluar kamar Tante dan bergegas pergi ke kota untuk membeli pakaian dalam.
Sekitar 40 menit aku tiba di swalayan yang ada di kota. Daripada galau dirumah, mencari alasan untuk keluar rumah begini mungkin lebih baik.
***
"Sah,,, Sah,,"
Suara suara setelah ijab Kabul Tante Hani dan Pak Banyu terdengar nyaring di telinga ku. Seharusnya aku tadi ingin bersembunyi di kamar saja tapi saat akan sampai kamar aku malah bertemu dengan papa dan Alhasil papa menyuruh ku keluar dan duduk di dekat Tante Hani. Karena ijab akan segera di mulai katanya. Dan ya, aku menyaksikan pernikahan laki-laki itu. Selamat tinggal si Ganteng ku. Semoga cinta ku dan galau ini hanya sesaat. Karena tidak lucu juga aku mencintai suami Tanteku.
Tamu semakin banyak saja hari ini. Baru jam 1 begini aku sudah terlihat tidak semangat. Aku menjadi pagar ayu by the way. Sebenarnya aku senang saat wajah ku terpoles make up begini. Ya kalian tahu apa sebabnya aku lelah dengan segala kerepotan nya ini.
"Mbak tolong anterin kipas ini buat mbak Hani ya, tadi bilang agak gerah soalnya. Aku mau makan dulu laper ini."
Dia naya, Anak dari saudara Mbah ku. Kenapa harus aku, aku kan ingin menghindari suami Tante itu.
"Dih dia yang disuruh malah nyuruh aku gimana sih".
Terpaksa aku berjalan malas ke arah kursi pelaminan.
"Nih ye kipasnya te."
Sepasang mata tajam itu menatap ku dengan penuh arti. Atau mungkin hanya aku saja yang baper.
"Iya Li makasih ya. eh Li ambilin makan dong li."
"Ih ogah ya, nggak liat apa aku lagi ribet gini baju nya. Suruh ambil bojo mu ini aja sih te." Agak menyesal aku mengatakan ini tapi aku ingin mengurangi interaksi apa saja yang berhubungan dengan laki-laki ini saja.
"Harum ambil nya sama aku aja ya yang, kamu disini aja jangan banyak gerak dan jangan capek". Aku ingin lari pastinya. Hati ku nyeri saat mendengar jawaban suami pada istrinya itu. Dan sang istri mengangguk dengan senyum manisnya. Sedangkan aku terpaksa mengekor di belakang laki-laki sangean ini.
Dia sampai di tangga paling bawah pelaminan dan mengulur kan tangan nya padaku, memang aku sedikit susah berjalan dengan rok yang menyerupai jarik ini. Susah sekali berjalan. Tentu saja aku menolak tanpa melihat ke arah nya. Silahkan saja orang-orang menganggap ku tidak sopan. Saat aku sampai tangga terakhir aku tepis tangan nya. Dia terus melihatku seperti biasa.
"Ini om,udah sana bawa ke Tante. Aku mau balik ke depan." Tanpa menunggu Jawaban dari nya aku berlalu begitu saja. Untung air mata ini bisa di tahan. Memang aku siapa nya, tidak berhak menangisinya.
Selamat membaca guys...