Mirip Part 2

1208 Words
"Tuh tante mu pulang li". Kata mama sambil berjalan dari dapur saat melihatku keluar kamar pagi ini. "Mana ma? sendirian dia ma pulang nya?". Tanya ku pemasaran karena di Semarang dia tinggal sendiri dan tertutup kalau di tanya soal pasangan. "Kayaknya pacarnya, tapi dia tadi g bilang li kalo pacarnya.Tapi mama yakin deh li kalo itu pacarnya". Yakin sekali mamaku ini. "Mama bukan di pastiin dulu,aku kepoin ya ma?". Sambil lari ke sebelah rumah ku, ya dia pulang kerumah mbah kakung dan mbah Uti ku,dia adik mama ku. "Teee..." Aku memanggilnya sambil berteriak,kami cukup dekat sebenarnya.Tapi karena lama tidak bertemu aku jadi seperti jauh dari Tante sepertinya. "Apaan deh berisik kamu ih". Jawab nya yang melihat ku datang menuju kamarnya saat dia sedang bersantai menonton tv nya itu. "Te kata mama pulang di anter siapa te?". Sambil aku duduk di kasur sebelahnya. "Anak kecil nggak boleh kepo deh li". Memang begitu tidak pernah mau menjawab pertanyaan tentang pasangannya. "Heleh aku udah dewasa te, De Wa Sa". Tekan ku. "Iya iya dewasa, lagian Tante nya pulang nggak di tanyain kabar malah tanya pulang sama siapa. Terus mana pacar mu yang diceritain mama mu itu? yang katanya tipe mu pake banget." Iya waktu itu aku menggebu gebu bercerita tentang Doni,mantan pacarku yang selingkuh dengan teman satu kampus ku satu tahun yang lalu. "Ah nggak seru si tante". Kataku dengan pergi dari kamarnya menuju rumah ku yang bersebelahan dengan rumah Mbah. Padahal lewat dapur lebih dekat karena bagian belakang rumah ku dengan rumah Mbah bisa dikatakan menyambung. Tapi mamanya juga anak perawan siapa tahu jodoh ku sedang melintas saat aku melewati depan rumah kan ya. ;) "Li pagi pagi amat udah keluar rumah Mbah,ada apaan li?". Sapa Tante Nin tetangga depan rumah Mbahku. Aku cukup ramah walaupun kata orang yang baru pertama melihat wajah ku mereka pikir aku jutek dan sombong. walau begitu aku lebih cantik dan sexy dari tante Hani. d**a ku dan bagian belakang ku itu idaman semua pria tentunya. Tapi jangan salah walaupun aku banyak punya kelebihan tapi tetap berusaha aku menutup i nya walaupun tanpa hijab juga tapi pakaian ku selalu tertutup. Tanteku bernama Hani. Dan ibu ku bernama Hana by the way. "Nggak ada apa apa tante nin. Itu si Tante Hani pulang. Aku cuma kesenengan terus tadi langsung lari kesini". Sambil menutup pagar rumah Mbah aku menjawab sapaan Tante nin. "Oh kirain ada apaan li,tumben gitu kamu pagi pagi udah disana". Senyumnya. "Yaudah Tante aku masuk rumah dulu ya". Lalu aq berjalan memasuki pagar rumah. "Wah enak nih ma." Aku mencicipi kuah kepiting asam manis yang dimasak oleh mamaku. "Itu tangan jangan usil kenapa sih li. Ambil sana piring terus sarapan. Papa udah berangkat sih,kalo belum bisa di tegur nanti kami". Imel mama padaku. "Aku makan kalo pulang dari kampus aja deh ma kayaknya". Aku dan mama memang cukup dekat karena anak mama hanya 2 aku dan kakak laki laki ku yang berprofesi sebagai guru dan sudah ASN. Beruntung ya.dia sudah mempunyai rumah sendiri walaupun belum menikah. "Kemarin kan udah bimbingan sekarang lagi? Tapi nggak makan dulu li? Biar semangat, ini kan kepiting asam manis loh li kesukaan kamu". Kata mama dengan mamatikan kompornya. "Biar cepet selesai ma, siapa tau ini nanti bimbingan terakhir aku ma". Maafkanlah aku ma,aku ingin bertemu pak Banyu sebenarnya walaupun hanya melihat saja sepertinya aku sudah bahagia. Siapa tahu dia tertarik pada ku juga kan. "Yaudah mama doain hari ini terakhir ya biar bisa cepet wisuda terus siapa tahu juga bisa cepet dapet kerja kayak yang kamu pengenin ya.". Kalau mama sudah berkata begitu sepertinya akan menjadi kenyataan,harapku. "Iya ma". Dengan