Iya Cinta,. mungkin kita belum berjodoh Part 3

1617 Words
"Ma kemarin aku ketemu Tante ma. Dia sama cowok. cowoknya apa ya ma?". "Nanti tanya ke tante li kalo kamu main ke Mbah". "Yaudah ma. Masak apa ma?". Alih ku. karena aku tidak mau terlalu terlihat sangat ingin tahu. "Kepiting kamu kemarin yang mama masakin itu masih li. Di panasin gih dimakan. Papa nggak mau katanya biar kamu abisin". *** Saat aku pulang nongkrong bersama ke tiga teman ku, siapa lagi kalau bukan Mita, Ayu , Gilang, mama baru pulang dari tempat mbah. "Dari mana ndoro?". "Ndoro gundul mu.". Sambil memukul kecil kepala ku. Mama dan aku memang agak bar bar orang nya. Tidak kalem kalem banget seperti perempuan pada umumnya ya. "Itu Tante hari Minggu nanti mau di lamar, tadi uda di kasi seragam jadi nya. Kamu kembaran sama Abang mu. Udah jadi semua li.". "Cepet amat ma. Hari Minggu ya ma. Emang Abang bisa pulang, Ntar kalo kekecilan gimana?". Kata ku sambil menenteng kebaya itu. "Nggak kayak nya kalo kekecilan. Ngepas aja mungkin. Alah kamu juga suka nya pakek yang modelan press body begitu kok.". "Yaudah deh ma. nggak apa-apa deh ,bagus ini.". "Gratis magsud kamu kali.". "Tau aja sih ma. Yaudah ma aku ke kamar dulu". "Hmm". *** Hari Minggu telah tiba. Para tamu sudah berdatangan, saudara jauh dekat semua jadi satu dirumah Mbah. Aku jadi ingin seperti ini, kira-kira jodohku nanti siapa ya tuhan? "Cantik amat calon manten." "Apaan bocah, masih sebulanan lagi mantenannya kok Li". Spontan aku mengernyit. "Cepet amat, langsung nentuin tanggal gitu te?". "Iya udah 3 tahunan aku sama yang ini jadi ya ngapain lama-lama." "Keburu tuak kali iya.". "Sialan Lo ah." "Ini pada ngapain ,buruan itu ni keluar. Udah di tunggu. Biar cepet di mulai , kasihan udah pada nunggu itu." Tiba-tiba mama masuk kamar Tante Hani. Lalu menggandeng Tante berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan. "Dor". Kaget lah Abangku. Karena dari tadi dia tidak menyadari aku ada di belakang nya. "Astaghfirullah dek, kaget aku ah." "Siapa suruh main hp mulu. calon bang? ". "Kepo amat adeku ini. Aku sih yang mau banyak dek. Kamu nih mana, buruan bawa pulang cowok. Udah makin tua ini loh". "Enak aja". "Li itu Tante temenin dulu Li, kamu duduk sebelah nya dulu sebelum calon nya nyemperin pas acara inti nya nanti.". Budhe Yanti bicara pada ku sambil membawa minum untuk tamu." "Iya budhe". Sudah kira-kira 30 menit aku duduk di sebelah Tante,lalu mulai lah detik detik acara inti dan aku shock melihat siapa yang sedang berjalan ke arah ku dan tante hani jantung ku berdetak, sangat cepat. Iya dia dosen yang aku kagumi fisik nya itu dia memakai batik yang sama dengan tante Hani. Jantung ku Melebihi saat olahraga mungkin. Dan disertai dengan rasa sakit,nyeri dan sejenisnya. Bagaimana ekspresi ku? Jangan tanya lagi. Sudah pasti aku kaget, persis seperti orang linglung. Mungkin memang sudah nasib. Baru saja hati ini terbuka untuk pria yang bisa disebut juga tipe ideal ku dan belum juga maju tapi belum apa-apa sudah kalah. ‌ Aku berusaha mengendalikan ekspresi ku kali ini. Hanya sekilas atau bisa dibilang dari ekor mata q dan mencuri curi pandang mungkin, ya sejenis itu lah gambaran ku melihat ekspresi nya juga. Seperti merasa terintimidasi. Dia menatap ku saat aku mencuri pandang lagi beberapa kali. Aku tidak salah dia memang menatap ku. Tapi untuk apa, apa dia juga tertarik pada ku? Duh pak tidak tahu kah kamu kalau aku jatuh cinta pada mu saat pertama kali bertemu dengan mu. Aku paling lemah kalau di tatap seperti ini. Aku sudah berjalan ke sebelah Bang Gama kakakku. Lalu memegang tangan nya erat untuk menghilangkan ke tegangan ku. ‌ ‌"Kamu kenapa sih dek? Lepas kek tangan abang." Tiba tiba abang ku menegur ku dengan memegang tangan ku juga untuk menenangkan ku. Memang dia biasa begitu saat aku merasa tidak baik-baik saja. "kamu ada kenal sama salah satu keluarga tunangan tante?." dia bingung melihat ku masih diam. "nggak ada bang cuma kaget aja itu om nya itu dosen baru di kampus ku." memaksakan senyum memang lebih baik untuk sekarang. "Li tolong nanti kasih cincin nya ya, bentar lagi mulai itu tukar cincin nya. Buruan kesana lagi Jangan nempel abang terus nak." aduh mama anak mu ini sedang menghindari om nya itu. Kenapa mama malah menyuruh mendekat sih. "disini aja kenapa sih ma, malu aku nggak pede ini. Kalah cantik nanti sama tante." Sok insecure aku. Padahal biasanya aku cuek orang nya. Ma please ma tolong lah ma ,biar aku disini saja. Kata ku dalam hati tentunya. "Apaan kok , tetep cantik lah anak mama , ya bang?. "Iya lah siapa yang bilang adek Abang jelek, udah sana kasian Tante itu Mbah kan di belakang mereka kayak nya itu. Belajar biar pengalaman. " Sambil memanyunkan bibir ku aku akhirnya berjalan membawa cincin dan perhiasan mereka. Tuhan, aku sedang mendampingi calon imam ku untuk menuju halal begitu. Hah mimpi apa aku. Hai hati, Jangan remuk dulu ya. baik baik sajalah. Mungkin dia tidak untuk aku. Lesu sambil berjalan ke samping mereka. Aku hanya mampu memandang cincin di dalam kotak yang aku pegang ini. Tante dulu yang mengambil lalu di pasangkan lah ke pemilik jari yang ingin aku bawa kabur ini. Riuh saudara-saudara ku tidak aku pedulikan. Aku tetap diam saja dan terus memandangi kotak cincin ini. Dalam hati terus berkata, apa benar dia bukan untuk ku, belum apa-apa aku sudah di buat galau begini. Dan saat giliran Pak Banyu yang mengambil cincin nya. Aku tetap menunduk, jangan sampai terlihat kalau aku tidak baik-baik saja. Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam tangan kanan ku. Sontak aku mendongakan kepala. Apa yang dia lakukan, dia menatap ku sambil menggenggam tangan ku, dan tangan kanannya mengambil cincin di kotak yang ada di tangan ku. Senyuman hangat seolah-olah mengatakan bahwa Jangan sedih, seolah-olah mengatakan bahwa aku harus kuat. Aku tentu saja seperti orang bodoh , seperti kita bisa berkomunikasi lewat tatapan mata saja. Aku tersenyum tipis lalu menunduk lagi. pelan-pelan dia melepaskan tangan kiri nya yang menggenggam tangan ku tadi ,di Sertai dengan elusan samar di permukaan kulit tanganku. Lalu dia memakaikan cincin di jari Tante Hani. Aku memandangi itu tentu saja. Apa yang aku harapkan. Seperti merasa lega saja setelah bertatapan dengannya di jarak sedekat itu. Tapi tentu saja aku kalah lagi di cerita cinta yang bahkan belum aku mulai sama sekali. Ya cinta,, mungkin kita belum berjodoh di kehidupan sekarang. Senyuman getir tersungging di wajah ku. Aku gelengkan kepala ku dan berlalu dari tempat menyesakkan ini. Ya aku pulang. Lewat dapur rumah Mbah. *** Acara selesai jam 11, mama baru pulang dari rumah sebelah. Aku hampir lupa kalau aku belum makan dari sore tadi. Dan di malam acara dengan penuh rasa sesak mana mungkin aku ingat makan. "Ma laper nih, aku lupa deh tadi nggak makan langsung pulang. Gerah banget abisnya ma.". "Ke dapurnya Mbah aja ya Li, mama belum sempet ambil apa-apa. Masih ada mas Banyu nya di situ tadi sama temennya. Masih pada ngobrol sama Mbah." Mama menjawab sambil berberes di dapur. "Yaudah aku kesana deh". Dengan memakai daster diatas lutut, tidak terlalu pendek sepertinya. Dengan cuek nya aku berjalan ke dapur , pikir ku karena sudah malam pasti tidak terlalu ada orang apa lagi di dapur kan. Dengan make up yang sudah terhapus, ya memang sudah bersiap untuk tidur tapi karena lapar ya apa boleh buat. "Ekhmm". "Astaghfirullahal'adzim". Sambil memegang d**a ku aku menoleh siapa yang mengagetkan ku saat makan ini. Berani sekali. Deg... Apa lagi ini Tuhan, kenapa malah dia ikut duduk di sebelah ku dan menatap ku tentu saja. Dengan cueknya aku terus makan. Masa bodoh dengan penampilan ku lali ini di Depannya. "Hai." Setelah 4 menit atau 5 menit dia baru bersuara. 5 menit berlalu itu dia hanya memandang ku dari samping saja. "Hai juga cowok. Makan yuk." Masa bodoh sudah kelakuan abstrak ku itu. Aku menjawab sambil melihat makanan ku tanpa melihat dia. "Kenapa makan sendirian?". "Kan anak perawan jodoh nya di embat orang, ya sendirian lah". Setelah mengatakan itu aku menutup wajah dengan tangan kiri. Tanpa sadar aku menjawab seperti itu. Bagaimana kalau dia salah faham Dengan ku. Seperti merasa kehilangan nya misalnya. Dia terkekeh dengan menyingkirkan tangan ku agar aku tidak menutup i wajah ku. "Kenapa tadi langsung pergi?". Aku memberanikan diri melihat wajahnya saat mengatakan itu. Kenapa tidak ada senyum lagi. Padahal tadi dia terkekeh kan. "Jangan pegang-pegang pak, nanti aku hamil... eh magsud nya nggak gitu..hehe maaf pak". Duh punya mulut kenapa keceplosan. Ini bukan Mita dan Ayu yang bisa aku ajak bercanda seperti itu. "Dijawab dulu , kenapa pergi dulu tadi?." "Nggak apa-apa pak. Aku capek aja pak. " "Om Banyu Harum, bukan pak." Oh dia begitu. Yasudah kalah aku pak kalah. Aku melepaskan mu dengannya pak. "Iya om." Aku turuti mau mu untuk memanggil om, pak. Untung sudah suapan terakhir. Semakin galau hati ini di buat nya. Aku ingin cepat cepat sampai di kamar ku. Aku langsung berdiri dan mencuci piring ku. Tiba-tiba dia sudah ada di belakang ku. tentu saja aku terkejut bukan main. Wangi parfumnya tercium hingga dalam. Itu tanda nya dia sangat dekat kan. Aku tanpa sadar menoleh dan mata kami bertemu sangat dekat. "Maaf ya." Hanya itu kata kata yang keluar dari bibirnya. Saking takut kebablasan aku mendorong d**a nya dan lari tanpa menyelesaikan cuci piringku. Apa-Apaan tadi itu. Hah lebih baik aku tidur saja. Sampai kamar dengan jantung masih berdetak kencang. Aku terus kepikiran dengan ucapan macam orang sange itu. Tanpa tau magsudnya. Dan tidak mau tahu juga. Karena takut berharap. Ingat Li dia punya tante. Bukan punya mu. Belajar ikhlas saja lah hati, semoga kuat ya. Maaf ya aku rombak cerita nya dan baru dapat semangat untuk nulis lagi. Kasih jejak yok supaya aku semakin semangat nulis nya. ;)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD