"Duh cantik nya anak mama. Abis ini kita langsung pulang apa kemana dulu Li?".
"Acara bentar lagi selesai ma kok udah bahas mau kemana, yang penting makan aku udah seneng kok ma."
2 Minggu setelah tunangan Tante Hani dengan Pak Banyu aku kini wisuda. Gilang dan Mita menyusul katanya dan Ayu sudah di wisuda bersama ku sekarang ini. Kebetulan Ayu dan aku tidak terlalu jauh jarak rumah kami. Sehingga orang tua ku dan orang tua Ayu saling mengenal. Aku kuliah di universitas yang ada di Jepara. Menurut ku tidak perlu jauh-jauh untuk kuliah bukan karena manja tapi itu pilihan ku. Agar mama pun tidak terlalu khawatir dengan anak gadis satu-satunya ini.
"Selamat ya jeng, bisa barengan gini wisuda nya ya anak-anak kita". Mama Ayu menyapa mama saat keluarga ku akan berjalan keluar gerbang gedung menuju parkir mobil saat acara selesai.
"Selamat buat Ayu juga ya jeng. Oh iya mau bareng sekalian jeng? Kebetulan Lia lapar katanya mau ngajakin makan dulu ini."
"Wah terima kasih jenk kebetulan kita mau ada acara sendiri ini. selamat bersenang-senang saja jeng."
"Yasudah kalau begitu kita duluan ya jeng". Lalu kami bersalaman saat akan pergi menuju parkir mobil kami.
"Pak Banyu tuh Li."
"Ape urusan nya sama aing." Tiba-tiba Ayu berbalik dan membisikkan itu pada ku. Memang kurang ajar dia, membuat ku salah tingkah saja.
"Alah di hati aja pasti seneng kan kamu. Ih pake malu malu . Inget tuh dia punya tante mu sekarang". Sambil cengengesan dia berlalu pergi begitu saja. Sedangkan aku diam diam berjalan di belakang mama agar tidak terlalu terlihat oleh nya. Tentu saja aku masih berdebar. Dan benar yang dikatakan Ayu tadi. Aku salah tingkah.
"Mas , Mbak mau lanjut acara? " Sapa si manusia ganteng ini pada orang tua ku. Suaranya terdengar begitu sexy untuk ku.
"Iya ini mas Banyu. Mau ikut sekalian? ini mau makan kok. Lia yang ngajak. Iya kan Li? Eh mana sih, Salim dulu dong Li sama om nya." Sepertinya mama baru menyadari kalau aku di belakang nya tanpa mau menyapa orang ganteng ku itu.
Dengan terpaksa dan masih berdebar aku menyalami orang ganteng ini tanpa mau membuka suara. Hanya melakukan perintah mama saja untuk menyalami nya. Iya aku mencium tangannya. Sesuai tata Krama kalau dia lebih tua dari ku lebih lagi dia salah satu dosenku dan calon suami Tante ku.
Dia menerima uluran tangan ku, dan saat aku mencium tangan nya, apa-apaan tangan kirinya sempat sempatnya menepuk kepala ku lebih tepat nya rambut ku yang masih sanggulan itu. Aku langsung mundur setelah menyalaminya. tanpa suara.
"Kebetulan saya mau kerumah ibu mbak. Kata Hani tadi muntah terus, mau di bawain bakso."
"Wah belajar jadi suami siaga sepertinya ya mas Banyu." Kini papa yang menjawab si ganteng ku.
Eh tunggu suami siaga? Muntah? Kenapa aku jadi curiga kalau Tante Hani...
Ah mungkin saja kalau Tante hanya sakit kan. Biasanya aku kalau sakit juga banyak maunya kan. Positif thinking Lia, jauh-jauh lah pikiran negatif.
"Memang kalau masih awal-awal emang gitu kok mas Banyu, jangan terlalu khawatir ya." Kali ini jawaban mama terdengar ambigu. Sialan apa yang aku tidak tahu kali ini. Fix setelah ini aku harus bertanya pada Mama.
"Yasudah kalau begitu Mas,Mbak saya duluan."
"Iya iya mari mari".
Aku tanpa sadar menatap sengit ke arah si ganteng ku itu. Dia berjalan kearah mobil nya yang ada di seberang mobil papa. Memang usil atau bagaimana aku tidak tahu, dia terkekeh sendiri dan melihat kearah ku saat aku menatap nya sengit.
***
"Ma, Tante emang sakit ya?". Mama tampak berpandangan dengan papa sekilas sebelum menjawab ku. Sudah aku bilang aku bukan tipe perempuan sabar , setelah di dalam mobil langsung saja aku bertanya pada Mama.
"Iya Li. Duh gimana ya Li.".
"Ih mama kenapa sih".
Lupakan saja. Bukan urusan ku. Aku ikhlaskan di ganteng ku itu kan. Mungkin hanya galau sesaat. Nanti kalau aku sudah membuka hati dan ada yang mendekati ku, aku yakin akan bisa lupa dengan calon om ku itu.
***
"Mbaaaaahhhh"
"Ndukk, mbok yang halus loh gausah teriak-teriak. Berisik kamu ini. Ada apaan cucu Mbah yang cantik ini?"
Sepulang kuliah sudah terbiasa begini kalau dirumah tidak ada makanan atau lauk mama tidak cocok untukku. Dan karena sekarang sudah tidak ada kegiatan, beginilah siang ku.
"Ya mau minta makan dong? Punya lauk apa Mbah?"
"Ada ayam sambel juga,ambil sendiri ya. Mbah mau nemenin Tante dulu. Nggak mau ditinggal dari kemarin, mual terus."
"Dasar tua-tua manja deh".
"Hush jangan gitu. Maklum kan baru 1 bulan. kasian tantenya. Dikasih mual-mual pas hamil muda gini . Padahal dulu mama mu nggak. kok tante mu beda ya."
Sontak aku membelalakkan mata ke arah Mbah. Mbah dengan santai nya keluar dapur menuju kamar Tante. JADI APA PEMIRSAH???? JADI TANTE HAMIL DULUAN BEGITU???? WAAAAAWWWW
Jadi ini yang aku tidak tahu. Mungkin Mbah kira aku sudah tahu. Betapa terkejutnya aku, kecewa lagi. Lebih tepatnya kecewa dengan laki-laki itu. Jadi begitu gaya pacaran nya dengan Tante. Tidak aku sangka sama sekali. Yang aku kagumi ternyata tidak sebaik itu. masa bodoh sekarang, Tiba-tiba ilfil pada nya dan Tante. Kerja jauh jauh di kota tapi malah bergaul tanpa batas. Aku bukan orang yang tidak asing dengan pergaulan seperti itu tapi tidak melakukan nya tentu saja. merokok mungkin iya saat bersama ke tiga teman ku saja,itu pun saat nongkrong di kota. Meminimalisir ada yang melaporkan nya pada papa. Tapi untuk s*x bebas?? Bahkan memikirkan nya saja aku belum berani. Takut kalau-kalau laki-laki nya adalah orang yang tidak bertanggungjawab dan sudah biasa melakukan s*x dengan para perempuan lain di luar sana. Jadi rugi aku kan.
Aku sudah masa bodoh dan makan santai di ruang Tv rumah mbah. Tiba-tiba Si ganteng masuk ke kamar tante dia berjalan dari arah pintu samping. Melihat ku sekilas, aku juga tidak berminat melihatnya. Entah apa yang dia pikirkan, dia terlihat kusut. Tapi sialnya semakin terlihat sexy. Duh otak, kenapa selalu berpikir kotor saat ada dia di dalamnya. Apalagi saat aku tahu Tante hamil. Jadi penasaran seberapa besar dan panjang ukuran milik nya itu. Sehingga Tante hamil begitu. Ohh...Sudah gila aku sepertinya. Lebih baik pulang saja.
"Ah dasar sialaaaaaaannnnnn..." Sambil berjalan ke dapur aku merancau tidak jelas karena rasa kecewa ku ini. Berharap tidak ada yang mendengar. Ku lanjutkan dengan bernyanyi lagu galau. Bergaya sok galau tentu saja, entah kelakuan gila macam apa, yang penting aku tidak menangisi laki-laki penggila s**********n itu.
"Jika cinta diaaa, jujurlah pada kuuuu..
Tinggalkan aku disini tanpa selangk*ngan muuuuuuuhhhhh.....
jika cintaaa dia ku coba mengertiiiiii...
hissshhhhh ajggblkbgstfck..." Saat nada terakhir volume suara ku aku rendah kan tentu saja, kalau Mbah atau yang lain mendengar bisa mati aku.
Membereskan acara cuci mencuci piring dan akhirnya aku mencuci semua piring kotor di dapur milik Mbah ku sambil bernyanyi dan merancau tidak jelas. Sudah aku bilang kalau aku ini tidak selembut perempuan di luar sana. Aku ini bar-bar, tidak sabaran. Dan apa adanya pastinya. Lebih baik kan daripada munafik.
Tapi Tiba-tiba aura di belakang ku serasa horor sepertinya aku tidak sendirian di dapur milik mbak ini.
"Selangk*ngan siapa yang ninggalin kamu?".
"ASTAGHFIRULLAHAL'ADZIM..".
Memang si ganteng sialan ku ini selalu membuat ku tidak pernah tenang. Selalu muncul dengan sendirinya dan tanpa suara membuat jantung ku hampir copot. Ngomong-ngomong seperti Dejavu adegan di dapur ini.
"G sopan sih pak. Salam kek, g ada suaranya tiba-tiba nongol aja kek setan.". Ups yahh,, jadi keceplosan kalau sudah begini ingin cepat kabur saja rasanya.
"Om dong rum". Berdiri di sampingku dan menghadap ku dengan santai nya dia menjawab.
"Lia om bukan rum. Main ganti nama orang aja ih.". Masa bodoh kalau dia mau marah padaku.
"Saya sukanya panggil Harum aja, boleh kan."
"Terserah deh om. Permisi deh princess pulang mau bobok dulu".
Aku sedikit berlari menghindari dia tapi apa, tangan ku dicekal oleh nya . Sehingga aku sedikit tertarik ke arah nya. Aku terus menatap nya tanpa suara. Dia pun sama.Kenapa dia diam. Kenapa hanya menatap dengan tatapan begitu. Ingat Lia dia Om mu. Jangan terbawa suasana. Aku beranikan diri untuk bertanya saja.
"Ngapain narik-narik tangan aku pak?"
.....
Dia tetap diam..
Lalu aku tarik saja tangan ku dan langsung kabur lari menuju kamar ku. Aku tidak tahu apa yang mau dia bicarakan. Entah tidak berani bicara,takut atau apapun. Dia hanya diam dengan tatapan gilanya yang aku tidak tahu artinya itu. Penasaran tentu saja. Tapi sudah aku tidak mau ambil pusing. Toh dia bukan siapa-siapa untukku kan. Dia akan menikah dengan tante kan. Tanpa aku sadari air mata ku jatuh..
Besok tekat ku sudah bulat akan mencari kerja di kota saja. Supaya tidak bertemu laki-laki itu setiap hari.
Terimakasih sudah membaca ceritaku.??