senyum terus menghias aku mandi dan bersiap-siap berangkat ke kampusku. Semangat sekali seperti nya aku ini. *** "Selamat ya mbak Harum, akhir nya kali ini selesai sempurna". Senyum puas pak Ali dosen pembimbing ku tidak lepas dari wajahnya. " Alhamdulillah ya pak, terimakasih untuk bimbingan nya selama ini ya pak, akhirnya saya bisa ikut wisuda Oktober nanti". Kami berjabat tangan,dan memohon pamit kemudian aku keluar ruangannya. "Selamat ya li". Teriakan Mita,Ayu,Yesi dan Gilang yang sudah menungguku di cafe. Cafe ini cukup terkenal saat ini. Tapi aku tidak menyangka mereka menyiapkan hal semanis ini. "Ya Tuhan makasih ya gais. Kalian so sweet banget sih". Mata ku berkaca kaca karena kejutan meraka. Sudah cukup lama kami bersenang-senang di cafe ini dan akhirnya kami pun memutuskan pergi karena hari sudah sore hampir malam. "Eh itu tante Hani bukan ya li". Gilang tiba tiba bersuara saat kami berjalan yang hampir sampai kasir. "Iya li itu tante hani deh . Udah pulang ya li dia. Tapi sama siapa itu li." Mita memang hafal perawakan tante Hani karena dia yang sering main kerumah ku. "Cowoknya kali mit". "Tapi kayak pernah liat emang sih lang. Tapi siapa gitu yakan mit , li". "Udah yuk bayar dulu aja , dijlaan ini kita nggak enak kalo ada yang lewat". "Iya Ayok ntar di marahin orang". Aku mendorong mereka agar lebih cepat sampai kasir karena kami memang menghalangi jalan. Tapi setelah aku perhatikan sepertinya... 'DEG'.. "Ini anak kenapa lagi malah bengong,buru jalan ah". Gilang yang menyadari aku tidak segera berjalan lalu menegurku. Aku berjalan dulu dengan alasan gerah,berjalan cepat menuju mobil yang terparkir di area parkir depan cafee. "Ati ati li jangan cepet cepetan gitu,ngejar apaan sih". Teriak ayu spontan. "Duh kok tetap nggak kelihatan ya. Rame banget sih ah". Gumam ku. Iya ,aku berlari karena aku kira dari area parkir akan terlihat jelas wajah laki laki yang bersama tante Hani. "Nyari apaan sih li". "Perhatiin deh bu ayu, itu kayak pak Banyu bukan sih?". Iya aku memang menebak kalau itu adalah pak Banyu. Dosen berwajah tampan dan gagah yang aku kagumi saat ini. Atau mungkin tidak hanya kagum, cinta mungkin? Karena aku benar benar tidak bisa melupakan wajah nya saat ini. Saat menatap wajahnya dan saat aku melihat nya menatapku waktu itu aku benar-benar merasa b*******h dan tergila gila padanya. Katakanlah aku gila. Karena baru beberapa kali bertemu, aku sudah se gila ini. Aku tidak tahu ada apa dengan diri ku ini. Jarang sekali aku langsung tertarik dengan pria. Karena biasanya aku sangat cuek entah kenapa mungkin jodoh? Ya semoga saja . "Masak iya sih pak Banyu". "Liat yang bener dong lang". "Lah kan kamu bisa tanya ke tante kalo udah dirumah li. Jangan ribet deh ah". " iya juga ya, ih kok Gilang pinter banget sih". Canda Ku saat Gilang mengembalikan akal sehat ku. "Tau deh ih kok kamu jadi agak telmi gini si li". "Capek kali mit kan dia ngebut banget revisi kemarin,Lola deh". "Syialan ya lang". Pura pura. Iya aku pura tertawa menjawab candaan para sahabat ku ini. Hati ku jadi tidak tenang begini karena memikirkan pak Banyu. Bagaimana kalau memang itu pak Banyu. Bagaimana kalau pak Banyu pacar Tante. Ya Tuhan bagaimana.... Bagaimana... Yang bersama Tante benar benar mirip seperti pak Banyu. Aku menenangkan pikiran ku. Masih belum pasti. Mungkin itu bukan pak Erick. Tenang lia.. tenang.. Tuhan tau apa yang terbaik untuk mu.. Tuhan semoga bukan, semoga hanya mirip.. Sekian dulu ya.. Aku benar-benar menulis ini dengan pemikiran ku sendiri. Bukan dari pengalaman pribadi. Ada sih beberapa pengalaman pribadi tapi nggak semua juga sih... Terima kasih, Selamat membaca...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD